Muqadimah
Ketika kita bicarakan : “ Menakar Peran Politik Umat Islam ”,
seolah-olah kita masuk pada satu pilihan kondisi –yang terlalu berani-
melakukan proses pengkajian terhadap hal-hal yang sangat rentan melahirkan
pertentangan pemahaman. Padahal berbicara Umat Islam secara otomatis kita
sedang berbicara tentang diri kita sendiri, yang telah berbai’at di hadapan
Allah untuk siap menjadi penerus perjuangan Rasulullah SAW dan siap berpegang
teguh pada tali (agama) Allah serta berimplikasi pada satu sikap yang siap untuk
tidak bercerai berai, sesuai dengan firman Allah SWT : Dan berpegang teguhlah
kamu sekaliankepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai (QS.
Ali Imran : 103 ).
Langkah untuk menyerap limpahan -menuju- wawasan yang berkualitas,
tentunya tidak dipersepsi bisa memberikan segalanya dan serba komprehensif.
Kita bisa berujar layaknya Socrates yang dengan bijak mengakui “yang
aku tahu adalah bahwa aku semakin tidak tahu apa-apa.” Tapi selanjutnya kita
akan berani mengatakan “yang aku tahu adalah aku semakin tahu apa-apa”.
Artinya, walaupun kita nantinya tidak sebijak socrates, tetapi paling tidak kita
lebih “percaya diri” daripada Socrates.
Samuel P Huntington dalam bukunya “The Clash of Civilizations
and Remaking of World Order”: Di benak kita tersembunyi asumsi-asumsi,
bias-bias serta prasangka-prasangka yang “Membimbing” kita tentang bagaimana
mempersepsi suatu realitas, tentang fakta-fakta yang kita lihat dan bagaimana
kita menilai manfaat serta kebaikannya.
Salah-satu model berpikir yang senantiasa -minimal- harus ada di
benak umat Islam diantaranya adalah : Umat Islam harus mampu ;
1. mengatur dan menggeneralisasikan realitas;
2. memahami hubungan-hubungan kausal di antara berbagai
fenomena;
3. melakukan antisipasi dan, jika beruntung, melakukan
prediksi terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi di masa yang akan
datang;
4. memilah-milah mana yang penting dan yang tidak penting,
dan;
5. menempuh jalan yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan
tujuan kita.
Perjalanan Politik Umat Islam
Membahas perjalanan politik Umat Islam tidak bisa lepas dari proses
berdirinya Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan diproklamirkan pada hari
Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pegangsaan Timur Jakarta.
Kenapa demikian, karena tokoh-tokohnya seperti ; Tuan A. Hasan dan Moch.
Natsir dll juga turut ambil bagian dalam “Membangun karakter Bangsa” melalui “symbol” Bung
Karno sebagai salah satu Proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Berikut kutipan Surat-Surat Islam dari Endeh semasa Bung Karno
hidup dalam masa pengasingan di Endeh Flores, dalam buku “Dibawah Bendera
Revolusi” cetakan pertama hal 325 dan 338 :
DARI IR. SUKARNO KEPADA TUAN. A. HASSAN, GURU "PERSATUAN
ISLAM", BANDUNG
No.1. . Endeh, 1 Desember 1934.
Assalamu'alaikum,
Djikalau saudara-saudara memperkenankan, saja minta saudara
mengasih hadiah kepada saja buku-buku jang tersebut dibawah ini: 1 Pengadjaran
Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 Al-Muchtar, 1 Debat Talqien, 1 Al-Burhan compleet, 1
Al-Djawahir.
Kemudian daripada itu, djika saudara-saudara ada sedia, saja minta
sebuah risalah jang membitjarakan soal "sajid". Ini buat saja
bandingkan dengan alasan-alasan saja sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam
zaman sekarang menghadapi soal-soal jang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih
sulit daripada soal "sajid" itu, maka toch menurut kejakinan saja,
salah satu ketjelaan Islam zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia jang
menghampiri kemusjrikan itu. Alasan-alasan kaum "sajid", misalnja
mereka punja brosjur "Bukti
kebenaran",saja sudah batja, tetapi tak
bisa mejakinkan saja. Tersesatlah orang jang mengira, bahwa Islam mengenal
suatu "aristokrasi Islam". Tiada satu agama jang menghendaki
kesama-rataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu, adalah salah satu
sebab jang mematahkan djiwanja sesuatu agama dan ummat, oleh karena
pengeramatan manusia itu, melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah
kebentjanaan!
Sebelum dan sesudahnja terima itu buku-buku, jang saja
tunggu-tunggu benar, dan mudah-mudahan nanti buku tersebut dibatja oleh banjak
orang Indonesia agar bisa mendapat inspiration daripadanja. Sebab, sesungguhnja
buku tersebut penuh dengan inspiration. Inspiration bagi kita punja bangsa jang
begitu muram dan kelam hati, inspiration bagi kaum Muslimin jang belum mengerti
betul-betul artinja perkataan “Sunnah Nabi”, - jang mengira, bahwa sunnah Nabi S.a.w itu hanja makan korma dibulan
Puasa dan celak- mata dan sorban sahadja !.
Saudara, please tolonglah. Saja mengutjap beribu-ribu terima kasih.
Wassalam, SUKARNO
Surat-surat Islam dari Ir. Soekarno kepada A. Hassan dapat menjadi
saksi begitu dekatnya Soekarno dengan A. Hassan, dan merupakan salah satu bukti
dari perjalanan “High Politic”nya -melalui tokoh-tokohnya- dalam peta
politik nasional, bahkan Internasional.
Peran Politik Umat Islam … ?
Setelah mendalami perjalanan pergerakkan Umat islam di arena
politik global, tentu lahir sebuah pertanyaan besar : “Bagaimana seharusnya
peran politik Umat Islam ?”. Pertanyaan ini sangat menarik untuk kita kaji.
Kenapa demikian, karena kondisi masyarakat bangsa ini sedang terombang-ambing
arus politik global, dimana hilangnya rasa percaya diri baik dalam interaksi
antar warga negaranya, interaksi dengan bangsa-bangsa dunia maupun tidak bisa
mempercayai orang –kelompok- yang lain.
Mari kita kerucutkan pada pengkajian bagaimana seharusnya umat
Islam bersikap, baik dalam interaksi sebagai warga negara, maupun sebagai satu
komunitas Muslim yang bercita-cita ingin melaksanakan kehidupan yang sesuai
dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah seperti termaktub dalam sila
pertama Pancasila yaitu : “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban
Melaksanakan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”.
Kajian saat ini dibangun oleh 3 (tiga) tahapan berpikir : pertama, bagaimana
memahami kondisi masyarakat -bangsa- Indonesia saat ini
?kedua, bagaimana realitas
pandangan masyarakat terhadap peran partai politik di Indonesia dan ketiga, bagaimana
seharusnya Persis berperan dalam mengapresiasi peta politik negara ini ?.
Pertama, dengan berakhirnya
masa Orde Baru diganti oleh Orde “Reformasi” apalagi dengan munculnya BJ
Habibie sebagai Presiden RI ke 3 (tiga), dimana kran kebebasan berkumpul dan
menyatakan pendapat dibuka, maka seluruh lapisan masyarakat baik Eksekutif, Legislatif,
masyarakat biasa, bahkan tukang becak sekalipun, mereka begitu lantangnya
mengeluarkan pernyataan-pernyataan politik, argumen dan analisa politik bak
sebagai politisi. Tetapi pada perkembangan selanjutnya ketika perubahan negara
yang diharapkan akan mampu merubah kondisi rakyat pada satu tingkatan
-kemakmuran rakyat-, akhirnya mereka kecewa ketika justeru lembaga yang
diharapkan mampu menjadi corong kebebasan melalui keterwakilan di
lembaga-lembaga politik seperti DPR/MPR ternyata tidak mampu menjawab
problematika hidup mereka, tapi justeru sebaliknya para politisi yang menjadi
“kareueus” (kebanggaan . pen) mereka, hanya asyik sibuk mengurusi diri sendiri
dan keluarganya saja bahkan tidak kurang -dari realitas yang ada- mereka hanya
menambah sesaknya ruang-ruang tahanan gara-gara ulah mereka yang telah
melakukan tindak korupsi dan penyelewengan-penyelewengan lainnya. Tragis memang
bangsa ini.
Kedua, akibat dari
kondisi di atas masyarakat Indonesia sekarang kembali pada kondisi hilang
kepercayaan, saling meragukan satu dengan yang lainnya bahkan cenderung apatis.
Kepercayaan terhadap partai-partai mulai pudar, karena ternyata partai hanya
menjadikannya (rakyat pen) sebagai obyek politik belaka, ketika tujuan
politiknya tercapai, maka rakyat yang mendukungnya dengan setia ditinggalkan
begitu saja. Kondisi inilah yang mejadi penyebab sebegitu tercorengnya
pemerintahan Indonesia di mata rakyatnya,
apalagi di mata Internasional. Peristiwa Ambalat, lepasnya Timor Timur,
munculnya gerakan-gerakan separatis yang ingin melepaskan diri dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia dsb, hal tersebut merupakan realitas politik yang
tidak bisa kita pungkiri. Akhir-akhir ini muncul peristiwa pemukulan wasit Karate Indonesia yang dilakukan oleh Polisi
Diraja Malaysia, hal tersebut bukanlah sebuah simbol pelecehan terhadap
perwasitan saja, tetapi lebih luas lagi peristiwa tersebut merupakan pelecehan
terhadap Bangsa Indonesia khususnya di mata bangsa-bangsa di Asia Tenggara
-konon khabarnya penyebab semuanya itu merupakan perlawanan negara-negara
tetangga atas kebijakan Pemerintahan Indonesia yang tidak mau lepas dari
persahabatannya dengan Amerika Serikat, dimana masyarakat Muslim dunia sepakat
menyatakan bahwa Amerika Serikatlah yang menjadi biang keladi “Teroris Dunia”.
Kondisi tersebut sungguh menambah kelamnya sejarah bangsa ini.
Ketiga, bagaimana seharusnya
umat Islam berperan dalam mengapresiasi peta politik negara ini ?. Jawabannya
ada pada sejauhmana naluri kebangsaan umat Islam, realitas politik bangsa
tentunya dapat dijadikan salah-satu argumentasi politik. Umat Islam tidak perlu
melakukan kesalahan politik lagi, apalagi setelah Mahkamah Konstitusi
meloloskan “Calon Independen” dalam peta politik bangsa, dimana kekuatan
politik saat ini sudah tidak lagi berada di tangan partai-partai politik,
tetapi berada di tangan kekuatan rakyat, LSM, dan Organisasi
Masyarakat. Partai Politik saat ini sedang mengalami kehilangan rasa percaya
diri, maka mereka banyak melakukan Political
Intrude -politik yang bermaksud
mengganggu- dengan dalih “silaturrahmi politik”, sekali lagi hal tersebut
merupakan jebakan politik saja. Sikap
politik umat Islam sesungguhnya tidak diarahkan pada proses dukung mendukung,
tapi dapat dimaknai ; bagaimana Umat Islam merealisasikan “the
hidden program” nya yaitu : “Terlaksananya syariat Islamberlandaskan al-Qur’an dan
as-Sunnah secara kaffah dalam segala
aspek kehidupan,” dalam bingkai
pendidikan dan dakwah. Umat Islam tidak bermain api masuk ke dalam jebakan politik yang mereka siapkan, tetapi Umat Islam harus
mampu mengatur arus politik bangsa dengan menyiapkan kader yang memiliki
“Militansi Ummah”, tidak tertipu oleh janji-janji politik dengan melakukan
langkah politik yang -justeru- akan merusak harga
diri umatnya tersebut; menjual
kekuatan ummat dengan memberikan dukungan baik terhadap partai-partai politik
maupun kepentingan-kepentingan politik seseorang di setiap wilayah politik
praktis. Makna partisipasi politik –penekanannya- bukan pada proses dukung
mendukung, tetapi Umat Islam harus siap jadi bagian yang utuh, independen, dan
memiliki karakter yang jelas, tegas dan berakhlakul karimah. Umat Islam yang
diberi tanggungjawab penuh untuk mewakili umat dalam percaturan politik
praktis, dia tidak mencampur adukan kepentingan dirinya, harus mampu membawa karakter
"Ummah" dimanapun mereka beraktifitas, bukan justeru sebaliknya dia
membawa karakter "luar" dan melakukan uji coba politik di dalam
wilayah pergerakannya sendiri.
Khatimah
Sayid Muhammad Baqir ash-Shadr mengatakan bahwa: “Orang Barat
-Yahudi dan Nashrani- dalam membangun peran politiknya lebih melihat ke bumi
dengan berdasarkan spirit penguasaan, sehingga bertendensi materialis, sedang
orang Timur -Islam- lebih melihat ke langit karena perintah langit (Allah)
memposisikan mereka sebagai khalifah di muka bumi, sehingga bertendensi
religius.
Aplikasi pergerakan yang sesungguhnya adalah sejauhmana kita dapat
melaksanakan seluruh aktivitas kehidupan dengan berlandaskan firman Allah SWT :
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan
janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran : 103 ), serta melaksanakan
komitmen dakwah dalam mewujudkan “Terlaksananya syariat Islam berlandaskan
al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.”.Wallah
a’lam bish shawab.
*Sekretaris
FKUB (forum Kerukunan Umat Beragama) Kabupaten Bandung
Sekretaris ORARI Daerah Jawa Barat
Wakil Ketua ICMI ORDA Kabupaten Bandung
Wakil Ketua ORARI Lokal Bandung
Selatan
Sekretaris
Bidang Pendidikan & Kebudayaan MUI
Kabupaten Bandung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar