"TAMIANG MALIK KA BITIS"
26 Februari 2013
9 Februari 2013
SIKAP SEORANG NEGARAWAN
Prof. DR. Yusril Ihza Mahendra, M. Sc
1.
Tetaplah
tenang walau kita didera oleh persoalan-persoalan yg berat. Tetaplah berjalan
di rel hukum dan konstitusi.
2.
Tetaplah
bertindak konstitusional selesaikan masalah. Jangan ambil langkah
inkonstitusional;
3.
Mengurus
negara & mengurus partai ada sisi kesamaannya. Anggaran Dasar Partai
mempunyai kedudukan setara dg konstitusi bg sebuah negara
4.
Konstitusi
hrs memberi jalan keluar ketika negara berada dlm krisis. Partai juga lebih
kurang sama
5.
Akankah
kita bertindak konstitusional ketika dalam krisis, ataukah mengambil langkah
sebaliknya?
6.
Dalam
konteks seperti itulah jiwa kenegarawanan seorang tokoh sedang diuji, Itu
berlaku bagi siapa saja, saya juga
7.
Seorang
pemimpin seringkali berada di persimpangan jalan ketika hadapi krisis : memilih
jalan konstitusional atau gunakan kekuatan
8.
Pada
saat krisis memuncak, kepemimpinan sang tokoh sedang dalam ujian besar. Kalau langkah
paling bijak berhasil ditempuhnya, selamatlah semuanya
9.
Sebaliknya,
jika ia salah dalam melangkah, maka itulah akhir kejayaannya dan runtuhlah
semuanya
10.
Dalam
sejarah,seringkali pemimpin besar justru salah melangkah ketika dia harus
memilih di tengah krisis. Itulah titik akhir kejayaannya
8 Februari 2013
Yusril Akan Menebas Semua Lembaga Pemilu Yang Menghalangi PBB !
Yusril Ihza Mahendra, Ketua Dewan
Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) akan menebas semua lembaga pemilu yang tetap
tak bergeming menyatakan partainya tidak dapat menjadi peserta Pemilu 2014.
PBB, menurut Yusril, akan terus
melakukan perlawanan pada lembaga pemilu itu hingga titik darah terakhir.
"Perlawanan itu tetap di jalur yang sah dan konstitusional. Kami akan
lawan habis-habisan," kata Yusril di kantor Bawaslu, Jakarta, Jumat (1/2/2013)
jelang tengah malam.
Yusril menambahkan, perlawanan tidak
hanya mencakup lembaga pemilu. Menurutnya, jika banding ke Pengadilan Tata
Usaha Negara (PTUN) mengecewakan, Yusril secara konstitusional akan mengugat
putusan PTUN ke MA.
Hal itu, lanjutnya, akan terus
terjadi jika PBB tidak mendapatkan keadilan sebagaimana mestinya. "Kalau
saya sudah melawan, semuanya juga akan saya lawan," pungkasnya.
Seperti diberitakan, Badan Pengawas
Pemilu (Bawaslu) dalam sidang ajudikasi memutuskan menolak gugatan sengketa pemilu
yang dilayangkan Partai Bulan Bintang (PBB). Bawaslu hanya menerima dua
argumentasi dalam tahapan verifikasi faktual yang dipaparkan oleh Yusril.
Bawaslu menilai argumentasi Yusril
mengenai penolakan KPU atas Ketua DPC PBB Bantul yang berstatus pegawai negeri
sipil (PNS) beralasan hukum. Menurut Bawaslu, alasan KPU mengenai penolakan
Ketua DPC PBB PNS tersebut tidak beralasan menurut hukum. Dalam hal tersebut,
Bawaslu menilai KPU telah salah langkah menafsirkan UU Pemilu.
Sementara itu, argumentasi Yusril
mengenai keterwakilan perempuan di DPD PBB Sumatera Barat juga beralasan.
Menurut Bawaslu, KPU dalam hal tersebut telah bertindak ceroboh dan salah.
Namun, menurut Bawaslu dalam beberapa aspek lainnya saat verifikasi faktual PBB
memang tidak memenuhi persyaratan KPU.
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu)
dalam sidang ajudikasi memutuskan menolak gugatan sengketa pemilu yang
dilayangkan Partai Bulan Bintang (PBB). Bawaslu hanya menerima dua argumentasi
dalam tahapan verifikasi faktual yang dipaparkan oleh Ketua Dewan Syuro PBB,
Yusril Ihza Mahendra.
"Menolak permohonan pemohon
(PBB) untuk ditetapkan sebagai peserta pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD tahun
2014," ujar Ketua Bawaslu, Muhammad, saat membacakan amar putusan di Media
Center Bawaslu, Jakarta, Jumat (1/2/2013) tengah malam.
Bawaslu menilai, argumentasi Yusril
mengenai penolakan KPU atas Ketua DPC PBB Bantul yang berstatus pegawai negeri
sipil beralasan hukum. Menurut Bawaslu, alasan KPU mengenai penolakan Ketua DPC
PBB PNS tersebut tidak beralasan menurut hukum. Dalam hal tersebut Bawaslu
menilai KPU telah salah langkah menafsirkan UU Pemilu.
Sementara itu, argumentasi Yusril
mengenai keterwakilan perempuan di DPD PBB Sumatera Barat juga beralasan.
Menurut Bawaslu, KPU dalam hal tersebut telah bertindak ceroboh dan salah.
"Namun, dalam beberapa aspek lainnya saat verifikasi faktual PBB memang
tidak memenuhi persyaratan KPU," terang Muhammad.
Sementara itu, Ketua Umum PBB MS
Kaban menilai logika hukum Bawaslu sehingga menolak partainya sangat tidaknyambung dengan
pokok gugatan. Menurut dia, Bawaslu kurang ahli dan kurang memahami pokok gugatan
yang diajukan. Hal itu dapat tecermin dari putusan Bawaslu yang mengesampingkan
pendapat saksi ahli.
"Menyangkut kesaksian di
daerah, pertimbangan para ahli tidak dipakai. Bawaslu tidak mendengar bahasa
para ahli. Bawaslu tutup mata, kurang ahli. Dari awal sampai kesimpulan,
terlihat kebodohannya," kata Kaban.
Kaban menjelaskan, amar putusan
Bawaslu sama sekali tidak mencantumkan penilaian khusus atas kinerja KPU.
Bawaslu juga tidak memberikan penilaian atas perjuangan parpol saat berusaha
memenuhi persyaratan KPU. Menurut Kaban, amar putusan yang langsung menyatakan
penolakan adalah bukti Bawaslu tidak becus menggelar sidang ajudikasi.
"Ini bukti lain bahwa hakimnya
(Bawaslu) tidak betul. Padahal kan sudah jelas, masalah Sumbar dan PNS, Bawaslu
mengatakan KPU salah," pungkasnya.
Selain memutuskan perkara gugatan
yang diajukan PBB, KPU juga memutuskan perkara yang diajukan oleh Partai Karya
Republik (Pakar), Partai Kedaulatan, dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama.
Nasib ketiga parpol gurem itu juga serupa dengan PBB. Bawaslu menolak jika
keempat parpol itu layak mengikuti Pemilu 2014.
Perbaikan gugatan PBB vs KPU telah
diserahkan ke PT TUN Jum’at, 8 Pebruari 2013 jam 14.00 tadi. Sidang akan
dimulai selasa pekan depan, Subhanallah.
6 Februari 2013
PENJAJAHAN BARAT ATAS DUNIA ISLAM DAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN NEGARA – NEGARA ISLAM
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Umat
Islam mengalami puncak kejayaan kedua pada masa tiga kerajaan Besar berkuasa,
yakni kerajaan Turki Usmani, Safawi dan Mughal (India).Namun, seperti pada masa
kekuasaan Islam terdahulu, lambat laun kekuatan Islam menurun. Bersamaan dengan
kemunduran tiga kerajaan tersebut, bangsa Barat mulai menunjukkan usaha
kebangkitannya.
Kebangkitan
bangsa Barat bermuara pada khazanah ilmu pengetahuan dan metode berpikir yang
dikembangkan umat Islam yakni rasional. Di antara jalur masuknya ilmu
pengetahuan Islam ke Eropa yang terpenting adalah Spanyol. Ketika Spanyol Islam
mengalami kejayaan, banyak orang-orang Eropa yang datang untuk belajar ke sana,
kemudian menerjemahkan karya-karya ilmiah umat Islam. Hal ini dimulai sejak
abad ke-12.
Gerakan
renaisans bangsa Eropa melahirkan perubahan-perubahan besar. Abad ke-16 dan
ke-17 merupakan abad yang paling penting bagi kebangkitan Eropa, sementara pada
akhir abad ke-17 itu pula, dunia Islam mulai mengalami kemunduran. Banyak
penemuan-penemuan dalam segala lapangan ilmu pengetahuan dan kehidupan yang
diperoleh orang-orang Eropa. Perkembangan itu semakin cepat setelah ditemukan
mesin uap, yang kemudian melahirkan revolusi industri di Eropa. Teknologi
perkapalan dan militer berkembang dengan pesat. Sehingga, dengan kekuatan baru
yang mereka miliki, Eropa menjadi penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan
ekonomi dan perdagangan dari dan ke seluruh dunia, tanpa mendapat hambatan
berarti dari lawan-lawan mereka yang masih menggunakan persenjataan sederhana
dan tradisional.
Dalam
pada itu, kemorosotan dunia Islam tidak terbatas pada bidang ilmu pengetahuan
dan kebudayaan saja, melainkan mereka juga ketinggalan dari Eropa dalam
industri perang, padahal keunggulan Turki Usmani di bidang ini pada masa-masa
sebelumnya telah diakui oleh seluruh dunia.
Dengan
organisasi dan persenjataan modern, pasukan perang Eropa mampu melancarkan
pukulan telak terhadap daerah-daerah kekuasaan Islam. Kekuatan-kekuatan Eropa
menjajah satu demi satu negara Islam. Perancis menduduki Aljazair pada tahun 1830,
dan merebut Aden dari Inggris sembilan tahun kemudian. Tunisia ditaklukkan pada
tahun 1881, Mesir pada tahun 1882, Sudan pada 1889.
Sementara
itu, wilayah Islam di Asia Tengah juga tak luput dari penjajahan Barat.Umat
Islam di Asia Tengah menjadi sasaran pendudukan Uni Soviet. Tulisan ini mencoba
memaparkan keadaan dunia Islam pada masa penjajahan Barat.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas kami rumuskan item masalah yang akan dibahas pada
penulisan makalah ini, yaitu :
Renaisans
di Eropa
Penajajahan
Barat atas Dunia Islam di Anak Benua India dan Asia Tenggara
Kemunduran
kerajaan Usmani dan ekspansi Barat ke timur tengah
Bangkitnya
Nasionalisme dalam dunia Islam
Kemerdekaan
Negara-Negara Islam dari penjajah
BAB
II
PEMBAHASAN
PENJAJAHAN
BARAT ATAS DUNIA ISLAM
DAN
PERJUANGAN KEMERDEKAAN NEGARA – NEGARA ISLAM
A. RENAISANS
DI EROPA
Eropa
menghadapi tantangan yang sangat berat. Terutama kerajaan usmani yang perpusat
di Turki. Mereka melakukan berbagai penelitian tentang rahasia alam, berusaha
menaklukkan lautan, dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi oleh
kegelapan. Setelah christoper colombus menemukan benua amerika (1492 M) dan
vasco da gama menemukan jalan ke timur melalui tanjung harapan (1498 M), benua
amerika dan kepulauan hindia segera jatuh ke bawah kekuasaan eropa.
Eropa
menjadi maju dalam dunia perdagangan. L. stoddard menggambarkan, dengan sekejap
mata dinding laut itu berubah menjadi jalan raya dan eropa yang semula terpojok
segera menjadi yang dipertuankan di laut dan dengan demikian, yang dipertuan di
dunia. Perekonomian bangasa – bangsa eropa pun semakin maju karena daerah –
daerah baru terbuka baginya.
Tak
lama stelah itu, mulailah kemajuan barat melampaui kemajuan islam yang sejak
lama mengalami kemunduran. Kemajuan barat itu dipercepat oleh penemuan dan
perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Penemuan mesin uap yang kemudian
melahirkan revolusi industri di eropa semakin memantapkan kemajuan mereka.
Teknologi perkepalan dan militer berkembang dengan pesat.
Eropa
menjadi penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan perdangan ke
seluruh dunia. Negeri – negeri islam yang pertama kali jatuh ke bawah kekuatan
eropa adalah negeri – negeri yang jauh dari pusat kekuasaan kerajaan usmani,
Negeri – negeri islam yang pertama dapat dikuasai barat itu adalah negeri –
negeri islam di asia tenggara dan di anak benua india. Sementara, negeri –
negeri islam di timur tengah yang berada di bawah kekuasaan kerajaan usmani,
baru diduduki eropa pada masa berikutnya.
B. PENJAJAHAN
BARAT TERHADAP DUNIA ISLAM DI ANAK BENUA INDIA DAN ASIA TENGGARA
Invasi
Eropa terhadap dunia Islam tidak pernah sama, tetapi selalu secara menyeluruh
dan efektif. Penetrasi Barat terhadap dunia Islam di Timur Tengah pertama-tama
dilakukan oleh dua bangsa Eropa terkemuka, Inggris dan Perancis. Inggris
terlebih dahulu mencoba menguasai kerajaan Mughal India. Selama pertengahan
terakhir abad ke-18, para pedagang Inggris telah memantapkan diri di Benggali.
Rentang waktu antara 1798 – 1818, dengan perjanjian atau aksi militer,
pemerintahan kolonial Inggris tersebar ke seluruh India, kecuali lembah Indus,
yang baru menyerah pada tahun 1843 – 1849.
Sementara
itu Perancis merasa perlu memutuskan hubungan komunikasi antara Inggris di
barat dan India di timur. Oleh karena itu, pintu gerbang ke India, yakni Mesir
berhasil ditaklukkan dan dikuasai oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1798 M.
Alasan lain Perancis menaklukkan Mesir adalah untuk memasarkan hasil-hasil
industrinya. Mesir, di samping mudah dicapai dari Perancis juga dapat menjadi
sentral aktivitas untuk mendistribusikan barang-barang ke Turki, Syiria hingga
ke timur jauh.
Pada
tahun 1799 M., Napoleon Bonaparte meninggalkan Mesir karena situasi politik
yang terjadi di negara tersebut. Ia kemudian menunjuk jenderal Kleber
menggantikan kedudukan Napoleon di Mesir. Dalam suatu pertempuran laut antara Inggris
dan Perancis, jenderal Kleber kalah dan meninggalkan Mesir pada tahun 1801 M.,
dan di Mesir terjadi kekosongan kekuasaan.
Kekosongan tersebut dimanfaatkan oleh seorang perwira Turki, Muhammad Ali dengan didukung oleh rakyat, berhasil megambil alih kekuasaan dan mendirikan dinasti. Pada masa itu Mesir sempat menegakkan kedaulatan dan melakukan beberapa pembeharuan, namun pada tahun 1882 M. dapat ditaklukkan kembali oleh Inggris.
Faktor
utama yang menarik kehadiran kekuatan-kekuatan Eropa ke negara-negara muslim
adalah ekonomi dan politik. kemajuan Eropa dalam bidang industri menyebabkannya
membutuhkan bahan-bahan baku, di samping rempah-rempah. Mereka juga
membutuhkan negeri-negeri tempat memasarkan hasil industri mereka. Untuk
menunjang perekonomian tersebut, kekuatan politik diperlukan sekali. Akan
tetapi persoalan agama seringkali terlibat dalam proses politik penjajahan
barat atas negeri-negeri muslim. Trauma Perang Salib masih membekas pada
sebagian orang barat, terutama Portugis dan Spanyol, karena kedua negara ini
dalam jangka waktu lama, berabad-abad berada di bawah kekuasaan Islam.
India, pada masa kemajuan kerajaan Mughal adalah negeri yang kaya dengan hasil pertanian. Hal ini mengundang Eropa yang sedang mengalami kemajuan untuk berdagang ke sana. Di awal abad ke-17 M, Inggris dan Belanda mulai menginjakkan kaki di India. pada tahun 1611 M, Inggris mendapat izin menanamkan modal, dan pada tahun 1617 M belanda mendapat izin yang sama.
Kongsi
dagang Inggris, British East India Company (BEIC), mulai berusaha menguasai
wilayah India bagian timur, ketika merasa cukup kuat. Penguasa setempat mencoba
mempertahankan kekuasaan dan berperang melawan Inggris. Namun, mereka tidak
berhasil mengalahkan kekuatan Inggris. Pada tahun 1803 M, Delhi, ibukota
kerajaan Mughal jatuh ke tangan Inggris dan berada di bawah bayang-bayang
kekuasaan Inggris. Tahun 1857 M, kerajaan Mughal dikuasai secara penuh, dan
raja yang terakhir dipaksa meninggalkan istana. Sejak itu India berada di bawah
kekuasaan Inggris yang menegakkan pemerintahannya di sana. Pada tahun 1879,
Inggris berusaha menguasai Afghanistan dan pada tahun 1899, Kesultanan Muslim
Baluchistan dimasukkan ke bawah kekuasaan India-Inggris.
Asia
Tenggara, negeri tempat Islam baru berkembang, yang merupakan daerah penghasil
rempah-rempah terkenal pada masa itu, menjadi ajang perebutan negara-negara
Eropa. Kerajaan-kerajaan Islam di wilayah ini lebih lemah dibandingkan dengan
kerajaan Mughal, sehingga lebih mudah ditaklukkan oleh bangsa Eropa.
Kerajaan
Islam Malaka yang berdiri pada awal abad ke-15 M di Semenanjung Malaya yang
strategis merupakan kerajaan Islam kedua di Asia Tenggara setelah Samudera
Pasai, ditaklukkan Portugis pada tahun 1511 M. Sejak itu peperangan-peperangan
antara Portugis melawan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seringkali
berkobar. Pedagang-pedagang Portugis berupaya menguasai Maluku yang sangat kaya
akan rempah-rempah.
Pada
tahun 1521 M, Spanyol datang ke Maluku dengan tujuan dagang. Spanyol berhasil
menguasai Filipina, termasuk di dalamnya beberapa kerajaan Islam, seperti
Kesultanan Maguindanao, Buayan dan Kesultanan Sulu. Akhir abad ke-16 M, giliran
Belanda, Inggris, Denmark dan Perancis, datang ke Asia Tenggara. Namun,
Perancis dan Denmark tidak berhasil menguasai negeri di Asia Tenggara dan hanya
datang untuk berdagang. Kekuasaan politik negara-negara Eropa di negara-negara
Asia berlanjut terus hingga pertengahan abad ke-20.
C. KEMUNDURAN
KERAJAAN USMANI DAN EKSPANSI BARAT KE TIMUR TENGAH
Kemajuan-kemajuan
Eropa dalam teknologi militer dan industri perang membuat kerajaan Usmani
menjadi kecil di hadapan Eropa. Akan tetapi nama besar Turki Usmani masih
membuat Eropa segan untuk menyerang atau menguasai wilayah-wilayah yang berada
di bawah kekuasaan kerajaan Islam. Namun kekalahan besar Turki Usmani dalam
peperangan di Wina pada tahun 1683 M, membuka mata Barat bahwa Turki Usmani
telah benar-benar mengalami kemunduran jauh sekali.
Sejak
kekalahan dalam peperangan Wina itu, kerajaan Turki Usmani menyadari akan
kemundurannya dan kemajuan Barat. Usaha-usaha pembaharuan mulai dilaksanakan
dengan mengirim duta-duta ke negara Eropa, terutama Perancis, untuk mempelajari
kemajuan mereka dari dekat. Pada tahun 1720 M, Celebi Muhamad diutus ke Paris
dan diinstruksikan untuk mengunjungi pabrik-parbik, benteng-benteng pertahanan
dan institusi-institusi lainnya. Ia kemudian memberi laporan tentang kemajuan
teknik, organisasi angkatan perang modern, dan kemajuan lembaga-lembaga sosial
lainnya. Laporan-laporan tersebut mendorong Sultan Ahmad III (1703 – 1730 M)
untuk memulai pembaharuan. Untuk tujuan itu, didatangkanlah ahli-ahli militer
Eropa, salah satunya adalah De Rochefort, Pada tahun 1717, ia datang ke
Istambul dalam rangka membentuk korps artileri dan melatih tentara Usmani dalam
ilmu-ilmu kemiliteran modern.
Usaha
pembaruan yang dilakukan tidak terbatas pada bidang milliter. Dalam
bidang-bidang lain pembaharuan juga dilaksanakan, seperti pembukaan percetakan
di Istanbul pada tahun 1737 M, untuk kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan.
Demikian juga gerakan penerjemahan buku-buku Eropa ke dalam bahasa Turki,
sebagaimana telah dilakukan oleh para penguasa Abbasiyah ketika menerjemahkan buku-buku
Yunani ke dalam bahasa Arab.
Meskipun
demikian, usaha-usaha pembaharuan itu bukan saja gagal menahan kemunduran Turki
Usmani, tetapi juga tidak membawa hasil yang diharapkan. Penyebab
kegagalan tersebut karena kelemahan raja-raja Turki Usmani karena wewenangnya
sudah menurun. Di samping itu, keuangan negara yang terus mengalami
kebangkrutan, tidak mampu menunjang usaha pembaharuan. Faktor terpenting yang
menyebabkan kegagalan usaha pembaharuan adalah karena ulama dan tentara
Yenissari yang sejak abad ke-17 M menguasai suasana politik kerajaan Turki
Usmani menolak pembaharuan.
Usaha
pembaruan Turki Usmani baru mengalami kemajuan setelah Sultan Mahmud II
membubarkan tentara Yenissari pada tahun 1826 M. Struktur kerajaan dirombak,
lembaga-lembaga pendidikan moderen didirikan, buku-buku Barat diterjemahkan,
siswa berbakat dikirim belajar ke Eropa, dan sekolah-sekolah kemiliteran
didirikan. Akan tetapi, meski banyak mendatangkan kemajuan, hasil yang
diperoleh dari gerakan pembaharuan tetap tidak berhasil menghentikan gerakan
Barat terhadap dunia Islam. Selama abad ke-18, Barat menyerang wilayah
kekuasaan Turki Usmani di Eropa Timur. Akhir dari serangan itu adalah
ditandatanganinya Perjanjian San Stefano (Maret 1878 M) dan perjanjian Berlin
(Juli 1878 M), antara kerajaan Turki Usmani dengan Rusia.
Ketika
perang dunia I meletus, Turki Usmani bergabung dengan Jerman yang kemudian
mengalami kekalahan. Akibat dari peristiwa itu kekuasaan kerajaan Turki semakin
ambruk. Partai Persatuan dan Kemajuan memberontak kepada Sultan dan dapat
menghapuskan kekhalifahan Usmani, kemudian membentuk Turki modern.
Di
pihak lain, satu demi satu daerah-daerah kekuasaan Turki Usmani di Asia dan
Afrika melepaskan diri dari Konstantinopel. Hal ini disebabkan timbulnya
nasionalisme pada bangsa-bangsa yang ada di bawah kekuasaan Turki. Bangsa
Armenia dan Yunani yang beragama Kristen berpaling ke Barat, memohon bantuan
Barat untuk kemerdekaan tanah airnya, bangsa Kurdi di pegunugan dan Arab di
padang pasir dan lembah-lembah juga bangkit untuk melepaskan diri dari
cengkeraman penguasa Turki Usmani.
D. BANGKITNYA
NASIONALISME DI DUNIA ISLAM
Sebagaimana
telah disebutkan di atas, benturan-benturan antara Islam dan kekuatan Eropa
telah menyadarkan umat Islam bahwa, mereka memang jauh tertinggal dari Eropa.
Hal ini dirasakan dan disadari pertama kali oleh Turki, karena kerajaan inilah
yang pertama dan utama dalam usaha menghadapi kekuatan Eropa. Kesadaran itu
memaksa penguasa dan pejuang-pejuang Turki untuk banya belajar dari Eropa.
Usaha
untuk memulihkan kembali kekuatan Islam pada umumnya didorong oleh dua faktor,
yakni pertama: permurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing yang dipandang
sebagai penyebab kemunduran Islam, seperti gerakan Wahhabiyah yang dipelopori
oleh Muhammad bin Abd al-Wahhab di Saudi Arabia, Syah Waliyullah di India dan
gerakan Sanusiyah di Afrika Utara yang dipimpin oleh Said Muhammad Sanusi dari
Aljazair. Kedua: Menimba gagasan-gagasan pembaruan dan ilmu pengetahuan dari
Barat. Hal ini tercermin dalam pengiriman para pelajar muslim oleh penguasa
Turki dan Mesir ke negara-negara Eropa untuk menimba ilmu pengetahuan dan
dilanjutkan dengan gerakan penerjemahan karya-karya Barat ke dalam bahasa
mereka. Pelajar-pelajar India juga banyak yang menuntut ilmu ke Inggris.
Gerakan
pembaharuan itu, dengan segera juga memasuki dunia politik, karena Islam memang
tidak bisa dipisahkan dengan politik. Gagasan politik yang pertama kali muncul
adalah gagasan Pan-Islamisme (Persatuan umat Islam Sedunia) yang pada awalnya
didengungkan oleh gerakan Wahhabiyah dan Sanusiayah. Namun, gagasan ini baru
disuarakan dengan lantang oleh tokoh pemikir Islam terkenal, Jamaludin
al-Afghani. Al-Afghani-lah orang pertama yang menyadari sepenuhnya akan
dominasi Barat dan bahayanya. Oleh karena itu, dia mengabdikan dirinya untuk
memperingatkan dunia Islam akan hal tersebut dan melakukan usaha-usaha untuk
pertahanan. Umat Islam, menurutnya, harus meninggalkan
perselisihan-perselisihan dan berjuang di bawah panji bersama. Ia juga berusaha
membangkitkan semangat lokal dan nasional negeri-negeri Islam. Karena itu,
al-Afghani dikenal sebagai Bapak Nasionalisme dalam Islam.
Semangat
Pan-Islamisme yang bergelora itu mendorong Sultan Hamid II, untuk mengundang
al-Afghani ke Istanbul. Gagasan ini dengan cepat mendapat sambutan hangat dari
negeri-negeri Islam. Akan tetapi, semangat demokrasi al-Afghani tersebut
menjadi duri bagi kekuasaan sultan, sehingga al-Afghani tidak diizinkan berbuat
banyak di Istanbul. Setelah itu, gagasan Pan-Islamisme dengan cepat redup,
terutama setelah Turki Usmani bersama sekutunya Jerman, kalah dalam Perang
Dunia I dan kekhalifahan dihapuskan oleh Mustafa Kemal, tokoh yang justru
mendukung nasionalisme, rasa kesetiaan kepada negara kebangsaan.
Gagasan
nasionalisme yang berasal dari Barat tersebut masuk ke negeri-negeri Islam
melalui persentuhan umat Islam dengan Barat yang menjajah mereka dan dipercepat
oleh banyaknya pelajar Islam yang menuntut ilmu ke Eropa atau lembaga-lembaga
pendidikan barat yang didirikan di negeri mereka. Gagasan kebangsaan ini pada
mulanya banyak mendapat tantangan dari pemuka-pemuka Islam, karena dipandang
tidak sejalan dengan semangat uóuwaú al-Islamiyaú. Akan tetapi, gagasan ini
berkembang dengan cepat setalah gagasan Pan-Islamisme redup.
Di
Mesir, benih-benih nasionalisme tumbuh sejak masa al-Tahtawi dan Jamludin
al-Afghani. Tokoh pergerakan terkenal yang memperjuangkan gagasan ini adalah
Ahmad Urabi Pasha. Gagasan tersebut menyebar dan mendapat sambutan hangat,
sehingga nasionalisme tersebut terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Hal itu
terjadi di Mesir, Syiria, libanon, Palestina, Irak, Bahrain, dan Kuwait.
Semangat persatuan Arab tersebut diperkuat pula oleh usaha barat untuk
mendirikan negara Yahudi di tengah-tengah bangsa Arab.
Di
India, sebagaimana di Turki dan Mesir, gagasan Pan-Islamisme yang dikenal
dengan gerakan óilafaú juga mendapat pengikut. Syed Amir Ali adalah salah
seorang pelopornya. Namun, gerakan ini pudar setelah usaha menghidupkan kembali
khilafah yang dihapuskan Mustafa Kemal tidak memungkinkan lagi. Yang populer
adalah gerakan nasionalisme, yang diwakili oleh Partai Kongres Nasional India.
Akan tetapi, gagasan nasionalisme itu segera pula ditinggalkan sebagian besar
tokoh-tokoh Islam, karena kaum muslim yang minoritas tertekan oleh kelompok
Hindu yang mayoritas.
Persatuan
antar kedua komunitas besar Hindu dan Islam sulit diwujudkan. Oleh karena itu,
umat Islam di anak benua India tidak lagi semangat menganut nasionalisme,
tetapi Islamisme, yang dalam masyarakat India dikenal dengan nama komunalisme.
Gagasan Komunalisme Islam disuarakan oleh Liga Muslimin yang merupakan saingan
bagi Partai Kongres Nasional. Benih-benih gagasan Islamisme tersebut sebenarnya
sudah ada sebelum Liga Muslimin berdiri, yang disuarakan oleh Sayyid Ahmad
Khan, kemudian mengkristal pada masa Iqbal dan Muhammad Ali Jinnah.
E. KEMERDEKAAN
NEGARA-NEGARA ISLAM DARI PENJAJAHAN BARAT
Munculnya
gagasan nasionalisme yang diikuti dengan berdirinya partai-partai politik
merupakan modal utama umat Islam dalam perjuangannya untuk mewujudkan negara
merdeka. Dalam kenyataannya, partai-partai itulah yang berjuang melepaskan diri
dari kekuasaan penjajah. Perjuangan tersebut terwujud dalam beberapa bentuk
kegiatan antara lain:
1. Gerakan
politik, baik dalam bentuk diplomasi maupun perjuangan bersenjata.
2. Pendidikan
dan propaganda dalam rangka mempersiapkan masyarakat menyambut dan mengisi
kemerdekaan.
Negara
berpenduduk mayoritas Muslim yang pertama kali memproklamasikan kemerdekaannya
adalah Indonesia, yaitu tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia merdeka dari
pendudukan Jepang setelah Jepang dikalahkan oleh Sekutu. Disusul oleh Pakistan
tanggal 15 Agustus 1947, ketika Inggris menyerahkan kedaulatannya di India
kepada dua Dewan Konstitusi, satu untuk India dan satunya untuk Pakistan.
Tahun
1922, Timur Tengah (Mesir) memperoleh kemerdekaan dari Inggris, namun pada
tanggal 23 Juli 1952, Mesir menganggap dirinya benar-benar merdeka. Pada tahun
1951 di Afrika, tepatnya Lybia merdeka, Sudan dan Maroko tahun 1956, Aljazair
tahun 1962. Semuanya membebaskan diri dari Prancis. Dalam waktu yang
hampir bersamaan, Yaman Utara, Yaman selatan dan Emirat Arab memperoleh
kemerdekaannya pula. Di Asia tenggara, Malaysia, yang saat itu termasuk
Singapura mendapat kemerdekaan dari Inggris tahun 1957, dan Brunai Darussalam
tahun 1984 M.
Demikianlah,
satu persatu negeri-negeri Islam memerdekakan diri dari penjajahan. Bahkan,
beberapa diantaranya baru mendapat kemerdekaan pada tahun-tahun terakhir,
seperti negera Islam yang dulunya bersatu dalam Uni Soviet, yaitu Uzbekistan,
Turkmenia, Kirghistan, Kazakhtan, Tasjikistan dan Azerbaijan pada tahun 1992
dan Bosnia memerdekakan diri dari Yugoslavia pada tahun 1992 (Yatim,
2003:187-189).
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN/IKHTISAR
Perang
Salib merupakan awal penetrasi Barat terhadap dunia Islam yang selanjutnya
membawa kaum muslimin berada dalam jajahan negara-negara Barat. Karena mulai
dari Perang Salib I inilah kaum muslimin banyak mengalami kerugian, baik
kerugian yang bersifat material seperti banyaknya wilayah Islam yang direbut
Barat, diduduki dan dikuasai, juga kerugian non material yang berupa mulai
hilangnya peradaban Islam dan mulai masuknya peradaban-peradaban Barat.
Penjajahan
Barat terhadap dunia Islam yang diawali dengan Perang Salib berlatar belakang
hal-hal berikut :
1. Mercenary
yaitu untuk mencari keuntungan negara Barat di negara-negara Islam.
2. Missionary
yaitu untuk menyebarkan agama Kristen pada negara-negara jajahannya.
3. Military
yaitu perluasan daerah militer.
Selain
hal diatas yang melatarbelakangi penjajahan Barat adalah faktor ekonomi dan
politik. Bentuk-bentuk penjajahan barat terhadap dunia Islam berupa
penyerangan, penaklukan, sehingga banyak wilayah-wilayah Islam yang jatuh ke
negara-negara Barat. Juga berupa penindasan, penghisapan dan perbudakan.
Penjajahan
Barat ternyata membawa implikasi yang sangat luas terhadap perkembangan
peradaban Islam baik peradaban material yang berupa tehnologi baru, maupun
peradaban mental. Penjajahan Barat juga memicu gerakan pembaharuan dalam
Islam, yang mana bertujuan untuk memurnikan agama Islam dari pengaruh asing dan
menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan Barat.
B. SARAN-SARAN
Demikianlah
uraian singkat makalah tentang Dunia Islam pada masa penjajahan Barat. Tulisan
ini masih sangat terbatas dan memerlukan tambahan guna memperluas wawasan kita.
Hal ini sebagai upaya mengenalkan warisan kebudayaan Islam, sehingga generasi
penerus kita mampu mengambil 'ibrah dari peristiwa yang telah terjadi di masa
lalu, agar nantinya mereka dapat mencontoh dan mengambil apa yang seharusnya
mereka pegangi dan tidak megulangi lagi kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh
para tokoh-tokoh Islam terdahulu.
Oleh
karena itu JASS MERAH (Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah) karena sejarah
adalah sumber hukum dan pijakan dalam memperjuangkan Agama Islam di Belahan
dunia. Go fight Islam!
DAFTAR
PUSTAKA
Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1998.
Ahmad
Amin, Islam dari Masa ke Masa, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1991.
http://noerhayati.wordpress.com/2008/06/02/penjajahan-barat-terhadap-dunia-islam/
18 Januari 2013
Kenalilah Mereka
Sebenarnyalah pergerakan Islam modern merupakan pelopor utama dalam berbagai lapangan, terutama dalam medan perang dalam mengusir musuh musuh Islam dari luar dan menghadang musuh dari dalam.
Dalam masa satu abad terakhir ini telah menyumbangkan kafilah panjang para Syuhada dari putra putri pilihan. Kiranya sejarah akan memelihara kecemerlangannya dan kemurnian perjuangan dan pengorbanannya dari tangan tangan jahil yang hendak mengaburkannya dengan tulisan dan ucapan yang mengandung kebohongan, pemutarbalikan fakta dan pencemaran.
Umat Islam sedang mengalami masa masa gelap pekat karena musuh musuh Islam yang memiliki alat propaganda dan komunikasi, berhasil mengelabui masyarakat dan menyesatkan pendapat umum. Mereka berhasil memburuk burukkan kaum mukminin yang tidak bersalah dan berdosa dengan berbagai fitnah dan pencemaran nama baik para mujahidin yang takwa dan patriotik. Mereka berhasil merusak nama baik para mujahidin dengan cerita sensasi, tanpa mengenal etika dan tanpa takut terhadap pembalasan Allah Yang Maha Pembalas dan Maha Perkasa.
Musuh musuh Islam, baik di barat maupun di timur, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, baik secara terpisah, sendiri sendiri maupun secara bersama sama telah memerangi Islam dan para Dai Islam dengan ganas. Mereka diperangi oleh semua kaum kolonial, mereka diperangi oleh gerombolan orang orang feodal, mereka diperangi oleh komplotan kaum kapitalis dengan zalim, mereka diperangi oleh kefasikan, oleh kejahatan , oleh tiran di mana mana.
Maka, menjadi kewajiban masyarakat Islam untuk mengenali pergerakan Islam yang sebenarnya, agar jangan sampai termakan propaganda jahat dan fitnah dengki musuh Islam.
Akhir kata, hendaknyalah kaum muslimin di mana saja mereka berada, menyadari benar bahwa peperangan terhadap pergerakan Islam pada hakikatnya adalah peperangan terhadap Islam itu sendiri, bahwa musuh musuh Islam, baik dari kelompok atheis, komunis, barat dan para antek dan pendukungnya, berniat membuat cerita palsu sebagai alasan untuk memukul hancur pergerakan Islam untuk pada akhirnya menghancurkan agama Islam sebagai sasaran utamanya.
Bergeraklah Para Mujahid Dakwah..!
Hasan al-Banna mengatakan "Materialisme yang dimotori Yahudi dan diikuti oleh Negara Negara penjajah tidak bisa diselesaikan kecuali dengan dakwah kalian, tidak ada kekuatan yang dapat menghalanginya kecuali umat ini berjamaah. Oleh sebab itu, maka aku ingatkan kalian, aku sampaikan kepada kalian, bahwa sejak saat ini kalian akan menghadapi ujian dan cobaan yang besar lagi menyakitkan. Akan tetapi, apabila kalian sabar dan bersikap konstan, pastilah kalian akan meraih kemenangan. Maka bersiap siaplah menyambut ujian. Bersabarlah, dan saling memperkuatlah. Hanya ada dua pilihan baik bagi kalian, menang atau mati sebagai syuhada di jalan kebenaran".
4 Januari 2013
KAMI AKAN SELALU MERINDUKAMU MOM
Kamis tanggal 3 Januari 2013 / 22
Muharram 1434 H pukul 11.15 Wib, Allah Swt telah memanggilnya (Hj. Mariah -85
th) di Rumah Duka Jl. Raya 206 Banjaran Bandung 40377. Semoga Allah Swt
menempatkan beliau di Surga-Nya. Amien
Ibu,,jika memang dengan aku menjelma
angin, lantas kau dapat merasakan kesejukan itu,,akan ku lakukan itu
untukmu,,aku tak tau akan seberapa berharganya hidupku bila tanpamu..Karena
Yang ku tau,, kau mampu membuat cinta ini semakin besar..Kau t’lah banyak
berjuang untukku,, untuk nafasku..Kalaupun aku bisa menciptakan sedikit
senyuman itu,,mungkin itu tak kan pernah sebanding dengan apa yang kau lakukan
untuk hidupku..Aku selalu berharap,, Tuhan tak pernah ambil senyum itu
darimuPercayalah,,aku mencintaimu dengan hati,,dengan hati yang tak bisa ku
sematkan pada wanita selainmudan aku menyayangimu dengan nada,,dengan nada yang
tak bisa ku harmonikan pada yang lain.. Ibu,boleh kan aku merayu?aku ingin
berbaring di pangkuanmu,mengadu tentang hari-hari lelahku,tentang keras
dunia,yang tak seteduh kasihmu,dan ingin kupertanyakan,mengapa di luar sana,tak
pernah kutemukan keikhlasan,seperti keikhlasanmu padaku.Ibu,Belailah
rambutku,pijatlah lenganku,usaplah dahiku,aku ingin membasahi pangkuanmu,dengan
air mataku,dengan keringat dinginku,dan ninabobokan aku,bacakan kisah-kisah
tentang indahnya surga,hingga aku terlelap.Ibu,Ibuku sayang,acap kali
kulihat,orang-orang hanya sempat mencium ibunya,sekali saja,saat jasad ibunya
hendak dikebumikan,sungguh,aku tak ingin seperti itu,maka ijinkan aku,untuk
menciummu setiap hari
Aku berangkat sekarang untuk membantai lawan—
Untuk berjuang dalam pertempuran.
Aku berangkat, Bu, dengarlah aku pergi
Doakanlah agar aku berhasil.
Sayapku sudah tumbuh, aku ingin terbang.
Merebut kemenangan di mana pun adanya.
Aku akan pergi, Bu, janganlah menangis—
Biar kucari jalanku sendiri.
Aku ingin melihat, menyentuh, dan mendengar
Meskipun ada bahaya, ada rasa takut.
Aku akan tersenyum dan menghapus air mata—
Biar kuutarakan pikiranku.
Aku pergi mencari duniaku, cita-citaku
Memahat tempatku, menjahit kainku
Ingatlah, saat aku melayari sungaiku—
Aku mencintaimu, di sepanjang jalanku.
Dalam setiap irama tubuhmu kau selalu menyapa
Dalam kepenatan yang tak pernah terbisikkan kau selalu mendekap
Dalam kerinduan yang sangat kau tak pernah ingin lepas dariku
Aku berangkat sekarang untuk membantai lawan—
Untuk berjuang dalam pertempuran.
Aku berangkat, Bu, dengarlah aku pergi
Doakanlah agar aku berhasil.
Sayapku sudah tumbuh, aku ingin terbang.
Merebut kemenangan di mana pun adanya.
Aku akan pergi, Bu, janganlah menangis—
Biar kucari jalanku sendiri.
Aku ingin melihat, menyentuh, dan mendengar
Meskipun ada bahaya, ada rasa takut.
Aku akan tersenyum dan menghapus air mata—
Biar kuutarakan pikiranku.
Aku pergi mencari duniaku, cita-citaku
Memahat tempatku, menjahit kainku
Ingatlah, saat aku melayari sungaiku—
Aku mencintaimu, di sepanjang jalanku.
Dalam setiap irama tubuhmu kau selalu menyapa
Dalam kepenatan yang tak pernah terbisikkan kau selalu mendekap
Dalam kerinduan yang sangat kau tak pernah ingin lepas dariku
30 Desember 2012
POLITIK ANTARA TEORI DAN APLIKASI
Oleh : Ery Ridwan Latief
Ketika kita bicarakan : “Ilmu Politik
antara Teori dan Aplikasi”, seolah-olah kita masuk pada satu pilihan kondisi
–yang terlalu berani- melakukan proses pengkajian terhadap hal-hal yang sangat
rentan melahirkan pertentangan pemahaman. Padahal berbicara Ilmu Politik secara
otomatis kita sedang berbicara tentang diri kita sendiri, yang telah berbai’at
di hadapan Allah untuk siap menjadi penerus perjuangan Rasulullah SAW dan siap
berpegang teguh pada tali (agama) Allah serta berimplikasi pada satu sikap yang
siap untuk tidak bercerai berai, sesuai dengan firman Allah SWT : “Dan
berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu
bercerai berai” (QS. Ali Imran : 103 ).
Langkah untuk menyerap limpahan -menuju-
wawasan yang berkualitas, tentunya tidak dipersepsi bisa memberikan segalanya
dan serba komprehensif. Kita bisa berujar layaknya Socrates yang dengan bijak
mengakui bahwa :“yang aku tahu adalah aku
semakin tidak tahu apa-apa.” Tapi selanjutnya kita akan berani mengatakan “yang
aku tahu adalah aku semakin tahu apa-apa”. Artinya, walaupun kita nantinya
tidak sebijak socrates, tetapi paling tidak kita lebih “percaya diri” daripada
Socrates.
Samuel P Huntington dalam bukunya “The
Clash of Civilizations and Remaking of World Order”: Di benak kita tersembunyi
asumsi-asumsi, bias-bias serta prasangka-prasangka yang “Membimbing” kita
tentang bagaimana mempersepsi suatu realitas, tentang fakta-fakta yang kita
lihat dan bagaimana kita menilai manfaat serta kebaikannya.
Salah-satu model berpikir yang senantiasa
-minimal- harus ada di benak “Insan pergerakan” diantaranya adalah : Umat Islam
harus mampu ;
1. mengatur dan menggeneralisasikan
realitas;
2. memahami hubungan-hubungan kausal di
antara berbagai fenomena;
3.melakukan antisipasi dan, jika beruntung,
melakukan prediksi terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi di masa yang
akan datang;
4. memilah-milah mana yang penting dan yang
tidak penting, dan;
5. menempuh jalan yang memungkinkan kita
untuk mencapai tujuan kita.
Mari kita kerucutkan pada pengkajian
bagaimana seharusnya kita bersikap, baik dalam interaksi sebagai warga negara,
maupun sebagai satu komunitas Muslim yang bercita-cita ingin melaksanakan
kehidupan yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah seperti termaktub
dalam sila pertama Pancasila yaitu : “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban
Melaksanakan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”.
Kajian saat ini dibangun oleh 3 (tiga)
tahapan berpikir : pertama, bagaimana memahami Ilmu Politik ? kedua, bagaimana
realitas pandangan masyarakat terhadap percaturan politik di Indonesia dan ketiga,
bagaimana seharusnya “Insan Pergerakan” Islam berperan dalam mengapresiasi peta
politik negara ini ?.
Apa itu Politik … ?
Ilmu politik adalah cabang ilmu sosial yang membahas
teori dan praktik politik serta deskripsi dan analisa sistem politik dan perilaku politik. Ilmu ini
berorientasi akademis, teori, dan riset, Ilmuwan politik mempelajari alokasi
dan transfer kekuasaan dalam pembuatan keputusan, peran dan sistem pemerintahan
termasuk pemerintah dan organisasi internasional, perilaku politik dan
kebijakan publik. Mereka mengukur keberhasilan pemerintahan dan kebijakan
khusus dengan memeriksa berbagai faktor, termasuk stabilitas, keadilan,
kesejahteraan material, dan kedamaian. Beberapa ilmuwan politik berupaya
mengembangkan ilmu ini secara positif dengan melakukan analisa politik.
Sedangkan yang lain melakukan pengembangan secara normatif dengan membuat saran
kebijakan khusus.
Pendekatan dalam ilmu politik
Terdapat banyak sekali pendekatan dalam
ilmu politik. Di sini hanya akan dibahas tentang tiga pendekatan saja, yakni
pendekatan institusionalisme (the old institutionalism), pendekatan perilaku (behavioralism)
dan pilihan rasional (rational choice), serta pendekatan kelembagaan baru atau the
new institutionalism. Ketiga pendekatan ini memiliki cara pandangnya tersendiri
dalam mengkaji ilmu politik dan memiliki kritik terhadap pendekatan yang lain
Pendekatan institusionalisme
Pendekatan institusionalisme atau
kelembagaan mengacu pada negara sebagai fokus kajian utama. Setidaknya, ada dua jenis atau
pemisahan institusi negara, yakni Negara demokratis yang berada pada titik "pemerintahan yang baik" atau good
governance dan Negara otoriter yang berada pada
titik "pemerintahan yang jelek" atau bad governance dan kemudian
berkembang lagi dengan banyak varians yang memiliki sebutan nama yang
berbeda-beda. Namun, pada dasarnya—jika dikaji secara krusial, struktur
pemerintahan dari jenis-jenis institusi negara tersebut tetap akan terbagi lagi
menjadi dua yakni masalah antara "baik" dan "buruk" tadi.
Setidaknya, ada lima karakteristik atau
kajian utama pendekatan ini, yakni:
Legalisme (legalism), yang mengkaji aspek hukum, yaitu peranan
pemerintah pusat dalam mengatur hukum;
Strukturalisme, yakni berfokus pada
perangkat kelembagaan utama atau menekankan pentingnya keberadaan struktur dan struktur
itu pun dapat menentukan perilaku seseorang;
Holistik (holism) yang menekankan pada
kajian sistem yang menyeluruh atau holistik alih-alih dalam memeriksa lembaga
yang "bersifat" individu seperti legislatif;
Sejarah atau historicism yang menekankan
pada analisisnya dalam aspek sejarah seperti kehidupan sosial
- ekonomi dan kebudayaan;
Analisis normatif atau normative analysis
yang menekankan analisisnya dalam aspek yang normatif sehingga akan terfokus pada penciptaan good
government.
Pendekatan perilaku dan pilihan rasional
Salah satu pemikiran pokok dalam pendekatan
perilaku ialah bahwa tidak ada gunanya membahas lembaga-lembaga formal karena
pembahasan seperti itu tidak banyak memberikan informasi mengenai proses
politik yang sebenarnya. Sementara itu, inti "pilihan rasional" ialah
bahwa individu sebagai aktor terpenting dalam dunia politik dan sebagai makhluk
yang rasional selalu mempunyai tujuan-tujuan yang mencerminkan apa yang
dianggapnya kepentingan diri sendiri. Kedua pendekatan ini (perilaku dan
pilihan rasional), memiliki fokus utama yang sama yakni individu atau manusia. Meskipun
begitu, penekanan kedua pendekatan ini tetaplah berbeda satu sama lainnya.
Adapun aspek yang ditekankan dalam pendekatan
ini adalah:
Menekankan pada teori dan metodologi.
Dalam mengembangkan studi ilmu politik, teori berguna untuk
menjelaskan berbagai fenomena dari keberagaman di dalam masyarakat. Menolak
pendekatan normatif. Kaum behavioralis menolak hal-hal
normatif yang dikaji dalam pendekatan institusionalisme karena pendekatan
normatif dalam upaya menciptakan "pemerintahan yang baik" itu
bersifat bias.
Menekankan pada analisis individual. Kaum
behavioralis menganalisis letak atau pengaturan aktor politik secara
individual karena fokus analisisnya memang tertuju pada analisis perilaku
individu.
Masukan (inputism) yang memperhatikan
masukan dalam sistem politik (teori sistem oleh David Easton, 1953) atau tidak
hanya ditekankan pada strukturnya saja seperti dalam pendekatan
institusionalisme.
Pendekatan kelembagaan baru
Pendekatan kelembagaan baru atau the new
institutionalism lebih merupakan suatu visi yang meliputi beberapa pendekatan
lain, bahkan beberapa bidang ilmu pengetahuan lain seperti ekonomi dan sosiologi.
Berbeda dengan institusionalisme lama yang memandang institusi negara sebagai
suatu hal yang statis dan terstruktur,
pendekatan kelembagaan baru memandang negara sebagai hal yang dapat diperbaiki
ke arah suatu tujuan tertentu. Kelembagaan baru sebenarnya dipicu oleh
pendekatan behavioralis atau perilaku yang melihat politik dan kebijakan publik
sebagai hasil dari perilaku kelompok besar atau massa, dan
pemerintah sebagai institusi yang hanya mencerminkan kegiatan massa itu. Bentuk
dan sifat dari institusi ditentukan oleh aktor beserta juga dengan segala
pilihannya.
Aplikasi Kecerdasan Politik
Setelah mendalami perjalanan pergerakkan
Umat Islam di arena politik global, tentu lahir sebuah pertanyaan besar : “Bagaimana
seharusnya Umat Islam mengaplikasikan “kecerdasan politik” dalam kehidupan sehari-hari
?”. Pertanyaan ini sangat menarik untuk kita kaji. Kenapa demikian, karena
kondisi masyarakat bangsa ini sedang terombang-ambing arus politik global,
dimana hilangnya rasa percaya diri baik dalam interaksi antar warga negaranya,
interaksi dengan bangsa-bangsa dunia maupun tidak bisa mempercayai orang
–kelompok- yang lain.
Pertama, dengan berakhirnya masa Orde Baru
diganti oleh Orde “Reformasi” apalagi dengan munculnya BJ Habibie sebagai
Presiden RI ke 3 (tiga), dimana kran kebebasan berkumpul dan menyatakan
pendapat dibuka, maka seluruh lapisan masyarakat baik Eksekutif, Legislatif,
masyarakat biasa, bahkan tukang becak sekalipun, mereka begitu lantangnya
mengeluarkan pernyataan-pernyataan politik, argumen dan analisa politik bak
sebagai politisi. Tetapi pada perkembangan selanjutnya ketika perubahan negara
yang diharapkan akan mampu merubah kondisi rakyat pada satu tingkatan
-kemakmuran rakyat-, akhirnya mereka kecewa ketika justeru lembaga yang
diharapkan mampu menjadi corong kebebasan melalui keterwakilan di
lembaga-lembaga politik seperti DPR/MPR ternyata tidak mampu menjawab
problematika hidup mereka, tapi justeru sebaliknya para politisi yang menjadi
“kareueus” (kebanggaan . pen) mereka, hanya asyik sibuk mengurusi diri sendiri
dan keluarganya saja bahkan tidak kurang -dari realitas yang ada- mereka hanya
menambah sesaknya ruang-ruang tahanan gara-gara ulah mereka yang telah
melakukan tindak korupsi dan penyelewengan-penyelewengan lainnya. Tragis memang
bangsa ini.
Kedua, akibat dari kondisi di atas
masyarakat Indonesia sekarang kembali pada kondisi hilang kepercayaan, saling
meragukan satu dengan yang lainnya bahkan cenderung apatis. Kepercayaan
terhadap partai-partai mulai pudar, karena ternyata partai hanya menjadikannya
(rakyat pen) sebagai obyek politik belaka, ketika tujuan politiknya tercapai,
maka rakyat yang mendukungnya dengan setia ditinggalkan begitu saja. Kondisi
inilah yang mejadi penyebab sebegitu tercorengnya pemerintahan Indonesia di
mata rakyatnya, apalagi di mata Internasional. Peristiwa Ambalat, lepasnya
Timor Timur, munculnya gerakan-gerakan separatis yang ingin melepaskan diri
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dsb, hal tersebut merupakan realitas
politik yang tidak bisa kita pungkiri. Kondisi
tersebut sungguh menambah kelamnya sejarah bangsa ini.
Ketiga, bagaimana seharusnya “Insan
Pergerakan” Islam berperan dalam mengapresiasi peta politik negara ini ?.
Jawabannya ada pada sejauhmana naluri kebangsaan umat Islam, realitas politik
bangsa tentunya dapat dijadikan salah-satu argumentasi politik. Umat Islam
tidak perlu melakukan kesalahan politik lagi, sebab kekuatan politik saat ini sudah tidak
lagi berada di tangan partai-partai politik, tetapi berada di tangan kekuatan
rakyat, LSM, dan Organisasi Masyarakat. Partai Politik saat ini sedang
mengalami kehilangan rasa percaya diri, maka mereka banyak melakukan Political
Intrude -politik yang bermaksud mengganggu- dengan dalih “silaturrahmi
politik”, sekali lagi hal tersebut merupakan jebakan politik saja. Sikap
politik “Insan Pergerakan” Islam
sesungguhnya tidak diarahkan pada proses dukung mendukung, tapi dapat dimaknai
; bagaimana Umat Islam merealisasikan “the hidden program” nya yaitu : “Terlaksananya
syariat Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala
aspek kehidupan,” dalam bingkai pendidikan dan dakwah. Umat Islam tidak bermain
api masuk ke dalam jebakan politik yang mereka siapkan, tetapi Umat Islam harus
mampu mengatur arus politik bangsa dengan menyiapkan kader yang memiliki
“Militansi Ummah”, tidak tertipu oleh janji-janji politik dengan melakukan
langkah politik yang -justeru- akan merusak harga diri umatnya tersebut;
menjual kekuatan ummat dengan memberikan dukungan baik terhadap partai-partai
politik maupun kepentingan-kepentingan politik seseorang di setiap wilayah
politik praktis.
Makna partisipasi politik –penekanannya-
bukan pada proses dukung mendukung, tetapi “Insan Pergerakan” Islam harus siap
jadi bagian yang utuh, independen, dan memiliki karakter yang jelas, tegas dan
berakhlakul karimah. “Insan Pergerakan” Islam yang diberi tanggungjawab penuh
untuk mewakili umat dalam percaturan politik praktis, dia tidak mencampur
adukan kepentingan dirinya, harus mampu membawa karakter "Ummah"
dimanapun mereka beraktifitas, bukan justeru sebaliknya dia membawa karakter
"luar" dan melakukan uji coba politik di dalam wilayah pergerakannya
sendiri.
Khatimah
Sayid Muhammad Baqir ash-Shadr mengatakan
bahwa: “Orang Barat -Yahudi dan Nashrani- dalam membangun peran politiknya
lebih melihat ke bumi dengan berdasarkan spirit penguasaan, sehingga
bertendensi materialis, sedang orang Timur -Islam- lebih melihat ke langit
karena perintah langit (Allah) memposisikan mereka sebagai khalifah di muka
bumi, sehingga bertendensi religius.
Aplikasi pergerakan yang sesungguhnya
adalah sejauhmana kita dapat melaksanakan seluruh aktivitas kehidupan dengan
berlandaskan firman Allah SWT : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada
tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran : 103 ),
serta melaksanakan komitmen dakwah dalam mewujudkan “Terlaksananya syariat
Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek
kehidupan.”. Wallah a’lam bish shawab.
Luruskan Niyat
Drs. H. Eri Ridwan Latif, M.Ag ayah dari 5 (lima) orang anak : Byan Illabiqisti Latief, Binar Miladifiqhan Latief, Biyadika Raksanagari Latiefah, Brilian Rahmaning Putri Latiefah dan Barami Maulidajindi Latiefah hasil pernikahannya dengan Hj. Yulia Widiasari Rahmah tinggal di Jl. Pajagalan 115 Banjaran kab. Bandung 40377
6 Desember 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tiga pemuda pernah belajar di bawah atap yang sama. Mereka menyerap pelajaran tentang perlawanan terhadap p...
-
1. Masyarakat Arab Jahiliyah Periode Mekah Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal kenabian adalah masyarakat Arab Jahiliyah, at...









.jpg)
