
Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Umat Islam di Indonesia kehilangan seorang sosok ulama, KH Siddiq Amin (54). Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) itu mengembuskan napas terakhirnya, Sabtu (31/10), pukul 22.10 WIB, di RS Al Islam, Bandung.
Kiai Siddiq wafat setelah selama hampir sebulan dirawat di RS Al Islam karena stroke. Ia juga sempat menjalani operasi untuk mengeringkan darah yang pecah di otaknya. Segala ikhtiar telah dilakukan, namun Allah SWT menakdirkan lain. Ia akhirnya berpulang.
Jenazah Kiai Siddiq kemudian dibawa dari RS Al Islam dan disemayamkan di Masjid PP Persis, Jl Kemerdekaan, Kota Bandung. Terbalut rasa duka, berduyun-duyun warga Persis dan Kota Bandung, bergantian memasuki masjid, mendoakan dan menyalatkan sang kiai.
Di antara para pelayat, terlihat sejumlah ulama terkenal, seperti Ketua MUI Kota Bandung KH Miftah Farid dan Athian Ali Da'i. Ahad (1/11), pukul 07.00 WIB, ambulans membawa jenazah Kiai Siddiq menuju ke kediamannya, Pesantren Persis 67 Benda, Tasikmalaya.
Ahmad Heryawan, gubernur Jawa Barat, tiba tepat saat jenazah Kiai Siddiq akan dibawa ke Tasikmalaya. Ia menatap wajah mendiang Kiai Siddiq yang telah ada di dalam mobil ambulans. Dan, doa pun dilantunkannya untuk kiai kharismatik itu.
Menurut Ahmad, ia turut berduka cita atas wafatnya Kiai Siddiq. ''Kepergian almarhum harus dijadikan motivasi untuk meningkatkan upaya dakwah. Almarhum merupakan sosok yang konsisten menyampaikan syiar Islam kepada umat,'' katanya.
Tokoh Persis Kabupaten Bandung, Ery Ridwan Latief, menjelaskan, almarhum banyak meninggalkan investasi syiar Islam bagi umat. Bahkan, menurut dia, banyak jasa yang ditanamkan oleh almarhum yang perlu ditiru oleh umat Muslim lainnya.
''Yang membuat kami salut, beliau sama sekali tak mencari popularitas di balik kualitas gerakan dakwahnya,'' ungkap Ery. Rasa kehilangan merasuk dalam diri Ketua Umum MUI Kota Bandung, Miftah Farid. ''Kami kehilangan sosok ulama yang hingga akhir hayatnya terus berdakwah.''
Hal sama dirasakan Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), Athian Ali Da'i. Ia mengatakan, dirinya merasakan kehilangan luar biasa atas wafatnya Kiai Siddiq. Ia menilai, Kiai Siddiq merupakan ulama yang teguh memegang prinsip.
''Saat negeri ini sedang mengalami krisis ulama, salah satu sosok ulama yang dikenal konsisten dalam berjuang di jalan Allah juga teguh dalam memegang prinsip Islamnya itu, kini telah dipanggil oleh Allah SWT,'' ungkap Athian.
Bagi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, KH Hafizh Utsman, sosok Kiai Siddiq merupakan ulama yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan cerdas. Sebagai pemimpin organisasi besar seperti Persis, Kiai Siddiq merupakan sosok yang cerdas.
Doa pun tak pernah putus mengalir. Ribuan santri, masyarakat, dan pejabat Kota Tasikmalaya, menshalatkan mendiang Kiai Siddiq di Masjid Benda. Tak semua jamaah tertampung. Mereka pun harus bergantian menshalatkan jenazah Kiai Siddiq sebelum dimakamkan.
Mendiang Kiai Siddiq menjabat sebagai ketua umum PP Persis sejak 1999, menggantikan KH Abdul Latief yang wafat. Ia kemudian dikukuhkan menjadi ketua umum sejak 2000 dan terpilih kembali pada 2005, untuk periode 2005-2009, dalam Muktamar Persis pada 9 September 2005.
Sekretaris Dewan Hisbah PP Persis, Wawan Shofwan, mengungkapkan tim dokter telah memberikan isyarat jika penyakit yang diderita oleh Kiai Siddiq membutuhkan proses la ma untuk penyembuhannya. irfan/sandi/c03 ed: ferry
Tidak ada komentar:
Posting Komentar