Oleh: Dr. Amin Fauzi, M.A.
Salah Seorang Pendiri Hima Persis
Staf PP Hima Persis 1997-1998
Ketua Dewan Tafkir PP Persis 2016-2018
Dosen Uhamka dan Staipi Jakarta
Namanya Atif Latiful Hayat. Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat. Dia
menyelesaikan S1 di UNPAD, S2 dan S3 di Monash University. Beliau adalah dosen
UNPAD, pakar dalam bidang hukum internasional.
Saya mengenalnya sejak 32 tahun yang lalu. Kesan
saya, dari dulu sampai sekarang, kang
Atif tetap tidak berubah, dari segi prinsip hidup dan komitmennya terhadap
nilai-nilai Islam dan ke-Persis-an. Orangnya cukup istiqamah. Integritas
kepribadian dan intelektualnya tidak diragukan lagi. Orangnya cerdas, tegas,
jujur, terus terang, tidak bermuka dua, kritis, argumentatif, open-minded, egaliter,
rendah hati, enerjik, optimis dan progresif.
Memang ada sebahagian orang yang mengesankannya
angkuh, ambisius dan kurang fleksibel. Tetapi sebenarnya itu hanya “miss undersanding” saja dari cara dia mengekspresikan dan mengartikulasikan pemikiran-pemikirannya dan menyalurkan energi “positif” yang ada
dalam dirinya. Kalau dia mencalonkan ini dan itu, sebenarnya itu lebih banyak
karena “desakan” orang lain yang memintanya membuat perubahan yang positif,
terutama di lingkungan Persatuan Islam.
Mereka yang memiliki kesan “negatif” itu, mungkin
saja karena ada “miss understanding”
dalam memahami kepribadiannya dan cara dia melihat dan memahami suatu
persoalan. Atau mungkin juga mereka ini, memang, bukan “sparring-partner” dari kawan
dialog yang seimbang
dengannya. Akibatnya, bisa jadi, kadang-kadang orang tersebut
menjadi ‘bulanan-bulanannya’ atau
habis ‘dijitakin’ olehnya. Seperti
saya katakan di atas, dia ini memang orangnya kritis, berwawasan luas, sedikit
“egoistis”, logis, egaliter dan sangat sistematis dalam bertutur kata. Jadi,
bertukar pikiran dengannya, memang harus punya ‘bekal’ terlebih dahulu.
Sebenarnya perbedaan pendapat
itu adalah wajar
dalam bertukar pikiran. Kami juga pernah mengalaminya dengan kang Atif.
Sekitar tahun 1994-an,
kami berencana mendirikan Hima Persis. Waktu itu kami masih sekitar
semester lima-an program S1. Kami ajukan proposalnya kepada PP Persis dan
almarhum ustaz Latif Mukhtar
menyetujuinya. Berbeda dengan sikap kang Atif yang ketika
itu sudah menjadi dosen UNPAD dan menjabat ketua PP Pemuda Persis. Dia marah
besar dan tidak bisa menerima hal tersebut. Dia katakan, kalau pendirian Hima sebagai Organisasi Otonom (ORTOM) Persis dilegalkan, pemuda Persis yang tersisa hanya “tukang beas hungkul!” (tukang beras
doang!) Masuk akal! Kami juga tertawa mendengarnya. Saya secara pribadi sebenarnya
bisa memahami alasannya pada waktu itu. Sebenarnya dia bukan menolak pendirian Hima. Yang dia mau, untuk
sementara Hima itu berada di bawah Pemuda dulu. Nanti setelah beberapa tahun,
baru menjadi Ortom. Tetapi jiwa muda kami sedang menggebu-gebunya. Kami
beralasan, adalah aneh, kok organisasi kepemudaan ada di lingkungan kampus.
HMI, IMM, PMII, semuanya itu adalah organisasi ekstra kampus berbasis mahasiswa
dan bukannya kepemudaan. Takdirnya, Hima terbentuk. Sejak saat itu, sampai beberapa belas tahun kemudian,
hubungan Hima dan Pemuda terasa ada “ketegangan” atau sedikit ada “friksi”.
Baru setelah saya pulang studi dari Malaysia dan menjabat setahunan di Dewan
Tafkir, saya memprakarsai pertemuan dengan kang Atif, ketua Hima dan ketua
Pemuda waktu itu, almarhum ustaz Eka. Hadir pada watu itu saya, kang Atif, ustaz Eka, Nizar Saputra sebagai ketua
Hima, dan Prof. Wildan sebagai penyedia fasilitas di wisma Setneg, Bandung.
Alhamdulillah pertemuan berjalan dengan baik dan lancar. Kami sepakat bahwa tidak
ada lagi yang namanya “friksi” antara Hima dan Pemuda. Anggota Hima dihimbau
agar juga aktif di Pemuda.
Sekarang terbukti, ketua
PP Pemuda Persis
hari ini adalah kader Hima.
Sebenarnya bertukar pikiran dengannya sungguh
mengasyikkan. Selain orangnya committed dengan
ajaran Islam dan nilai-nilai ke-Persis-an, pengalaman dan wawasannya sangat
luas. Dia bisa melihat suatu persoalan dari
dua perspektif sekaligus, Islam dan Barat. Dia menyelesaikan S2 dan S3 di salah
satu universitas ternama di Australia, Monash University. Dia juga sudah
menjelajahi berbagai negara-negara Barat. Dia bisa menilai Islam dan Barat pada
kadar yang cukup proporsional. Saya tidak melihat, setelah dia balik dari Barat
itu, kemudian menjadi “gila” Barat. Atau sebaliknya, semakin dia mengetahui
berbagai kekurangan di Barat, dia menjadi a
priori dan anti Barat. Ada beberapa hal yang, menurutnya, bisa diambil dari
Barat sepanjang hal itu positif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Kang Atif juga bukan profesor KW atau “abal-abal”
sebagaimana yang banyak terjadi di Indonesia. Dia betul-betul seorang profesor
yang pakar di bidangnya dan sudah melalui uji akademik yang sangat ketat.
Tulisan- tulisannya di jurnal internasional bereputasi, sudah tidak perlu diragukan lagi.
Sedikit menyinggung tentang soal karya tulis itu.
Masyarakat kita masih banyak yang salah persepsi. Mereka menilai kualitas
intelektual seseorang dari berapa banyak buku yang ia tulis. Sebenarnya itu
masih koma. Itu tergantung kualitas bukunya sebenarnya. Di dunia akademik
sekarang, yang menjadi ukuran itu bukan buku lagi, atau semata-mata buku. Sebab
buku bebas ditulis dan bebas diterbitkan oleh siapa pun tanpa harus melalui
penilaian ahli atau reviewer terlebih
dahulu. Yang menjadi standar kualitas intelektual seseorang sekarang ini adalah
jurnal nasional dan internasional bereputasi. Dalam hal ini, kita memang
tertinggal dari negara-negara Barat satu atau dua abad yang lalu. Nah, dalam
soal ini, kualitas kang Atif tidak perlu dipertanyakan lagi. Keprofesorannya
itu ia peroleh karena kualitas tulisan-tulisannya di berbagai jurnal, terutama
jurnal internasional bereputasi. Dan untuk mendapatkan itu, susahnya banget banget! Apalagi kalau sudah masuk
standar Scopus. Jadi bisa diukur bagaimana kualitas berpikir ilmiah dan
kekuatan logikanya. “salahnya,” dia ini tidak banyak menulis buku atau karya
dalam bahasa Indonesia yang bisa
diakses oleh “orang awam”. Jadi agak “wajar” kalau popularitasnya di kalangan
“orang awam” itu tidak sebesar di kalangan akademisi. Ditambah lagi, adanya “hoax”
dan “pembunuhan karakter” yang diarahkan kepadanya dengan berbagai “stigma”
yang negatif dan menyudutkannya.
Bagi saya, kang Atif adalah
sosok yang layak didapuk menjadi pemimpin organisasi besar, termasuk organisasi
keagamaan. Dia memiliki self-
independence, self-reliance, self-sufficience dan self-confidence yang tinggu. Plus, dia
memiliki jiwa “pembaharuan” yang cukup mengegebu-gebu. Dengan kapabilitas,
kualitas intelektual dan integritas moralnya, yakin dia mampu menjalankan roda
organisasi tanpa banyak dipengaruhi oleh self-interestnya. Ini karena, dari beberapa segi, baik itu kebutuhan
hidup dan prestasi puncak individualnya, sudah tercukupi semuanya. Dia hanya
“membutuhkan” eksistensi diri dan pemenuhan “moral-calling” dirinya untuk menyumbangkan sesuatu dari kelebihan
yang ia miliki tersebut untuk berbakti menegakkan Islam dan kemuliaan kaum
Muslimin melalui wadah organisasi.
Ada yang mengatakan bahwa organisasi keagamaan itu
hanya “mampu” dijabat oleh orang-orang yang berlatar belakang studi keagamaan.
Katakanlah, ustaz, kyiai atau ulama. Kenyataannya menunjukkan tidak selalunya
demikian. Tidak ada hubungan
kausalitas dan paralel
antara keulamaan dan kemajuan
organisasi (keagamaan). Manajemen
organisasi itu tergantung kepada bakat kepemimpinan, pengetahuan tentang ilmu
organisasi dan manajemen, pengalaman, komitmen dan integritas moral seseorang.
Contohnya organisasi Islam Muhammadiyah. Sudah empat kepemimpinan belakangan
ini tidak ada satu pun yang berlatar belakang ustaz atau ulama. Amin Rais,
Syafi’i Ma’arif, Din Syamsudin dan
Haedar Nashir, semuanya bukan figur ulama, melainkan intelektual. Tetapi
kenyataannya Muhammadiyah sekarang ini begitu pesat perkembangannya, baik
secara kuantitas maupun kualitas. Sebaliknya, ada beberapa organisasi keagamaan
Islam yang tidak maju, bahkan mengalami stagnasi, ketika dipimpin figur seorang
ulama. Selain, ada juga, mungkin, organisasi keagamaan Islam yang berkembang
dan maju karena dipimpin figur seorang ulama.
Figur ustaz, kyiai atau ulama itu mungkin cocok
memimpin badan atau bidang yang khusus membidangi masalah-masalah keagamaan,
semisal “Dewan Hisbah” di Persis,
atau “Majlis Tarjih”
di Muhammadiyah. Itupun kalau
sekarang ini orang akan mempertanyakan lagi; kualifikasi ulama seperti apa yang
pantas memimpin bidang seperti itu? Orang-orang di zaman sekarang ini sudah banyak yang “well-informed”, “melek-agama”, dan kritis mempertanyakan kualifikasi seseorang.
Mereka tidak segan mempertanyakan rekam jejak pendidikan dan karya-karyanya.
Ulama-ulama besar dunia saja, seperti syeikh Yusuf Al- Qaradhawi, Muhammad
Al-Ghazali, ‘Ali Jum’ah, Mustafa Al-Maraghi, Wahbah Zuhaili, adalah orang-orang
berpendidikan tinggi yang sekolah sampai tingkat doktoral. Ini menjadi pengingatan
bagi mereka yang hanya mencukupkan diri sekolah hanya sampai tingkat aliyah
saja atau “otodidak” untuk menjadi seorang ulama besar. Kita tidak hidup di
zaman Ahmad Hassan atau Buya Hamka, yang mereka ini bisa belajar secara
otodidak dan menghasilkan karya-karya yang cukup mengagumkan. Itupun kalau kita
tilik dengan keilmuan sekarang, karya mereka itu tidak lepas
dari “studi kritis”
yang bisa menunjukkan beberapa kelemahan buah pikiran mereka. Sekarang
ini di Persis sudah cukup banyak sarjana S2 dan S3 di bidang studi keagamaan.
Mereka melihat karya-karya Ahmad Hassan, misalnya, tidak lagi seperti
mereka sewaktu remaja atau beranjak dewasa. Mereka sekarang sudah lebih
kritis lagi karena, selain mereka belajar metodologi studi Islam di perguruan
tinggi, juga sudah banyak karya ulama sekarang ini dalam bidang yang serupa.
Sehingga mereka memiliki perbandingan yang lebih banyak dan pandangan yang
lebih kritis.
Di puncak prestasinya dan kematangan dirinya
sekarang ini, sesungguhnya kang Atif sangat layak memimpin sebuah organisasi
besar (Persatuan) Islam. dari segi “senioritas” pun, sesungguhnya sekarang
inilah
“gilirannya”. Dia sudah duduk di PP Persis
sejak zaman almarhum ustaz Latif Mukhtar, LC. M.A. Zaman ketika kami sendiri
masih imut-imut kuliah di tingkat S1. Kecintaannya terhadap Persis sungguh
sangat mendalam. Dia perlu diberi kesempatan untuk membuktikan dirinya, bahwa
apa yang selama ini dia katakan tentang ‘pembaharuan”, “perbaikan”,
“pembenahan” organisasi, itu bisa dia realisasikan. Kita, tentunya, tidak bisa
menilai seseorang itu gagal atau tidak, kecuali kalau ia pernah diberi
kesempatan untuk menduduki jabatan tertentu yang padanya dia memiliki wewenang
yang cukup besar untuk melakukan sesuatu (perubahan). Ada sebahagian kecil
orang yang memang “mengkhawatirkan” angin perubahan yang akan ia hembuskan itu
benar-benar bersifat “revolusioner” sehingga bisa menjungkir balikkan semua
tatanan yang sudah ada. Saya yakin tidak demikian. Pada usianya yang sudah
memasuki kepala enam itu, saya yakin dia akan bersikap lebih bijaksana.
Begitulah “naturalnya” manusia, semakin tua, dia akan semakin lebih bersikap
hati-hati, penuh perhitungan, pertimbangan dan keseimbangan. Wallahu a’lam bis shawaab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar