3 Juni 2022

Emmeril Kahn Mumtadz telah Wafat

 


Bismillahirrahmanirrahim.

Innalillahi Wa Innailaihirojiun. 


Telah berpulang kerahmatullah Emmeril Kahn Mumtadz bin Mochamad Ridwan Kamil pada Kamis 2 Juni 2022 di Kota Bern, Switzerland. 

Hanyut terseret di sungai Aare Swiss 22 Mei 2022

https://youtu.be/Z3frPpwr3Mo

2 Juni 2022

FIR'AUNISME

 


Oleh Moeflich Hart

Sikap umum negatif manusia yang tidak terasa adalah keinginan menguasai orang lain. Dalam pergaulan, seseorang ingin menguasai temannya. Dalam hubungan cinta, laki-laki ingin menguasai kekasihnya, sebaliknya sama, cewek ingin menguasai cowoknya. Mau sebutannya ikhwan-ukhti sama saja.


Di rumah tangga, suami ingin menguasai istrinya, istri ingin menguasai suaminya. Orang tua ingin menguasai anak-anaknya. 


Di lembaga. Sekolah dan guru-guru ingin menguasai murid-muridnya. Rektor ingin menguasai dosen-dosennya, dosen ingin menguasai mahasiswanya. Kyai ingin menguasai santri-santrinya. Ustadz ingin menguasai jama'ahnya. Pemimpin ingin menguasai anak buahnya, pejabat ingin menguasai instansinya, negara ingin menguasai masyarakat dan rakyatnya.


Menguasai berbeda dengan menjalankan fungsi. Menguasai berbeda dengan menjalankan fungsi laki-laki, fungsi kepala rumah tangga, fungsi orang tua, fungsi kepala atau pemimpin, fungsi raja atau presiden. Menguasai itu konteks dan konotasinya buruk, sedangkan menjalankan fungsi-fungsi itu positif.


Menguasai itu konteksnya menguasai jiwa, perasaan, pikiran, hidup, ekonomi, nasib dan masa depan seseorang, orang lain, masyarakat, rakyat.


Bila menjalankan fungsi-fungsi adalah menjalankan peran-peran sosial kehidupan yang itu positif tanpa harus menguasai orang lain, maka menguasai adalah negatif. Fir'aunisme.


Para Nabi diutus bukan untuk menguasai tapi tapi untuk menyebarkan dan mengajarkan kebenaran dengan ajaran agama. Nabi Nuh AS tak bisa menguasai istri dan anaknya, Rasulullah SAW tak bisa menguasai paman-pamannya untuk masuk Islam: Abu Thalib, Abu Jahal, Abu Lahab, maka biarkankah pula Abu Janda.


Manusia diberi kebebasan hak asasi untuk percaya atau tidak, ikut atau tidak, iman atau tidak, Muslim atau kafir. Bila manusia sudah menemukan kebenaran, maka kebenaranlah yang akan menguasai manusia dengan sendirinya. Kebenaran itu dari Tuhan, manusia yang dikuasai kebenaran artinya Tuhanlah yang menguasai manusia sebagai hak-Nya. Kita, manusia, bahkan para Nabi, tak punya hak memaksa dan menguasai sesama manusia.


Jiwa-jiwa, hati dan pikiran manusia itu bukan untuk dikuasai orang lain, bahkan orang tua kepada anaknya, tapi untuk dikembangkan potensinya secara maksimal agar semua orang menjadi manusia yang wajar, normal, sehat dan merdeka. Ingin menguasai adalah sikap mental fir'aun, pahamnya adalah Fir'aunisme.***


13 Mei 2022

SKETSA I Karna

 


Gambar 1 – Karna (sumber: gambar-wayangku).

Oleh Syakieb Sungkar

AYAH Bung Karno menyukai Karna. Sehingga anaknya diberi nama Soekarno, Karna yang baik. Memang Karna orang yang ambigu. Ia mempunyai karakter kesatria tetapi statusnya sebagai anak kusir pedati. Hal yang menjadi handicap ketika ingin berguru kepada Dorna. Dorna hanya menerima murid dari golongan kesatria sesuai janjinya kepada Dretarastra. Padahal Karna itu adalah anak Dewa Surya dan beribu Kunti, ibu dari Yudistira, Bima dan Arjuna. Sesungguhnya Karna adalah kesatria juga, karena ia merupakan kakak tertua dari ketiga Pandawa. Tidak berhasil belajar dari Dorna, Karna kemudian belajar dari Parasurama yang tidak pelit kepada ilmu. Karna tahu bahwa Parasurama mau berbagi ilmu hanya kepada sesama Brahmana, seperti ketika ia memberikan ilmu militernya kepada Dorna. Sehingga Karna menyaru menjadi Brahmana.


Pada suatu hari, Parasurama tidur di atas pangkuan Karna. Tiba-tiba muncul seekor kalajengking menggigit paha Karna. Agar Parasurama tidak terbangun, Karna membiarkan pahanya terluka sementara dirinya tidak bergerak sedikit pun. Ketika Parasurama bangun dari tidurnya, ia terkejut melihat Karna telah berlumuran darah. Kemampuan Karna menahan rasa sakit telah menyadarkan Parasurama bahwa muridnya itu bukan dari golongan Brahmana, melainkan seorang kesatria asli. Merasa telah ditipu, Parasurama pun mengutuk Karna. Kelak, pada saat pertarungan antara hidup dan mati melawan seorang musuh terhebat, Karna akan lupa terhadap semua ilmu yang telah ia ajarkan.

Kemunculan Karna di dunia persilatan baru disadari ketika Dorna ingin mempertunjukkan hasil didikannya kepada para petinggi Astina. Di depan alun-alun Indraprasta, Dorna mengumumkan bahwa Arjuna lah muridnya yang terpandai, terutama dalam hal memanah. Begitu Dorna menyelesaikan laporan hasil pendidikannya selama ini, Karna berteriak dari pinggir lapangan, bahwa hasil sekolahnya itu palsu. Karna justru menantang Arjuna untuk adu kesaktian. Sebagaimana biasa, dalam pertandingan ada unggah-ungguh, dalam hal ini Krepa menanyakan asal-usul Karna. Adu kesaktian yang beradab apabila lawan tanding berasal dari garis kepangkatan yang sama. Ketika Karna menjelaskan dirinya adalah anak dari seorang kusir pedati, para petinggi menjadi kaget dan gusar. Sementara Kunti yang dari tadi memperhatikan Karna, justru jatuh pingsan, karena ia dapat mengenali bahwa Karna adalah anaknya hasil pertemuan dengan Dewa Surya ketika masih remaja.



Melihat ada orang yang berani melawan Arjuna, membuat para Kurawa senang, karena selama ini ada persaingan dan rasa iri hati antara Kurawa dengan sepupu mereka, para Pandawa. Dengan keinginan agar pertandingan dapat berlangsung, maka Duryodana melakukan inisiatif. Ia maju membela, agar Karna menjadi setaraf dengan Arjuna. Duryodana meminta izin kepada ayahnya, Dretarastra, agar ia mengangkat Karna menjadi raja di Angga, sebuah vasal, kerajaan kecil, negeri taklukannya. Dretarastra mengabulkan permintaan anaknya, pada saat itu juga Karna dinobatkan menjadi Raja Angga. Sehingga pertandingan dengan Arjuna dapat dilaksanakan. Adirata, sang kusir pedati, senang bukan main, karena Karna dinobatkan menjadi Raja.

Memang Karna tidak mengecewakan, ia dapat menandingi kesaktian Arjuna. Masing-masing mengeluarkan ilmu dan ajiannya sendiri-sendiri, pertandingan itu imbang, tidak ada yang kalah dan menang, sampai matahari terbenam. Kesaktian Arjuna ternyata ada yang mengimbangi. Suatu fakta yang tidak dapat membuat Arjuna jumawa. Dan hal itu memalukan Dorna yang telah memujinya mati-matian. Ternyata tanpa bersekolah pada dia pun, ada orang yang ilmunya selevel dengan Arjuna. Di lain pihak, Kurawa mendapatkan teman dan pahlawan baru, yang dapat dipergunakan suatu saat nanti, ketika Kurawa kelak berkonflik dengan Pandawa. Menjelang magrib, pertandingan dihentikan oleh Dretarastra. Dorna kehilangan muka.


Sakit hati Karna kepada kaum Aristokrat tidak hanya di situ saja. Setelah ia menjadi Raja Angga, ada seorang gadis cantik bernama Drupadi. Ia adalah putri Drupada, Raja dari Negeri Pancala. Kecantikan Drupadi telah membuat banyak Raja dan Pangeran datang untuk melamar, termasuk Duryodana. Agar mendapat menantu yang terbaik, Drupada mengumumkan sebuah sayembara memanah bagi siapa saja yang ingin memperistri putrinya tersebut. Bentuk sayembara adalah memanah boneka ikan yang berputar di atas arena, tetapi tidak boleh melihatnya secara langsung, melainkan melalui bayangannya yang terpantul di dalam baskom berisi minyak. Selain targetnya sudah ditentukan, panahnya pun ditentukan, yaitu pusaka Kerajaan Pancala yang berat. Akan tetapi, jangankan membidik boneka tersebut, mengangkat busur pun para peserta tidak ada yang sanggup, termasuk Duryodana yang perkasa sekalipun.


Karna maju setelah Duryodana, sahabatnya, mengalami kegagalan. Ia berhasil mengenai sasaran boneka ikan, dan memenangkan sayembara. Tetapi Drupadi menyatakan keberatan apabila Karna memenangkan sayembara, karena dirinya tidak mau menikah dengan anak seorang kusir. Karna sakit hati mendengarnya. Ia menyumpahi Drupadi sebagai wanita sombong dan pasti menjadi perawan tua karena tidak ada lagi peserta yang mampu memenangkan sayembara sulit tersebut selain dirinya. Ucapan Karna membuat Drupada merasa khawatir. Raja Pancala itu pun membuka pendaftaran baru untuk siapa saja yang ingin menikahi Drupadi. Persyaratan baru dibuat tegas, pemenang sayembara tidak harus berasal dari golongan kesatria. Kali ini Arjuna yang datang dan memenangkan sayembara. Drupadi diboyong ke Astina, dan diserahkan ke Yudistira, kakaknya, untuk diperistri.

Kesewenang-wenangan yang bertubi-tubi kepada Karna, telah membuat Kunti resah dan bersedih. Dan pada akhirnya Kunti menjelaskan kepada para Pandawa tentang affairnya di masa lalu dengan Dewa Surya, ketika masih remaja. Mendengar itu, Pandawa dan para petinggi Astina berbondong-bondong mendatangi Karna untuk menyatakan rasa penyesalan dan mengangkatnya sebagai anggota kerajaan, serta dipersilahkan tinggal di Indraprasta. Tetapi sudah terlambat, sikap Karna menolak dengan tegas persaudaraan dengan para Pandawa. Ia menyatakan setia kepada Kurawa yang telah meningkatkan derajatnya menjadi kesatria. Hal itu terbukti ketika Perang Baratayuda tiba, Karna berdiri di pihak Kurawa dan menjadi panglima perang menggantikan Dorna yang gugur.***

4 Mei 2022

Tinjauan KRITIS, lepas dari KRISIS NALAR

 





Salah satu bukti keberhasilan shaum Ramadhan adalah Tambah Tajam Mata Hati.

Sholat Ied di JIS petjah.  Yang biasa sholat di Istiqlal ngacir ke Jogja.

Kenapa?

Saya pikir nyerah sebelum tanding. Kena mental. 😄

Istiqlal selalu ramai. Ada nggak ada dia, dari dulu sholat ied di sana selalu ramai. Dia harus pindah tempat untuk menunjukkan powernya ngumpulin massa. Dari 2019 sudah jelas gagal, apalagi sekarang setelah kebijakannya makin jauh dari ngebela rakyat jelita (maksudnya jelata) Orang yang mikir pakai otak makin banyak loh.

Sementara yang di JIS, dia cerdik. Dia jual momen JIS baru dipakai. Saya curiga grand lounching JIS memang diatur pas momen lebaran dan sebelum masa jabatan dia habis. Di ending banget.

Lokasi sholat yang ternyata bukan di dalam JIS. Padahal katanya area dalam JIS sudah disiapkan garis shaf yang siap pakai. Tapi ternyata, JIS cuma dijadiin background aja.

Tapi lihat hasilnya. Foto-foto yang beredar  bikin merinding. Pernah lihat acara di dalam GBK? Sepetjah apa pun acaranya, auranya beda karena GBK yang megah nggak kelihatan. Untuk dapat aura petjahnya, harus ambil dari jauh biar kelihatan buletan GBK. Kalau long shot seperti itu, orangnya nggak kelihatan dong.  Bandingkan dengan JIS. Orangnya jelas kelihatan, JIS-nya apalagi. Foto-foto netizen yang beredar pun sama. Bukan cuma deretan kursi atau lapangan penuh aja yang terlihat.

Menjual banget

Di JIS, melihat jamaah mbludak dan background sempurna, yang dukung terharu, seperti reuni 212. Mrindingable

Yang nggak dukung juga merinding. Ini gimana nandinginnya? Jiper duluan.   Kena mental. Lalu keluar narasi-narasi, masjid banyak, ngapain ke lapangan? Lupa sunnah kalau ied memang bagusnya di outdoor. Untuk apa? Show off power.  😄😄😄

Apa kabar anak kesayangan yang ke pasar nggak dikenalin pedagang? Kena mental nggak tuh? Kalau dia bikin acara, pakai bagi-bagi sembako, bisa nggak tandingin JIS?  Anies nggak keluar  uang loh ini.  Sholat ied pakai APBD kan?

Waktu tau pilkada  2022 diundur, saya cuma nyengir aja. Katanya untuk menjegal Anies ya? Biar nggak ada jabatan, nggak bisa show off persiapan 2024. Kalau seperti itu, saya lihatnya, penundaan itu malah menguntungkan buat Anies. Dalam kondisi nggak menjabat apa pun, dia bebas ke mana aja. Bayangin kalau 2022 ada pilkada. Dia nyalon jadi gubernur lagi?

Menang? Lalu pas 2024 dia mundur di tengah jalan?
Habislah dia dibully, tjap: gila jabatan.

Kalah? Yah, nyagub aja kalah, mau nyapres. Sadar diri woy!

Nggak maju buat persiapan 2024? Gila, segitu gila jabatannya sampai ngorbanin jabatan gubernur yang sudah ditangan.

See?

Serba salah.

Sementara, ketika dia jobless, dia bisa bebas bergerak, silent campaign. Selama menjabat, dia sudah sebar jaring ke dalam dan luar negeri kan? Dia bantu daerah yang kena bencana, dia kerja sama dengan petani di kandang moncong. Di luar negeri? Sering loh perwakilan negara sahabat nyasar ke Selatan. Penghargaan dari luar banyak, dia dikenal di mancanegara.

Oh iya, tadi di CNN TV saya lihat iklan ucapan selamat idul fitri. Tanpa label apa pun, cuma Anies Baswedan dan keluarga. Siapa dia sampai segitunya pasang iklan? Ya memang tujuannya kampanye.  Biar orang makin kenal dia. Urusan ginian banyak lah yang bisa bahas. Anak komunikasi jagonya deh. Saya mah cuma anak pergerakan yang hobi nyinyir aja.

Sekarang, di ujung masa jabatannya, dia gebrak dengan JIS. Moment sholat ied dia pakai. Salah? Jual agama? Tergantung niatnya dia sih. Tapi bener kata Bang Azwar Siregar. Dia menyelamatkan muka muslim Indonesia dengan ngadain ied di tempat terbuka. Ngasih lihat power ummat islam.

Apa nggak jiper tuh musuh lihat orang berkumpul sebanyak itu bahkan ada yang dari dini hari. Semilitan itu? 😱😱😄😄

Lawannya sudah kena mental. Efek revolusi mental yang gagal total. Hanya bisa main di blusukan dan pencitraan.

Anies, orang ini cerdik. Mainnya halus. Narasinya sudah sering dibilang jago ngamong. Tapi pergerakannya halus, nggak grasa grusu. Contoh: gimana dia nyindir Giring dengan check sound JIS, gimana dia nyindir budaya baca dengan foto dia santuy baca buku.

Menggebrak kan?

Seperti kancil dan buaya. Kancil pakai buaya sebagai jembatannya nyebrang.

Above these all, selama mereka masih pakai tekhnologi paling mutakhir kardus digembok, nggak usah berharap orang di luar kelompok mereka yang menang.

Kalau Anies masuk ke sana?

Tinggalkan. Jangan jadi penyembah berhala.

Doa saya selalu, mengutip doa Nabi Ibrahim, minta negara yang aman. Juga, seperti kata Imam Syafi'i, jika cuma satu doa diijabah, mintalah pemimpin yang adil.

Kenapa?

Karena tanpa keamanan dan keadilan, sekaya apa pun kamu, nothing.

Nggak percaya?

Lihat Abrahamovic, dkk. Gara-gara perang Rusia, mereka nggak nyaman. Bahkan tadi sempat baca, dalam waktu dekat ini ada enam orang konglomerat Rusia bunuh diri. Mungkin nggak terkait dengan perang? Sangat mungkin. Tapi yang pasti, ketika negara nggak aman, pemimpin nggak adil, hidup bernegara nggak akan nyaman.

Kampanye terbaik adalah dengan hasil kerja pembuktian janji.

Note: padahal gratis loh kampanye ala Anies karena pakai APBD bahkan APBN, kenapa politisi lain nggak pakai cara ini ya?

Kental "political game"
Halus, merangkul dengan cerdas tidak memukul. 

29 April 2022

SES yang Diikuti Club Station YH1AE

Berikut adalah Sertifikat dan penghargaan yang diterima oleh ORARI Daerah Jawa Barat Lokal Kabupaten Bandung, yang memiliki motto : "KAGOK EDAN JAWARA SAKALIAN"
















25 April 2022

Argumentasi Kebolehan Zakat Fitri dengan Nilai atau Uang

 


Oleh : Ginanjar Nugraha*

Argumentasi Kebolehan Zakat Fitri dengan Nilai atau Uang

Pertama, kebijakan sahabat Muawiyah dari Abu Said al-Khudri


كُنَّا نُخْرِجُ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ حُرٍّ أَوْ مَمْلُوكٍ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ فَلَمْ نَزَلْ نُخْرِجُهُ حَتَّى قَدِمَ عَلَيْنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا فَكَلَّمَ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَكَانَ فِيمَا كَلَّمَ بِهِ النَّاسَ أَنْ قَالَ إِنِّي أَرَى أَنَّ مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَمَّا أَنَا فَلَا أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ أُخْرِجُهُ أَبَدًا مَا عِشْتُ


Pada masa Rasulullah ﷺ masih hidup, kami membayar zakat fithrah untuk setiap orang, baik anak kecil maupun dewasa, merdeka maupun budak, yaitu satu sha’ makanan berupa keju, atau gandum, atau kurma atau anggur kering. Pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dia berpidato di hadapan jamaah haji atau umrah, katanya antara lain; “Dua Mud gandum negeri Syam sama dengan satu sha’ kurma.” Karena pidatonya itu maka banyak orang yang membayar zakat fithrahnya seperti itu. Abu Said berkata, “Tetapi aku tetap saja membayar seperti apa yang telah kulakukan sejak zaman Nabi ﷺ hingga akhir hayatku.” (HR. Muslim: 1641)


Dalam hadis diatas secara manthuq, Rasul Saw menetapkan bahwa zakat fitri itu satu sha’ dari makanan yaitu keju, gandum, kurma, kurma kering. Namun sahabat Muawiyah yang waktu itu sebagai gubernur, memahami perintah Rasulullah saw terkait jenis dan ukuran zakat secara mafhum, sehingga menyamakan dua mud gandum Syam sama dengan satu sha’ kurma. Jika acuannya satuan sha’ yang berbasis volume, maka seharusnya empat mud, namun Muawiyah menetapkan dua mud saja, berarti bukan berdasarkan kesamaan ukuran yaitu satu sha’ tapi berdasarkan qimah atau nilai dari dua mud gandum negeri Syam seharga atau senilai dengan satu sha’ kurma, gandum selain syam, keju dan kismis.


Kedua, sahabat Ibn Umar


أَمَرَ النَّبِيُّ ﷺ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَجَعَلَ النَّاسُ عِدْلَهُ مُدَّيْنِ مِنْ حِنْطَةٍ


Nabi ﷺ memerintahkan kami tentang zakat fithri berupa satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum. Berkata, Abdullah ra: Kemudian orang-orang menyamakannya dengan dua mud untuk biji gandum. (HR. al-Bukhari: 1411)


Hadis diatas menunjukan secara sarih bahwa para sahabat memahami hadis Rasulullah Saw secara mafhum, yaitu menyamakan satu sha’ kurma atau gandum dengan dua mud biji gandum, padahal secara ukuran keduanya berbeda, namun secara nilai keduanya sama atau seimbang.


Ketiga, keterangan dari sahabat Asma binti Abu Bakar


عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ كُنَّا نُؤَدِّي زَكَاةَ الْفِطْرِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مُدَّيْنِ مِنْ قَمْحٍ بِالْمُدِّ الَّذِي تَقْتَاتُونَ بِهِ


dari Asma’ binti Abu Bakar dia berkata, “Kami menunaikan zakat fitri pada masa Rasulullah ﷺ dengan dua mud dari gandum, yaitu dengan mud yang kalian memakannya.” (HR. Ahmad: 25755)

Hadis diatas menegaskan bahwa maksud dari satu sha’ itu bukan sebagai ketentuan taqdir syar’I semua kebutuhan pokok, namun lebih sebagai kesamaan nilai atau harga, dimana difahami bahwa dua mud gandum senilai dengan satu sha’. Bahkan hal tersebut diamalkan ketia Rasulullah Saw masih hidup.


keempat, kebijakan Abu Bakar ashiddiq


أَنَّ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَتَبَ لَهُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ ﷺ وَمَنْ بَلَغَتْ صَدَقَتُهُ بِنْتَ مَخَاضٍ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ وَعِنْدَهُ بِنْتُ لَبُونٍ فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ وَيُعْطِيهِ الْمُصَدِّقُ عِشْرِينَ دِرْهَمًا أَوْ شَاتَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ بِنْتُ مَخَاضٍ عَلَى وَجْهِهَا وَعِنْدَهُ ابْنُ لَبُونٍ فَإِنَّهُ يُقْبَلُ مِنْهُ وَلَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ


bahwa Anas ra menceritakan kepadanya bahwa Abu Bakar ra telah menulis surat kepadanya (tentang aturan zakat) sebagaimana apa yang telah diperintahkan Allah dan rasulNya, yaitu; barangsiapa yang terkena kewajiban zakat binti makhadh namun dia tidak memilikinya sedang yang ada dimilikinya binti labun, maka zakatnya bisa diterima dengan binti labun dan dia diberi (menerima) dua puluh dirham atau dua ekor kambing. Jadi jika ia tidak memiliki binti makhadh (yang wajib dizakatkan sesuai ketentuan) sedangkan yang ada padanya binti labun maka zakatnya bisa diterima dengan binti labun itu karena dia tidak memiliki yang lain. (HR. al-Bukhari: 1356)


Kebijakan Abu Bakar diatas, bahwa kewajiban pembayaran seharusnya menggunakan bintu makhad, namun karena orang yang wajib zakat hanya punya bintu labun, artinya Abu Bakar menerima zakat tersebut berdasarkan qimah atau nilai, berdasarkan kesamaan jenis atau ukuran.


Kelima, Hadis dari Abu Hurairah


أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِالصَّدَقَةِ فَقِيلَ مَنَعَ ابْنُ جَمِيلٍ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَأَمَّا خَالِدٌ فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا قَدْ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَعَمُّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَهِيَ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ وَمِثْلُهَا مَعَهَا تَابَعَهُ ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ وَقَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ هِيَ عَلَيْهِ وَمِثْلُهَا مَعَهَا وَقَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ حُدِّثْتُ عَنِ الْأَعْرَجِ بِمِثْلِهِ


Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menunaikan shadaqah (zakat). Lalu dikatakan kepada Beliau bahwa Ibnu Jamil, Khalid bin Al Walid dan ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib tidak mau mengeluarkan zakat. Maka Nabi ﷺ bersabda: Apa yang bisa mengingkari Ibnul jamil tidak mengeluarkan zakatnya sebab dahulunya dia faqir namun kemudian Allah dan RasulNya menjadikannya kaya? Adapun Khalid, sungguh kalian telah menzalimi Khalid, padahal dia telah menghabiskan baju-baju besi dan peralatan perangnya untuk berjuang di jalan Allah. Adapun ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib dia adalah paman Rasulullah ﷺ, namun demikian dia tetap wajib berzakat dan juga kewajiban lain serupa zakat (sebagai kemuliaan). Dan hadits ini diperkuat oleh Ibnu Abu Az Zinad dari bapaknya, dan Ibnu Ishaq berkata dari Abu Az Zinad; Baginya tetap wajib berzakat dan juga kewajiban lain serupa zakat, dan Ibnu Juraij berkata; Telah diriwayatkan kepadaku dari Al A’raj dengan hadits yang serupa. (HR. al-Bukhari: 1375)


Rasul Saw memberi kebijakan kepada khalid bin Walid untuk tidak membebaninya dengan zakat, karena baju besi dan peralatan perangnya telah diwakafkan di jalan Allah. Dari hadis diatas dapat difahami bahwa kaitan dengan penunaian zakat tentu disesuaikan dengan keadaan dari si wajib zakat. Secara mafhum, tentunya berkaitan pula dengan jenis pembayaran dan juga ukurannya, selama senilai dengan apa yang ditentukan oleh Rasul Saw, maka dapat dijadikan sebagai bentuk penuaian zakat.


Keenam, Hadis dari Zainab bin Abdullah


كُنْتُ فِي الْمَسْجِدِ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ وَكَانَتْ زَيْنَبُ تُنْفِقُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ وَأَيْتَامٍ فِي حَجْرِهَا قَالَ فَقَالَتْ لِعَبْدِ اللَّهِ سَلْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَيْكَ وَعَلَى أَيْتَامٍ فِي حَجْرِي مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ سَلِي أَنْتِ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَانْطَلَقْتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَوَجَدْتُ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ عَلَى الْبَابِ حَاجَتُهَا مِثْلُ حَاجَتِي فَمَرَّ عَلَيْنَا بِلَالٌ فَقُلْنَا سَلْ النَّبِيَّ ﷺ أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَى زَوْجِي وَأَيْتَامٍ لِي فِي حَجْرِي وَقُلْنَا لَا تُخْبِرْ بِنَا فَدَخَلَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ مَنْ هُمَا قَالَ زَيْنَبُ قَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ قَالَ امْرَأَةُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ لَهَا أَجْرَانِ أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ


Aku pernah berada di masjid lalu aku melihat Nabi ﷺ. Kemudian Beliau bersabda: Bershadaqahlah kalian walau dari perhiasan kalian. Pada saat itu Zainab berinfaq untuk Abdullah dan anak-anak yatim di rumahnya. Dia (‘Amru bin Al Harits) berkata:; Zainab berkata, kepada Abdullah: Tanyakanlah kepada Rasulullah ﷺ apakah aku akan mendapat pahala bila aku menginfaqkan shadaqah (zakat) ku kepadamu dan kepada anak-anak yatim dalam rumahku. Maka Abdullah berkata: Tanyakanlah sendiri kepada Rasulullah ﷺ . Maka aku berangkat untuk menemui Nabi ﷺ dan aku mendapatkan seorang wanita Anshar di depan pintu yang sedang menyampaikan keperluannya seperti keperluanku. Kemudian Bilal lewat di hadapan kami maka kami berkata: Tolong tanyakan kepada Nabi ﷺ, apakah aku akan mendapat pahala bila aku meninfaqkan shadaqah (zakat) ku kepada suamiku dan kepada anak-anak yatim yang aku tanggung dalam rumahku? Dan kami tambahkan agar dia (Bilal) tidak menceritakan siapa kami. Maka Bilal masuk lalu bertanya kepada Beliau. Lalu Beliau bertanya: Siapa kedua wanita itu? Bilal berkata: Zainab. Beliau bertanya lagi: Zainab yang mana? Dikatakan: Zainab istri Abdullah. Maka Beliau bersabda: Ya benar, baginya dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala zakatnya. (HR. al-Bukhari: 1373)


Bershadaqahlah walaupun dengan perhiasan kalian, maksud dari kalimat tersebut tentunya secara umum, apakah shadaqah yang sunnah maupun yang wajib atau zakat. “walaupun dengan perhiasan” menunjukan fleksibilitas jenis pembayaran, termasuk didalamnya pembayaran zakat fitri, secara mafhum dibolehkan dengan qimah atau nilai dengan makanan pokok negeri tersebut.


ketujuh, Sahabat Umar bin Khattab


عَنْ عَطَاءٍ ؛ أَنَّ عُمَرَ كَانَ يَأْخُذُ الْعُرُوضَ فِي الصَّدَقَةِ مِنَ الْوَرِقِ وَغَيْرِهَا.


Dari Atha’ sesungguhnya Umar mengambil perhiasan sebagai pembayaran zakat diantaranya dengan perak dan selainnya (HR Ibn Abi Syaibah, No. 10539)

Kedelapan, Muadz bin Jabal


عَنْ طَاوُوسٍ ؛ أَنَّ مُعَاذًا كَانَ يَأْخُذُ الْعُرُوضَ فِي الصَّدَقَةِ.


Dari Thawus Bahwa Muadz mengambil perhiasan sebagai pembayaran zakat (HR Ibn Abi Syaibah No 10541)

Dua Atsar diatas menunjukan baik Umar maupun Muadz menggunakan qimah dalam pembayaran zakat.


kesembilan, Kebijakan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah


عَنْ قُرَّةَ ، قَالَ : جَاءَنَا كِتَابُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ : نِصْفُ صَاعٍ عَنْ كُلِّ إنْسَانٍ ، أَوْ قِيمَتُهُ نِصْفُ دِرْهَمٍ.


Dari Qurrah berkata : Datang kepada kami surat Umar bin Abdul Aziz tentang zakat fitri “Setengah sha’ pada setiap jiwa atau seukuran setengah dirham” (HR Ibn Abi Syaibah No. 10470)


Setengah sha’ yang menjadi kebijakan makanan negeri tersebut diatas tentunya senilai dengan satu sha’ yang jenisnya disabdakan oleh Rasul Saw disesuaikan dengan nilainya, begitu juga kebijakan mengkonversi zakat fitri dengan uang yaitu setengah dirham.

Dari keterangan-keterangan diatas, jelaslah bahwa pertama, pemahaman pembayaran zakat dengan qimah secara praktik pernah terjadi Rasulullah Saw. Kedua, Pemahaman Sebagian sahabat yang memahami perintah Rasul secara mafhum, sehingga membolehkan qimah atas pembayaran zakat, apalagi posisi Abu Bakar, Umar dan Muawiyah adalah sebagai pemimpin waktu itu. Ketiga, Kebijakan dan pemhamanan tersebut diteruskan pada masa tabiin oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz.


Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembayaran zakat fitri boleh dengan qimah atau uang yang senilai dengan satu sha’ makanan negeri tersebut.



*Mudir Ma’had Imam al-Bukhari


https://tanyajawabfikih.com/argumentasi-kebolehan-zakat-fitri-dengan-nilai-atau-uang/

21 April 2022

BAHAYA LATEN PERONGRONG PANCASILA

 



Kelompok yang menolak PANCASILA adalah yang merasa GERAH terhadap Sila KETUHANAN YANG MAHA ESA, mereka membuat TUDUHAN seolah ada kelompok agama YANG BERTUHAN akan mengganti PANCASILA.
Fix ; Kelompok yang TIDAK PERCAYA TUHAN-lah yang akan mengganti PANCASILA.

Catat !!
Logika adu domba, memutarbalik fakta merupakan ciri utama kelompok TIDAK BERTUHAN dan bahaya laten yang harus diwaspadai bangsa ini, saudaraku !!!

KH Endang Abdurrahman, Sang Reformis PERSIS

 



Khazanah, Republica.co.id


Oleh sebagian kalangan, Persatuan Islam (Persis) dipersepsi sebagai organisasi yang tidak kenal kompromi dalam menerapkan hukum Islam.Deskripsi lain juga mencerminkan sikap yang tidak kenal kompromi dalam kegiatan dakwah Persis: "..dengan tujuan utama dan pertama ingin mengembalikan umat Islam kepada Alquran dan Sunnah." Dengan kata lain, seperti dikutip dari buku Tokoh dan Pemimpin Agama: Biografi Sosial-Intelektual, para mubaligh Persis berusaha mengikis bid'ah, khurafat, takhayul, dan syirik yang telah menjamur di tengah masyarakat.


Namun, Ustadz Endang Abdurrahman, yang pernah memimpin organisasi ini, punya sifat serta karakter yang berlawanan dengan citra Persis di mata orang luar. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang halus dan fasih tutur katanya, tenang, jernih pikirannya, dan luas pandangannya. Ia berasal dari keluarga sederhana. 


Tokoh ulama ini terlahir di kampung Pesarean, desa Bojong Herang, Cianjur, tanggal 12 Juni 1912. Ayahnya, Ghazali, bekerja sebagai penjahit pakaian, dan sang ibu, Hafsah, adalah perajin batik. Kedua orangtuanya adalah penganut Islam yang taat. Abdurrahman kecil mendapat pengajaran agama langsung dari orang tuanya. Berkat ketelatenan keduanya, terutama sang ibu, maka di usia 7 tahun, ia sudah khatam (tamat membaca) Alquran. Sesuai tradisi masyarakat saat itu, oleh orangtuanya Abdurrahman dimasukkan ke Madrasah Al-'Ianah, Cianjur. Di sinilah, ia mendapatkan beragam pengajaran, termasuk bahasa Arab yang lantas menjadi salah satu keahliannya. Tujuh tahun lamanya ia mengenyam pendidikan di madrasah itu dan lulus dengan nilai memuaskan. Beberapa tahun kemudian, Abdurrahman diminta untuk menjadi staf pengajar di madrasah yang sama. Selain itu, ia juga memberikan pelajaran di Majelis Pendidikan Diniyah Islam (MPDI) yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan bagi anak di pagi hari dan orang dewasa di malam hari.


Kegiatan mengajar di MPDI membawanya mengenal Ustadz A Hasan, guru utama Persis yang menyelenggarakan pengajian di daerah Pangeran Sumedang Weg, Bandung. Lazimnya pengajian kaum reformis puritan, maka ceramah A Hasan banyak mengangkat tema menyangkut haramnya tahlilan, talqin, marhaban, dan penggunaan kata ushali dalam shalat. Mereka kerap mengadakan diskusi tentang banyak masalah. Diskusi tak jarang diwarnai perdebatan seru, terutama mengenai hal-hal yang biasa dikritik kaum reformis.Ketika pada akhirnya Abdurrahman sanggup menerima argumen dari A Hasan, maka ia pun bersedia aktif mengikuti pengajian itu, bahkan menjadi murid dan asistennya yang terdekat.


Akan tetapi, pandangan dan aktivitasnya itu tidak disenangi oleh kalangan MPDI. Hingga kemudian ia dikeluarkan dari madrasah. Meski sedikit kecewa, namun hal tersebut justru menjadikannya semakin dapat mencurahkan perhatiannya di Persis. Iapun masuk ke Pendidikan Islam (Pendis) yang merupakan bagian pendidikan Persis yang dipimpin M Natsir. Baru pada tahun 1934, Abdurrahman menjadi anggota Persis. 


Kemampuan dalam hal mengelola lembaga pendidikan agama, membuatnya dipercaya memimpin pesantren kecil yang buka di pagi hari. Tahun 1940 pesantren kecil ini menjelma menjadi pesantren Persatuan Islam Bandung yang merupakan model bagi pesantren Persis di daerah-daerah. Karirnya di organisasi Persis dimulai kala menjabat sebagai ketua bagian tabligh dan pendidikan, tahun 1952. Setahun kemudian dalam Muktamar V Persis di Bandung, ia terpilih menjadi Sekretaris Umum Persis dengan KH Isa Anshari sebagai ketua umum. Pada saat itu, ia lebih banyak memberikan perhatian ke dalam masalah internal organisasi dan yang berkaitan dengan problem sosial dan hukum-keagamaan. Seperti misalnya arahan agar Persis bersikap tegas serta melakukan aksi protes damai terhadap aktivitas berbau maksiat di Bandung. Ia juga giat merumuskan argumen-argumen guna menghadapi aliran yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. 


Dan tahun 1956, untuk pertama kalinya, ia menunaikan ibadah haji. Tahun 1962 adalah tahun penting bagi KH Endang Abdurrahman: ia dipercaya memimpin Persis. Di bawah kepemimpinannya, Persis secara konsisten diarahkan agar menjadi organisasi pendidikan dan dakwah dan memiliki pandangan jauh ke depan. Ia pun berkomitmen menjaga kemurnian "ideologi reformasi" Persis. Dengan tidak bosan-bosannya, dalam tiap kesempatan, Abdurrahman menjelaskan masalah-masalah dasar organisasi seperti makna yang terkandung pada nama Persatuan Islam sebagaimana tercantum dalam Qanun Asasi 1984. 


Intinya, pemikirannya mencerminkan keyakinan seluruh kaum reformis bahwa problem yang dihadapi kaum Muslim diakibatkan oleh kekeliruan dalam memahami ajaran Islam dan penyimpangan dari prinsip Alquran dan sunnah. Abdurrahman yakin, yang harus dilakukan dalam memecahkan problem tersebut adalah menafsirkan Alquran serta Sunnah sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat, bukan mengikuti begitu saja pendapat-pendapat para ulama mazhab. 


Seperti tercermin dari tulisan-tulisan dan karya, ia memandang periode Nabi sebagai masa kejayaan yang berfungsi sebagai pola ideal yang harus dicontoh. Oleh karenanya, tema-tema kesukaan ulama ini adalah berkaitan dengan peran Alquran dan Sunnah, ijtihad, ittiba, dan taqlid. Di samping memang penceramah, Abdurrahman pun seorang penulis yang produktif. Sebagian besar tulisannya merupakan karangan lepas dan banyak dimuat di berbagai majalah. Beberapa di antara karyanya adalah buku Risalah Wanita (kumpulan tulisan), Renungan Tarikh (kumpulan tulisan), Jihad dan Qital, Darul Islam, dan Dirayah Ilmu Hadist. 


Usai melaksanakan ibadah haji keduanya tahun 1981, berangsur-angsur kondisi kesehatan Abdurrahman menurun. Kala itu usianya sudah mencapai 70 tahun. Setelah sempat dirawat dua kali di RS Hasan Sadikin Bandung, tanggal 21 April 1983, KH Abdurrahman meninggal dunia. ( yus )

Bung Hatta Panutan Rakyat




Ali Sadikin terhenyak mendengar kabar itu Mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta tak mampu membayar iuran air pam. saking kecilnya uang pensiunan, Hatta juga kesulitan membayar listrik dan uang pajak, bangunan

Gubernur legendaris jakarta itu terharu melihat kondisi Hatta, seorang pemimpin yang jujur hingga hidup susah dihari tua

"Begitu sederhananya hidup pemimpin kita pada waktu itu" kata bang Ali terharu, hal itu dikisahkan bang Ali dalam biografinya bang Ali, demi jakarta 1966-1977 yang tertulis Ramadhan KH

Bang Ali tak cuma terharu, ia juga langsung bergerak. Sang letnan jenderal marinir itu melobi DPRD DKI untuk menjadikan Bung Hatta sebagai warga kota utama, dengan begitu Bung Hatta terbebas dari iuran air dan PBB

DPRD setuju, pemerintah pusat juga memberikan sejumlah bantuan, diantaranya bebas bayar listrik

Ironi, seorang proklamator, mantan wakil presiden, mantan perdana menteri dan seorang bapak bangsa indonesia tak punya uang untuk membayar listrik dan air. Tapi itulah kejujuran seorang Mohammad Hatta. padahal jika main proyek, Hatta tentu bisa kaya tujuh turunan macam penjabat bermental bandit

Banyak kisah kesederhanaan Hatta yang bisa membuat air mata meleleh. Saat Hatta tidak bisa membelikan mesin jahit untuk istrinya karena kekurangan uang, atau sepatu bally yang tak terbeli hingga akhir hayatnya. Guntingan iklan sepatu itu masih tersimpan rapih di perpustakaannya, namun sepatunya tak terbeli oleh sang proklamator.

Bung Hatta tak meninggalkan banyak uang, dia mewariskan keteladanan untuk bangsa ini. Keteladanan yang kini makin menjauh dengan perilaku korup para pejabat negara.

Sumber: merdeka dot com

Reporter: Ramadhian Fadillah