15 Maret 2022

Makna HALAKA





QS. al-Anfal : 42 


لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْۢ بَيِّنَةٍ وَّيَحْيٰى مَنْ حَيَّ عَنْۢ بَيِّنَةٍۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَسَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ 


sehingga yang binasa, binasa dengan keterangan yang nyata dan yang hidup, hidup dengan keterangan yang nyata (pula).” 


Kata halaka dalam ayat di atas digunakan dalam konteks pertempuran pertama dalam Islam, yakni Pertempuran Badar. Di sana Allah menegaskan bahwa pertempuran tersebut diatur tempat dan waktunya oleh Allah, bukan oleh salah satu dari kedua pasukan yang bertempur. 


Sementara itu, kata halaka yang diterjemahkan dengan binasa adalah kata yang dapat menampung aneka pendapat ulama tentang maksud ayat tersebut. Halaka bisa berarti mati atau kalah dalam perang serta runtuh sistem masyarakatnya. Semuanya dapat dikandung oleh makna dasar kata itu, yakni jatuh, pecah, dan terjerumus dalam jurang. 

12 Maret 2022

ETIKA, INTELEKTUALISME DAN PROPAGANDA

 



Bismillah ar-Rahman ar-Rahim, 

 

Tulisan saya memang berisi sebuah renungan bagi kita semua. Tidak berarti saya menggurui siapa-siapa, karena yang pertama-tama saya gurui adalah diri saya sendiri. Persoalan etika memang persoalan fundamental dalam kehidupan manusia, sebab itulah saya mencoba untuk membahasnya, dalam situasi yang baru, ketika teknologi informasi  memperkenalkan blog sebagai wahana berkomunikasi. Inti masalah yang saya bahas, bukanlah masalah baru. Sejak Nabi Musa, Plato dan Aristoteles masalah ini telah dibahas. Pada hemat saya, norma-norma etika adalah norma-norma fundamental dan absolut yang mengandung sifat universal, seumpama Ten Commandements Nabi Musa. Norma jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berdusta, jangan memfitnah dan sebagainya adalah norma fundamental dan absolut.  Tanpa norma-norma itu, maka manusia akan kehilangan hakikat sebagai manusia yang sejati.


Norma etika berbeda prinsipil dengan norma sopan santun yang bersifat konvensional, relatif dan tergantung penerimaan sebuah komunitas. Norma sopan santun satu suku-bangsa tentu berbeda dengan norma sopan santun suku-bangsa lainnya. Norma etika juga berbeda dengan norma hukum, yang pada umumnya diformulasikan ke dalam hukum postif yang tertulis. Norma hukum akan jelas kapan dinyatakan berlaku, dan kapan tidak berlaku lagi. Norma etika berlaku universal dan berlaku selamanya. Hanya dalam keadaan tertentu, atau ada faktor-faktor tertentu, yang memungkinkan norma etika dapat dikesampingkan. Harus ada justifikasi yang kuat untuk memungkinkan hal itu, seperti keadaan yang amat memaksa. Saya menyadari bahwa etika seringkali berhadapan dengan dilema, suatu situasi yang amat sulit, dan suatu pilihan yang amat sulit.

Pada hemat saya, tidak perlu kita merumuskan kode etik, code of conducts dan sejenisnya dalam bentuk yang tertulis. Norma-norma etika harus hidup  di dalam hati-sanubari setiap orang. Dia harus tumbuh sebagai kesadaran. Sebelum melakukan sesuatu, setiap kita hendaknya bertanya kepada hati nurani kita masing-masing: patutkah hal ini saya lakukan? Dasar dari segala norma etika adalah keadilan. Adakah adil, kalau saya mengatakan sesuatu atau melakukan seuatu kepada orang  lain? Ini adalah pedoman dalam tindakan. Persoalan etika, bukan persoalan bisa atau tidak bisa, mampu atau tidak mampu, dan  dapat atau tidak dapat. Persoalan etika ialah persoalan boleh atau tidak boleh.

Saya bisa saja memukul orang lain, karena saya menguasai ilmu bela diri, tetapi bolehkah? Saya mampu saja mengambil barang dagangan  pedagang di pinggir jalan, karena penjualnya seorang wanita tua, tetapi bolehkah? Saya dapat saja memfitnah  dan mencaci maki orang lain karena saya punya blog yang tidak dapat dikontrol siapapun, tetapi bolehkah? Saya memiliki senjata, saya dapat saja menembak orang lain, tapi bolehkah saya membunuh seseorang? Semua pertanyaan ini haruslah dikembalikan kepada kesadaran hati-nurani kita masing-masing. Dengan cara itu, kita akan memiliki apa yang disebut dengan “tanggungjawab etika” atau “tanggungjawab moral”. Sia-sia saja kita merumuskan kode etik secara tertulis. Percuma saja kita merumuskan matriks yang memuat sederet kewajiban dan larangan untuk dihafal luar kepala. Semua itu tidak menjadi jaminan apa-apa agar norma  ditaati. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu, tidaklah berbanding lurus dengan kesadarannya. Apalagi ketaatannya.

Dalam pandangan saya, kesadaran etika seperti uraian di atas itu akan mempu membedakan mana tulisan yang berisi polemik iintelektual, dan mana tulisan yang dapat dikategorikan sebagai agitasi, propaganda dan perang urat syaraf. Dalam sejarah bangsa kita, kita telah menemukan banyak polemik yang tinggi mutu intelektualnya, dan memberikan kontribusi besar bagi proses pembentukan bangsa dan negara kita. Polemik itu antara lain, ialah polemik Sukarno dengan Mohammad Natsir tentang hubungan Islam dengan Negara, polemik  tentang Islam dan Sosialisme antara Tjokroamitono dengan Semaun, dan Polemik Kebudayaan Timur dan Barat antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Armijn Pane. Demikian pula tulisan-tulisan bernada polemis yang dibuat oleh Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sumitro Djojohadikusumo dan Sjafruddin Prawiranegara dan lain-lain di bidang pembangunan politik dan ekonomi. Polemik intelektual tentang Islam dan Sekularisme, yang terjadi antara Mohamad Rasjidi dengan Nurcholish Madjid, sangatlah menarik untuk dibaca. Demikian pula polemik Mohamad Roem dengan Rosihan Anwar yang berkaitan dengan sejarah politik di tanah air era tahun 1950-an. Kalau kita menelaah dengan seksama, polemik mereka sungguh sportif, kesatria, argumentatif dan tidak menyerang pribadi seseorang, yang tidak ada hubungannya dengan materi yang diperdebatkan. Mereka juga menggunakan kata-kata yang sopan, sehingga nampak suasana saling hormat-menghormati, walaupun perbedaan pendapat di antara mereka demikian tajam.

Polemik yang bernuansa intelektual sebagaimana saya gambarkan di atas, tentu berbeda jauh dengan kegiatan agitasi dan propaganda. Dua istilah ini sangat terkenal di masa partai komunis masih kuat pengaruhnya. Sebelum itu, Adolf Hitler dan Jozef Goebbels telah merancang propaganda Nazi dengan sangat canggih. Hampir semua  partai fasis dan partai komunis mempunyai suatu badan tersendiri yang menangani masalah ini. Badan itu mereka namakan dengan “Departemen Agitasi dan Propaganda” atau Agitprop yang berada di bawah komite sentral partai tersebut. Agitasi adalah menyerang lawan dengan segala cara dengan tujuan untuk merendahkan, memojokkan dan menjatuhkan. Pilihan kata-kata sangat tajam dan lugas. Propaganda mempunyai nada yang hampir sama, yakni menyampaikan fakta atau bukan fakta kepada publik dengan maksud untuk membentuk publik opini, sesuai yang diinginkan oleh sang propagandis. Dalam propaganda, segala kedustaan, penjungkir-balikan fakta, rumors dan fintah adalah halal belaka. Agitasi dan propaganda melahirkan perang urat syaraf atau psychological war.

Dalam blog, ada tulisan-tulisan yang mengundang timbulnya polemik yang bernuansa intelektual. Namun ada pula, tulisan-tulisan yang mengandung sifat agitasi dan propaganda yang melahirkan perang urat syaraf. Tulisan yang bernuansa intelektual memang mengajak kepada pencerahan. Namun tulisan yang bernada agitasi dan propaganda, tentu jauh dari semangat itu, karena  yang dicari bukanlah kebenaran, tetapi upaya sistematis membentuk publik opini sesuai  keinginan orang yang melakukannya. Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler, mengatakan: Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah  kebenaran yang dirubah sedikit saja. Ada sebuah peristiwa terjadi dan menjadi sebuah fakta. Fakta itu kemudian “diplintir” sedikit saja dan disebarluaskan dengan teknik-teknik tertentu, maka dengan serta merta dia akan menjadi propaganda yang efektif. Sasaran propaganda tentu saja publik yang awam tentang seluk-beluk suatu masalah.

Berulang kali Professor Osman Raliby mengingatkan saya agar jangan menggunakan teknik-teknik propaganda, karena semua itu bertentangan dengan etika dan bertentangan dengan ajaran agama. Professor  Osman Raliby pernah “berguru” kepada Jozef Goebbels, ketika beliau belajar di Universitas Humbolt, Berlin, menjelang Perang Dunia II. Kita harus jujur, fair dan adil. Demikian nasehat Professor  Raliby kepada saya. Kalau propaganda dihadapi pula dengan propaganda, dunia ini akan makin centang perenang. Dengan propaganda, orang dapat menciptakan “surga”, namun dengan propaganda juga orang dapat menciptakan “neraka” di tengah sebuah komunitas. Seperti saya jelaskan dalam Kata Pengantar blog ini, saya mengundang siapa saja yang berminat untuk berdiskusi, bertukar pikiran dengan semangat intelektual atas dasar saling menghormati. Tulisan singkat saya kali ini, mungkin dapat dijadikan bahan pemikiran, untuk membedakan antara diskusi intelektual untuk mencari pencerahan, dengan agitasi, propaganda dan perang urat syaraf yang dilakukan untuk membangun citra buruk, memojokkan dan menjatuhkan demi kepentingan sang agitator dan propagandis. Saya sungguh ingin menjauhkan diri dari kegiatan yang bernuansa agitasi, propaganda dan perang urat syaraf.

Wallahu’alam bissawab.

9 Maret 2022

In Memoriam Majalah Iber

 



Oleh

Dadan Wildan Anas


1. Muqaddimah


Sejarah mencatat, salah satu peran yang menonjol dalam dakwah Persis adalah dakwah melalui tulisan dengan menerbitkan banyak buku-buku dan majalah-majalah. Sejak awal berdirinya, Persis telah menerbitkan beberapa majalah, di antaranya majalah Pembela Islam (1929), majalah Al-Fatwa (1931), majalah Al-Lissan (1935), majalah At-Taqwa (1937), majalah berkala Al-Hikam (1939), majalah Aliran Islam (1948), majalah Risalah (1962), majalah Pemuda Persis Tamaddun (1970), Majalah berbahasa Sunda Iber (1967), dan berbagai majalah ataupun siaran publikasi yang diterbitkan di cabang-cabang Persis. Sampai saat ini majalah yang masih bertahan terbit adalah majalah Risalah serta beberapa majalah dan siaran publikasi di beberapa cabang Persis.


Penerbitan inilah yang menyebabkan luasnya daerah penyebaran pemikiran Persis. Lagi pula penerbitan buku-buku dan majalah-majalah ini sering dijadikan referensi, baik oleh para da'i maupun organisasi-organisasi ke-Islaman lainnya.


2. Majalah Sunda Iber


Majalah Iber sebagai majalah dakwah berbahasa Sunda, pertama kali diterbitkan oleh Pimpinan Cabang Persis Kota Bandung, pada bulan Agustus 1967, yang dipelopori oleh Ustad K.H.E. Abdullah. Ustad Emon Sastranegara semasa hidupnya,  memberi penjelasan bahwa Iber berarti berita atau pemberitahuan. Iber hanya memberitakan yang benar, utamanya berita dari Al Quran dan Sunnah.  


Sebagai media dakwah, Iber  memiliki visi yang dapat dilihat dengan mudah  dari cover depan, dengan huruf kecil, yang berbunyi: Siaran Persatuan Islam Majalah Dakwah Bahasa Sunda  dengan  jargon: Basana Moal Basi.


Sebagai “Siaran Persatuan Islam”, menunjukkan bahwa Iber membawa visi dan misi dakwah dari organisasi Persatuan Islam yang berorientasi pada penyebaran Al-Quran dan Sunnah. Kemudian jargon Basana Moal Basi seolah ingin menegaskan  kepada para pembacanya, bahwa bahasa, kajian, isi, dan substansi yang ada di dalam majalah itu tidak dibatasi  oleh waktu dan tanggal penerbitan. Tentu saja, karena topik  bahasannya berdasarkan pada kajian Al-Quran dan Sunnah yang abadi sepanjang zaman. 


Di sinilah, Iber memiliki misi yang luhur dan mulia, yakni mengajak masyarakat luas---utamanya masyarakat Sunda---agar dapat melakukan kebijakan (khaer), dapat  memerintah yang maruf, dan mencegah yang munkar. Meskipun pembahasannya telah melewati ruang dan waktu---ketika terbit---tetapi isinya dapat dipetik di masa depan bahkan di hari akhir. 


Dalam brosur promosinya tertulis: Iber, ngandung harti beja. Kangaranan manusa, sok pasti aya pohona. Ari poho, sok ngabalukarkeun salah. Mun ningali nu poho, urang kudu sili bejaan. Tangtu teu sagala rupa jeung sagawayah nu dibejakeun. Iber ngan ngabejakeun beja-beja nu bener, utamina beja tina Al-Quran & Sunnah. Ku jalaran kitu, insya Allah, basa Iber moal bari. Sok sanajan bahasanana geus kaliwat, tapi eusina bisa lumangsung keur mangsa hareup. Jaga dina poe kiamat.


3. Corong Dakwah Persis


Sebagai media dakwah jamiyyah, Iber dikelola oleh para aktivis Persis. Memang pada awalnya,  Iber diterbitkan sebagai media dakwah bagi para anggota dan simpatisan Persis yang paling banyak tersebar di tatar Sunda. 


Majalah Iber dikelola pertama kali oleh Ustad Abdullah. Pada Iber No. 177 yang terbit pada tanggal 27 bulan Djulhijjah 1402 H (15 Oktober 1982)  dapat dilihat susunan redaksinya. Dalam majalah itu, tertulis  Ais Pangampih (Pimpinan Umum) al-Ustadz KHE. Abdullah (alm) yang memegang rubrik tetap Tafsir dan Istifta ditambah dengan Mudrodat. Kemudian al-Ustadz K.H.M. Syarif Sukandi (alm). 


Lalu rubrik Tamaddun yang selalu diisi  oleh tulisan-tulisan segar  dari al-Ustadz Marzdedeq, ditambah tulisan para ustadz lainnya, seperti  al-Ustadz KH. Ahyar Syuhada, Drs. Saefuddin, HMI Sudibja, Usman Shalehuddin, dan tidak kalah pentingnya penata gambar tangan yang cekatan oleh Ustadz Abdul Kodir dari Nanjung, Kabupaten Bandung Barat.


Majalah Iber, meskipun sederhana, tetapi memiliki isi yang memikat, bahasa yang mudah difahami, dan kajian yang mendalam. Sejak wafatnya Ustad Abdullah pada tahun 1994, Iber tetap terbit oleh generasi berikutnya yang ingin berjihad dakwah melalui pena. Genteng-genteng oge teu kungsi pegat; walaupun pernah kritis tetapi tidak pernah putus,  Iber tetap setia melayani para pembaca fanatiknya. Iber lalu dikelola oleh cabang-cabang Persis yang ada di kota Bandung. 


Sejak tahun 1991, pengelolaan  Iber berada di bawah tanggung jawab Pimpinan  Daerah Persatuan Islam Kota Bandung dengan Susunan redaksi sebagai berikut: Pupuhu merangkap Girang Rumpaka: KHE. Abdullah; Staf Rumpaka: H. Emon Sastranegara, K.E. Nasrullah, AD EL. Marzdedeq, Dedy Rahman; Juru Titen: HE. Mansyur ZM; Khath: Rahmat Najieb, dengan alamat redaksi di Jalan Astanaanyar 53/21 Bandung. 


Selama lebih dari sepuluh tahun, Iber berada di bawah tanggung jawab Pimpinan Daerah Persis Kota Bandung. Untuk memperluas wilayah persebaran dakwah, mulai tahun 2001, pengelolaan  Iber menjadi tanggung jawab Pimpinan Wilayah Persatuan Islam Jawa Barat dengan Susunan redaksi sebagai berikut: Panaratas: KHE. Abdullah (1967-1994); Pupuhu: Pimpinan Wilayah Persis Jawa Barat; Girang Rumpaka: H. Emon Sastranegara; Wakil Girang Rumpaka: H. SZ Rustaman Luqman KS; Rumpaka: KHA. Syuhada, AD. El. Marzdedeq, KH. Abdurrahman KS, KH. Rahmat Najieb; Litbang: H. Yusuf Badri; Girang Serat: H. Sayub Sayidin; Juru Duum: Hj. Emma, Agus, Neng; Juru Warta: A. Saeful Azis; Juru Pair: HE. Manshur Zainal Muttaqin. Alamat Redaksi: Jl.Astana Anyar 53/21 Kompleks Sarana Terpadu Ar-Risalah, Bandung.


Majalah Iber dapat terus bertahan, dibawah kendali Ustad Emon Sastranegara bersama putranya Ustad Ade Saeful Azis. Keduanya berupaya mempertahankan terus terbitnya majalah Iber. Namun, pada akhirnya Iber akhirnya juga terpaksa berhenti terbit.


4. Konten Majalah Iber


Untuk sekedar contoh, dapat dikemukakan profil dan konten majalah Iber bernomor 526/Taun 44/19 Dzulhijjah 1432 H/15 Nopember 2011 M. Iber terbit sebulan sekali setiap tanggal 15. Iber Nomor 526 menandakan majalah ini telah terbit 526 kali. Taun 44, menandakan Iber telah menginjak usia 44 tahun. Di cover majalah, tertulis:  Iber dengan huruf agak besar yang terlihat menonjol dan diberi warna merah. Di atas huruf e dan r tertulis dengan huruf yang lebih kecil: basana moal basi. Dan di bawah tulisan Iber, tertulis: Siaran Persatuan Islam Majalah Dawah Basa Sunda. 


Untuk menarik minat pembaca, di cover depan yang berlatar belakang foto jembatan. Saya tidak memahami latar belakang foto jembatan yang ditampilkan di cover depan karena tidak ada penjelasan dan tidak ada pembahasan tentang foto tersebut. Memang biasanya, pemilihan foto untuk latar belakang cover sering kali tidak menggambarkan isi majalah, kemungkinan hanya kreativitas redaksi. Redaksi beralasan, gambar cover tidak terlalu penting, karena yang dijual Iber bukan gambar, tapi isi.


Kemudian ditampilkan empat judul topik bahasan yang dimuat pada majalah ini, yakni: Hukum Kopi Luwak;  Tujuh Rupa Dosa Gede; Qurban Asal Tina Impian; dan Mujizat Al-Quran (4) dengan tambahan info; Seratan Pileuleuyan ti al-Ustadz KH SZ Rustaman Luqman. Ustad Rustaman Luqman adalah Wakil Girang Rumpaka Iber yang juga penasihat Pimpinan Daerah Persis Kota Bandung, beliau wafat pada tanggal 29 Oktober 2011. Ditampilkan pula foto ustad Rustaman Luqman. 


Di balik cover depan, satu halaman penuh ditampilkan ucapan  belasungkawa dari Pimpinan Pusat Persatuan Islam atas wafatnya Ustad Rustaman Luqman. Di cover itu tertulis: Sakumna rengrengan Pimpinan Pusat Persatuan Islam & sadaya Bagian Otonomna, Majalah Iber & Risalah, ngahaturkeun taziyah ku pupusna  Al-Ustadz KH SZ Rustaman Luqman (65 taun), di Bandung, Saptu 2 Dzulhijjah 1432 H/29 Oktober 2011; dikurebkeun di Pekuburan Astanaanyar, Bandung dinten eta keneh. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wafu anhu wa akrim nuzulahu wa wasi madkhalahu. Amin ya mujibassailin.


Di bagian awal majalah, rubrik Intisari menjadi pembuka sajian di halaman 3---karena Iber menetapkan cover luar dan cover dalam sebagai halaman 1 dan 2. Intisari dalam terbitan ini membahas mengenai kurban, dengan judul: Qurban Asal Tina Impian. Di bawah Intisari, ditampilkan susunan redaksi Majalah Iber.  Rubrik Intisari disebut oleh redaksi sebagai ruhnya Iber. 


Rubrik Intisari, disambung oleh rubrik Baca (Balaka tinu Maca) yang mengambil ruang dua halaman, untuk menampilkan pesan singkat (sms) pembaca  beserta jawaban redaksi, serta tulisan berupa surat pembaca.


Setelah Intisari dan Baca dimulailah pembahasan topik inti, diawali dengan rubrik Rohangan Tafsir yang  diasuh oleh KH. M. Abdurrahman Ks. yang membahas Tafsir Surat Al-Maidah 1-3 dengan judul Bulan Haram jeung Masjidil Haram. Lalu Rohangan Hadis oleh H. Emon Sastranegara yang mengangkat materi Tujuh Rupa Dosa Gede, dilanjutkan rubrik Elmu Hadis, oleh Drs. KH. Ahmad Daerobby M.Ag dengan judul Sifat Sanad alias Wangunan Riwayat; berikutnya Bina Akhlak oleh  H.M. Sayub Sayidin dengan topik Allah Maha Pinuji.


Salah satu bahasan yang menjadi ciri khas majalah Persis adalah pembahasan soal jawab masalah-masalah keagamaan. Soal jawab ini telah muncul sejak jaman Majalah Pembela Islam (1929). Di majalah Iber, soal jawab ditampilkan pada ruang Istifta. Di ruang ini, ditampilkan tiga pertanyaan dari pembaca, yakni Hukum Kopi Luwak---yang juga ditampilkan judulnya di cover  majalah---Qodoan dina Sasih Rajab;  dan Fidyah Dicicil.


Pertanyaan pembaca dan jawaban redaksi ditampilkan sangat singkat. Untuk tiga pertanyaan dan jawabannya hanya memerlukan satu halaman saja. Misalnya dalam judul Hukum Kopi Luwak. Tanya: Kumaha hukumna tai careuh/luwak anu ngaluarkeun kopi (kopi luwak)? Dengan identitas penanya ditulis: PC. Persistri Cingambul via Pa Abad S. Jawab: Tai Luwak kawas endog anu kaluar tina bujur hayam, kapanan teu disebut kotoran hayam. 


Pertanyaan berikutnya dengan judul Qodoan dina Sasih Rajab. Tanya: Kumaha hukumna  qodho shaum dina sasih Rajab? Jawab: Qodho dilaksanakeun dina bulan salian ti Ramadhan, kalebet Rajab. Sakumaha pidawuh Allah SWT dina Al-Quran: Jeung sing saha nu gering atawa di panyabaan, nya (wajib manehna puasa) sababaraha poe (nu ditinggalkeun) dina poe-poe liana (Q.S 2:185). Terakhir mengenai Fidyah Dicicil. Tanya: Sim kuring teu puasa, saur dina katerangan agama, upami teu aya kamampuhan puasa tapi digentosan ku fidyah upami leres-leres aya alesan anu kiat, upamina tos pikun, naha mayarna kedah sakaligus atanapi tiasa dicicil. HMB. Majalengka. Jawab: Teu janten masalah fidyah bade dicicil atanapi dibayar sakaligus, margi agama henteu nangtoskeun iraha-irahana. Firman Allah: Jeung pikeun jalma-jalma anu kuat puasa tapi ripuh (lamun tea mah teu puasa) diwajibkeun mayar fidyah, nyaeta mere dahar hiji jalma miskin (saban poe) (QS 2:184).    


Rubrik berikutnya adalah Atikan yang diasuh oleh Drs. H. Abad Suryawirawan, yang dalam terbitan ini membahas Kakaren Lebaran. Berikutnya  Rohangan Aqidah, yang diasuh oleh Ustad KH. SZ. Rustaman Luqman. Rohangan Aqidah  pada terbitan ini membahas Mujizat Al-Quran yang merupakan tulisan keempat sekaligus tulisan terakhir almarhum.

Rubrik-rubrik selanjutnya lebih bernuansa informasi bagi para anggota dan simpatisan Persis. Mulai dari rubrik Akhbar, yang menampilkan tulisan berjudul Zakat, Ubar Kasakit Nagara; lalu rubrik Wawasan yang diasuh oleh H. Ekik Barkah, yang menampilkan tulisan Bilatung Warung. Ditambah rubrik Eunteung yang menyajikan cerita Joha Jeung Kalde.


Rubrik berikutnya adalah Akhbar Jamiyyah yang mewartakan Bakti Sosial Pimpinan Daerah Persistri Majalengka; Rohangan An-Nisa yang mengetengahkan tulisan Hayang Untung Tina Enteng oleh Atin Prihatini; dan rubrik Rohangan Haji yang memberi informasi mengenai haji.

Pada bagian akhir, ditampilkan setengah halaman rubrik Bahasa Jawa, mengenai Sholat yang disajikan dalam bahasa Jawa. Ada pula ruang Emutaneun Urang yang memberi ruang bagi para pembaca untuk berinfak bagi para ustad yang bertugas di luar Jawa. Majalah Iber ditutup dengan rubrik Uswah, yang menampilkan H. Sahwanoedin Djojoprajitno (Saurang tokoh ti tungtung Pulo Jawa Madura).


Menilik isi Majalah Iber, tentu lebih banyak menampilkan masalah-masalah keagamaan dengan kondisi kekinian. Namun, sebagai majalah sebuah organisasi Islam, informasi tentang berbagai aktivitas Persis, juga ditampilkan pada beberapa rubrik khusus.


5. Akhir Majalah Iber


Saat ini, Majalah Iber tidak lagi terbit. Awalnya, Iber terbit  sangat sederhana, sesederhana para pengelolanya tetapi tentu tidak sederhana untuk isinya. Awalnya, Iber lahir dalam bentuk majalah stensilan hasil raneo yang diputar dengan tangan. 


Seiring dengan   perkembangan zaman, Iber terbit dengan desain yang cukup baik. Penerbitan Iber, tentu tidak dapat dilihat dari kesederhanaan cover, tata letak, dan hasil cetakannya, tetapi lebih jauh pada nilai isi yang diwartakannya.  Para muballigh  dan muballighat Persis, dari generasi ke generasi, terpenuhi hajatnya terhadap bahan-bahan dakwah yang disajikan di majalah Iber. Mereka menyampaikan pesan-pesan dakwah, berbicara dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis yang disajikan dari sebuah majalah yang tampil sederhana dengan harga yang sangat murah.


Sejak terbit No. 1 di bulan Agustus 1967 sampai dengan edisi terakhir, Iber hanya dicetak antara 1500 sampai 3000 eksemplar.  Pernah diterbitkan lebih dari 3000 eksemplar, namun  seperti falsafah pohon yang bisa rimbun daunnya karena jasa daun tua yang jatuh dijadikan pupuk alami, oplah sebesar itu tidak bertahan lama, karena peribahasa: genah maca teu genah mayar. Padahal seharusnya: resep maca resep mayar”. Majalah Iber saat ini dicetak sekitar 2.700 eksemplar setiap bulan,  dengan harga jual (infaq) saat ini Rp. 7.000. 


Majalah dengan harga jual berlabel infaq yang sangat murah, tentu berdampak pada biaya operasional dan honorarium penulis yang tidak besar. Untuk honor penulis masih amat rendah antara Rp 20.000 sampai Rp 60.000 sedangkan pegawai tetap diberi honor Rp 50.000 per bulan. Iklan yang dimuat juga dihargai saridona diserahkan kepada pemasang iklan. Itulah ciri khas majalah dakwah yang tidak mengejar oplah, tetapi mengejar tujuan mulia yang lebih besar yakni syiar Islam.


Majalah Iber yang kini tiada, namun tetap mengalirkan amal jariyah bagi para pendahulunya. Generasi terakhir pengelola majalah Iber, Ustad Emon Sastranegara allahu yarham dengan putranya Ustad Ade Saeful Azis perlu mendapat apresiasi dari jalan dakwah melalui majalah berbahasa Sunda.


Iber telah memberi warna dakwah yang menyejukkan  sebagai wahana penyedia informasi, pengembang syiar Islam, dan penyejuk kalbu. Iber telah tampil paling depan dalam mengembangkan pendidikan karakter Islami berdasarkan kultur kesundaan, ditambah dalil yang tepat dan tafsir yang akurat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, menjadi nilai lebih dalam mendidik masyarakat Sunda yang religius, membina nilai-nilai luhur, akhlak mulia, dan karakter bangsa sekaligus memelihara  jati diri kesundaan.


Apapun yang terjadi, Majalah Iber yang hampir 50 tahun terbit, merupakan prestasi yang luar biasa. Majalah Iber dapat terbit hampir 50 tahun dengan  hanya mengandalkan motivasi dan idealisme dari para pengasuhnya untuk menyebarkan dakwah Islam.  Ruh kecintaan pada Islam, melebihi kebutuhan akan materi. 


Falsafah sederhana dari redaksi: sebenarnya tiada manusia yang merugi, sebab kerugian itu hakikatnya adalah keuntungan yang tertunda. Hanya masalahnya, banyak manusia yang tidak sabaran menunggu itu semua.


Pendiri majalah ini, Ustadz KHE Abdullah telah tiada, Pengelolanya yang sabar dan setia, Ustad Emon, juga telah pergi.  


H. Emon Sastranegara almarhum, Girang Rumpaka Iber berandai-andai: Andaikan Al-Ustadz Abdullah masih hidup dan berada ditengah-tengah kita sekarang ini, beliau tidak akan kecewa, bahkan bangga  melihat Iber masih tetap eksis, dan mungkin beliau berkata: Teruskeun anaking, Iber ulah pegat, sing jadi shadaqah jariyah.

Insya Allah.

24 Februari 2022

Ketika Ànji*g Mengganggu Adzan

Kakara ningali Mantri siga anji*g kieu

Maenya Adzan di analogikeun jeung ragègna sora anji*g ?

Ari silai*g dijieunna tina naon, nji*g?



16 Februari 2022

PEMBANGUNAN SEKRETARIAT ORARI LOKAL KABUPATEN BANDUNG



Bersinarlah cahaya ORARI LOKAL KABUPATEN BANDUNG-ku

Terangi alam marcapada mu
Jelajahi dunia mu
Dengan segala karya ciptamu

Gemintanglah ORARI-ku
Hiasi indahnya duniamu
Gapailah segala OBSESI-mu
Dengan segala kecerdasan mu

Janganlah ragu tuk melangkah
Genggam erat keyakinan mu
Sertakan selalu do'a ANGGOTA-mu
Dan berserahlah... pada
kuasa Tuhan mu

Tetaplah jaga selalu kehormatan LOKAL-mu
Dasari jiwamu dengan tegaknya LOYALITAS-mu

Tegakkan tingginya nilai KEBERSAMAAN-mu
Landasi jiwamu dengan mulianya akhlakmu
Mulianya akhlakmu.

16 Desember 2021

HANYA SURGA ALLAHLAH TEMPATMU REGIAKU

 

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى…فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ. 

*Percakapan titipan Allah*
(Regia Radlita Latiefah binti Hilman Latief)

Bismillah...
Saya *Regia Radlita Latiefah*. Melalui WA ini, mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang selama ini telah diperbuat.
Doakan Saya, untuk diberi yang terbaik oleh Allah. Semoga Allah memberkahi. 😇 Aamiin.

*HCU RSHS, 14 December 2021. pukul 07.44 wib*

Untuk anakku *REGIA* :

"ALLAH mengumpulkan kita untuk satu alasan".

Entah untuk memberi atau menerima.

Entah untuk belajar atau mengajarkan.

Entah untuk bercerita atau mendengarkan.

Entah untuk sesaat atau selamanya.

Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya.

Lambaian tanganmu meski terlihat jauh dari ruang HCU, membuat kami lega dan yakin, *Regia* akan segera sehat kembali.

Semua itu tidak ada yang sia-sia karena Allah yang berkehendak, baik sakit maupun sehat,
gembira maupun sedih...,
itu semua adalah takdir-Nya.

Tetaplah tegar dan kuat *Regia anakku* , janganlah ragu untuk selalu berdo'a minta pertolongan kepada Allah. Kami semua senantiasa berdo'a; untuk kesembuhan *Gia*

Tetap shabar...
Tetap kuat...
Hadapi dengan ikhlas anakku, insya Allah ujian ini akan segerq berlalu,
Sekali lagi wa Eri katakan: *Allah akan menyembuhkanmu, anakku...*, yakini itu*

شفاها اللّٰهُ

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

*RSHS Selasa, 14 Desember 2021 11.35 wib*


Bagai petir disiang bolong .

Allah lebih menyayangimu; REGIA RADLITA LATIEFAH anakku dengan mengambilmu lebih cepat ......, 

walau berat rasanya menerima kenyataan ini.

Engkau lahir di 13 Juli 1999

Engkau kembali pada dekapan Allah di usia 22 tahun, anakku yang shalehah...

Engkau mampu menginspirasi kami bagaimana memaknai keshabaran.

Engkau adalah bidadari surga...

Engkau laksana mutiara hidup kami..

Engkau adalah belahan jiwa kami, anakku

Kusimpan harapanmu di awan untuk keabadian

Ku amalkan nasihatmu dibumi untuk ku jadikan amal yg senantiasa terkirim kebaikanmu menjadi pahala keshalehanmu 


Kami yakin ; Engkau adalah penghuni surga Allah

Tenanglah disisi Allah, anakku... 


*Ciapus, Selasa 14 Desember 2021 pukul 22.15 wib*.


Untuk adikku ; Hilman Latief  dan Dian Diana  ayah dan Bunda Regia Radlita Latiefah, kalian adalah orang tua yang kuat, cerdas, shaleh, dan shabar.

Yaa Rabb berkahi dan lindungilah keluarga adikku dengan limpahan kasih sayang-Mu. Aamiin..

29 November 2021

PERISTIWA SEPUTAR MUNAS XI ORARI 2021

 



Oleh : R. Syarif Hidayat - YB1FWO

1. Proses pertanggungjawaban belum selesai, pemandangan umum anggota blm ada, ketua sidang main ketok palu dengan kilat menerima pertanggung jawaban, padahal banyak catatan yg sdh saya siapkan untuk menanggapi laporan tsb,... hak anggota dimatikan dg diketuk "setuju" sebelum kami diberi kesempatan bicara sesuai ketentuan. .... ini cacat

2. Pemilihan DPP dilaksanakan sebelum PERTANGGUNGJAWABAN PENGURUS usai tidak sesuai ketentuan yg sudah disepakati dalam tata tertib yg sudah disepakati malem sebelumnya , harusnya sidang komisi dulu tapi sidang komisi diskip langsung ke pemilihan dpp.

3. Pemilihan DPP secepat kilat tidak memberi kesempatan orda diluar kelompok 21 untuk menyampaikan pilihannya. Praktis itu dpp paket yg sesuai keinginan kubu A tapi blm mengakomodasi 12 orda lainnya,

Intinya pimpinan sidang tidak capable memimpin,  yg akhirnya memicu protes dan protes tsb tidak ditangani dg benar sehingga akhirnya ada 2 utusan daerah  emosi tidak terkendali, meja didorong maju mendekati pimpinan sidang .... dan begitu berkerumun di depan, polisi yg stand by (kapolsek) langsung menghentikan  acara dan menyuruh semua orang keluar ruangan.
Sidang dihentikan sampai waktu yg tidak ditentukan

Saran saya :
Marilah kita cool down, tidak mereka-reka apa yg terjadi didalam ruang sidang yg bisa menimbulkan kesimpang siuran, kita percayakan kepada pihak yang kompeten (DPP dan Pengurus, bersama SC dan OC MUNAS XI)  menyelesaikan seluruh proses sampai tuntas. 

Mari lanjutkan hidup kita spt semula, ... kita dx ing on air, nikmati keindahan menjadi amatir radio.  Kita rakyat jelata orari harus tetap bersatu menikmati hobi ini dg baik

Salam amatir radio

de YB1FWO

26 November 2021

HALAQOH KEBANGSAAN

 





Sebagai lembaga MANDATORI berdasarkan PBM Nomor 9 & 8 tahun 2006, FKUB harus mampu menjadi garda terdepan pemerintah dalam membangun moderasi beragama terutama dalam membangun kebersamaan merajut silaturrahmi antar umat beragama khususnya di Kabupaten Bandung.


BEDAS dalam merajut KEBHINEKAAN,

BEDAS dalam menjaga MARWAH Pemerintahan Kabupaten Bandung,

BEDAS dalam menetapkan keputusan yang berperikeadilan.


#kesbangpolkabbandung 

#fkubkabbandung

23 November 2021

UNTUK ANAK-ANAKKU




 "Ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kesatuan.. Jika saling mengenal di antara mereka maka akan bersatu. Dan yang saling merasa asing di antara mereka maka akan berpisah.”

Dear Pak Dudung

 


Oleh : Moeflich Hasbullah

Silahkan Pak Dudung berlakukan. Yang sudah terjadi, Pak Hartonya menua, meninggal dunia dan meninggalkan jejak buruk otoriter, sementara "radikalisme"-nya tidak pernah hilang. 


Jangankan Pak Dudung, negara raksasa AS dan Cina saja, jika memerangi radikalisme (maksudnya pasti Islam), AS dan Cina-nya kelak akan bubar atau musnah, dan radikalisme masih akan tetap hidup. Dalam sejarah, radikalisme lebih tua dari usia negara-negara yang pernah berdiri dan sudah ditelan sejarah.


Memerangi radikalisme selalu akan menjadi pekerjaan sia-sia. Mengapa? Karena kita memerangi akibat bukan sebab, memerangi dampak bukan sumber, mengobati sakit bukan menghilangkan kebiasaan buruk yang mendatangkan penyakit. 


Radikalisme masalahnya bukan di "radikalisme"-nya tapi di akar-akarnya: ketidakadilan sosial, ketidakadilan hukum, ekonomi dan politik. Selama itu semua ada, radikalisme àkan tetap hidup, subur, apalagi sumber-sumber itu dipelihara. Ya jangan mimpi radikalisme bisa dihilangkan. 


Memerangi radikalisme dalam konsteks itu hanya akan menimbulkan banyak korban warga negara yang sakit hati kehilangan nyawa dan anggota keluarga, hukum dan penguasa yang tidak adil, yang mungkin kita anggap enteng, yang di akhirat kelak akan lapor kepada Tuhannya di yaumul hisab mengadukan kedzaliman penguasanya kepada mereka sebagai rakyat. Siapa yang bisa melawan kekuasaan Tuhan disana? Di dunia saja, kita diberi sakit gigi saja, sakitnya minta ampun, apalagi stroke, hidup menderita. Apalagi adzab disana. Ngeri.


Bila yang ditekadkan Pak Dudung adalah memerangi ketidakadilannya, yang secara psiko-sosiologis menjadi akar yang melahirkan radikalisme, Pak Dudung akan menghasilkan tiga hal: Pertama, Pak Dudung akan dikenang sebagai pahlawan pembela keadilan, walaupun tentu sangat berat dan tidak berhasil maksimal. Kedua, radikalisme akan menurun secara drastis. Ketiga, Pak Dudung akan dicintai Tuhan. Saya berani jamin itu!!


Saya tidak tahu kebenaran ucapan dan tekad Pak Dudung itu, gak apa-apa, ini inspirasi saja buat siapapun yang ingin memerangi radikalisme. Saya pun memeranginya dengan cara memberikan pemahaman historis-sosiologis agar kita tidak salah langkah dan kita bisa melangkah dengan benar. Wallahu a'lam.***

8 November 2021

TOHA & RAMDAN, PAHLAWAN BANDUNG SELATAN YANG TERLUPAKAN

 

 


Oleh

Dadan Wildan


@ Pendahuluan


Hingga saat ini, kepahlawanan Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, dua pahlawan muda dari Bandung Selatan, belum mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah, baik dalam sejarah local kota dan Kabupaten Bandung, maupun dalam sejarah Nasional. Informasi tentang kedua pahlawan ini, masih sangat terbatas. Apalagi, berbagai penafsiran muncul terhadap perjuangan kesyahidan Toha  Ramdan dalam mengancurkan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot pada tanggal 11 Juli 1946. Padahal, penghancuran gudang mesiu ini telah melemahkan kekuatan tentara Belanda yang akan kembali menjajah bangsa Indonesia.


Sebagai upaya menghargai jasa kedua pahlawan ini, seyogianya kita menghilangkan penafsiran-penafsiran yang tidak didasarkan pada fakta-fakta keras (hard fact) sejarah. Penafsiran yang terlalu jauh, seperti peledakan bom itu sebagai bentuk prustasi Mohammad Toha akibat putus cinta, atau dibelokkan oleh kepentingan Belanda yang tidak mau mengakui kehancuran gudang mesiu itu akibat dari perjuangan kedua anak muda kusumah bangsa ini. Belanda bahkan menyatakan, kehancuran gudang mesiu di dayeuhkolot hanyalah kecelakaan akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan. Bahkan, secara politis, perlakuan kepada kedua pahlawan yang gugur itu, malah berbeda. Hanya karena perbedaan lasykar perjuangan. Mohammad Toha dari Barisan Banteng Republik Indonesia, sementara Mohammad Ramdan dari lasykar Hizbullah. Marilah kita diskusikan secara jernih, untuk bersama-sama menghargai jasa keduanya secara layak dan proporsional.


Siapakah Mohamad Ramdan?


Sejak lahir hingga masa-masa kuliah,  saya hidup di Kampung Leles, Desa Magung (sekarang Desa Mekarsari), Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Tempat lahir hingga masa remaja Mohammad Ramdan. Sejak kecil, saya telah mendengar kepahlawanan Mohammad TYoha dan Mohammad Ramdan. Ketertarikan saya kepada kedua pahlawan ini, baru muncul pada tahun 1988, ketika saya kuliah di jurusan Sejarah IKIP Bandung. Beberapa sepuh, saya wawancarai. Karena, saya tidak menemukan informasi yang cukup dan referensi yang memadai tentang keduanya.


Ibu Gandasih, kakak kandung Mohammad Ramdan, mengemukakan masa kecil Mohammad Ramdan:

Mohammad Ramdan dilahirkan pada tahun 1928, di Kampung Leles, Desa Magung, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Ramdan, adalah anak kedua dari keluarga Hassan, seorang petani di desa itu. Ibunya bernama Warsih. Hassan kemudian bercerai dengan Warsih. Warsih kemudian menikah dengan Ahmudi, seorang pedagang beras di pasar Ciparay. Sejak usia satu tahun, Ramdan diasuh oleh ayah tirinya, Ahmudi.


Dalam usia tujuh tahun, pada tahun 1935, Ramdan---yang biasa dipanggil dengan nama kecil Endang---sekolah di Sekolah Rakyat (Volkschool) di Kampung Leles. Kemudian pada tahun 1938 melanjutkan sekolah ke sekolah sambungan (Vervolgschool) di Kecamatan Ciparay. Sebagaimana anak-anak lainnya, selain sekolah ia pun rajin mengaji di Surau dan pesantren. Ramdan termasuk anak yang rajin. Waktu senggangnya diisi dengan membuat berbagai kerajinan tangan, seperti ayakan, korang, hihid, aseupan, dan kekesed.


Menurut teman sepermainannya, Endin, pensiunan Kepala SDN Magung I, sejak kecil Ramdan telah menunjukkan sikap pemberani. Ramdan gemar bermain perang-perangan atau perang gobang (pedang-pedangan yang terbuat dari kayu). Tahun 1942, Ramdan telah menyelesaikan sekolah di Vervolgschool. Pada masa pendudukan Jepang, Ramdan kembali bersekolah di Vervolgscholl selama satu tahun, untuk mempelajari bahasa Jepang.


Tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah kepada Jepang tanpa syarat. Maka mulailah zaman baru bagi rakyat Indonesia yang ditandai dengan berbagai penderitaan. Pada awal pendudukan Jepang, Pemerintah Jepang memberikan latihan-latihan kemiliteran bagi para pemuda di tanah air untuk memupuk tenaga guna kepentingan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya. Bagai para pemuda kita, latihan militer ini dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mempersiapkan diri untuk menyongsong kemerdekaan. Para pemuda banyak yang menggabungkan diri antara lain dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air), Heiho, Keibodan, dan Seinendan. Mohammad Ramdan, juga tertarik menggabungkan diri dalam latihan-latihan kemiliteran yang diselenggarakan oleh tentara Jepang. Latihan ini, dijadikan sarana yang baik untuk melatih kepercayaan pada diri sendiri, ketabahan, serta perjuangan tanpa kenal menyerah.


Siapakah Mohammad Toha?

Informasi yang saya terima menyebutkan bahwa Toha, lahir di Jalan Suniaraja Bandung pada tahun 1927. Dalam usia satu tahun, ia telah yatim, karena ayahnya, Ganda, seorang pegawai UNIE meninggal dunia. Masa kecilnya dihabiskan di kota Bandung. Toha menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Babakan Bandung hingga lulus tahun 1940.  Masa remajanya, ia habiskan untuk bekerja di bengkel motor Cikudapateuh dari tahun 1943 - 1945.


Peledakkan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot


Masa pendudukan Jepang di Indonesia tidak berlangsung lama. Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom. Menyerahnya Jepang kepada Sekutu, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Indonesia. Kesempatan ini, digunakan oleh Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak itu, para pemuda dan rakyat Indonesia bergerak melakukan tindakan pengambilahan kekuasaan dari tangan Jepang. Para pemuda, kemudian menggabungkan diri dalam berbagai lasykar perjuangan, seperti Hizbullah, Sabilillah, Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia, dan berbagai lasykar perjuangan lainnya. Mohammad Ramdan, bergabung dengan lasykar Hizbullah. Sementara Mohammad Toha bergabung dengan lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia.


Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat kondisi awal kota Bandung menjelang peristiwa peledajan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot sebagai berikut:

Pada bulan September-Oktober 1945 terjadi bentrokan fisik antara pemuda, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan rakyat Bandung dengan tentara Jepang dalam usaha pemindahan markas Jepang. Bentrokan iti terjadi antara lain di Gedung PTT, pabrik senjata dan mesiu di Kiaracondong, dan puncaknya terjadi di Heetjanweg, Tegalega. Pada tanggal 9 Oktober 1945, bentrokan fisik dengan pihak Jepang dapat diselesaikan dengan damai. Pemuda, TKR, dan rakyat Bandung berhasil mendapatkan senjata mereka dan kemenangan ada di pihak rakyat Bandung. Namun bersamaan dengan itu, pada tanggal 21 Oktober 1945 satu brigade tentara Sekutu di bawah pimpinan Mc Donald dari Divisi India ke 23 memasuki kota Bandung.  Peranan Sekutu sebagai wakil kolonial Belanda segera menimbulkan ketegangan dan bentrokan dengan rakyat Bandung. Insiden-insiden kecil yang menjurus pada pertempuran sudah tidak dapat dihindari lagi.


Pada tanggal 24 November 1945, TKR, pemuda, dan rakyat yang dipimpim oleh Arudji Kartasasmita sebagai komandan TKR Bandung memutuskan aliran listrik dengan maksud mengadakan serangan malam terhadap kedudukan Sekutu. Seluruh kota Bandung gelap gulita. Sejak saat itu, pertempuran terus berkecamuk di Bandung. Karena merasa terdesak, pada tanggal 27 November 1945 Sekutu memberikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat Sutarjo yang ditujukan kepada seluruh rakyat Bandung agar paling lambat tanggal 29 November 1945 pukul 12.00 seluruh unsur bersenjata RI meninggalkan Bandung Utara dengan jalan kereta api sebagai garis batas dermakasinya. Tetapi sampai batas waktu yang ditentukan, rakyat Bandung tidak mematuhinya. Sejak saat itu, Sekutu---secara sepihak---menganggap bahwa kota Bandung telah terbagi menjadi dua bagian; dengan jalan kereta api sebagai garis batasnya. Bandung bagian utara dianggap milik Inggris, sedangkan Bandung Selatan milik Republik.

Mulailah tentara Sekutu yang terdiri dari tentara Inggris, Gurkha, dan NICA meneror penduduk di bagian Utara jalan kereta api. Mereka menghujani tembakan ke kampung-kampung dengan membabi buta. Kekalahan Republik dalam mempertahankan Gedung Sate/PTT membawa korban 7 orang meninggal dunia sebagai pahlawan.


Pertempuran di UNPAD pada tanggal 1 Desember, Balai Besar K.A., dan Stasiun Viaduct pada 3 Desember menjadi saksi atas semangat juang rakyat Bandung. Sepanjang bulan Desember 1945 sampai Januari 1946, pertempuran masih berlangsung dengan jalan kereta api sebagai garis demarkasinya. Titik utamanya: Waringin, Stasiun Viaduct, dan Cicadas. Demikian pula pertempuran di Fokkerweg berlangsung selama tiga  hari tiga malam. Pada tanggal 2 Januari 1946, konvoi Inggris dari Jakarta yang terdiri dari 100 truk tiba di Bandung. Bantuan dari Jakarta terus   mengalir untuk membantu pertahanan Sekutu yang ada di Bandung, sementara di pihak Republik bantuan pun tak kunjung henti dari berbagai daerah. Sekutu merasa tidak aman karena selalu mendapat serangan dari TKR, pemuda, dan rakyat Bandung.


Pada tanggal 24 Maret 1946, Sekutu mengeluarkan ultimatum lagi kepada rakyat Bandung yang masih mempunyai atau menyimpan senjata, bahwa pada malam minggu harus sudah meninggalkan seluruh kota Bandung. Dengan demikian, garis demarkasi yang telah dibuat itu tidak digunakan lagi. Ultimatum itu berakhir sampai tengah malam Senin 24-25 Maret 1946. Secara lisan, pihak Sekutu meminta untuk mengawasi daerah dengan radius 11 km sekitar Bandung. TKR dan pasukan lainnya meminta waktu 10 hari karena penarikan TKR dalam waktu singkat tidak mungkin, namun tuntutan itu tidak disetujui. 


Dengan demikian, pertempuran sulit untuk dihindarkan. Ribuan orang, berduyun-duyun mulai meninggalkan kota Bandung. Bulan Februari sampai Maret 1946, Bandung telah berubah menjadi arena pertempuran. Kantor Berita ANTARA memberitakan sebagai berikut:

Berita yang diterima siang hari ini menyatakan sebagai berikut: Bandung menjadi lautan api. Gedung-gedung dari jawatan-jawatan besar hancur, di antaranya kantor telpon, kantor pos, jawatan listrik. Sepanjang jalan Pangeran Sumedang, Cibadak, Kopo, puluhan rumah serta pabrik gas terbakar. Semua listrik, penerangan di daerah Bandung putus, yakni Banjaran, Ciperu, dan Cicalengka. Yang masih berjalan hanya listrik penerangan daerah Pengalengan. Lebih lanjut dikabarkan, bahwa Inggris mulai menyerang pada tanggal 25 Maret pagi, sehingga terjadi pertempuran sengit yang masih berjalan sampai saat dibikinnya berita ini (Sumber: Berita ANTARA, 26 Maret 1946).


Bandung sengaja dibakar oleh tentara Republik, menjadi Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946. Hal ini dimaksudkan agar Sekutu tidak dapat menggunakannya kota ini sebagai basis pertahanannya. Di sana sini asap hitam mengepul membumbung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi.

Pada tahun 1946, daerah Bandung Selatan diserahkan oleh pihak Sekutu kepada tentara Belanda dari Brigade V yang dipimpin oleh Kolonel Meier yang bermarkas di Kampung Dengki Dayeuhkolot. Watra, saksi seperjuangan dengan Mohammad Ramdan yang saya temui sekitar pada tahun 1988 mengemukakan:

Pihak lasykar perjuangan Bandung Selatan, kemudian mendirikan Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP) di Baleendah. Baleendah, menjadi front paling depan yang berhadapan langsung dengan markas tentara Belanda di Dayeuhkolot. Batas yang memisahkan kedua pos pertahanan yang saling bermusuhan itu, adalah sungai Citarum. Untuk menghadapi berbagai kemungkinan, markas MPPP selalu dijaga secara bergantian oleh lasykar-lasykar perjuangan yang tergabung di dalamnya.  Mohammad Ramdan yang juga bergabung dalam MPPP dari lasykar Hizbullah yang bermarkas di Majalaya, juga secara bergantian mendapat tugas jaga di pos MPPP.


Menjelang peledakan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot, Ibu Gandasih, kakak kandung Mohammad Ramdan yang saya wawancarai mengemukakan:

Hari Kamis, pukul 10.00 pagi tanggal 10 Juni 1946,


Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TKR bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan kosong dari tentara. Tetapi api masih membumbung masih membakar Bandung. Kini Bandung berubah menjadi lautan api. Rakyat berduyun-duyun meninggalkan Bandung Selatan untuk mengungsi ke desa-desa. Sekutu tetap melancarkan serangan-serangan tapi jauh di utara ditujukan ke selatan. Sampai saat itu, hanya 16.000 orang pribumi yang tinggal di Bandung Utara, padahal sebelumnya daerah itu berpenduduk 100.000 jiwa.


Tentang hancurnya gudang mesiu di Dayeuhkolot, Watra menuturkan seperti ini. Ketika itu, dua hari sebelum dilakukan infiltrasi, terjadi silang pendapat di antara lasykar-lasykar perjuangan di markas MPPP tentang strategi yang tepat untuk menghancurkan gudang mesiu? Siapa yang akan melakukannya, bagaimana caranya, dan kapan akan dilaksanakan? Pada akhirnya, komandan MPPP memberi tugas kepada lasykar-lasykar perjuangan untuk melakukan penyerangan terhadap markas  pertahanan Belanda sekaligus menghancurkan gudang persenjataannya, karena dengan melumpuhkan markas Belanda di Dayeuhkolot, apalagi menghancurkan gudang persenjataannya, akan melumpuhkan kekuatan Belanda di sektor selatan.


Engkos, seorang pensiunan perintis kemerdekaan, mengungkapkan bahwa keputusan penyerangan ke markas Belanda di Dayeuhkolot diambil pada malam Jumat, dan dilakukan pada malam itu juga.  


Menurut penuturan Engkos dan Watra, Kira-kira pukul 21.45 malam Jumat tanggal 10 Juli 1946, ternyata anggota lasykar perjuangan yang siap melaksanakan tugas menghancurkan gudang mesiu itu hanya dua lasykar, yakni lasykar Hizbullah dengan anggotanya antara lain Mohammad Ramdan, Watra, dan Idas serta lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) dengan anggotanya, antara lain; Mohamad Toha, Juju, Muin, dan Jojo. Mereka akan melakukan penyusupan dengan cara menyeberangi sungai Citarum dan masuk melalui gorong-gorong.


Menurut kesaksian Watra, malam Jumat itu beberapa orang yang siap melakukan infiltrasi mulai menyusuri pematang sawah, menyeberangi sungai Citarum, dan mendekati terowongan air. Tetapi sebelum masuk terowongan air, mereka diketahui oleh petugas jaga tentara Belanda. Akhirnya terjadilah pertempuran, Watra terluka dengan sembialn luka tembak di sekujur tubuhnya dan ia menimbun diri di sungai untuk menyelamatkan diri, sementara Ramdan dan Toha berhasil masuk terowongan air dengan berbekal dua buah geranat tangan dan sepucuk pistol.


Keesokan harinya, hari Jumat, pukul 12.10 tanggal 11 Juli 1946, terdengar bunyi ledakan dahsyat dari Dayeuhkolot. Gudang Mesiu telah hancur bersama pelaku penghancurannya, Mohammad Toha dan Mohammar Ramdan, keduanya hancur luluh bersama 18.000 ton bahan peledak dan amunisi dari berbagai jenis. Keduanya telah melaksanakan tugasnya dengan baik, meski tubuh mereka hancur luluh.


Tanggal 14 Juli 1946, kawan-kawan Mohammad Ramdan dan Mohammad Toha datang menyatakan bela sungkawa. Menteri Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin, memberikan penghargaan berupa piagam dan pedang samurai bagi keluarga Toha dan Ramdan.


Toha gugur dalam usia 19 tahun, dan Ramdan gugur dalam usia 18 tahun. Mereka gugur dalam usia remaja, bukan anak-anak yang baru berusia 14 tahun. Jadi, kalau Mohammad Toha dianggap fiktif, mengapa Mr. Amir Syarifuddin memberikan penghargaan kepada keduanya? Mengapa pula, Arsip Nasional mencatatnya sebagai sebuah dokumen sejarah? Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, bukanlah tokoh sangkuriang. Keluarganya, dapat memberikan kesaksian riwayat hidup keduanya.


Hari ini saya hanya bisa menyanyi sedih, sebab tidak banyak  orang yang mengetahui dan dapat menghargai perjuangan kedua pahlawan muda ini :


Getih suci nyiram bumi

Tulang setra mulang lemah

Babakti nyungkem pertiwi

Cikal bugang putra bangsa

Nyatana Pahlawan Toha

Pahlawan Bandung Selatan

Patriot ti Dayeuhkolot

Tugu ngawangun ngajadi ciri

Tarate nu mangkak ligar di empang

Jadi bukti gugurna pahlawan bangsa.


*)Makalah disajikan pada Seminar Pengusulan Mohammad Toha sebagai Pahlawan Nasional di Soreang Kabupaten Bandung, 21 Maret 2007.