22 September 2022

Prof. Dr. Atif Latiful Hayat, S.H. LLM. Kenapa Ditakuti (?)

 


                                                            Oleh: Dr. Amin Fauzi, M.A. 

                                                        

                                                        Salah Seorang Pendiri Hima Persis

                                                            Staf PP Hima Persis 1997-1998 

                                                    Ketua Dewan Tafkir PP Persis 2016-2018

                                                        Dosen Uhamka dan Staipi Jakarta

 

 

Namanya Atif Latiful Hayat. Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat. Dia menyelesaikan S1 di UNPAD, S2 dan S3 di Monash University. Beliau adalah dosen UNPAD, pakar dalam bidang hukum internasional.

Saya mengenalnya sejak 32 tahun yang lalu. Kesan saya, dari dulu sampai sekarang, kang Atif tetap tidak berubah, dari segi prinsip hidup dan komitmennya terhadap nilai-nilai Islam dan ke-Persis-an. Orangnya cukup istiqamah. Integritas kepribadian dan intelektualnya tidak diragukan lagi. Orangnya cerdas, tegas, jujur, terus terang, tidak bermuka dua, kritis, argumentatif, open-minded, egaliter, rendah hati, enerjik, optimis dan progresif.

Memang ada sebahagian orang yang mengesankannya angkuh, ambisius dan kurang fleksibel. Tetapi sebenarnya itu hanya miss undersanding saja dari cara dia mengekspresikan dan mengartikulasikan pemikiran-pemikirannya dan menyalurkan energi “positif” yang ada dalam dirinya. Kalau dia mencalonkan ini dan itu, sebenarnya itu lebih banyak karena “desakan” orang lain yang memintanya membuat perubahan yang positif, terutama di lingkungan Persatuan Islam.

Mereka yang memiliki kesan “negatif” itu, mungkin saja karena ada “miss understanding” dalam memahami kepribadiannya dan cara dia melihat dan memahami suatu persoalan. Atau mungkin juga mereka ini, memang, bukan “sparring-partner dari kawan dialog yang seimbang dengannya. Akibatnya, bisa jadi, kadang-kadang orang tersebut menjadi ‘bulanan-bulanannya’ atau habis ‘dijitakin’ olehnya. Seperti saya katakan di atas, dia ini memang orangnya kritis, berwawasan luas, sedikit “egoistis”, logis, egaliter dan sangat sistematis dalam bertutur kata. Jadi, bertukar pikiran dengannya, memang harus punya ‘bekal’ terlebih dahulu.


Sebenarnya perbedaan pendapat itu adalah wajar dalam bertukar pikiran. Kami juga pernah mengalaminya dengan kang Atif. Sekitar tahun 1994-an, kami berencana mendirikan Hima Persis. Waktu itu kami masih sekitar semester lima-an program S1. Kami ajukan proposalnya kepada PP Persis dan almarhum ustaz Latif Mukhtar menyetujuinya. Berbeda dengan sikap kang Atif yang ketika itu sudah menjadi dosen UNPAD dan menjabat ketua PP Pemuda Persis. Dia marah besar dan tidak bisa menerima hal tersebut. Dia katakan, kalau pendirian Hima sebagai Organisasi Otonom (ORTOM) Persis dilegalkan, pemuda Persis yang tersisa hanya “tukang beas hungkul!” (tukang beras doang!) Masuk akal! Kami juga tertawa mendengarnya. Saya secara pribadi sebenarnya bisa memahami alasannya pada waktu itu. Sebenarnya dia bukan menolak pendirian Hima. Yang dia mau, untuk sementara Hima itu berada di bawah Pemuda dulu. Nanti setelah beberapa tahun, baru menjadi Ortom. Tetapi jiwa muda kami sedang menggebu-gebunya. Kami beralasan, adalah aneh, kok organisasi kepemudaan ada di lingkungan kampus. HMI, IMM, PMII, semuanya itu adalah organisasi ekstra kampus berbasis mahasiswa dan bukannya kepemudaan. Takdirnya, Hima terbentuk. Sejak saat itu, sampai beberapa belas tahun kemudian, hubungan Hima dan Pemuda terasa ada “ketegangan” atau sedikit ada “friksi”. Baru setelah saya pulang studi dari Malaysia dan menjabat setahunan di Dewan Tafkir, saya memprakarsai pertemuan dengan kang Atif, ketua Hima dan ketua Pemuda waktu itu, almarhum ustaz Eka. Hadir pada watu itu saya, kang Atif, ustaz Eka, Nizar Saputra sebagai ketua Hima, dan Prof. Wildan sebagai penyedia fasilitas di wisma Setneg, Bandung. Alhamdulillah pertemuan berjalan dengan baik dan lancar. Kami sepakat bahwa tidak ada lagi yang namanya “friksi” antara Hima dan Pemuda. Anggota Hima dihimbau agar juga aktif di Pemuda. Sekarang terbukti, ketua PP Pemuda Persis hari ini adalah kader Hima.

Sebenarnya bertukar pikiran dengannya sungguh mengasyikkan. Selain orangnya committed dengan ajaran Islam dan nilai-nilai ke-Persis-an, pengalaman dan wawasannya sangat luas. Dia bisa melihat suatu persoalan dari dua perspektif sekaligus, Islam dan Barat. Dia menyelesaikan S2 dan S3 di salah satu universitas ternama di Australia, Monash University. Dia juga sudah menjelajahi berbagai negara-negara Barat. Dia bisa menilai Islam dan Barat pada kadar yang cukup proporsional. Saya tidak melihat, setelah dia balik dari Barat itu, kemudian menjadi “gila” Barat. Atau sebaliknya, semakin dia mengetahui berbagai kekurangan di Barat, dia menjadi a priori dan anti Barat. Ada beberapa hal yang, menurutnya, bisa diambil dari Barat sepanjang hal itu positif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.


Kang Atif juga bukan profesor KW atau “abal-abal” sebagaimana yang banyak terjadi di Indonesia. Dia betul-betul seorang profesor yang pakar di bidangnya dan sudah melalui uji akademik yang sangat ketat. Tulisan- tulisannya di jurnal internasional bereputasi, sudah tidak perlu diragukan lagi.

Sedikit menyinggung tentang soal karya tulis itu. Masyarakat kita masih banyak yang salah persepsi. Mereka menilai kualitas intelektual seseorang dari berapa banyak buku yang ia tulis. Sebenarnya itu masih koma. Itu tergantung kualitas bukunya sebenarnya. Di dunia akademik sekarang, yang menjadi ukuran itu bukan buku lagi, atau semata-mata buku. Sebab buku bebas ditulis dan bebas diterbitkan oleh siapa pun tanpa harus melalui penilaian ahli atau reviewer terlebih dahulu. Yang menjadi standar kualitas intelektual seseorang sekarang ini adalah jurnal nasional dan internasional bereputasi. Dalam hal ini, kita memang tertinggal dari negara-negara Barat satu atau dua abad yang lalu. Nah, dalam soal ini, kualitas kang Atif tidak perlu dipertanyakan lagi. Keprofesorannya itu ia peroleh karena kualitas tulisan-tulisannya di berbagai jurnal, terutama jurnal internasional bereputasi. Dan untuk mendapatkan itu, susahnya banget banget! Apalagi kalau sudah masuk standar Scopus. Jadi bisa diukur bagaimana kualitas berpikir ilmiah dan kekuatan logikanya. “salahnya,” dia ini tidak banyak menulis buku atau karya dalam bahasa Indonesia yang bisa diakses oleh “orang awam”. Jadi agak “wajar” kalau popularitasnya di kalangan “orang awam” itu tidak sebesar di kalangan akademisi. Ditambah lagi, adanya hoax” dan “pembunuhan karakter” yang diarahkan kepadanya dengan berbagai “stigma” yang negatif dan menyudutkannya.

Bagi saya, kang Atif adalah sosok yang layak didapuk menjadi pemimpin organisasi besar, termasuk organisasi keagamaan. Dia memiliki self- independence, self-reliance, self-sufficience dan self-confidence yang tinggu. Plus, dia memiliki jiwa “pembaharuan” yang cukup mengegebu-gebu. Dengan kapabilitas, kualitas intelektual dan integritas moralnya, yakin dia mampu menjalankan roda organisasi tanpa banyak dipengaruhi oleh self-interestnya. Ini karena, dari beberapa segi, baik itu kebutuhan hidup dan prestasi puncak individualnya, sudah tercukupi semuanya. Dia hanya “membutuhkan” eksistensi diri dan pemenuhan “moral-calling” dirinya untuk menyumbangkan sesuatu dari kelebihan yang ia miliki tersebut untuk berbakti menegakkan Islam dan kemuliaan kaum Muslimin melalui wadah organisasi.

Ada yang mengatakan bahwa organisasi keagamaan itu hanya “mampu” dijabat oleh orang-orang yang berlatar belakang studi keagamaan. Katakanlah, ustaz, kyiai atau ulama. Kenyataannya menunjukkan tidak selalunya demikian. Tidak ada hubungan kausalitas dan paralel antara keulamaan dan kemajuan


organisasi (keagamaan). Manajemen organisasi itu tergantung kepada bakat kepemimpinan, pengetahuan tentang ilmu organisasi dan manajemen, pengalaman, komitmen dan integritas moral seseorang. Contohnya organisasi Islam Muhammadiyah. Sudah empat kepemimpinan belakangan ini tidak ada satu pun yang berlatar belakang ustaz atau ulama. Amin Rais, Syafi’i Ma’arif, Din Syamsudin dan Haedar Nashir, semuanya bukan figur ulama, melainkan intelektual. Tetapi kenyataannya Muhammadiyah sekarang ini begitu pesat perkembangannya, baik secara kuantitas maupun kualitas. Sebaliknya, ada beberapa organisasi keagamaan Islam yang tidak maju, bahkan mengalami stagnasi, ketika dipimpin figur seorang ulama. Selain, ada juga, mungkin, organisasi keagamaan Islam yang berkembang dan maju karena dipimpin figur seorang ulama.

Figur ustaz, kyiai atau ulama itu mungkin cocok memimpin badan atau bidang yang khusus membidangi masalah-masalah keagamaan, semisal “Dewan Hisbah” di Persis, atau “Majlis Tarjih” di Muhammadiyah. Itupun kalau sekarang ini orang akan mempertanyakan lagi; kualifikasi ulama seperti apa yang pantas memimpin bidang seperti itu? Orang-orang di zaman sekarang ini sudah banyak yang well-informed”, “melek-agama”, dan kritis mempertanyakan kualifikasi seseorang. Mereka tidak segan mempertanyakan rekam jejak pendidikan dan karya-karyanya. Ulama-ulama besar dunia saja, seperti syeikh Yusuf Al- Qaradhawi, Muhammad Al-Ghazali, ‘Ali Jum’ah, Mustafa Al-Maraghi, Wahbah Zuhaili, adalah orang-orang berpendidikan tinggi yang sekolah sampai tingkat doktoral. Ini menjadi pengingatan bagi mereka yang hanya mencukupkan diri sekolah hanya sampai tingkat aliyah saja atau “otodidak” untuk menjadi seorang ulama besar. Kita tidak hidup di zaman Ahmad Hassan atau Buya Hamka, yang mereka ini bisa belajar secara otodidak dan menghasilkan karya-karya yang cukup mengagumkan. Itupun kalau kita tilik dengan keilmuan sekarang, karya mereka itu tidak lepas dari “studi kritis” yang bisa menunjukkan beberapa kelemahan buah pikiran mereka. Sekarang ini di Persis sudah cukup banyak sarjana S2 dan S3 di bidang studi keagamaan. Mereka melihat karya-karya Ahmad Hassan, misalnya, tidak lagi seperti mereka sewaktu remaja atau beranjak dewasa. Mereka sekarang sudah lebih kritis lagi karena, selain mereka belajar metodologi studi Islam di perguruan tinggi, juga sudah banyak karya ulama sekarang ini dalam bidang yang serupa. Sehingga mereka memiliki perbandingan yang lebih banyak dan pandangan yang lebih kritis.

Di puncak prestasinya dan kematangan dirinya sekarang ini, sesungguhnya kang Atif sangat layak memimpin sebuah organisasi besar (Persatuan) Islam. dari segi “senioritas” pun, sesungguhnya sekarang inilah


“gilirannya”. Dia sudah duduk di PP Persis sejak zaman almarhum ustaz Latif Mukhtar, LC. M.A. Zaman ketika kami sendiri masih imut-imut kuliah di tingkat S1. Kecintaannya terhadap Persis sungguh sangat mendalam. Dia perlu diberi kesempatan untuk membuktikan dirinya, bahwa apa yang selama ini dia katakan tentang ‘pembaharuan”, “perbaikan”, “pembenahan” organisasi, itu bisa dia realisasikan. Kita, tentunya, tidak bisa menilai seseorang itu gagal atau tidak, kecuali kalau ia pernah diberi kesempatan untuk menduduki jabatan tertentu yang padanya dia memiliki wewenang yang cukup besar untuk melakukan sesuatu (perubahan). Ada sebahagian kecil orang yang memang “mengkhawatirkan” angin perubahan yang akan ia hembuskan itu benar-benar bersifat “revolusioner” sehingga bisa menjungkir balikkan semua tatanan yang sudah ada. Saya yakin tidak demikian. Pada usianya yang sudah memasuki kepala enam itu, saya yakin dia akan bersikap lebih bijaksana. Begitulah “naturalnya” manusia, semakin tua, dia akan semakin lebih bersikap hati-hati, penuh perhitungan, pertimbangan dan keseimbangan. Wallahu a’lam bis shawaab.


Tidak ada komentar: