27 September 2022

SUAMI-ISTRI 𝗦𝗬𝗔𝗥𝗜𝗔𝗧, SUAMI-ISTRI 𝗛𝗔𝗞𝗜𝗞𝗔𝗧


Oleh: Moeflich Hasbullah 


Suami-istri syariat dan suami-istri hakikat adalah kenyataan hidup sehari-hari. Banyak sekali, mungkin kita juga bagiannya, tapi jarang disadari dan dibicarakan. Padahal penting sebagai perenungan, penyadaran apalagi penyelesaian masalah.


𝐒𝐮𝐚𝐦𝐢-𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁


Suami istri syariat adalah pasangan suami istri yang terikat dalam hukum perkawinan, hidup bersama dalam syariat berkeluarga tapi hakikatnya bukan suami istri. Hanya terikat oeh hukum tapi tak sejiwa. Tak ada kemistri, jiwanya tak klop. Suami tak bisa memimpin, lemah inisiatif, tak ada ketegasan, lemah dalam mengambil sikap dan membuat keputusan. Apalaginya agamanya lemah. Tak menjadi imam bagi istrinya, tak berwibawa dan tak dihormati. Akhirnya istrinya tak ada kepuasan, banyak kekecewaan. Atau, istrinya tak ada ketawadhuan, tak ada rasa hormat, yang ada melawan, membantah dan sering bertengkar. Aura jodoh tak terasa, yang ada adalah penyesalan dalam hatinya sebagai suami/istri. Atau, nerima pasrah tapi ngedumel tak habis². Hidup gak enak banget.


Dalam menjalani keluarga terlalu jomplang, kesadaran dan cara berpikirnya terlalu jauh. Bisa jadi salah seorangnya agamanya kuat, sebelahnya lemah. Susah dikasih tahu dan diajak, akhirnya masing². Kunci perubahan kesadaran (hidayah) itu memang di usia 40 tahun. Setelah 40an, masih tak ada perubahan, masih tak taat agama, akan sulit perubahannya.


Akhirnya terasa banyak gak nyambungnya, tak ada kecocokan. Tak ada saling mengerti dan mengalah, egonya pada kuat. Inginnya pisah tapi tak berani, cerai takut dosa atau harta takut tak kebagian. Pikiran duniawi mendominasi. Lalu membiarkan jiwa tersiksa dalam neraka rumah tangga. Keluarga awet rajet, bertahan dalam keterpaksaan alias kemunafikan. Harmonis dan kebahagiaan adanya di langit bukan di rumah. Semuanya terlihat di penampakan, tak bisa disembunyikan oleh bedak dan kosmetik, tak ada aura wajah kebahagiaan, tak ada cahaya kesenangan, bahkan badan kurus bahkan penyakit menggerogoti. Semuanya disembunyikan tapi sering terasa.


Masing² justru merasa nyaman kalau suami/istrinya pada jauh atau tak ada di rumah. Kalau ke luar bersama, belanja, ke undangan atau difoto bareng seperti akur dan harmonis, dipasang di medsos, padahal di hatinya masing² pada sebel, pengennya mah nendang kelaut. Melihat foto berduanya di medsos, orang-orang pun tertipu: "Keren, harmonis," atau "keluarga bahagia," katanya. Lalu dijawab: "Makasiiih ..." 😅 Padahal hatinya mengatakan: "Preeet ...!" Itulah suami istri syariat tanpa kemistri hakikat. Hidup serumah berkeluarga tapi hakikatnya bukanlah suami istri.


𝐒𝐮𝐚𝐦𝐢-𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐇𝐚𝐤𝐢𝐤𝐚𝐭


Ada lagi suami istri hakikat. Kemistrinya kuat, banyak kecocokan dan banyak nyambung, merasa nyaman dan bahagia karena banyaknya keserasian pikiran, karakter, sikap mental, orientasi dll. Dekat saling mencintai, jauh saling merindukan.Dalam suami istri hakikat, yang dibicarakan tentang pasangannya selalu adalah kebaikan, rasa hormat, jasa-jasanya, kebaikan kebaikannya, kenangan-kenangan indahnya, baik masih bersama atau bila sudah meninggal dunia.


Suami bisa melindungi, terasa sebagai jadi pemimpin istrinya, jadi panutan. Hormat istrinya tinggi, sayang suaminya kuat. Kalau ngobrol berdua terasa enak, nikmat, banyak penyadaran tapi juga ada humor, candaan dan cumbuan. Berpasangan dan berkeluarga adalah kenikmatan dan kebahagiaan. Ketika salah satunya wafat, sakitnya berat karena terasa sangat kehilangan. Di syariat, jangan salah, banyak suami/istrinya meninggal, pasangannya biasa-biasa saja. Tak ada kesan yang mendalam sebagai suam istri. Wilayah syariat memang begitu. Ikatannya hukum bukan kecocokan jiwa.


𝗠𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵, banyak pasangan hakikat bukan sebagai suami istri, tidak selalu suami istri syariat, bisa jadi pria atau wanita lain, bisa jadi suami atau istri orang, tapi cocoknya dengan kita. Memang pasangan hakikat tidak selalu harus terikat hukum, tidak selalu sebagai suami istri syariat.

Dia sama pasangannya di rumah hanya suami istri syariat. Yang begini ini cukup pusing dan riweuh. Suami/istrinya di rumah tapi pasangan yang cocoknya bukan, tapi orang lain yang sering berkomunikasi. Ini kenyataan hidup. Sangat banyak yang begini. Ketika berhubungan, orang menyebutnya "selingkuh" atau "perselingkuhan" padahal tidak sesederhana itu. Ini masalah jiwa dan kemistri. Pikiran normatif boleh menolak, tapi fakta psikologis begitu. Pikiran normatif atau hukum, akan mengatakan yang begini ini "haram." Silahkan, tapi masalah tidak akan selesai hanya dengan mengatakan "haram" atau "dosa." Hanya menjadi dosa, bila melakukan pelanggaran syariat karena dosa adanya di wilayah syariat. Tidak ada dosa dalam rasa dan jiwa.


Mungkinkah memutuskan suami istri syariat demi menggapai kesehatan jiwa dalam ikatan suami istri hakikat?


Sangat mungkin, tinggal keberanian saja mengambil sikap atau memutuskannya dengan mempertimbangkan berbagai aspek, maslahat dan mudharatnya termasuk semua resikonya. Bila memutuskan sebagai kemaslahatan, terasanya, hasilnya, buahnya akan kemaslahatan juga. Bila memutuskanya sebagai kemudharatan hasilnya akan mudharat juga. Tapi mengutamakan kemerdekaan hati dan jiwa biasanya berujung kehagiaan karena bahagia itu adanya di hati dan jiwa yang merdeka. Syariat hanya berlaku di dunia, hakikat akan terbawa sampai ke akhirat.


𝗞𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻


Ada suami-istri syariat, ada suami-istri hakikat. Kebanyakan kita hidup dalam ikatan suami-istri syari'at. Banyak yang sebenarnya pasangan suami-istri hakikat tapi tidak menjadi suami-istri syariat. Berbahagialah mereka, jumlahnya sedikit, yang berpasangan sebagai suami-istri hakikat juga dalam ikatan syari'at. Itulah jodoh dunia akhirat.***

Tidak ada komentar: