21 April 2020
K.H.E. Abdurrahman Peneguh Khittah Persis
Hari ini, banyak orang memperingati hari kartini. Tapi, saya ingin mengenang sosok lain yang juga sangat berperan penting dalam catatan sejarah umat Islam Indonesia. Hari ini, 21 April 2020, tepat 37 tahun wafatnya ulama besar Persatuan Islam KH. E. Abdurrahman, Ketua Umum PP. Persis (1962-1983).
K.H.E. Abdurrahman
Peneguh Khittah Persis
Oleh Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum
“Kita mencari jelas bukan mencari puas”
(KHE. Abdurrahman)
1. Sosok KHE. Abdurrahman
Ustad Abdurahman dilahirkan di kampung Pasarean, Desa Bojong Herang, Kabupaten Cianjur pada hari Rabu tanggal 12 Juni 1912 (26 Jumadi Tsaniah 1330 H). Ia merupakan putra tertua dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Ghazali, seorang penjahit pakaian, dan ibunya bernama Hafsah, seorang pengrajin batik ( Wahid, 1988 : 9; Ghazali, 1997: 1).
Pada usia 7-8 tahun, Abdurahman telah hatam Al-Qur’an, dan pada usia semuda itu pula ia mulai meniti jenjang pendidikan dengan memasuki Madrasah Nahdatul Ulama Al-Ianah Cianjur (1919-1926). Di madrasah inilah penguasaan bahasa Arab dan “ilmu alat”-nya semakin mantap.
Selesai menamatkan pelajaran di Madrasah Al-Ianah, Abdurahman pergi ke Bandung atas permintaan Tuan Swarha (Hassan Wiratama) untuk mengajar di Madrasah Nahdatul Ulama Al-Ianah Bandung (1928-1930). Sekitar tahun 1930, atas permintaan Tuan Alakatiri, seorang tuan kaya di Bandung, ia diminta untuk memberikan bimbingan agama kepada putra-putranya.
Selain itu, Tuan Alkatiri pun mendirikan Majelis Pendidikan Diniyah Islam (MPDI) di Gg. Ence Azis No. 12/10 Kebon Jati Bandung, ustad Abdurrahman diberi tugas mengelola Madrasah AL-Hikmah di Rancabali Padalarang. Dalam perjalanan hidupnya, ustad Abdurahman menunaikan ibadah haji dua kali, tahun 1956 bersama Isa Anshary, A. Hassan, Tamar Jaya, Emzita, dengan membimbing jemaah haji Persis berjumlah 89 orang.
Ustad Abdurrahman dikenal sebagai seorang ulama besar, ahli hukum yang tawadlu. Ia tidak ingin disanjung sehingga tidak banyak dikenal umum. Penghargaannya terhadap waktu sangat luar biasa. Ia menghabiskan waktunya menelaah kitab-kitab, mengajar di pesantren, dan hampir setiap malam mengisi berbagai pengajian.
Ulama besar ini, jika dilihat dari latar belakang pendidikannya hanyalah lulusan Madrasah Al-Ianah Cianjur. Namun, kegigihannya dalam membuka cakrawala ilmu tidaklah terbatas pada jenjang pendidikan formal. Ia mencoba memahami berbagai bahasa, khususnya bahasa Arab, Inggris, dan Belanda; dan akhirnya menguasainya.
Cakrawala keilmuannya terbuka luas. Surat kabar yang menjadi langganannya adalah Sipatahoenan, Kompas, dan Pikiran Rakyat, juga surat kabar berbahasa Inggris, The Indonesia Observer. Selain itu ia selalu mendapat kiriman majalah-majalah berbahasa Arab dari Saudi Arabia dan Mesir.
Keseriusannya menelaah kitab-kitab, telah menjadi bagian dari kehidupannya. Perbendaharaan kitabnya yang begitu banyak dan keseriusan mengkajinya, merupakan faktor penunjang dalam membentuk dirinya sebagai ulama. Keahliannya meliputi berbagai bidang ilmu, antara lain teologi, syariah, ilmu tafsir, hadis dan ilmu hadis, fikih dan ushul fiqh; begitu juga ilmu hisab. Dengan ilmu yang dikuasainya, meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, ia diangkat sebagai dosen UNISBA pada tahun 1959, dan tahun 1967 sebagai dosen FKIT IKIP Bandung.
Dalam penilaian Mohammad Natsir (Wahid, 1988 :74), Ustad Abdurrahman mempunyai kelebihan dalam hal kecermatannya ketika mendapatkan hukum dari ijtihadnya, dengan landasan dalil yang selalu kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, ulama seperti ini termasuk langka, bahkan jarang ditemui , diluar negeri sekalipun.
Sosok Ustad Abdurahman menunjukkan orang yang sehat, bersih, dan selalu rapi dalam berpakaian. Apalagi jika akan mengajar di pesantren, ia selalu tampil mengenakan celana panjang, berjas, dan berdasi. Hal ini ia lakukan bukan untuk disanjung dan menyombongkan diri, tetapi untuk menghilangkan kesan bahwa pakaian para ustad di pesantren selalu kotor, kumal dan jorok. Dalam berucap, ia senantiasa berhati-hati sehingga kata-katanya tidak pernah menyakitkan orang.
Ia pun seorang penulis yang produktif. Tulisan lepasnya banyak tersebar dimajalah-majalah. Materi-materi khotbah Jumat, khotbah Idul Fitri dan Idul Adha disusunnya dengan baik.
Buku-buku yang pernah ditulisnya antara lain jihad dan Qital, Darul Islam, Ahlu Sunnah Wal Jamaah, Dirasah Ilmu Hadits, Perbandingan Mazhab, Ahkamusyar’i; Risalah Jum’at; Recik-recik Dakwah; Sekitar Masalah Tarawih, Takbir, dan Shalat Ied dilengkapi khutbah Iedul Fitri, Hukum Qurban, Aqiqah, dan sembelihan, Petunjuk Praktis Ibadah haji, Renungan Tarikh, Mernahkeun Hukum dina Agama, Syiatu aly, dan Risalah Wanita. Selain itu, ia juga menuliskannya dalam bentuk tanya jawab pada majalah Risalah dalam ruang “Istifta”.
Dalam perjuangannya di Persis, menurut Muchtar (1997:12-13), Ustad Abduirrahman sering berkata, “ Kita harus mampu menghilangkan diri”. Pernyataannya itu mengandung makna: demi hidupnya pemikiran dan perjuangan dalam mempertahankan dan menegakkan jam’iyyah diperlukan keikhlasan dan keberanian melepaskan kepentingan pribadi untuk kepentingan Jam’iyyah. Selain tidak membanggakan diri terhadap jasa yang telah diberikan; semuanya dilakukan hanyalah karena Allah.
Dalam setiap tausiah-nya, beliau selalu berkata ,” Kita bukan pengikut dari generasi terdahulu, melainkan sebagai pelanjut”; maksudnya, pemikiran dan perjuangan Persis hendaklah tidak taklid, melainkan harus inovatif sesuai perkembangan zaman dalam batas-batas kerangka Al-Qur’an dan sunnah. Adapun dalam hal metode dakwahnya, Ustad Abdurahman selalu mengatakan, “ Kita perlu mencari jelas, dan bukan mencari puas.”
2. K.H.E. Abdurrahman dan Persis
Atas kehendak Allah, suatu hal yang jarang terjadi bisa saja terjadi; seorang ulama yang semula pemahaman keagamaannya bersifat tradisional, beralih menjadi yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah serta menentang berbagai bidah, khurafat, dan Takhayul. Hal itu dialami oleh Ustad Abdurahman.
Kisah yang disampaikan oleh K.H. Eman Sar’an yang berasal dari Ustad E. Sasmita, sebagaimana dikutip Wahid (1988:15), cukup memberikan gambaran tentang bagaimana Ustad Abdurahman berubah sikap dari sosok ulama tradisional menjadi sosok mujadid yang tangguh.
Keputusan Ustad Abdurahman itu berawal dari adanya pengajian yang diselenggarakan oleh Persis di jalan pangeran Sumedang yang dipimpin oleh A. Hassan. Dalam suatu kesempatan, A. Hasan membahas masalah haramnya tahlilan, talqin, marhaban, dan Ushalli, A. Hassan menyebutnya sebagai perbuatan bidah. Ustad E. Sasmita, salah seorang murid Ustad Abdurahman yang mengetahui hal itu, kemudian menyampaikan bahasan A. Hasan kepada kelompok pengajiannya di madrasah malam MPDI. Masalah ini ternyata diketahui pula oleh guru kebanggaan mereka, Ustadz Abdurahman.
Ustad Abdurrahman dan masyarakat sekitarnya merasa tersinggung mendengar bahasan A. Hasan, karena merasa keyakinan dan paham yang dianutnya dipersoalkan dan dihinas, apalagi dikategorikan perbuatan haram karena bidah.
Dengan keberaniannya, Ustad Abdurahman beserta beberapa muridnya mendatangi pengajian Persis yang dipimpiun A. Hasan . Terjadilah perdeabtan antara A. Hasan dan Ustad Abdurahman hingga belangsung beberapa malam. Akhirnya, Ustad Abdurahman dapat menerima seluruh keterangan dan dalil-dalil yang dikemukakan A. Hasan. Sejak saat itu, Ustad Abdurahman selalu hadir dalam setiap pengajian Persis di Jalan pangeran Sumedang. Sejak itu pula, ia manjadi murid A. Hasan yang paling akrab dan setia mendampinginya dalam berbagai kegiatan.
Pada suatu waktu, dalam pengajian yang disaksikan banyak orang, sambil mengelus kepala Ustad Abdurahman, A. Hasan berkata: “Abdurahman, anta akan menjadi murid saya yang pintar dan akan melebihi anak kandung saya sendiri “.
Mulai tahun 1934, Ustad Abdurahman dilibatkan sebagai guru pada lembaga pendidikan Islam (Pendis) Persis yang dikelola oleh Mohammad Natsir. Dengan demikian, ia semakin dekat dengan para ulama Persis beserta para anggotanya.
Kedekatannya dengan Persis iini harus dibayar mahal. Ia diusir oleh Tuan Alkatiri yang masih berpandangan tradisional. Ia diberhentikan dari tugasnya sebagai pengajar di MPDI, juga sebagai khatib di Pakauman Bandung. Ia bahkan diusir dari rumah milik Tuan Alkatiri yang ia tempati sejak lama.
Sejak saat itulah, Ustad Abdurahman mengalami perubahan dalam kehidupannya: hidupnya yang tadinya serba kecukupan karena menjadi anak anak emas Tuan Alkatiri, kini berubah penuh keprihatinan. Namun, semuanya itu ia terima sebagai ujian dari Allah SWT (lihat Wahid, 1988 :16- 17).
Sekitar tahun 1940, sebagian seantri Pesantren Persis untuk orang dewasa (Pesantren Besar) yang dikelola A. Hassan- bersamaan dengan kepindahannya ke Bangil, pindah ke Bangil. Sementara Pesantren Kecil yang dipimpin Ustad Abdurahman diungsikan ke gunung Cupu Ciamis. Setelah revolusi fisik (1945-1949) Pesantren Persis dipusatkan lagi di Bandung dan terus mengembangkan jenjang pendidikannya hingga tingkat muallimin.
Dalam aktivitas organisasi di jam’iyyah Persis,Ustad Abdurahman menunjukkan sikap loyal. Ia aktif sebagai anggota Persis sejak tahun 1934. Jabatan dalam jam’iyyah yang pertama kali dipegangnya adalah ketua bagian tablig dan pendidikan pada tahun 1952. Pada tahun 1953 (pada Muktamar ke-5 Persis di Bandung) Ustad Abdurahman terpilih sebagai Sekretaris Umum Pusat Pimpinan Persis, mendampingi K.H. Mohammad Isa Anshary sebai Ketua Umum.
3. Kita Sekalian Sebagai Pelengkap
Saya ingin menunjukkan sebuah pidato Ustad Abdurrahman yang menginspirasi untuk kita semua para aktivis dan simpatisan Persis berjudul: KITA SEKALIAN SEBAGAI PELENGKAP
Ikhwatu Iman, hadiri yang kami hormati !
Kami tidak akan mengatakan selamat datang, tetapi akan mendu’akan ,”rafaqatumukumu s’Salamah”, bukan selamat di waktu datang saja; tetapi keselamatan senantiasan menyertai kita sekalian.
Pada malam ini kita mendapat undangan dari Allah, bukan hanya bertemu muka sesama anggota Persatuan Islam, tetapi pada malam ini akan bertemu ruh seperti sabda Rasul; bertemunya jiwa umat Islam itu bagaikan suatu pasukan yang tanguh! Sebab bil aruh tidak sesuara, searah, dan setujuan, maka akan terjadi ikhtilaf yang melemahkan.
Ternyata kita telah berkumpul, merasakan kegembiraan sesama ikhwatu iman, dapat bertemu, dan saling merasakan kenikmatan.
Saya merasa terharu, melihat sesama ikhwatu iman yang sudah lama tidak bertemu, saling merangkul; disebabkan kerinduan ingin bertemu yang menunjukkan terjalinnya hubungan bathin yang kukuh.
Kalimat Muaakhat, buka sekedar nama, tetapi antara nama dan makna itu tidak bertentangan; mampu menjadi amal nyata untuk meningkatkan ibadah kepada Alloh SWT!
Bukan Persatuan Islam yang artinya menunjukan, bahwa memisahkan diri dari organisasi Islam yang lain; tetapi Persatuan Islam memeprsatukan tenaga, mempersatukan kekuatan; yakni demi untuk tujuan membela, memajukan Islamnya sendiri. Membela orang Islam itu mudah, orang kafir pun bisa membela orang Islam, seperti dokter kafir yangmenyembuhkan orang Islam.
Tetapi membela agama Islam sendiri, bila diganggu tidak akan ada orang yang membela, kecuali orang Islam itu sendiri yang bersatu mempersatukan tenaga dan kekuatan untuk liya’lu wala yu’la alaihi!
Kita membuat nama Muaakhat untuk menjadikan kalimat tersebut sebagai sifat kita; salam berbagai amal kita harus mu’akhat, saling membantu, saling menunjang, seluruhnya menjadi pelengkap yang lainnya.
Dalam lisanul Arab diterangkan, bahwa Muaakhat itu perbuatan yang dilakukan Rasulullah di Mekkah dan di Madinah. Rasulullah mengangkat sebagai saudara, Salman Al-Farisi dengan Abu Darda, mengangkat antara Muhajirin dan Anshar, sebab kalimah Ikhwatun ini bermakna se-ibu dan se-bapak, lain dengan kalimat ikhwanun, yang artinya saudara yang turut, seperti ikhwanu syaaithan!
Rasulullah Saw, memuakhatkan Muhajirin dan Anshar, sehingga kaum Muhajirin yang akhli dalam bidang pemasaran dapat membantu kaum Anshar yang ahli bidang pertanian; maka hasil dari muaakhat itu, lahirlah suatu kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak.
Saya dan hadirin sekalian, sebagai ikhwatu iman tidak ada yang berhak menepuk dada, sebab kita sekalian tidak lebih dari penyempurna, sebab setiap orang sangat memerlukan pelengkap; maka didalam Qanun Persatuan Islam tidak terdapat Pengurus Besar, tetapi Pimpinan, karena semua sudah memiliki pedoman Qur’an dan Hadist, kata pemimpin hanya membimbing untuk mencegah, agar ajaran Islam ini jangan kurang dan jangan lebih!
Maka dalam organisasi Persatuan Islam (Persis), tidak terdapat atasan dan bawahan; tetapi seluruhnya saling membantu, saling menunjang dengan sesama; sehingga tercipta saling menghargai pekerjaan satu dengan yang lainnya.
Bila pekerjaan kawan kurang memuaskan, janganlah dikecewakan dan dihina, tetapi amal dan jerih payahnya perlu kita hargai; sebab tujuan dari pekerjaan tersebut sebeanarnya baik, tidak mau mengecewakan orang lain.
Maka terimalah segala apa yang telah kita rasakan, janganlah terlalu beragama lebih jauh; tetapi yang pokok bagi kita adalah meningkatkan kerja, untuk membina hari esok yang lebih baik, yakni hari esok di akhirat. Sedangkan hari pembinaan hari esok untuk akhirat itulah akan tercipta pula hari esok dunia yang lebih cerah; perhatikanlah waktu yang tengah kita alami ini, sebab hari esok kita sangat tergantung dengan amal kita pada hari ini.
Bila lahir pertanyaan, kenapa Persatan Islam ini tidak ada kemajuan, hanya berputar-putar disana; maka jawabnya, begitulah Persatuan Islam, yang senantiasa thawaf, berputar dalam lingkaran Mardhatillah.
Meskipun Persatuan Islam ini anggotanya bisa dihitung dengan jari, tetapi pengaruhnya cukup besar, banyak ajaran Persatuan Islam yag sekarang dilakukan oleh mereka yang tidak akan mengaku bila dikatakan orang Persatuan Islam.
Saya menerima laporan, ketika diadakan shalat khusuf di sebuah cabang Persatuan Islam, maka anggota Persis dimaki dan diejek, katanya Persis ini ingin melebihi Tuhan sehingga meramalkan terjadinya khusuf. Tetapi ketika khusuf memang terjadi, mereka yang mengejek dan memaki itu, turut melakukan shalat khusuf.
Juga bagaimana anggota Persis yang ditonton orang banyak ketiak melakukan shalat ‘Ied di lapangan tegallega Bandung; namun sekarang ternyata banyak jemaah yang memadati lapangan untuk Shalat ‘Ied, meskipun mereka bukan Persis.
Timbulnya Ukhuwah Islamiyyah itu, adalah dari Badratul iman yang tumbuh karena badratul iman; seperti jaman Rasulullah SAW, dari badratul iman, maka tumbuhlah Abu Bakar, tumbuhlah Umar dan Utsman, yang tidak diperintah untuk menjadi mukmin.
Namun badratul iman ini, tidak akan tumbuh subur bila tidak disiram dengan peningakatan ilmu, perjuangan dan dakwah Islamiyyah. Tugas inilah yang kadangkala kurang mendapat perhatian yang seksama dari umat Islam, bagaikan menanamkan benih yang murni, yang sudah tentu yang kelak akan menumbuhkannya bukan kita, tetapi Allh Rabul’alamin!
Maa’milat aidhim liyakulu min tsamarihi, kita umat manusia hanya menanam, hanya alloh yang akan menumbuhkannya, dan kita akan memakan buahnya; hanya alloh yang akan menumbuhkan, seperti diutusnya para Rasul dan Nabi, yang hanya menanamkan badratul iman, tetapi karena tumbuh disiram, maka wujudlah Abu Bakar, Umar, dan Ustman, wujudlah Khalid bin Walid.
Karena itu janganlah mengharapkan pekejaan yang bukan garapan kita, membangun sekolah ini tidak cukup dengan tukang kayu, tetapi diperlukan tukang tembok; mereka saling menjadi pelengkap untuk menumbuhkan suatu bangunan, menciptakan suatu rumah, suatu sekolah, atau suatu bangunan megah.
Negara kita lengkapilah dengan suatu yang dibutuhkan, rakyat Indonesia di masa yang akan datang apa agamanya, tergantung dengan perjuangan kita sekarang; janganlah mengerjakan sesuatu yang bukan pekerjaan kita, keahlian kita, kita tidak mau untuk melakukan sesuatu yang bukan garapan kita!
Semua itu jangan menyedihkan kita, menyusahkan kita, jaman sekarang perlu juga mubaligh, da’i agar agama senantiasa berjalan sesuai dengan jalurnya!
Betul kita sedikit, tatapi pengaruh kita cukup kuat, hampir seluruh Indonesia terpengaruh dengan faham kita, meskipun mereka tidak mau dikatakan Persatuan Islam!
Kalau dahulu ditakdirkan Persatuan Islam tidak ada, wajah umat Islam di Indonesia tidak akan seperti ini; kalau kebiasaan khutbah Jum’at berbahasa Arab, tidak diubah, bagaimana keadaan umat Islam sekarang ini?
Kita tidak perlu menepuk dada, bukan maksud kita menepuk dada, tetapi kita menerangkan suatu kenyataan, seperti diterangkan dalam suatu ensiklopedi, bahwa Persatuan Islam itu adalah; Jam’iyyatul Ittihad Islamy Mu’adadatun Shagiratun Kabirun Nufus”, Artinya Persatuan Islam adalah yang tergolong kecil, tetapi memiliki pengaruh yang cukup besar.
Kita harus sabar dan ikhlas dalam berjuang, sebab Rasulullah juga tidak langsung berhasli dalamperjuangannya, memerlukan waktu yang panjang...! (Arsip Muakhat 1981).
4. Khatimah
Hari Kamis, 21 April 1983, Pukul 02.30 WIB, umat Islam telah kehilangan seorang ulama besar, KH. E. Andurrahman, Ketua Umum PP Persis (1962-1983). Mohammad Natsir, mengenang Ustad Abdurrahman sebagai ulama yang luas keilmuannya: “Sepanjang pergaulan saya di Rabithah ‘Alam Islamy, saya belum menjumpai ulama yang akurat dan cermat dalam Ilmu Hadits seperti Ustadz KHE. Abdurrahman”, suatu pengakuan yang dinyatakan tokoh Islam kaliber internasional.
Senada dengan Pak natsir, DR. KH. EZ. Mutaqien menyatakan: “Beliau adalah ulama yang paling dalam di bidang Hadits dan Tafsir.” Ustad Abdurrahman, membaktikan seluruh hidupnya dalam dakwah dan dunia pendidikan Islam, yang hingga akhir hayatnya, tetap menjabat sebagai Pimpinan Pesantren Persatuan Islam No. 1 Bandung, yang dirintisnya lebih empat puluh tahun (1942-1983) serta Ketua Umum PP. Persis (1962-1983).
Persatuan Islam di bawah kepemimpinannya, mencapai kemajuan pesat. Dengan kemampuannya dalam bidang Fiqh, Tafsîr dan Hadîts, KHE. Abdurrahman membina Persatuan Islam dan umat pada umumnya melalui sektor pendidikan dan dakwah. Dengan kata lain, KHE. Abdurrahman sangat memperhatikan pendidikan sebagai salah satu lembaga strategis bagi pengkaderan Persatuan Islam.
Abdurrahman was one of Hassan’s pupils who followed his mentor in terms of religious doctrines. He was primarily an educator and administrator for the Persatuan Islam. His writings in Persis’s periodicals show deep knowledge of Islamic history and doctrine. As an administrator, he showed considerable organizational ability in keeping the Persis functioning during a period of considerable political instability and rapid national economic decline, tulis Fiderspiel.
Pada usia 71 tahun, KHE. Abdurrahman menderita sakit yang cukup serius, dan hampir tiga kali menjalani opname di RS. Hasan Sadikin. Hingga pada akhirnya Allah SWT memanggil beliau, untuk istirahat panjang di alam baqa, tepatnya pada hari Kamis, 21 April 1983, jam 02.30 WIB di RS. Hasan Sadikin Bandung.
Keesokan harinya, ulama besar yang hampir 50 tahun telah mengabdikan dirinya di Persatuan Islam ini, dimakamkan di Pekuburan Karang Anyar, Komplek Pekuburan Bupati Bandung, dengan ribuan para pencintanya yang turut mengantar hingga selesai upacara penguburan.
Alhamdulillah, penerus perjuangan Ustad Abdurrahman hingga saat ini semakin banyak. Para muridnya, menjadi pelopor dakwah dan jamiyyah di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Para putra-putrinya, tetap berkhidmat di jam’iyyah. Dan perjuangan dakwahnya dilanjutkan oleh putranya, Ustad Deddy Rahman allohu yarham. Semoga Allah melapangkan alam kuburnya, meneranginya dengan amal jaiyah dari ilmu yang diamalkannya dan terus mengalir ditangan putra-putri dan murid-muridnya...
17 April 2020
15 April 2020
HALLO BANDUNG NETHERLANDS
Editor: Maulida Sri Handayani
Seorang perempuan tua duduk gemetar di sebuah kantor telegraf di Belanda. Kerinduan terhadap anak laki-lakinya sudah tak tertahankan. Telah bertahun-tahun anaknya merantau ke Hindia Belanda.
Usianya telah semakin senja, kini di kantor Telegraf itu i a menunggu kabar dari sang anak. Seorang petugas dengan ramah berkata, “Ibu, sudah tersambung dengan Bandung.”
Dengan kaki yang gontai dan kaku, perempuan itu berdiri meraih mikrofon. Dari seberang lautan suara anaknya terdengar. Ia lalu menyapa, “Hallo…! Bandungg …!”
“Ya, Ibu, aku di sini,” jawab anaknya.
“Salam, anakku sayang,” katanya sambil menangis.
“Apa kabar, Ibu?”
“Aku sangat merindukanmu, Nak!” jawabnya lirih.
“Sayang, apa kabar istrimu yang berkulit sawo matang?”
“Baik-baik saja, Bu. Kami membicarakan ibu setiap hari di sini. Dan anak-anak mengucapkan doa malam sebelum tidur untuk nenek mereka yang belum pernah jumpa dengan mencium potretmu," jawab anaknya.
“Tunggu sebentar, Ibu, aku akan memanggil anak bungsuku.”
Kemudian terdengar jelas, “Nenek sayang, tabe, tabe.”
Tak tertahankan hatinya ketika mendengar suara itu. Ia pun berbisik lirih, “Oh, Tuhan. Terimakasih, Engkau izinkanku mendengarnya.”
Kemudian ia bersimpuh sambil menangis. Ia tidak menjawab, hanya terdengar isak tangis. Lalu terdengar suara “klik” di seberang lautan. Ia tiada, sesaat setelah cucunya mengucapkan, “Tabe!”
Kisah tersebut terdapat dalam lirik lagu berjudul “Hallo Bandoeng” yang mula-mula dinyanyikan oleh William Frederik Christiaan Dieben alias Willy Derby pada tahun 1929, enam tahun setelah Belanda dan Hindia Belanda bisa berkomunikasi lewat sambungan radio. Di Belanda bernama Stasiun Radio Kootwijk, dan Indonesia bernama Stasiun Radio Malabar.
Stasiun radio ini berlokasi di kawasan Gunung Puntang yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Malabar, terletak di desa dan kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung.
Proyek pembangunan Stasiun Radio Malabar dirancang oleh Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot, seorang ahli teknik elektro lulusan sebuah universitas di Karlsruhe, Jerman. Ia lulus dengan disertasi tentang pengaruh iklim tropis pada koneksi radio.
Gagasan untuk menyambungkan Belanda dan Hindia Belanda secara langsung dan nirkabel, didorong oleh situasi Perang Dunia I yang tidak memungkinkan ketersediaan kabel, serta rentan secara teknis dan politis. Maka, koneksi gelombang panjang pun dipilih. Pembangunan Stasiun Radio Malabar dimulai sejak tahun 1916.
Willem Smit & Co’s Transformatorenfabriek memasok kumparan besar dan beberapa trafo. Sementara generator dipasok oleh Smit Slikkerveer. Sebagai pendukung tenaga listrik dibangun PLTA Dago, PLTA Plengan dan PLTA Lamadjan, serta PLTU di Dayeuhkolot. Antena dibentangkan sepanjang 2 kilometer antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun untuk memancarkan gelombang radio. Ketinggian antena dari dasar lembah rata-rata 350 meter. Antena dibangun mengarah ke Belanda yang berjarak 12.000 kilometer dari Gunung Puntang.
Sudarsono Katam dalam Tjitaroemplein (2014) menjelaskan bahwa pemancar telegraf dan telepon radio yang dipakai menggunakan teknologi busur listrik untuk membangkitkan ribuan kilowatt gelombang radio dengan panjang gelombang 20 kilometer sampai 75 kilometer.
“Perangkat pemancarnya membutuhkan tenaga 750 Volts dan daya 1 MA. Bila pemancar sedang dihidupkan, kumparan akan memercikkan bunga api listrik yang sangat dahsyat,” tulisnya.
Stasiun Radio Malabar diresmikan oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock pada 5 Mei 1923. Beberapa hari sebelum peresmian, badai tropis dengan kilatan-kilatan petir telah merusak sejumlah peralatan penting termasuk pemancar. Hal ini membuat peresmian terancam diundur.
Namun, ternyata peresmian tetap dilakukan dengan cara mengirim pesan telegraf radio kepada Ratu Belanda dan Menteri Urusan Koloni, tetapi tidak ada jawaban dari stasiun di Belanda. Baru pada 6 Mei 1923 malam, pemancar dapat berfungsi dengan baik. Pesan pertama yang dirimkan dari Belanda adalah dari Kantor Berita Aneta. Meski demikian, tanggal 5 Mei 1923 tetap dijadikan tanggal peresmian Stasiun Radio Malabar.
Untuk mengenang peristiwa telekomunikasi tersebut didirikan dua patung laki-laki tanpa busana yang tengah mengapit tiga perempat bola dunia. Patung pertama menaruh tangan tangannya di mulut yang menandakan tengah berteriak. Sedangkan patung yang satu lagi menaruh tangan kanannya di telinga seolah sedang mendengarkan.
Pada sisi barat daya dan timur laut bola dunia tersebut tertulis untaian kata-kata berikut:
Eenzam in trotsche natuur ligt zijn schepping op Malabar’s steilte: ‘t Woord harer machtige stem klink door tot de einden der aarde.
‘t Scheppend genie van De Groot verbonds trots d’oorlogsbezwaren, Nederland en Indie, zo ver uiteen, door den trillenden aether.
“Secara garis besar puisi tersebut menggambarkan keberadaan ciptaan dalam kesunyian kemegahan alam Malabar yang terjal, kekuatan suara rangkaian kata-kata berbunyi sampai ujung dunia. De Groot menciptakan sarana menghubungkan Nederland nun jauh di sana dengan Hindia belanda melalui gelombang udara,” tulis Sudarsono Katam dalam Tjitaroemplein (2014).
Monumen peringatan berdirinya Stasiun Radio Malabar dihancurkan sekitar tahun 1950-an, dan di lokasi bekas monumen tersebut didirikan sebuah masjid.
Saat Perang Dunia II berkecamuk, Stasiun Radio Malabar diperebutkan para kombatan yang berseteru. Menurut Ridwan Hutagalung, penggiat sejarah Bandung, seperti ia kutip dari Pemberontakan Cileunca, Pangalengan, Bandung Selatan (1996) karya Ahmad Mansur Suryanegara, Stasiun Radio Malabar sempat menjadi media propaganda Jepang dengan melakukan kontak dengan Hooshoo Kanri Kyoku di berbagai daerah lain di daerah pendudukannya.
Ketika Jepang hengkang dan Belanda ingin kembali menancapkan kekuasaan di Indonesia, para pejuang republik di Bandung Selatan menghancurkan Stasiun Radio Malabar. Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)
REFLEKSI JELANG MUKTAMAR KE-16 PERSIS; ESENSI MUKTAMAR ITU MUSYAWARAH
Oleh: Dadan Wildan Anas
1. Muqaddimah
Jamiyyah Persatuan Islam (Persis) sebagai organisasi massa Islam terbesar ketiga di Indonesia, setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah akan menyelenggarakan muktamar ke-16 pada tanggal 23-26 Oktober 2020 di Soreang Kabupaten Bandung.
Dibandingkan dengan organisasi lain yang sama-sama melaksanakan Muktamar pada tahun 2020 ini, seperti Muhammadiyah yang didirikan di Yogyakarta tanggal 12 Nopember 1912 menyelenggarakan Muktamar ke-48, sementara Persis yang lahir di Bandung pada tanggal 12 September 1923 baru melaksanakan Muktamar yang ke-16, mengapa?
Bila ditelusuri dalam catatan sejarah, muktamar pertama hingga keempat Persis tidak disebut muktamar sebagaimana pada muktamar kelima hingga ke-16 yang akan datang, karena kegiatan sejenis muktamar tidak pernah digelar secara besar-besaran, cukup kumpulan beberapa orang pimpinan dan anggota untuk membicarakan perjalanan roda organisasi.
Muktamar pertama hingga keenam berlangsung di Bandung, dan tidak disebut muktamar sebagaimana lazimnya.
Tanggal 12 September 1923 ketika Persis didirikan bisa disebut sebagai Muktamar Pertama, disusul kemudian ketika Persis mendirikan Pesantren Persis pada tanggal 4 Maret 1936 bisa disebut Muktamar kedua. Berikutnya pada tanggal 24-25 Desember 1936 berlangsung konferensi Persis yang bisa disebut muktamar ketiga, lalu pada tahun 1948---tanggal dan bulan tidak tercatat---ketika Persis direorganisasi kembali oleh KH. Isa Inshary sejak dibubarkan pada jaman Jepang bisa disebut Muktamar keempat.
Kemudian Muktamar ke lima (17-20 September 1953), Muktamar keenam (15-18 Desember 1956), Muktamar ke tujuh berlangsung di Bangil (2-5 Agustus 1960), Muktamar kedelapan kembali di Bandung (25-27 Nopember 1967), Muktamar ke sembilan dalam bentuk Muakhot (16-18 Januari 1981) di Bandung, Muktamar kesepuluh berlangsung di Garut (6-8 Mei 1990), Muktamar ke-11 (2-4 September 1995) di Jakarta, Muktamar ke-12 (9-11 September 2000) di Jakarta, dan Muktamar ke-13 (3-5 September 2005) juga di Jakarta; lalu Muktamar ke-14 (25-27 September 2010) di Tasikmalaya; dan
Muktamar ke-15 (20-23 November 2015) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta; insya Allah Muktamar ke-16 direncanakan akan diselenggarakan di Soreang Kabupaten Bandung tanggal 23-26 Oktober 2020.
Dari Muktamar ke muktamar nampaknya tidak konsisten waktu penyelenggaraannya, dan baru mulai tahun 1990 berlangsung secara periodik lima tahun sekali.
2. Muktamar Di Jaman Kolonial.
Muktamar pertama sesungguhnya adalah berkumpulnya suatu kelompok tadarusan (penelaahan agama Islam) di kota Bandung yang dipimpin oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus. Bersama-sama jamaahnya dengan penuh kecintaan menelaah, mengkaji serta menguji ajaran-ajaran Islam, sehingga mereka---kelompok tadarusan yang berjumlah sekitar 20 orang itu---semakin tahu akan hakikat Islam yang sebenarnya, dan mereka pun menjadi sadar akan bahaya keterbelakangan, kejumudan, penutupan pintu ijtihad, taqlid buta, dan serangkaian praktek bid'ah, sehingga mereka mencoba melakukan gerakan tajdid dan pemurnian ajaran Islam dari faham-faham yang sesat dan menyesatkan.
Kesadaran akan kehidupan berjamaah, berimamah, dan berimarah dalam menyebarkan syiar Islam, menimbulkan semangat kelompok tadarus ini untuk mendirikan sebuah organisasi baru dengan ciri dan karakteristik yang khas.
Pada tanggal 12 September 1923 bertepatan dengan tanggal 1 Shofar 1342 H, kelompok tadarus ini secara resmi mengadakan kegiatan "muktamar" pertama untuk mendirikan organisasi baru yang kemudian diberi nama "Persatuan Islam" (Persis). Nama Persatuan Islam ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad; berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam.
Karena itu, mulai saat berdiri, Persis pada umumnya kurang memberikan penekanan bagi kegiatan organisasi. Ia tidak terlalu berminat untuk membentuk banyak cabang atau menambah sebanyak mungkin jumlah anggota. Pembentukkan sebuah cabang tergantung semata-mata pada inisiatif peminat dan tidak didasarkan pada suatu rencana yang dilakukan oleh pimpinan organisasi itu sendiri. Namun demikian, pengaruh organisasi ini jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah cabang maupun anggotanya.
Muktamar pertama Persis mendasari kegiatan organisasi berikutnya untuk lebih memperluas aktivitasnya.
Sayang, beberapa dokumen sejarah yang saya telaah tidak menunjukkan waktu yang tepat penyelenggaraan Mukatamar Persis kedua. Hanya berdasarkan interpretasi faktual dapat ditemukan bahwa Muktamar kedua berlangsung ketika Persis mulai merancang sistem pendidikan sebagai sarana dakwah, karena pada dasarnya, perhatian Persis ditujukan terutama pada penyebaran faham Al-Qur'an dan Sunnah melalui dakwah dan pendidikan.
Berbagai lembaga pendidikan yang telah didirikan kemudian dimusyawarahkan untuk melahirkan satu lembaga pendidikan yang khas dan terpadu berbentuk pesantren melalui Muktamar kedua Persis yang berlangsung pada tanggal 4 Maret 1936. Musyawarah Persis inilah yang kemudian melahirkan suatu keputusan penting dengan didirikannya secara resmi Pesantren Persatuan Islam yang pertama di Bandung pada tanggal 4 Maret 1936.
Muktamar yang cukup besar dan melibatkan banyak pihak baru digelar pada tahun 1936 yang bisa disebut muktamar ketiga dan diselenggarakan dalam bentuk konferensi Persis pada tanggal 24- 25 Desember 1936 di Gedung Persis Jalan Pangeran Sumedang.
Muktamar itu dihadiri oleh 300 orang anggota dari berbagai cabang sera para undangan diantaranya R.A.A. Wiranatakoesoemah Bupati Bandung, para wakil dari berbagai perkumpulan seperti Muhammadiyah dan Muhammadiyah bagian Pemuda Cabang Bandung, Al-Islah, Perguruan Islamiyyah, dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Cabang-cabang Persis yang hadir dalam konferensi ini antara lain Cabang Kutaraja Aceh, Betawi, Tanah Abang, Bogor, Cianjur, Cimenteng, Bandung, Cirebon, Majalaya, Mr. Cornelis (Jakarta) ditambah pula Cabang Persistri Bogor, Tanah Abang, dan Bandung.
Konferensi itu diliput oleh pers yang hadir saat itu antara lain; pers Amal, A.I.D., Nicorck, Pemandangan, Perbintjangan, dan Sin Po. Demikian pula wakil-wakil dari pemerintahan ikut hadir.
Muktamar ini membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan pembinaan internal organisasi, bukan memperluas jumlah cabang maupun anggota. Adapun keputusan dalam Muktamar Persis ketiga itu adalah: (1) Menetapkan Qanun Persis yang baru, (2) Menetapkan Qanun Persistri, sebagai bagian Istri dari Persis, dan (3) Menetapkan Qanun Pendidikan Islam, sebagai bagian sekolah dari Persis.
Untuk memantapkan roda jamiyyah dan legalisasi gerakan organisasi, Mohammad Natsir berusaha keras untuk mendapatkan status badan hukum organisasi dari pemerintah kolonial Belanda. Pengajuan badan hukum Persis oleh Mohammad Natsir diajukan pada tanggal 3 Agustus 1938, namun baru dapat disetujui pada tanggal 24 Agustus 1939 dengan keluarnya status badan hukum bagi Persis dari Directeur van Justitie (Badan Kehakiman) dengan nomor: A.43/30/20, tertanggal 24 Agustus 1939.
Pada masa pendudukan Jepang, ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Nipponisasi dan pemusyrikkan gaya Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, para pimpinan dan anggota Persis menerjunkan diri dalam pergolakan kemerdekaan, dan karenanya tidak pernah ada lagi muktamar organisasi.
3. Muktamar di Jaman Orde Lama
Pasca kemerdekaan, atas ide KH. Mohammad Isa Anshary, Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali sistem organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang.
Melalui reorganisasi tahun 1948 yang dapat disebut sebagai Muktamar ke empat, memiliki tujuan utama yaitu reorganisasi Persis pasca pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan.
Pada Muktamar ini, kepemimpinan Persis berada pada para ulama generasi kedua di antaranya K.H. Mohammad Isa Anshary sebagai Ketua Umum Persis (1948-1960), K.H.E. Abdurrahman, Fakhruddin Al-Khahiri, dan K.H.O. Qomaruddin Saleh.
Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukkan negara dan masyarakat dengan ideologi Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom). Reaksinya, Persis mengeluarkan sejumlah "manifesto politik" yang isinya kebanyakan menolak konsepsi Bung Karno tentang Nasakom; dibentuknya Front Anti Komunis oleh Isa Anshary untuk membentengi pengaruh komunis yang sudah sedemikian jauh dalam percaturan politik kenegaraan dan membahayakan umat Islam.
Masalah-masalah di atas menjadi topik pembicaraan yang digelar dalam muktamar Persis ke lima (17-20 September 1953) dan Muktamar ke enam (15-18 Desember 1956). Kedua muktamar itu tetap memilih Isa Anshary sebagai Ketua Umum PP. Persis. Karenanya dapat difahami apabila program utama Persis pada masa Isa Anshary adalah untuk memenangkan ideologi Islam dalam politik pemerintahan pada masa itu.
Persis kemudian terjun menjadi anggota istimewa Masyumi yang dipimpin oleh Mohammad Natsir. Isa Anshary dan beberapa tokoh Persis lainnya terpilih dalam unsur kepemimpinan Masyumi dan berjuang dalam percaturan politik melalui Masyumi baik di tingkat pusat maupun di daerah.
Muktamar ke tujuh berlangsung di Bangil pada tanggal 2-5 Agustus 1960. Muktamar inilah yang memunculkan konflik internal dalam jamiyyah Persis yang saya istilahkan dengan "Gelombang Dalam Gelas".
Konflik ini diawali ketika KH. Isa Anshary menyampaikan pidato berjudul Ke Depan dengan Wajah Baru yang intinya menginginkan agar Persis berubah nama dan pola perjuangan sebagaimana layaknya partai politik dengan nama baru "Jamaah Muslimin".
Ide Isa Anshary ini mendapat reaksi keras dari muktamirin yang menolak pidato Isa Anshary. Akibatnya, Muktamar Bangil tidak menghasilkan apa-apa, karena segala keputusan Muktamar dibatalkan melalui hak Veto Majelis Ulama (sekarang Dewan Hisbah).
Karena tidak menghasilkan keputusan apapun, baru pada tahun 1962 diadakan referendum di Bandung untuk memilih ketua umum yang baru. Melalui referendum ini, Ketua Umum PP. Persis dipegang oleh KH. E. Abdurrahman yang mengakhiri masa kepemimpinan K.H. Mohammad Isa Anshary (1948-1960).
Melalui referendum tahun 1962 sebagai kelanjutan dari Muktamar ke tujuh di Bangil, kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E.Abdurrahman (1962-1983) yang dihadapkan pada berbagai persoalan internal organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jamaah, Darul Hadits, Inkarus-Sunnah, dan faham-faham sesat lainnya.
4. Dari Muktamar ke Muakhot.
Di bawah kepemimpinan K. H. E. Abdurrahman, terutama setelah terjadinya G. 30 S/PKI---karena diduga ada anggota-anggota yang diragukan itikad baiknya dalam organisasi Persis---dilakukanlah pengawasan ketat untuk menjaga kualitas pelaksanaan dan pengamalan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah serta mengutamakan kualitas pelaksanaan disiplin organisasi yang berdasarkan Qanun Asasi dan Qanun Dakhili, tata kerja, thausiyyah, dan seperangkat peraturan yang berlaku dalam jam'iyyah.
Adapun kuantitas, menurut K. H. E. Abdurrahman tidak berarti diabaikan, melainkan sangat dikhawatirkan manakala jumlah yang banyak itu hanya menambah beban dan merupakan buih saja; tidak memberi manfaat sebagaimana yang diharapkan, bahkan sebaliknya dikhawatirkan akan mendatangkan madharat bagi keutuhan dan tegaknya jam'iyyah.
Dasar pemikiran K. H. E. Abdurrahman yang tidak terlalu mementingkan jumlah cabang dan jumlah anggota dapat difahami, karena dalam kepemimpinannya ditekankan arti penting jam'iyyah yang senantiasa harus berada dalam mardhatillah, sebagaimana diungkapkannya pada muakhot Persis tanggal 16 januari 1981.
Di Masa kepemimpinan KH. E. Abdurrahman, hanya dilaksanakan Muktamar dua kali, yakni Muktamar kedelapan yang kembali digelar di Bandung pada tanggal 25-27 Nopember 1967 dan muktamar ke sembilan dalam bentuk Muakhot (16-18 Januari 1981). Kedua Muktamar ini tetap mempercayakan kepemimpinan Persis dibawah KH.E. Andurrahman.
Muakhot tahun 1981 adalah muktamar yang secara politis menempatkan Persis sebagai organisasi yang bersifat non-kooperatif terhadap pemerintahan Soeharto. Kebijakan pemerintah Soeharto yang militersitik, represif, dan otoriter serta membahayakan kelangsungan organisasi dan kepentingan umat Islam mendorong Ustad Abdurrahman untuk tidak menggelar muktamar besar-besaran, melainkan dikemas dalam bentuk muakhot yang bobot dan pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan.
Ketika Ustad Abdurrahman meninggal dunia pada tahun 1983, K. H. A. Latief Mukhtar, MA terpilih menggantikan kedudukannya sebagai ketua umum (1983-1997).
Pada masa Ustad Latief Mukhtar diadakan Muktamar dua kali, yakni Muktamar ke sepuluh berlangsung di Garut (6-8 Mei 1990) dan Muktamar ke-11 di Jakarta (2-4 September 1995). Ketika KHA. Latief Mukhtar meninggal dunia tahun 1997, kepemimpinan Persis dipegang oleh KH. Drs. Shiddiq Amien yang menjabat hingga Muktamar ke 12 di Jakarta (2000) dan ia terpilih sebagai ketua umum (2000-2005; dan 2005-2010), namun beliau wafat pada 31 Oktober 2009.
Masa kepemimpinan KHA. Latief Mukhtar (1983-1997) KH. Shiddiq Amien (1997-2009), Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman (2009-2015), dan dilanjutkan saat ini oleh KH. Aceng Zakaria (2015-2020) merupakan proses regenerasi dari tokoh-tokoh Persis kepada eksponen organisasi otonom kepemudaannya (Pemuda Persis).
Pola kebijakan jamiyyah terdapat perbedaan yang cukup mendasar; jika pada awal berdirinya Persis muncul dengan isu-isu kontroversial yang bersifat gebrakan shock therapy, pada masa ini Persis cenderung ke arah low profile yang bersifat persuasif edukatif. Pada masa ini Persis berjuang menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat pada masanya yang lebih realistis dan kritis.
Gerak perjuangan Persis tidak terbatas pada persoalan-persoalan ibadah dalam arti sempit, tetapi meluas kepada persoalan-persoalan strategis yang dibutuhkan oleh umat Islam terutama pada persoalan muamalah dan peningkatan pengkajian pemikiran ke-Islaman.
4. Bermimpi Bandung Menjadi Lautan Persis
Muktamar Persis ke-14 di Tasikmalaya menjadi muktamar yang bersejarah, karena untuk pertamakalinya sepanjang berdirinya Persis, Muktamar kali ini dibuka oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, di kompleks Masjid Aisyah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ketua Panitia Muktamar saat itu, Ketua Bidang Jamiyyah PP. Persis, Tuan Atip Latifulhayat, SH., LLM., Ph. D.
Presiden bersama Ibu Ani Yudhoyono hadir bersama sejumlah pejabat, antara lain, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi; Menko Kesra Agung Laksono; dan Menteri Agama Suryadharma Ali; serta Sekretaris Kabinet, Dipo Alam.
Muktamar Persatuan Islam ke-XIV berlangsung selama tiga hari, 25-27 September 2010. Muktamar itu dilaksanakan di tiga pesantren yang ada di Tasikmalaya dan Garut. Itulah muktamar yang paling meriah karena selain dihadiri oleh Presiden juga berlangsung di basis massa Persis dengan ribuan jamaah yang memeriahkannya.
Muktamar ke-XV kembali berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta yang ketuka itu, asrama haji pondok gede sedang direnovasi dan hanya mampu menampung sekitar 1000 jamaah. Dampaknya panitia mengurangi jumlah peserta dengan 150 orang diwakili satu orang peserta. Pilihan pelaksanaan Muktamar di Jakarta saat itu, tentu jauh berbeda kondisinya dengan muktamar sebelumnya. Sudah empat kali muktamar di Pondok Gede, gaung dan syiarnya kurang luas.
Insya allah, tahun 2020 ini, penyelenggaraan Muktamar ke-16 akan berlangsung di Soreang Kabupaten Bandung, yang dapat mengulang kemeriahan seperti Muktamar di Tasikmalaya dengan beberapa alasan:
Pertama; Persis berdiri di Bandung tahun 1923, Bandung sebagai akar dan basis perjuangan Persis sejak berdirinya hingga saat ini. Pimpinan Pusat Persis, juga berada di Bandung. Dengan demikian, mobilisasi jamaah, untuk memeriahkan Muktamar, agar lebih mudah dan lebih besar.
Kedua, Bandung dan sekitarnya, termasuk Soreang, belum pernah menjadi tempat muktamar yang melibatkan massa dan jamaah Persis dalam jumlah besar kecuali muakhot tahun 1982 padahal basis masa Persis ada di Bandung;
Ketiga, akomodasi dan transportasi lebih mudah. Bandung-Soreang saat ini, mudah dijangkau dengan terhubungnya jalan tol Soreang-Pasirkoja-Pasteur yang memudahkan akses bagi jamaah;
Keempat, pembukaan Muktamar dengan jumlah massa yang besar bisa saja diselenggarakan di stadion Jalak Harupat yang dapat dihadiri ribuan jamaah dan simpatisan Persis sehingga syiarnya akan lebih terasa;
Kelima, banyak pula pesantren dan mesjid yang siap menampung para muhajirin peserta muktamar, karena wilayah Soreang dan sekitarnya, juga merupakan basis jamaah Persis.
Keenam, tiga hari muktamar di Bandung bisa menghijaukan dan mempersiskan Bandung sekaligus memproklamirkan Bandung sebagai kota Persis;
Saya membayangkan---itupun kalau wabah covid19 sudah berlalu dan aman mengumpulkan masa---melalui Muktamar ke-16, Bandung-Soreang akan menjadi Lautan Persis. Sepanjang jalan dimana mana berkibar bendera Persis. PERSIS nu Aing tea kalau mengutip bobotoh viking.
5. Esensi Muktamar itu, Musyawarah
Salah satu agenda muktamar Persis yang biasanya menarik perhatian jamaah adalah prosesi pemilihan Ketua Umum yang akan menakhodai kapal besar jamiyyah Persis.
Saat ini, Persis dipimpin oleh Al Ustad K.H. Aceng Zakaria, salah satu ulama besar yang dimiliki Persis saat ini. Jika beliau masih bersedia mengemban amanah melanjutkan kepemimpinannya, saya kira muktamar akan berlangsung cepat. Sebab harus diakui, Persis masih kekurangan tokoh ulama yang mumpuni.
Ulama generasi murid KHE Abdurrahman Allahu yarham, tidak banyak lagi yang berperan aktif di jamiyyah. Mungkin tinggal Prof. Dr. KH. Maman Abdurrahman dan KH. Romli yang juga sudah cukup sepuh. Rata rata diatas 70 tahunan
Lapis kedua setelah ustad Aceng, nampaknya belum ada yg menonjol. Dalam pandangan saya, Dr. KH. Dedeng Rosyidin mungkin salah satunya di lapis ini. Disamping ustad Dr. Uyun Kamiludin, Dr. Komarudin Saleh, Ustad Zae Nandang, Ustad Jalaludin dan ustad Daerobi yang rata rata menjelang usia 60 tahun.
Ada lapis ketiga setelah itu di kisaran usia 50 tahunan. Pada lapis ini, mereka mantan aktivis Pemuda Persis. Ada Prof. Atip Latifulhayat, Ph. D, ada Dr. Irfan Syafrudin, KH. Drs. Ustad Uus Ruhiyat, dan Ustad Wawan Sofwan misalnya.
Usia dibawah 50 tahunan, yang nampak menonjol saat ini ada Dr. KH. Jeje Zaenudin, Dr. Tiar Anwar Bahtiar, Dr. Haris Muslim, Dr. Ihsan Setiadi Latif, Dr. Latif Awaludin, Dr. Nasrudin Syarif, Dr. Nurmawan, KH. Amin Mukhtar, dan masih banyak lagi kader lain yang dari sisi pendidikan cukup mumpuni.
Saya berharap muktamar tahun 2020 lebih mengedepankan musyawarah mufakat dibandingkan dengan pemungutan suara ala demokrasi yang terkadang dapat memecah belah umat.
Jika KH. Aceng Zakaria masih bersedia melanjutkan kepemimpinannya, saya kira aklamasi menjadi solusi. Jika beliau tidak lagi bersedia karena faktor usia misalnya, maka para inohong persis bermusyawarah untuk menentukan penggantinya. Tanpa harus mempertandingkan atau adu geulis antar ulama Persis. Dengan cara itu, jamiyah akan tetap utuh, musyawarah untuk mufakat menjadi pilihan terbaik daripada pemilihan langsung.
Semoga muktamar kali ini lebih kental nuansa musyawarahnya dibanding nuansa demokrasinya. Tunjukan kepada umat dan bangsa Indonesia, jamaah Persis jamaah yg taat pada Allah, Rasul, dan imamah.
Yang juga cukup penting, mudah-mudahan Muktamar tahun ini dapat menghasilkan tasykil Pimpinan Pusat yang tangguh, amanah, ikhlas, dan istiqomah sekaligus melahirkan program jihad yang lebih implementatif. Agenda utama yang perlu dibahas dalam Muktamar ke-16 adalah bagaimana menempatkan kembali posisi organisasi Persis sebagai organisasi yang bergelut dalam bidang pengkajian, penelitian, dan menghasilkan produk hukum (Islam) sebagai jawaban terhadap berbagai persoalan umat. Tampilkan kembali ruh utama jamiyyah Persis sebagai penggerak pemikiran Islam di Indonesia.
Wallahualam
TIDAK ADA LOGIKA DAN SAINS DALAM MUSIBAH
TIDAK ADA LOGIKA DAN SAINS DALAM MUSIBAH
oleh : Ustadz Djazuli Ruhan Basyir
Kalau memang kebersihan bisa mencegah corona, mungkin Italia ngga akan kolaps kena corona, karena Italia termasuk negara terbersih di Eropa.
Kalau memang panas bisa membunuh corona, mungkin Iran ngga akan rubuh karena corona, karena Iran negara gurun yang panas.
Kalau memang kehati-hatian bisa mencegah corona, mungkin pangeran Charles tidak akan terpapar Covid-19, karena hidupnya paling hati-hati dan terjaga.
Dan kalau memang orang yang cuek dan sembrono (maaf) pola hidupnya pasti kena corona, mungkin para pengamen, kuli-kuli kasar dan para pedagang pasar tradisional sudah pada tersungkur semua, terutama orang gila yang hidupnya penuh dengan kotoran terlebih dahulu karena kena corona.
Kenapa demikian? Karena hidup ini tidak harus selalu sejalan dengan teori, sains dan akal manusia.
Jangan lupakan Qodho dan Qodarnya Allah serta kuatkanlah iman kepada keduanya. Dialah Yang Maha Menentukan, Menjamin dan Menjaga. Jangan terlalu yakin dengan pendapat sains.
Sehingga lupa akan kekuasaan-NYA, berpaling dari-NYA, hadapilah takdir buruk nan pahit ini dengan takdir terbaik-Nya yaitu banyak berdoa dan bermunajat kepada-Nya seraya memohon ampun dan meminta agar segera menghentikan bala' yang sangat berat ini.
Rasulullah ﷺ bersabda,
لا يَرُدُّ القَضَاءَ إلاّ الدُّعَاء
"Tidak ada yang dapat merubah takdir kecuali doa." Hasan. HR. At-Tirmidzi
Ibnul Qayyim berkata,
"Doa merupakan sebab dan ikhtiar terbaik di dunia yang mampu mendatangkan manfaat dan menghindari serta menolak bala."
Kita tidak tahu kapan bala' ini akan berakhir dan kita tidak tahu apakah virus corona ini semakin parah ataukah kian mereda?
Itu rahasia Allah, hanya Dia yang mengetahui jawabannya sedangkan kita hanya bisa beribadah dan bertawakkal.
Hentikan semua perdebatan, jangan banyak mengeluh, jangan menyebar hoaks, apalagi berburuk sangka kepada Allah!
Ayo tetap waspada terhadap corona, tanpa harus berlebihan menyikapinya, yang pasti corona ini adalah teguran dan ujian yang harus kita hadapi dengan penuh kesabaran, selalu menjaga shalat, taubat dan banyak berdoa. wallaahu a'lam.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat membuka mata hati setiap orang yang membacanya.
oleh : Ustadz Djazuli Ruhan Basyir
Kalau memang kebersihan bisa mencegah corona, mungkin Italia ngga akan kolaps kena corona, karena Italia termasuk negara terbersih di Eropa.
Kalau memang panas bisa membunuh corona, mungkin Iran ngga akan rubuh karena corona, karena Iran negara gurun yang panas.
Kalau memang kehati-hatian bisa mencegah corona, mungkin pangeran Charles tidak akan terpapar Covid-19, karena hidupnya paling hati-hati dan terjaga.
Dan kalau memang orang yang cuek dan sembrono (maaf) pola hidupnya pasti kena corona, mungkin para pengamen, kuli-kuli kasar dan para pedagang pasar tradisional sudah pada tersungkur semua, terutama orang gila yang hidupnya penuh dengan kotoran terlebih dahulu karena kena corona.
Kenapa demikian? Karena hidup ini tidak harus selalu sejalan dengan teori, sains dan akal manusia.
Jangan lupakan Qodho dan Qodarnya Allah serta kuatkanlah iman kepada keduanya. Dialah Yang Maha Menentukan, Menjamin dan Menjaga. Jangan terlalu yakin dengan pendapat sains.
Sehingga lupa akan kekuasaan-NYA, berpaling dari-NYA, hadapilah takdir buruk nan pahit ini dengan takdir terbaik-Nya yaitu banyak berdoa dan bermunajat kepada-Nya seraya memohon ampun dan meminta agar segera menghentikan bala' yang sangat berat ini.
Rasulullah ﷺ bersabda,
لا يَرُدُّ القَضَاءَ إلاّ الدُّعَاء
"Tidak ada yang dapat merubah takdir kecuali doa." Hasan. HR. At-Tirmidzi
Ibnul Qayyim berkata,
"Doa merupakan sebab dan ikhtiar terbaik di dunia yang mampu mendatangkan manfaat dan menghindari serta menolak bala."
Kita tidak tahu kapan bala' ini akan berakhir dan kita tidak tahu apakah virus corona ini semakin parah ataukah kian mereda?
Itu rahasia Allah, hanya Dia yang mengetahui jawabannya sedangkan kita hanya bisa beribadah dan bertawakkal.
Hentikan semua perdebatan, jangan banyak mengeluh, jangan menyebar hoaks, apalagi berburuk sangka kepada Allah!
Ayo tetap waspada terhadap corona, tanpa harus berlebihan menyikapinya, yang pasti corona ini adalah teguran dan ujian yang harus kita hadapi dengan penuh kesabaran, selalu menjaga shalat, taubat dan banyak berdoa. wallaahu a'lam.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat membuka mata hati setiap orang yang membacanya.
MOHAMMAD NATSIR; ULAMA POLITIKUS
Oleh
Dadan Wildan Anas
1. Mohammad Natsir, Kader A. Hassan
A. Hassan sebagai guru dan ulama Persis adalah seorang pendidik yang sangat menaruh perhatian terhadap para pemuda Islam yang tengah menuntut ilmu di sekolah-sekolah Belanda, karena dalam keyakinannya para pemuda Islam itu adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Untuk membekali para pemuda pelajar itu dengan ilmu-ilmu agama Islam, A. Hassan sengaja menyediakan waktu khusus buat mereka untuk bersama-sama mengkaji dan memperdalam agama Islam. Di antara murid-murid sekolah Belanda yang sering datang ke rumah A. Hassan untuk bertanya dan mmembahas soal-soal agama Islam adalah Mohammad Natsir.
Mohammad Natsir dilahirkan di Kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang Sumatera Barat pada tanggal 17 Juli 1908, ia adalah putra pasangan Sutan Saripado seorang pegawai pemerintah dan Khadijah. Mohammad Natsir pergi ke Bandung pada 1927 untuk melanjutkan studinya pada AMS A-2 (Algemene Middelbare School Klasieke Afdeling, setingkat SMA sekarang) setelah ia menyelesaikan sekolah dasarnya di HIS (Hollandsch Inlandsche School) dan Madrasah Diniyah di Solok, Padang (1916-1923) dan pendidikan menengah pertamanya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Padang (1923-1927).
Selain menyelesaikan sekolah formalnya, Natsir pun pernah belajar pada sekolah agama di Solok yang dipimpin oleh Tuanku Mudo Amin, seorang pengikut dan kawan Haji Rasul. Ia juga mengikuti pelajaran secara teratur yang diberikan oleh Haji Abdullah Ahmad, seorang tokoh pembaharu di Padang. Dari kegiatannya berguru kepada beberapa ulama pembaharu itu, dapat dikatakan bahwa Natsir telah mengenal ajaran-ajaran pembaharuan Islam ini sejak kecil.
Di Bandung, minat Natsir terhadap agama semakin berkembang. Pada 1929 ia mulai mengajar agama Islam di Hollands Inlandsche Kweekschool (HIK: sekolah guru) dan MULO. Selain itu ia berusaha memperdalam agamanya dengan mengikuti pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh Persis di bawah bimbingan A. Hassan, juga turut serta secara teratur mengikuti shalat jumat yang diselenggarakan oleh Persis.
Selain itu pula, Natsir pun mengikuti pelajaran agama di kelas khusus yang diadakan oleh A. Hassan untuk para anggota muda Persis yang sedang belajar di berbagai sekolah milik pemerintah Belanda. Bahkan dengan inisiatif Natsir, Persis kemudian mendirikan berbagai lembaga pendidikan, antara lain Pendidikan Islam (Pendis) dimana Natsir duduk sebagai direkturnya (1932-1942), serta mendirikan Pesantren Persatuan Islam pada tanggal 4 Maret 1936 untuk membentuk kader-kader yang mempunyai keinginan memperdalam dan mampu mendakwahkan, mengajarkan, dan membela ajaran Islam.
Dengan demikian, Natsir mempunyai hubungan yang rapat dengan Persis.
Natsir adalah orang yang terlibat dalam proses kaderisasi di bawah bimbingan A. Hassan. Dalam proses kaderisasi ini, Natsir mengalaminya pula dalam organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) Cabang Bandung (1928-1932) di bawah bimbingan Agus Salim. Agus Salim telah berfungsi sebagai bapak intelektual yang berperan dalam membina para pemuda muslim dalam pergerakan organisasi pemuda Islam, yang nantinya banyak menduduki jabatan elit politik mewakili umat Islam. Hasilnya adalah kelompok modernis dengan segala kejujuran dan intelektualitasnya.
Natsir menjadi orang yang beruntung mendapatkan warisan kecendikiaan Agus Salim dan warisan pemahaman agama Islam dari A.Hassan. A. Hassan dan Mohamad Natsir adalah dua tokoh yang berkiprah dan berperan penting dalam Persis. A. Hassan kemudian menjadi ujung tombak Persis dan menjadi figur yang menarik orang untuk masuk Persis, karena Persis pada mulanya tidak lebih dari sekedar kelompok pengajian yang tidak memiliki karakteritik yang jelas. Karenanya, setelah menemukan karakteristik tersendiri dari ideologi Islahnya A.Hassan, Persis menjadi daya pikat yang kuat bagi kalangan muda Islam terdidik, terutama di kota Bandung.
A. Hassan telah berfungsi sebagai pemimpin kharismatik bagi Persis, dan dengan berbagai pemikirannya telah memberikan bentuk dan kepribadian yang nyata kepada Persis. Sementara Natsir, sebagai kader A. Hassan menjadi tokoh intelektual muda Persis yang membawa Persis pada sentuhan-sentuhan modern sebagai sebuah organisasi. Begitu kuatnya pengaruh dan wibawa A. Hassan dan Mohammad Natsir dalam organisasi yang baru muncul belakangan ini setelah organisasi lain berdiri, sehingga pada masa-masa berikutnya boleh dikatakan pendirian Persis dengan pendirian A. Hassan menjadi identik, dan dibawah Natsir Persis menjelma sebagai sebuah organisasi yang tidak lagi hanya kelompok diskusi atau pengajian tadarusan kelas pinggiran, tetapi sebagai sebuah organisasi Islam modernis yang potensial dan dalam waktu singkat telah menempatkan Persis dalam barisan organisasi-organisasi Islam modernis.
2. Aktivitas di Jaman Kolonial Belanda
Dilihat dari sudut pandang politik, latar belakang berdirinya Persis tidak dapat dilepaskan dari kekhawatiran para pendirinya terhadap propaganda-propaganda kaum nasionalis dan komunis. Dalam pengajian rutin yang dipimpin oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus, dua orang pendiri Persis, topik pembicaraan bisa bermacam-macam; mulai dari perbincangan masalah-masalah agama atas dasar Al-Qur'an dan Sunnah, masalah-masalah agama yang dibicarakan dalam majalah Al-Munir yang terbit di Padang dan majalah Al-Manar dari Mesir, pertikaian-pertikaian antara Al-Irsyad dan Jamiat Khaer, sampai pula kepada topik pembicaraan menarik tentang masalah komunisme yang telah berhasil memecah belah Syarekat Islam yang begitu kuat yang menyebabkan umat Islam di Bandung menjadi resah.
Masalah komunis di Bandung ini juga menyebabkan perpecahan, terutama setelah Syarekat Islam lokal Bandung resmi menyokong pihak komunis pada kongres nasional SI yang ke-6 di Surabaya pada tahun 1921 (Deliar Noer, 1985:95). Perpecahan ini merupakan sebab timbulnya kelompok-kelompok yang berperan dalam percaturan politik nasional. Berkembangnya perpecahan di kalangan umat Islam itu pada mulanya merupakan pertentangan dalam tubuh Syarekat Islam sendiri setelah masuknya faham komunis (terhadap orang-orang Islam di tubuh SI) dan kemudian kelompok nasionalis yang netral agama (yang juga sebagian besar beragama Islam). Bila orang komunis pada umumnya anti agama, yang kemudian jadi anti Islam, maka golongan nasionalis yang netral agama ingin membatasi masalah agama pada bidang perseorangan.
Golongan nasionalis ini---terutama diwakili Soekarno, yang nantinya berdebat sengit dengan A. Hassan dan Natsir---dalam pidato-pidatonya, seringkali lebih mengagungkan masa Hindu di Indonesia; sering merujuk pada konsep-konsep Tilak dan Rabindranath Tagore dari India, dan pada suatu saat, bahkan lebih membanggakan Digul (tempat pembuangan orang-orang pergerakan nasional di Irian Jaya) daripada kota Mekah.
Adapun golongan Komunis, lebih banyak memprotes golongan kapitalis terhadap rakyat miskin, dan kadang-kadang mempersamakan golongan kapitalis ini dengan orang-orang muslim yang kaya yang berhasil pergi ke Mekah menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kapal-kapal milik kapitalis asing (lihat Deliar Noer, 1987). Latar belakang politik seperti itu merupakan salah satu faktor yang mempercepat pendirian organisasi Persis, terutama untuk menghindari perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam. Sehingga tepatlah, dalam kondisi demikian, para pendiri Persis menekankan pentingnya persatuan pemikiran, persatuan rasa, persatuan suara, dan persatuan usaha dalam Islam yang dirangkum dalam satu moto Persatuan Islam yang kemudian secara resmi menjadi nama organisasi yang didirikan pada tanggal 12 September 1923.
Pada masa akhir kolonial Belanda, Persis tidak secara langsung terlibat dalam aktivitas politik praktis sebagaimana Syarekat Islam dan organisasi-organisasi yang berfaham kebangsaan yang bermunculan kemudian. Namun, Persis tidak dapat melepaskan dirinya dari persoalan-persoalan politik yang berkembang pada saat itu. Salah satunya perbincangan politik antara---menurut istilah Endang Syaifuddin Anshary---nasionalis Islami dan nasionalis sekuler tentang Islam dan kebangsaan. Persis, yang diwakili A. Hassan dan Mohammad Natsir, terlibat dalam polemik tersebut melawan kubu Soekarno.
Ketika faham kebangsaan Indonesia sedang mencari bentuknya, Soekarno melontarkan pemikiran-pemikiran yang banyak dipengaruhi oleh gerakan nasionalisnya Kemal Attaturk dari Turki yang dinilainya berhasil dalam sistem kenegaraan. Soekarno mengemukakan pemikiran-pemikirannya dalam artikel di majalah Panji Islam antara lain ia mengungkapkan bahwa Islam di Turki sangat modern dan radikal, dan di sana agama telah dipisahkan dari negara. Menurutnya, tindakan Kemal Attaturk dalam memisahkan agama dan negara dipaksakan oleh keperluan Turki sendiri. Ia pun menghendaki agar kebangsaan Indonesia pun seperti apa yang berlaku di Turki; agama dan negara dipisahkan.
Pemikiran Soekarno inilah yang memicu reaksi politik dari Persis, terutama dari A. Hassan dan Mohammad Natsir.
Menurut A. Hassan dan Natsir, agama dan negara tidak dapat dipisah-pisahkan. Tulisan-tulisan Soekarno yang menunjukkan maksudnya untuk memisahkan agama dari kehidupan politik, mendapat reaksi keras dari berbagai pihak. A. Hassan membuat bantahan dalam majalah Al-Lissan terhadap artikel Soekarno per kalimat, sehingga menjadi jelas dimana kesalahan-kesalahan pandangan Soekarno itu.
A. Hassan dan Natsir membantah pula beberapa cara berpikir Soekarno yang seolah-olah hendak "memodernisasikan" Islam. Ketika Soekarno membahas soal poligami, misalnya, Natsir mempertahankan pendapatnya, dengan bersandar pada Al-Qur'an dan Sunnah bahwa poligami tidak dilarang. Sementara Soekarno dengan partainya (Partai Nasional Indonesia-PNI) menolak poligami, meskipun dalam beberapa kesempatan Soekarno harus meralat pendapatnya.
Soekarno, demi masa PNI-nya, tetap menolak poligami. Natsir, dengan berdasar Al-Qur'an dan Sunnah, membela poligami. Kenyataannya, sampai akhir hayatnya Natsir tetap bermonogami (satu istri), sementara Soekarno semasa hidupnya nikah cerai, dan berpoligami.
Ketika Soekarno membahas fenomena Turki, dengan menunjukkan berbagai buku yang seolah-olah menjadi rujukannya, Natsir dengan cerdik dan cermat menunjukkan kekeliruan Soekarno.
Natsir menunjukkan bagaimana di negara demokratis Turki yang diciptakan Kemal Attaturk itu, pers dibungkam, kawan seiring yang banyak berjasa, semisal Nuruddin Pasya, dilemparkan dari parlemen, ribuan sekolah agama ditutup dengan paksa, partai oposisi dilarang, dan kebokbrokan-kebokbrokan demokratis lain yang tak Islami. Natsir tetap berpendapat bahwa masalah hubungan agama dengan negara memang penting, tapi tidak berarti bahwa masalah shalat dan air wudlu, misalnya, semata-mata hanya bagian kecil yang tak berarti.
Kepiawaian Natsir dalam menulis berbagai persoalan telah dimulainya sejak ia menjadi siswa AMS, Natsir telah banyak menulis dalam berbagai majalah, terutama dalam majalah Pembela Islam---sebuah majalah yang banyak dikagumi orang karena ketegasannya mempertahankan kemurnian Islam dari segenap serangan yang memojokkan Islam---yang diterbitkan oleh Persis, juga dalam majalah An-Noer (Het-Licht) sebuah majalah yang dikelola oleh Pengurus Besar Persatuan Pemuda Islam (Jong Islameten Bond) dimana Natsir pernah menjadi Ketua Badan Inti (kernlichaam) (Alimin,1957:i).
Sebagai penulis kreatif, Natsir senang sekali duduk seorang diri di meja tulisnya; menulis untuk menyatakan pikiran-pikirannya dengan merdeka, seperti juga kegemarannya memberi uraian di depan murid-muridnya. Di masa penjajahan Belanda, Mohammad Natsir telah menulis beberapa buku dalam bahasa Belanda yang diperuntukkan bagi para pemuda yang tergabung dalam JIB antara lain Komt tot het Gebed (1931), Mohammad als Proffet (1931), Gouden Regels uit den Quran (1932), De Islamietische Vrouw en haar Recht (1933), dan Het Vasten (1934). Tulisannya dalam bahasa Indonesia yang dibukukan adalah Cultuur Islam (1936) yang ditulisnya bersama-sama dengan Prof. C.P.Wolf Kemal Schoemaker.
Demikian pula antara tahun 1936-1941 Natsir banyak menulis terutama dalam mingguan Pandji Islam dan Pedoman Masyarakat yang terbit di Medan. Pada waktu itu tulisan-tulisannya sudah banyak memasuki bidang ketatanegaraan, hal ini disebabkan oleh karena kegentingan dunia internasional yang semakin memuncak. Setelah Perang Dunia II meletus, dan pemerintah Belanda terseret ke dalam kancah peperangan, tulisan-tulisan Natsir semakin tajam dan semakin tinggi mutunya dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda. Sebagian tulisan-tulisanya itulah kemudian dibukukan dalam buku Capita Selecta jilid I dan II (1957).
Akan tetapi, meskipun Natsir banyak menulis, orang tidak banyak mengenal namanya ketika itu karena ia menggunakan nama samaran A. Muchlis. Karenanya penulis yang bernama "A. Muchlis" banyak dikenal luas oleh para pembaca majalah-majalah dari desa-desa sampai kepada pegawai tinggi di kota-kota, karena tulisan-tulisannya yang penuh argumentasi, bahasanya teratur, halus, dan tajam sindirannya (Alimin, 1957:i). Dalam berbagai tulisannya, Natsir menempatkan Islam bukanlah semata-mata suatu agama, tetapi suatu "pandangan hidup" yang meliputi soal-soal politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Baginya, Islam adalah sumber perjuangan, sumber penentangan terhadap segala bentuk penjajahan, eksploitasi manusia atas manusia,sumber pemberantasan kebodohan dan kejahilan, sumber pemberantasan kedewaan, juga sumber pemberantasan kemelaratan dan kemiskinan.
Dalam pandangannya, Islam tidak memisahkan antara keagamaan dan kenegaraan; Islam adalah primer.
Selain menulis, untuk menghadapi pemerintah Kolonial Belanda dari aspek politik diplomatis, aktivitas Natsir diarahkan pada aktivitas yang berbau politik. Dalam hal ini, perjuangan Natsir dimaksudkan sebagai upaya penegakkan cara hidup Islam dalam bidang politik. Perjuangan ini telah dimulainya sekitar tahun 1930-an di saat pergerakan kebangsaan sedang menuju kematangan. Namun, pada waktu itu pergerakan Natsir lebih banyak berbentuk gagasan politik tentang hubungan negara dengan Islam, kedudukan nasionalisme, bentuk pemerintahan, dan sebagainya.
Gagasan tersebut bersama gagasan dari tokoh-tokoh lainnya yang seirama kemudian disalurkan dalam wadah MIAI, sehingga Ia secara langsung mendukung Persis untuk mencatatkan diri sebagai anggota organisasi Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) yang telah berdiri tahun 1935. Dengan masuknya Persis ke dalam MIAI pada tahun 1941 sebagai anggota biasa telah memberikan kontribusi pemikiran terhadap MIAI, dan kepercayaan penuh diberikan oleh ke-21 organisasi anggota MIAI untuk menempatkan Persis yang diwakili A. Hassan dalam jabatan ketua pembelaan Islam terhadap aliran-aliran yang akan menghancurkan Islam di Indonesia. Jabatan yang diberikan itu merupakan suatu pengakuan dari tokoh-tokoh ulama Islam dan organisasi-organisasi Islam Indonesia terhadap potensi Persis dalam bidang itu.
Dalam organisasi ini, pertemuan-pertemuan antarulama dari berbagai organisasi menjadi dialog kerjasama untuk memecahkan masalah bersama, dan Persis turut berperan aktif didalamnya. Demikian pula pada jaman penjajahan Jepang yang memberikan harapan baru bagi umat Islam; harapan yang disebabkan oleh karena kekecewaan yang meluas pada rakyat Indonesia terhadap penolakan pihak Belanda mengenai berbagai tuntutan mereka dalam bidang politik, di samping kurangnya kesadaran umat Islam terhadap fasisme dan imperialisme Jepang yang memang belum kentara. Maka rakyat Indonesia pada umumnya mengharapkan sifat yang lebih kompromistis dari pihak Jepang dalam hal politik.
Berbeda dengan politik Belanda yang memusuhi ulama, Jepang nampaknya berusaha mendekati ulama bahkan hendak dijadikannya sebagai alat penetrasi ke dalam kehidupan rohani bangsa Indonesia. Jepang menyadari bahwa bangsa Indonesia sebagian besar beragama Islam dan penganut yang taat. Dengan demikian, peranan ulama di Indonesia jauh lebih besar daripada peranan para pemimpin yang hanya berasaskan nasionalisme. Untuk menarik minat dan perhatian kaum muslimin, Jepang memperlihatkan ketidaksetujuannya terhadap kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda.
Jepang menyatakan bahwa pemerintah Belanda telah banyak memberikan perhatian terhadap kristen, sementara kalangan Islam tidak mendapat perhatian. Jepang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kebijaksanaan itu. Namun, pernyataan Jepang yang akan memerdekakan Indonesia dan menghormati serta menjunjung tinggi Islam hanyalah sekedar propaganda, Jepang hendak memanfaatkan sentimen bangsa dan kaum muslimin Indonesia agar simpati kepada Jepang dan mau membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya, lain tidak.
Tujuan Jepang yang paling utama adalah hendak menipponkan bangsa Indonesia; kaum muslimin, termasuk para ulamanya, dipaksa untuk berseikerei--- membungkukkan badan ke arah matahari terbit setiap pagi; dalam setiap pertemuan umum harus dibuka dengan saiker setiap kali nama Tenno Heika disebut, hadirin harus berdiri sigap; setiap penutupan sebuah pertemuan, harus mengucapkan Banzai Dai Nippon (hidup Dai Nippon) dan Allahu Akbar tiga kali. Untuk menipponkan bangsa Indonesia maka seluruh pengaruh kebudayaan barat dan Arab (Islam) harus dibersihkan dan diganti dengan kebudayaan Jepang; sekolah-sekolah/pesantren yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dan mengajarkan bahasa Arab ditutup, semua organisasi Islam dibekukan.
Praktis aktivitas Persis secara organisatoris pada masa Jepang ini tidak ada; pesantren Persis bagi remaja dan pemuda ditutup, yang ada hanyalah pesantren setingkat Ibtidaiyah untuk anak-anak.
Melihat kondisi yang demikian, muslim Indonesia pun sadar, terlebih-lebih Persis yang segera menyadari bahwa Jepang bukanlah hendak menghormati Islam, tetapi hendak menghapus Islam untuk diganti dengan shintoisme; atau paling kurang hendak menshintoismekan Islam. Larangan diajarkan aksara dan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar di pesantren-pesantren sudah cukup mengundang kecurigaan. Di samping itu, perintah seikerei yang dalam gerakannya hampir sama dengan ruku dalam shalat dilihat oleh Persis sebagai suatu paksaan untuk berbuat syrik. Muslim Indonesia dipaksa ruku bukan ke arah kiblat yang di Indonesia berada di sebelah barat, tetapi ke sebelah timur ke arah matahari terbit; ruku bukan kepada Allah, tetapi kepada Tenno Heika.
Persis jelas tidak dapat menerima bahwa Tenno Heika adalah keturunan Dewa Matahari Amaterasu Omikami yang harus disembah dan dihormati dengan takdzim, karena dalam pandangan Persis mengakui kebenaran Shintoisme sama dengan mengkufurkan Allah. Persis berpendapat, bahwa Jepang lebih kafir daripada Belanda yang masih tergolong ahli kitab. Oleh karena itu sejak tahun-tahun pertama pendudukan Jepang di Indonesia Persis sudah kehilangan kepercayaan terhadap Jepang, bahkan mereka telah menunjukkan sikap permusuhan. Sikap Persis tidak hanya diperlihatkan oleh unsur-unsur pimpinan pusatnya, melainkan juga ditunjukkan oleh seluruh anggotanya. Beberapa pimpinan organisasi Islam lainnya masih menyatakan mau bekerjasama dengan Jepang, dengan catatan tidak menghina Islam. Namun tidak demikian halnya dengan Persis, Persis menolak bekerjasama dan menentang setiap kebijakan pemerintah Jepang. Para pimpinan Persis dan anggotanya berusaha sendiri-sendiri menentang Jepang, karena secara organisasi tidak memungkinkan. Resikonya, beberapa pimpinan Persis mengalami penyiksaan oleh tentara Jepang antara lain Mohammad Natsir, Isa Anshary, Rusyad Nurdin, dan Eman Sar'an ( Eman Sar'an,1988).
Timbulnya reaksi penolakan terhadap segala kebijakan pemerintah Jepang akibat dari kesalahan politik yang dapat menyinggung perasaan umat Islam itu berusaha dihapus oleh pihak Jepang; mereka berusaha menarik kaum muslimin dan mengangkatnya dengan cara memberikan kebebasan bergerak dalam organisasi Islam yang telah berjalan sejak jaman kolonial Belanda dengan mendirikan kembali MIAI pada tanggal 5 September 1942, yang kemudian berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi)---bukan Masyumi Partai politik pimpinan Mohammad Natsir. Cara lain yang diadakan oleh pihak Jepang untuk menarik kembali simpati kaum muslimin, yang diakhir kemudian memberi keuntungan bagi bangsa Indonesia, adalah diselenggarakannya latihan-latihan kemiliteran bagi para santri, ulama, dan para pemuda muslim lainnya.
Adanya perubahan sikap politik Jepang terhadap umat Islam dan atas permintaan Gubernur Militer Jepang di Jawa Barat serta permintaan dari walikota Bandung, Mohammad Natsir, dengan persetujuan Persis dan restu A. Hassan, menerima jabatan sebagai Kepala Biro Pendidikan pemerintah Jepang di Jawa Barat yang berkedudukan di Bandung (1942-1945).
Kesempatan ini tidak disia-siakan Natsir untuk menghimpun kekuatan kaum muslimin, Natsir kemudian membentuk Majelis Islam yang statusnya semi pemerintah dan berhasil menghimpun para muballigh Persis untuk melaksanakan da'wah dengan leluasa sampai ke pelosok desa dengan berbagai macam fasilitas pemerintah Jepang yang dimanfaatkan Natsir untuk kepentingan Islam.
Kesempatan inilah yang dijadikan alat da'wah oleh Natsir guna menyusun kekuatan dan pembinaan iman serta memantapkan aqidah dari berbagai upaya pemusyrikkan yang dilakukan Jepang. Pada akhirnya, usaha Jepang untuk menarik umat Islam ke dalam pangkuannya ternyata tidak membuahkan hasil, justru sebaliknya, umat Islam memperoleh keuntungan dari berbagai fasilitas yang diberikan Jepang, bukan untuk membantu Jepang tetapi untuk kepentingan umat Islam sendiri sebagaimana dilakukan Natsir.
W. F. Wertheim dalam kata pengantarnya terhadap buku Harry J. Benda (1980) mengemukakan bahwa matahari terbit (baca; Jepang) sia-sia mencoba menarik bulan sabit (baca; umat Islam) untuk menetap di dalam orbitnya. Bulan sabit terlalu besar untuk menjadi satelit yang tidak berbahaya bagi siapapun, bulan sabit tidak mungkin dan tidak akan hanya jadi sekedar sebuah sputnik.
3. Dari Persis ke Masyumi
Pada konferensi umat Islam tanggal 7 dan 8 Nopember 1945---tokoh-tokoh Persis turut serta dalam pertemuan itu meskipun atas nama pribadi-pribadi---diputuskan berdirinya Majelis Syuro Pusat bagi umat Islam Indonesia yang disebut Masyumi sebagai satu-satunya partai politik umat Islam Indonesia. Ketika Persis secara resmi berdiri kembali pada tahun 1948, Persis tercatat sebagai anggota istimewa Masyumi, sebagaimana Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Anggota-anggota Persis secara pribadi dianjurkan untuk memasuki partai Masyumi, dan bahkan beberapa tokoh Persis terpilih sebagai pimpinan Masyumi di tingkat pusat maupun daerah.
Masuknya Persis sebagai anggota istimewa Masyumi tidak lepas dari "fatwa" para ulama Persis sebagaimana terlihat dalam tulisan-tulisan A.Hassan, Mohammad Natsir, dan Isa Anshari yang menegaskan bahwa semua orang Islam wajib aktif dalam kegiatan politik salah satu kewajiban agama.
Manifesto Persis tahun 1953 menyatakan bahwa pandangan Persis dalam masalah-masalah agama adalah revolusioner-radikalisme, yaitu aliran yang hendak mengubah masyarakat sampai ke akar-akarnya. Aliran ini adalah aliran Al-Qur'an dan Sunnah; aliran yang hendak membongkar kaum muslimin secara radikal dan revolusioner secara terus terang, tanpa tedeng aling-aling, tidak ragu-ragu, dan penuh kepastian. Ini merupakan satu langkah penting dalam rangka menegakkan potensi politik umat Islam yang kuat, sehat, dan (Isa Anshary, 1956:26). Hal senada tertuang pula dalam manifes perjuangan Persis yang menyatakan bahwa: “Persatuan Islam (Persis) semenjak berdirinya bersemboyan hendak mengembalikan umat Islam kepada pimpinan Al-Qur'an dan Sunnah, maka isi semboyan dan inti da'wah itu bukan saja terbatas dalam lapangan aqidah dan ibadah, tetapi lebih luas daripada itu, ialah berjuang menegakkan keyakinan; dengan Al-Qur'an dan Sunnah berjuang dalam lapangan politik untuk memenangkan ideologi Islam”.
Hal ini dipertegas lagi oleh pidato Mohammad Natsir pada Muktamar Persis ke VI (19 ) yang menyatakan bahwa: “Persatuan Islam yang banyak melakukan pekerjaan da'wah mempunyai satu fungsi yang paling besar. Apa yang tidak tercapai oleh partai politik seperti Masyumi atau PSII harus dilakukan oleh Persatuan Islam, dimana orang sudah ngeri mendengarkan politik atau mendengar nama Masyumi. Tetapi kalau Persatuan Islam sebagai satu perkumpulan da'wah saja masih terbuka jalan yang luas untuk memperkokoh barisan umat Islam, untuk memberikan tanggungjawab umat Islam, dan untuk menyusun kekuatan politik umat Islam. Tetapi politik kita tergantung pada da'wah kita”.
Isa Anshary (1956:48) merumuskan pernyataan politik Persis sebagai suatu perjuangan total dan frontal yang mengandung harapan dan idaman kemenangan dalam tiga lapangan dan arena perjuangan,yaitu:
Pertama, kemenangan dalam lapangan hukum, konstitusi negara yang berdasar Al-Qur'an dan Sunnah; lahirnya Republik Indonesia yang berkejayaan dan berkebajikan yang diliputi oleh keampunan illahi.
Kedua, kemenangan dilapangan hukumah, pemerintahan dan kekuasaan negara, baik legislatif maupun eksekutif, sehingga umat Islam berkuasa penuh dalam mengendalikan kekuasaan dan memimpin pemerintahan.
Ketiga, kemenangan di lapangan Mahkum Alaih, lapangan masyarakat dan pergaulan hidup bersama, yang berintikan masyarakat islamiyah di atas kasih sayang persaudaraan dan kemanusiaan yang murni dan asli.
Dengan dasar-dasar pemikiran di atas, hampir seluruh anggota Persis nampaknya memasuki Masyumi, dan bahkan beberapa orang diantaranya menjadi pimpinan. Dalam Dewan Pimpinan Pusat Masyumi periode pertama (1945) Natsir duduk sebagai anggota, kemudian periode keempat (1949) Natsir yang memang brilian telah mendapat kepercayaan menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Masyumi. Natsir ketika itu dipersonifikasikan sebagai kelompok muda dalam partai, dan ia terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat berturut-turut pada periode kelima (1951), keenam (1952), ketujuh (1954), dan kedelapan (1956). Hal ini menunjukkan kemampuan dan kehandalannya dalam memimpin partai Islam yang cukup disegani.
Keterlibatan Persis dalam Masyumi tentu saja tidak hanya diwakili Natsir, melainkan juga putra-putra terbaik Persis lainnya. Dalam Pimpinan Pusat Masyumi periode ketujuh (1954) tampil Isa Anshary, Ketua Umum Persis (1948-1960) yang tergolong keras sebagaimana A. Hassan. DiJawa Barat tampil Rusyad Nurdin menjadi Ketua Wilayah Masyumi Jawa Barat.Isa Anshary dan Rusyad Nurdin duduk sebagai anggota DPR dan anggota konstituante melalui Pemilu 1955. Natsir malah sempat menjabat sebagai Perdana Menteri RI (1950) dan menjadi Menteri Penerangan RI dalam Kabinet Syahrir I menggantikan Amir Syarifuddin (1946), Kabinet Syahrir II(1946), Kabinet Syahrir III (1946-1947), dan kabinet Hatta I (1948) (Deliar Noer, 1987).
Sementara itu A.Hassan tidak langsung memainkan peran politiknya; karena alasan kesehatan dan kesibukan membangun lembaga pendidikan pesantren Persis di Bangil. Meskipun demikian, A. Hassan menyempatkan menulis beberapa artikel dan fatwa tentang masalah yang sifatnya menunjang posisi Natsir dan Isa Anshary, dan kemudian ia sendiri duduk sebagai anggota Majelis Syuro Masyumi
Dalam Pemilihan Umum 1955, ternyata tidak satu pun aliran-aliran pokok dalam masyarakat Indonesia yang tampil sebagai pemenang. Pada tanggal 29 September 1955 lebih dari 39 juta rakyat Indonesia memberikan suaranya di kotak-kotak suara. Hasil Pemilu pertama ini ternyata dimenangkan oleh empat partai; PNI, Masyumi, NU, dan PKI. Dengan demikian, yang muncul adalah suatu perimbangan kekuatan yang mengharuskan adanya kompromi dalam bidang politik, baik dalam parlemen maupun dalam konstituante. Partai-partai Islam selanjutnya meneruskan perjuangan untuk menegakkan Islam di dalam konstituante.
Di tingkat daerah dan lokal, golongan Islam cukup mempunyai pengaruh yang melalui para pejabat sipil, namun di tingkat nasional kemajuan politik Islam telah macet sebagai akibat dari hasil Pemilu 1955. Sejak saat itu minat serta energi sebagian besar pemimpin Islam diarahkan pada upaya memperkuat kekuatan diri sendiri.
Demikian pula, Persis pada akhirnya pun mengakhiri peran politiknya yang ditandai dengan hapusnya keanggotaan istimewa dalam partai Masyumi sejak tanggal 8 September 1959. Dalam sambutan Pusat Pimpinan Persis tentang hapusnya keanggotaan istimewa Persis dalam Masyumi dinyatakan beberapa hal antara lain: “Sadar akan fungsinya sebagai penegak dan pembela Qur'an dan Sunnah, jemaah Persatuan Islam secara aktif telah ikut menyertai jalan dan pimpinan perjuangan umat Islam dalam Masyumi; untuk menjaga dan memelihara perjuangan Masyumi itu agar tidak menyimpang dari tuntunan dan patokan Qur'an dan Hadis.
Tugas keagamaan yang menjadi ciri yang khas dari jamaah Persatuan Islam semenjak berdirinya itu, telah dipenuhinya dalam batas kemungkinan dengan menggunakan segala kesempatan yang terbuka baginya. Dengan nada dan bahasanya sendiri, Persatuan Islam telah memasukkan pandangan dan keyakinan perjuangan dalam segala aspeknya agar Masyumi benar-benar dapat dijadikan tumpangan kepercayaan umat Islam Indonesia. Berakhirnya keanggotaan istimewa dalam Masyumi seperti diumumkan oleh pimpinan partai Masyumi tertanggal 5 Rabiul Awal 1379 H (8 September 1959), secara formil dan organisatoris berakhir pulalah hubungan jamaah Persatuan Islam dengan Masyumi.
Berakhir dan lepasnya hubungan formil organisatoris itu tidak berarti lepasnya hubungan hablulllah dan ukhuwah islamiyah, satu-satunya modal kekuatan umat Islam di segala masa dan ketika. Kita berpisah dalam walikullin wijhatun huwa muwaliha dan kita tetap bersatu dalam tugas fastabikul khairat.Lebih berfaedah berpisah dalam persatuan daripada bersatu dalam perpisahan. Berakhirnya keanggotaan istimewa dalam Masyumi,insya allah akan membuka kemungkinan bagi segenap kita untuk menemukan diri kita kembali, berjuang membina agama dalam kehidupan yang banyak seginya itu dengan tema dan nada serta bahasa kita masing-masing (Arsip PP. Persis)
4. Mosi Integral Natsir dan PRRI
Ketika Indonesia baru saja merdeka. Belanda masih tetap tidak mau mengakui Indonesia sebagai negara yang telah merdeka dan berdaulat. Bahkan bersikeras untuk bisa masuk kembali, kendatipun Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Belanda sangat gigih untuk bisa menjajah kembali Indonesia. Dengan berbagai upaya, baik provokasi militer dalam Agresi Militer Belanda I (1947) dan Agresi Militer Belanda II (1949) maupun diplomasi yang picik, Belanda berusaha memecah belah rakyat dan para pemimpin bangsa Indonesia. Hasilnya, Belanda berhasil memecah Indonesia yang bulat dan bersatu ke dalam beberapa negara bagian, dan negara Republik Indonesia merupakan negara bagian kecil yang wilayahnya terbatas hanya di Yogyakarta dan sekitarnya. Sedang negara-negara bagian lainnya, hasil ciptaan van Mook, antara lain Negara bagian Pasundan, Negara Bagian Jawa Timur, Negara Bagian Madura, Negara bagian Sumatera Timur, Negara bagian Sumatera Selatan, Negara Bagian Indonesia Timur, Negara Bagian Borneo Timur, dan Negara Bagian Dayak Besar (Busyairi,1988:159).
Dilihat dari kacamata Belanda, adanya negara-negara bagian itu menguntungkan sekali. Sebab, dengan cara demikian, Belanda masih dapat menguasai Indonesia; negara bagian demi negara bagian ke dalam kekuasaanya. Sehingga tidak jarang terjadi, negara bagian satu dengan lainnya saling mencurigai, bahkan bermusuhan.
Melihat keadaan yang demikian, dalam sidang parlemen gabungan RI-RIS, Mohammad Natsir sebagai anggota parlemen dari Masyumi mengajukan mosi kesatuan yang populer dengan sebutan Mosi Integral Natsir. Natsir berpidato: “…Berhubung dengan ini saya ingin memajukan satu mosi kepada pemerintah yang bunyinya demikian: Dewan Perwakilan Rakyat Sementara RIS dalam rapatnya tanggal 3 April 1950 menimbang sangat perlunya penyelesaian yang integral dan pragmatis terhadap akibat - akibat perkembangan politik yang sangat cepat jalannya pada waktu yang akhir- akhir ini.
Memperhatikan: Saudara - saudara rakyat dari berbagai daerah, dan mosi - mosi Dewan Perwakilan Rakyat sebagai saluran dari suara-suara rakyat itu, untuk melebur daerah - daerah Belanda dan menggabungkannya ke dalam Republik Indonesia. Kompak untuk menampung segala akibat-akibat yang tumbuh karenanya, dan persiapan- persiapan untuk itu kita harus diatur begitu rupa, dan menjadi program politik dari pemerintah yang bersangkutan dan dari Pemerintah RIS. Politik pengleburan itu membawa pengaruh besar tentang jalannya politik umum di dalam negeri dari pemerintah di seluruh Indonesia. Memutuskan:
Menganjurkan kepada Pemerintah supaya mengambil inisiatif untuk mencari penyelesaian atau sekurang - kurangya menyusun suatu konsepsi penyelesaian bagi soal - soal yang hangat ang tumbuh sebagai akibat perkembangan politik diwaktu yang akhir - akhir ini dengan cara integral dan program yang tertentu. Jakarta, 3 April 1950.
Mosi inilah yang mengantarkan masing-masing negara bagian untuk bersatu kembali dalam negara kesatuan RI. Mosi ini dibicarakan lebih dahulu dalam Dewan Pimpinan Pusat Partai Masyumi, dan nilainya, diakui secara umum,sangat strategis bagi perjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab, dari mosi ini pulalah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan yang bulat dan kokoh. Oleh pemerintah dan parlemen RIS dan RI, mosi integral Natsir ini diterima secara bulat, sehingga Bung Karno pada tanggal 15 Agustus 1950 merasa perlu untuk mengumumkan kembalinya Indonesia menjadi Negara Kesatuan. Dan sejak saat itu, gugurlah negara-negara boneka buatan Belanda. Natsir yang telah mencetuskan adanya mosi itu, oleh Presiden Soekarno diberi kepercayaan untuk menyusun dan memimpin pemerintahan Republik Indonesia pertama setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan (Busyairi, 1988:160).
Natsir sebagai tokoh Partai Masyumi diakui sebagai tokoh yang berjasa luar biasa dalam membangun dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa terbesar Natsir adalah kegigihan dan keberhasilannya mengembalikan Indonesia menjadi negara kesatuan (1950) setelah sempat dijadikan negara federal melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949. Mosi Integral Natsir yang dipidatokannya di parlemen pada 3 April 1950 dianggap sebagai bukti peran besarnya dalam mengembalikan Indonesia menjadi negara kesatuan
Keberhasilan Natsir dalam menentukan dan menyelamatkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam negara Republik Indonesia melalui mosi integralnya, telah membawa Natsir ke jenjang kedudukan kepala pemerintahan; sebagai Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia (1950-1951), ketika ia berusia 42 tahun. Kepercayaan ini diberikan oleh Soekarno dengan melihat kepiawaian Natsir dalam diplomasi, intelektualitas yang tinggi, dan aktivitasnya dalam berbagai organisasi. Sebab, sebelumnya Natsir pernah aktif sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada tahun 1945-1946, kemudian menjabat sebagai Menteri Penerangan (1946-1949), Ketua Umum Masyumi (1949-1958), dan anggota parlemen RI (1950-1958), juga anggota Konstituante RI (1956-1958).
Dalam berbagai jabatannya itu pula, dalam bulan April-Mei 1952 ia sempat berkunjung ke beberapa negara antara lain India, Pakistan, Irak, Turki, Libanon, Siria, Mesir, Saudi Arabia, dan Birma. Pada tahun 1956 ia menunaikan ibadah haji.
Sebagai Ketua Umum DPP Masyumi (1949-1958), partai Islam terbesar di Indonesia ketika itu, dalam kedudukannya sebagai orang pertama dan juru bicara partai politik Islam, beliau terjun paling depan dan terlibat langsung dalam pergolakan dan pergulatan politik praktis.
Dari mulai jalan seiring dan bersanding bahu pada masa revolusi fisik dan kabinet pertama negara kesatuan dengan Bung Karno, kemudian berbeda pendapat dalam berbagai persoalan nasional---terutama masalah demokrasi, sampai akhirnya bertentangan faham dengan Soekarno yang cenderung ke arah diktator dan semakin akrab dengan PKI. Ketegangan yang tak terdamaikan dengan Bung Karno ini akhirnya melibatkan Natsir dan beberapa kawan sependiriannya, baik kawan separtai maupun bukan, dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di sumatera yang secara frontal melawan Bung Karno pada tahun 1958 (Anshary, 1980:vii-viii).
Keterlibatan Natsir dan beberapa tokoh partai Islam dalam PRRI menurut Busyairi (1988:165-166) haruslah dilihat secara obyektif dan jujur dengan melihat keadaan yang melatarbelakangi secara proporsional, yaitu dalam rangka memberi peringatan kepada Presiden Soekarno yang sudah lama bertindak jauh melanggar konstitusi yang berlaku waktu itu(UUDS 1950), dan mulai terpengaruh oleh usaha-usaha dari tokoh-tokoh komunis agar PKI bisa duduk dalam lembaga eksekutif. Berbagai peringatan telah diberikan oleh tokoh-tokoh Islam, baik secara pribadi maupun kelembagaan.Tetapi peringatan yang dilakukan dengan berbagai pendekatan itu tidak ditanggapi,bahkan sebaliknya kaki tangan Soekarno melakukan berbagai penekanan,teror, dan penangkapan-penangkapan terhadap mereka yang tidak setuju terhadap Konsepsi Presiden.
Di sisi lain harus diingat, bahwa kehadiran tokoh-tokoh Masyumi di dalam pemerintahan revolusioner itu adalah tidak mengatasnamakan partai, melainkan atas nama pribadi-pribadi. Demikian pula, hadirnya tokoh-tokoh sipil (dari partai Islam maupun yang lainnya) dalam PRRI menurut kacamata Prof. George Mct. Kahin (1978) justru telah mengurangi gejolak emosional kelompok militer yang terlibat di dalam pergolakan daerah. Secara jujur Kahin memberikan catatan sebagai berikut: "Agaknya telah nampak bagi saya bahwa salah satu dari sumbangan-sumbangan utama Natsir kepada tanah airnya datang selama masa berjalannya pemberontakan PRRI. karena peristiwa ini telah menjadi sasaran pandangan-pandangan yang begitu berbeda-beda di Indonesia dan sedemikian banyak pula ketidaktahuan diluar negeri, maka peranan di dalamnya memerlukan penelitian cermat yang lebih dekat daripada yang biasanya telah dilakukan.
Penilaian saya sendiri mencerminkan suatu studi yang panjang dari peristiwa tersebut dan terbukanya jalan baru-baru ini dalam memperoleh bahan-bahan keterangan yang belum pernah diperoleh pengarang-pengarang lainnya. Atas dasar ini maka sangat jelaslah sudah, bahwa Natsir haruslah dihargai karena telah memberikan satu sumbangan penting kepada pemeliharaan teritorial dari Indonesia. Dengan disokong Sjafruddin Prawiranegara dan Boerhanoeddin Harahap, ia telah melakukan satu perjuangan yang pada akhirnya berhasil di kalangan dalam PRRI untuk menghalang-halangi mereka yang lebih menyukai pemisahan Sumatera dari Indonesia dan menjadi satu negara tersendiri. Ia bersikeras terhadap jalan tempuhan seperti itu, walaupun dengan berbuat demikian berarti mengorbankan sokongan pihak luar yang amat berkuasa dan potensial. Maka untuk sebagian besar, karena Natsirlah perjuangan PRRI itu telah dilakukan dalam batas-batas ikatan kesatuan Indonesia".
Tetapi, bagaimanapun pemerintah Soekarno memberikan penilaian lain. Akibat dari adanya PRRI rezim orde lama di bawah pimpinan Soekarno yang berkolaborasi dengan PKI, membubarkan Masyumi pada tahun 1960 karena dianggap terlibat dalam peristiwa PRRI, dan bersama tokoh-tokoh nasional anti komunis lainnya, Natsir meringkuk dalam tahanan, sampai akhirnya dikeluarkan pada tahun 1966 berkat tekanan pada pemerintah ketika itu oleh Angkatan 1966, terutama tekanan yang datang dari KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) yang ditulangpunggungi oleh PII (Pelajar Islam Indonesia) dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang ditulangpunggungi oleh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) (Anshary, 1988:viii).
Setelah keluar dari tahanan, Natsir memilih lapangan perjuangan dalam bidang dakwah Islamiyah dengan mendirikan dan mengetuai Dewan Dakwah Islamiyah (DDII), sambil tidak lengah mengamati berbagai persoalan yang menyangkut nasib Isalm dan ummatnya, baik di dalam maupun di luar negeri.
Dan setelah itu nama Mohammad Natsir melejit dalam dunia internasional, antara lain menjadi anggota terhormat Majlis Ta'sisi Rabithah 'Alam Islami (Moslem World League) sejak 1969 serta sebagai anggota Majlis A'la Al Alamy lil Masajid (Dewan Masjid se-Dunia) sejak 1976 yang bermarkas di Makkah Al-Mukaramah, juga pernah menjadi Wakil Presiden Mu'tamar 'Alam Islami yang bermarkas di Karachi, dan terakhir beliau mendapat hadiah Penghargaan Internasional Faisal dari King Faisal Foundation, Riyadh pada tahun 1980 sebagai penghormatan atas jasanya di dunia internasional dalam bidang "Pengkhidmatan Islam". Selain itu, ia pun menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia UKM) dan Universitas Sains Malaysia (USM). Pada tanggal 10 November 2008, tepat di Hari Pahlawan, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, memberikan anugerah Pahlawan Nasional kepada Mohammad Natsir. Dengan demikian hapus sudah, stigma bahwa Natsir seorang dalang pemberontakan PRRI Permesta, tetapi Dia adalah Pahlawan Nasional.
Mohammad Natsir menurut Anshary (1988:viii) adalah seorang Dzu Wujuh, mempunyai banyak wajah dalam arti baik. Beliau adalah seorang guru bangsa, pendidik ummat, dan mujahid dakwah; beliau adalah seorang budayawan atau pemikir budaya, dan seorang alim dengan segala atribut yang lekat dengan gelar itu. Dan Mohammad Natsir pun adalah sosok ulama politikus terdepan, seorang negarawan terkemuka, dan last but not least beliau adalah seorang tokoh internasional yang dihormati. Dalam berbagai kedudukan yang beraneka itu, beliau wafat dalam usia 85 tahun pada hari Sabtu tanggal 6 Pebruari 1993 pukul 12.10 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dengan meninggalkan bekas dan peninggalan jejak langkahnya yang amat bernilai untuk dikaji.
5. Khatimah
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip penggalan puisi Karya Taufik Ismail, 18 Juli 2008 yang berjudul: “Mohammad Natsir 100 Tahun Dalam Kenangan (17 Juli 1908 – 6 Februari 1993):
Bagi Sejarah..
Dia adalah guru bangsa,
negarawan,
pejuang,
pemikir,
penulis,
cendekiawan,
budayawan,
politikus,
pendidik umat,
mujahid dakwah,
dan tokoh internasional yang dihormati.
Di zaman revolusi...
Dia aktif dalam Komite Nasional Indonesia Pusat.
Tiga kali menjadi Menteri Penerangan,
dan sekali menjadi Perdana Menteri.
Memimpin Masyumi,
berjuang melalui PRRI melawan sentralisme yang didukung PKI.
dan untuk itu habis-habisan direpresi
Sementara itu,
di dunia Islam kepemimpinannya dihargai.
Memasuki ruangan,
Raja faisal berdiri menyongsong kedatangan Natsir,
menyalami dan memeluknya.
Bagi negara,...
Dialah yang lebih dari setengah abad yang lewat,
selepas pengakuan kedaulatan di masa gawat,
ketika situasi nasionall terancam perpecahan
dengan mosi integralnya...
dia mengukuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia
dan momen 15 Agustus 1950 itu dikenang sebagai
Proklamasi Kedua Republik Indonesia.
Cag
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tiga pemuda pernah belajar di bawah atap yang sama. Mereka menyerap pelajaran tentang perlawanan terhadap p...
-
1. Masyarakat Arab Jahiliyah Periode Mekah Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal kenabian adalah masyarakat Arab Jahiliyah, at...







