
Oleh : *Drs. H. Ery Ridwan Latief
Perjalanan hidup manusia tidak bisa lepas dari rencana dan skenario Allah Swt, begitu juga dengan peristiwa-peristiwa hidup manusia tidak bisa melepaskan diri dari apa yang telah Allah canangkan dalam bentuk takdir bagi setiap ummat manusia. Tapi ironisnya kadang kita memahami bahwa sejarah hidup manusia akan senantiasa berjalan dalam alur cerita masing-masing tersebut ada dalam genggamanNya, tetapi kadang pula kita lupa bahwa harga diri manusia dimata pencipta Nya bisa diukur dari sejauhmana dirinya mampu memahami Al Qur’an sebagai Hudan lin Nas dan Al Hadits sebagai metode hidup yang telah dicontohkan melalui Rosulullah SAW. Salah satu misil (contoh); Ketika manusia dipercaya untuk memegang kepeminpinan dalam sebuah bentuk kekuasaan, tidak kurang kemudian makna kekuasaan itu bergeser menjadi “Kumawasa” (merasa lebih berkuasa. pen), sehingga dirinya lupa bahwa ada yang lebih berkuasa diluar dirinya yaitu kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.
Untuk meyakinkan bahwa Al Qur’an adalah Hudan lin Nas (petunjuk bagi manusia), maka disitu ada syarat yang harus dipenuhi oleh setiap manusia yang berharap mendapatkan petunjuk-Nya. Al Qur’an tidak diturunkan kecuali untuk memberi rambu-rambu bagi manusia dalam melaksanakan hidup dan kehidupan di alam dunia ini. Dalam al Qur’anlah Allah SWT memberikan pelajaran-pelajaran, aturan-aturan hidup manusia yang senantiasa komitmen dalam melaksanakan fungsinya sebagai makhluk Allah untuk mengabdi kepada Nya.
Mari kita tela'ah bersama bahwa setiap peristiwa yang akan dan sedang kita hadapi, itu tidak bisa lepas dari apa yang telah Allah gambarkan dalam Al Qur'an. Seperti Firman Allah dalam QS. 7:127 dikatakan : “Dan berkata pemuka-pemuka kaum Fir'aun : Apakah Engkau biarkan Musa dan Kaumnya berbuat kerusakan di bumi ?”. Dalam ayat selanjutnya QS.7:128 : Musa berkata kepada kaumnya : “Mintalah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah…”
Dalam kodisi sekarang, kita perhatikan apa yang telah dikatakan oleh George W Bush, mantan Presiden Amerika Serikat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) : “Apakah Dewan Keamanan PBB akan membiarkan Ummat Islam berbuat “Terror” di muka bumi ini ?”, sedang para pemimpin bangsa Muslim menghimbau kepada ummatnya untuk memohon pertolongan Allah SWT dan bersabar. Ini sebuah bukti bahwa telah terjadi pengulangan sejarah peristiwa-peristiwa manusia masa lalu (zaman para nabi. Pen) dan terjadi pada masa kehidupan manusia sekarang. Pertanyaannya apakah kita masih tetap meragukan isi Al Qur'an, atau justeru kita tidak mau tahu terhadap Al Qur'an. Naudzu billah.
Dalam satu ketika kadang kita tidak merasa bahwa kita adalah bagian dari Islam, ketika ummat Islam dieksploitasi, ketika Ummat islam dipinggirkan dan ketika ummat Islam di cap sebagai kelompok teroris, dengan adanya peristiwa Bom di Bali dan yang terakhir di Jakarta misalnya, bathin kita sempat meng-iyakan dan membenarkannya, padahal dalam suatu persoalan tidak bisa kita melihat dari satu aspek saja, tetapi kita harus mampu menafsirkan dari berbagai dimensi kajian yang terintegrasi dalam sebuah pemahaman global. Dapat kita fahami bahwa di Indonesia pernah ada satu kelompok yang memahami Islam hanya dari satu aspek saja, Jihad difahami harus melalui perlawanan fisik, jihad difahami harus melalui kontak senjata (perang), padahal secara substasial pemahaman jihad dengan makna perang adalah pertama, apabila musuh-musuh Islam itu melakukan intimidasi dan kekerasan kepada ummat Islam yang akhirnya kita diserang, maka disini wajib kita mempertahankannya dengan melakukan perlawanan. Kedua, apabila adanya pelarangan dari kelompok manapun kepada kita untuk melakukan ibadah ritual ummat Islam, maka kita ditantang untuk mendakwahinya supaya mereka faham bahwa dengan ibadah itulah manusia akan dihargai oleh Allah sebagai Tuhannya dsb.
Dalam Islam dikenal ada yang disebut dengan Fiqh Ibadah, Fiqhusy Syiasah , fiqh Muamalah dan fiqh yang lainnya, ini menunjukkan masih banyak hal-hal yang harus kita fahami bersama. Satu penomena di Ummat Islam sekarang ; baru mengetahui beberapa ayat Al Qur'an saja. Kita sudah merasa bahwa kita adalah seorang Ulama, seorang Mujahid Dakwah dan istilah-istilah yang lainnya dan tragisnya kita merasa sebagai manusia yang paling layak (dibandingkan dengan yang lainnya) di hadapan Allah. Pertanyaannya inikah makna kemusliman kita ?.
Seharusnya mari kita tela'ah lagi ; bagaimana langkah dakwah yang harus kita kembangkan agar Islam menjadi (dirasakan oleh ummat manusia) sebuah agama yang “Ya'lu ala yu'la alaih” atau Islam itu adalah sebuah “Harokah” atau pergerakan yang harus memberikan jaminan perlindungan dan keamanan bagi semua makhluk yang tercipta di muka bumi ini, bukan hanya sebuah janji-janji tapi Islam-lah yang akan menjamin keselamatan seluruh ummat manusia baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam sejarah penyebaran Islam, kita membaca bahwa perkembangan Islam itu dilakukan dengan cara berperang (Invasi). Wajar Islam dikatakan begitu, karena orang yang diberi kemampuan untuk menulis sejarah adalah “Laisa minal Islam”, tetapi anehnya kenapa ummat Islam tidak menganggap bahwa medalami atau mempelajari ilmu sejarah adalah hal penting. Satu contoh konkrit ada sebuah peperangan yang disebut “Perang Salib” (menurut versi Nashrani), padahal yang terjadi adalah penyerangan yang dilakukan oleh Nashrani terhadap ummat Islam, padahal bila dilihat dari kacamata Islam, peperangan tersebut adalah “Perang Sabil”, ini sebuah penomena.
Maka persoalan-persoalan yang dihadapi ummat islam adalah apa yang digambarkan dalam QS. 7 : 127 tadi bahwa para petinggi-petinggi Fir'aun berkata kepada Fir'aun : Apakah Tuan akan membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di muka bumi ini diakselerasikan dengan ungkapan mantan Presiden Amerika Serikat George W Bush kepada DK PBB : apakah akan kita biarkan Ummat Islam membuat teror di dunia ini ?.
Ada benang hijau yang harus kita urai bersama yaitu : Islam menghadapi tantangan-tantangan dakwah, Islam menghadapi upaya penghancuran yang direncanakan oleh “laisa minal Islam”. Rasa lebih berkuasa adalah bagian dari fitrah dan kecenderungan yang dimiliki manusia sebagai salah-satu makhluk Allah yang banyak memiliki kekurangan, tetapi apabila kita memahami bahwa kekuasaan adalah sebuah amanah, maka kita akan melaksanakan kekuasaan itu dengan tanggung jawab “lii'laai kalimatillah” seluruh langkah itu hanya didasari niyat untuk Allah semata, tidak ada maksud lain. Contoh lain ; apabila ada tetangga kita yang luar muslim mengalami musibah, meninggal dunia misalnya, terkadang hati kita sama sekali tidak terketuk untuk melakukan “Ta'jiyah” (bela sungkawa), bahkan menghalalkan sikap seperti di atas, sebab memiliki dalil bahwa : apabila kita bertemu dengan orang Yahudi dan Nashrani di jalan, maka doronglah (mereka) ketempat yang lebih sempit, pertanyaannya apakah sikap tersebut adalah sikap seorang muslim ?. Tidak adakah penghargaan kita terhadap tetangga yang bukan muslim seperti apa yang telah dicontohkan Rosulullah SAW dengan istilah “Min qoriibin baabin” (yang dekat pintu rumahnya) bahwa : “ Tetangga yang bukan muslim memiliki hak dari kita “satu” hak ketetanggaan, tetangga, itu lebih jadi prioritas hidup ketimbang saudara kita yang jauh”.
Ummat Islam sekarang sedang menghadapi gangguan pemahaman, terutama dalam memahami sikap bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ketika memiliki satu keinginan, mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, dengan cara mengeksploitasi kekuatan Islam lainnya sekalipun. Padahal persoalan yang dihadapi ummat Islam saat ini adalah bagaimana membangun simpul-simpul kekuatan ummat, sehingga mampu mewujudkan sebuah bangunan yang kokoh dan tertata rapih.
Berat memang, tetapi ini adalah sebuah keharusan bagi ummat yang ingin mengabdikan diri dihadapan Allah SWT. Sering kita melakukan interupsi ketika menghadapi cobaan-cobaan yang diturunkan Allah SWT , bahkan sering kita “lose control”, “kalepasan” atau lepas kendali dengan berkata-kata : “Coban apa lagi ya Allah yang Engkau turunkan kepada kami”, padahal Rosulullah SAW pernah memberikan pelajaran dalam sunnahnya : “Barang siapa yang ditakdirkan Allah jadi orang yang bijak (baik/terpilih), Allah akan turunkan cobaan kepadanya “(HR. Bukhari).
Hidup dengan cobaan adalah fitrah, sama seperti hidup dengan kesenangan dan kegembiraan, apabila manusia mendapatkan cobaan, maka itu pertanda dia dalam proses kehidupan, begitupun kesenangan. Ketika ummat Islam ditantang untuk menghadapi kekuatan-kekuatan luar, tidak ada istilah untuk menghindar dari persoalan tersebut, kalau kita ingin digolongkan pada kelompok yang terbaik. Sebaliknya, justeru kita harus merasa aneh apabila ternyata kita tidak mendapatkan kesulitan dan cobaan-cobaan, karena hanya orang yang “kurang normallah” (dengan tidak menyebut istilah gila) yang selamanya meninginkan kesenangan, bahkan tidak kurang masa sekarang ini orang ingin mendapatkan kesenangan dengan cara mengkonsumsi narkoba dll, melalui proses menuju kekurangnormalan (kegilaan). Allah menegaskan sekali lagi dalam QS. 3 : 200 berbunyi : “Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian, dan kuatkanlah kesabaran kalian” (QS. 3 : 200)
Maka difahami bahwa kita diperintahkan untuk bersabar tetapi kita juga ditantang untuk mewujudkan kesabaran itu menjadi wujud kekuatan. Sabar bukan berarti mengalah dari lawan, tetapi sabar adalah memahami tugas dan fungsi sebagai khalifah di muka bumi, senantiasa konsisten dengan apa yang diperintahkan Allah SWT dan Contoh Rosulullah, meski harus mengorbankan nyawa sekalipun. Maka pantas kalau seterusnya dijabarkan oleh Rosulullah SAW dalam sabdanya : “Orang cerdik adalah orang yang mampu menjaga dirinya dari amal kebaikan untuk bekal setelah mati, sedangkan orang kerdil adalah orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya, tetapi mengharap segala macam cita cita kepada Allah SWT“ (HR. Turmudzi).
Ini adalah kesimpulan dari kajian di atas, bagaimana kita menyimpulkan dari nilai sikap hidup manusia. Rosul memberikan dua alternatif : pertama, kalau kita berkeinginan untuk digolongkan kepada kelompok yang cerdik dan terpilih, maka setiap amal kita harus diarahkan untuk bekal setelah mati yang akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT, seperti yang telah dikatakan oleh seorang M. Natsir (Tokoh Pendiri Persatuan Islam / PERSIS) : “apabila kita bercita-cita untuk akhirat, maka kita akan mendapatkan dunia, tetapi apabila kita bercita-cita untuk dunia, maka cukuplah pahala yang ia dapatkan di dunia saja”. Kedua, adalah kelompok yang hanya mengejar keinginan hawa nafsunya saja, tetapi ketika ingin mendapatkan berbagai macam kesenangan, kemakmuran dan perlindungan itu, dirinya tidak malu untuk mengungkapkan dihadapan Allah SWT, seperti yang sering kita lihat dari Wakil-wakil Rakyat yang berada di Lembaga Perwakilan (DPR/MPR RI. Pen) ; “Dalam setiap selesai persidangan, maka mereka meminta perlindungan dan rahmat dari Allah SWT, seperti sering kita dengar kalimat-kalimat : yaa Allah beri kami perlindungan, beri bangsa ini rahmat dan inayah Mu beri bangsa ini jalan untuk keluar dari kesulitan-kesulitan, tetapi ketika ada sebagian kecil ummat yang menyodorkan diterapkannya Syariat Islam, mereka dengan serempak mengeluarkan dalil-dalil untuk menolak keinginan tersebut, ironis memang, tapi ini adalah sebuah kenyataan yang ada di pelupuk mata kita. Wallahu a’lam bish-shawwab. (*penulis : Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sekretaris Bidang Pendidikan MUI Kabupaten Bandung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar