25 September 2022
Tujuh Tazkirah Majelis Penasihat, Lebih Kokohkan Eksistensi Ikon Pergerakan Islam di Indonesia
22 September 2022
Markazmu ada pada RUH-mu
Bergerak tanpa batas, menghujam tanpa ada yang tersakiti...,
Biarlah Rabb penetap takdir, tugas kita ikhtiar agar berkah senantiasa hadir sebagai spirit menjelma jadi keadaban dalam keberadaban.
Bila kekuasaan diambil dengan cara paksa, maka diujung kekuasaannya dia akan dipaksa untuk turun dari kekuasasaan.
Kembalilah ke MARKAZ Kemulyaan
Prof. Dr. Atif Latiful Hayat, S.H. LLM. Kenapa Ditakuti (?)
Oleh: Dr. Amin Fauzi, M.A.
Salah Seorang Pendiri Hima Persis
Staf PP Hima Persis 1997-1998
Ketua Dewan Tafkir PP Persis 2016-2018
Dosen Uhamka dan Staipi Jakarta
Namanya Atif Latiful Hayat. Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat. Dia
menyelesaikan S1 di UNPAD, S2 dan S3 di Monash University. Beliau adalah dosen
UNPAD, pakar dalam bidang hukum internasional.
Saya mengenalnya sejak 32 tahun yang lalu. Kesan
saya, dari dulu sampai sekarang, kang
Atif tetap tidak berubah, dari segi prinsip hidup dan komitmennya terhadap
nilai-nilai Islam dan ke-Persis-an. Orangnya cukup istiqamah. Integritas
kepribadian dan intelektualnya tidak diragukan lagi. Orangnya cerdas, tegas,
jujur, terus terang, tidak bermuka dua, kritis, argumentatif, open-minded, egaliter,
rendah hati, enerjik, optimis dan progresif.
Memang ada sebahagian orang yang mengesankannya
angkuh, ambisius dan kurang fleksibel. Tetapi sebenarnya itu hanya “miss undersanding” saja dari cara dia mengekspresikan dan mengartikulasikan pemikiran-pemikirannya dan menyalurkan energi “positif” yang ada
dalam dirinya. Kalau dia mencalonkan ini dan itu, sebenarnya itu lebih banyak
karena “desakan” orang lain yang memintanya membuat perubahan yang positif,
terutama di lingkungan Persatuan Islam.
Mereka yang memiliki kesan “negatif” itu, mungkin
saja karena ada “miss understanding”
dalam memahami kepribadiannya dan cara dia melihat dan memahami suatu
persoalan. Atau mungkin juga mereka ini, memang, bukan “sparring-partner” dari kawan
dialog yang seimbang
dengannya. Akibatnya, bisa jadi, kadang-kadang orang tersebut
menjadi ‘bulanan-bulanannya’ atau
habis ‘dijitakin’ olehnya. Seperti
saya katakan di atas, dia ini memang orangnya kritis, berwawasan luas, sedikit
“egoistis”, logis, egaliter dan sangat sistematis dalam bertutur kata. Jadi,
bertukar pikiran dengannya, memang harus punya ‘bekal’ terlebih dahulu.
Sebenarnya perbedaan pendapat
itu adalah wajar
dalam bertukar pikiran. Kami juga pernah mengalaminya dengan kang Atif.
Sekitar tahun 1994-an,
kami berencana mendirikan Hima Persis. Waktu itu kami masih sekitar
semester lima-an program S1. Kami ajukan proposalnya kepada PP Persis dan
almarhum ustaz Latif Mukhtar
menyetujuinya. Berbeda dengan sikap kang Atif yang ketika
itu sudah menjadi dosen UNPAD dan menjabat ketua PP Pemuda Persis. Dia marah
besar dan tidak bisa menerima hal tersebut. Dia katakan, kalau pendirian Hima sebagai Organisasi Otonom (ORTOM) Persis dilegalkan, pemuda Persis yang tersisa hanya “tukang beas hungkul!” (tukang beras
doang!) Masuk akal! Kami juga tertawa mendengarnya. Saya secara pribadi sebenarnya
bisa memahami alasannya pada waktu itu. Sebenarnya dia bukan menolak pendirian Hima. Yang dia mau, untuk
sementara Hima itu berada di bawah Pemuda dulu. Nanti setelah beberapa tahun,
baru menjadi Ortom. Tetapi jiwa muda kami sedang menggebu-gebunya. Kami
beralasan, adalah aneh, kok organisasi kepemudaan ada di lingkungan kampus.
HMI, IMM, PMII, semuanya itu adalah organisasi ekstra kampus berbasis mahasiswa
dan bukannya kepemudaan. Takdirnya, Hima terbentuk. Sejak saat itu, sampai beberapa belas tahun kemudian,
hubungan Hima dan Pemuda terasa ada “ketegangan” atau sedikit ada “friksi”.
Baru setelah saya pulang studi dari Malaysia dan menjabat setahunan di Dewan
Tafkir, saya memprakarsai pertemuan dengan kang Atif, ketua Hima dan ketua
Pemuda waktu itu, almarhum ustaz Eka. Hadir pada watu itu saya, kang Atif, ustaz Eka, Nizar Saputra sebagai ketua
Hima, dan Prof. Wildan sebagai penyedia fasilitas di wisma Setneg, Bandung.
Alhamdulillah pertemuan berjalan dengan baik dan lancar. Kami sepakat bahwa tidak
ada lagi yang namanya “friksi” antara Hima dan Pemuda. Anggota Hima dihimbau
agar juga aktif di Pemuda.
Sekarang terbukti, ketua
PP Pemuda Persis
hari ini adalah kader Hima.
Sebenarnya bertukar pikiran dengannya sungguh
mengasyikkan. Selain orangnya committed dengan
ajaran Islam dan nilai-nilai ke-Persis-an, pengalaman dan wawasannya sangat
luas. Dia bisa melihat suatu persoalan dari
dua perspektif sekaligus, Islam dan Barat. Dia menyelesaikan S2 dan S3 di salah
satu universitas ternama di Australia, Monash University. Dia juga sudah
menjelajahi berbagai negara-negara Barat. Dia bisa menilai Islam dan Barat pada
kadar yang cukup proporsional. Saya tidak melihat, setelah dia balik dari Barat
itu, kemudian menjadi “gila” Barat. Atau sebaliknya, semakin dia mengetahui
berbagai kekurangan di Barat, dia menjadi a
priori dan anti Barat. Ada beberapa hal yang, menurutnya, bisa diambil dari
Barat sepanjang hal itu positif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Kang Atif juga bukan profesor KW atau “abal-abal”
sebagaimana yang banyak terjadi di Indonesia. Dia betul-betul seorang profesor
yang pakar di bidangnya dan sudah melalui uji akademik yang sangat ketat.
Tulisan- tulisannya di jurnal internasional bereputasi, sudah tidak perlu diragukan lagi.
Sedikit menyinggung tentang soal karya tulis itu.
Masyarakat kita masih banyak yang salah persepsi. Mereka menilai kualitas
intelektual seseorang dari berapa banyak buku yang ia tulis. Sebenarnya itu
masih koma. Itu tergantung kualitas bukunya sebenarnya. Di dunia akademik
sekarang, yang menjadi ukuran itu bukan buku lagi, atau semata-mata buku. Sebab
buku bebas ditulis dan bebas diterbitkan oleh siapa pun tanpa harus melalui
penilaian ahli atau reviewer terlebih
dahulu. Yang menjadi standar kualitas intelektual seseorang sekarang ini adalah
jurnal nasional dan internasional bereputasi. Dalam hal ini, kita memang
tertinggal dari negara-negara Barat satu atau dua abad yang lalu. Nah, dalam
soal ini, kualitas kang Atif tidak perlu dipertanyakan lagi. Keprofesorannya
itu ia peroleh karena kualitas tulisan-tulisannya di berbagai jurnal, terutama
jurnal internasional bereputasi. Dan untuk mendapatkan itu, susahnya banget banget! Apalagi kalau sudah masuk
standar Scopus. Jadi bisa diukur bagaimana kualitas berpikir ilmiah dan
kekuatan logikanya. “salahnya,” dia ini tidak banyak menulis buku atau karya
dalam bahasa Indonesia yang bisa
diakses oleh “orang awam”. Jadi agak “wajar” kalau popularitasnya di kalangan
“orang awam” itu tidak sebesar di kalangan akademisi. Ditambah lagi, adanya “hoax”
dan “pembunuhan karakter” yang diarahkan kepadanya dengan berbagai “stigma”
yang negatif dan menyudutkannya.
Bagi saya, kang Atif adalah
sosok yang layak didapuk menjadi pemimpin organisasi besar, termasuk organisasi
keagamaan. Dia memiliki self-
independence, self-reliance, self-sufficience dan self-confidence yang tinggu. Plus, dia
memiliki jiwa “pembaharuan” yang cukup mengegebu-gebu. Dengan kapabilitas,
kualitas intelektual dan integritas moralnya, yakin dia mampu menjalankan roda
organisasi tanpa banyak dipengaruhi oleh self-interestnya. Ini karena, dari beberapa segi, baik itu kebutuhan
hidup dan prestasi puncak individualnya, sudah tercukupi semuanya. Dia hanya
“membutuhkan” eksistensi diri dan pemenuhan “moral-calling” dirinya untuk menyumbangkan sesuatu dari kelebihan
yang ia miliki tersebut untuk berbakti menegakkan Islam dan kemuliaan kaum
Muslimin melalui wadah organisasi.
Ada yang mengatakan bahwa organisasi keagamaan itu
hanya “mampu” dijabat oleh orang-orang yang berlatar belakang studi keagamaan.
Katakanlah, ustaz, kyiai atau ulama. Kenyataannya menunjukkan tidak selalunya
demikian. Tidak ada hubungan
kausalitas dan paralel
antara keulamaan dan kemajuan
organisasi (keagamaan). Manajemen
organisasi itu tergantung kepada bakat kepemimpinan, pengetahuan tentang ilmu
organisasi dan manajemen, pengalaman, komitmen dan integritas moral seseorang.
Contohnya organisasi Islam Muhammadiyah. Sudah empat kepemimpinan belakangan
ini tidak ada satu pun yang berlatar belakang ustaz atau ulama. Amin Rais,
Syafi’i Ma’arif, Din Syamsudin dan
Haedar Nashir, semuanya bukan figur ulama, melainkan intelektual. Tetapi
kenyataannya Muhammadiyah sekarang ini begitu pesat perkembangannya, baik
secara kuantitas maupun kualitas. Sebaliknya, ada beberapa organisasi keagamaan
Islam yang tidak maju, bahkan mengalami stagnasi, ketika dipimpin figur seorang
ulama. Selain, ada juga, mungkin, organisasi keagamaan Islam yang berkembang
dan maju karena dipimpin figur seorang ulama.
Figur ustaz, kyiai atau ulama itu mungkin cocok
memimpin badan atau bidang yang khusus membidangi masalah-masalah keagamaan,
semisal “Dewan Hisbah” di Persis,
atau “Majlis Tarjih”
di Muhammadiyah. Itupun kalau
sekarang ini orang akan mempertanyakan lagi; kualifikasi ulama seperti apa yang
pantas memimpin bidang seperti itu? Orang-orang di zaman sekarang ini sudah banyak yang “well-informed”, “melek-agama”, dan kritis mempertanyakan kualifikasi seseorang.
Mereka tidak segan mempertanyakan rekam jejak pendidikan dan karya-karyanya.
Ulama-ulama besar dunia saja, seperti syeikh Yusuf Al- Qaradhawi, Muhammad
Al-Ghazali, ‘Ali Jum’ah, Mustafa Al-Maraghi, Wahbah Zuhaili, adalah orang-orang
berpendidikan tinggi yang sekolah sampai tingkat doktoral. Ini menjadi pengingatan
bagi mereka yang hanya mencukupkan diri sekolah hanya sampai tingkat aliyah
saja atau “otodidak” untuk menjadi seorang ulama besar. Kita tidak hidup di
zaman Ahmad Hassan atau Buya Hamka, yang mereka ini bisa belajar secara
otodidak dan menghasilkan karya-karya yang cukup mengagumkan. Itupun kalau kita
tilik dengan keilmuan sekarang, karya mereka itu tidak lepas
dari “studi kritis”
yang bisa menunjukkan beberapa kelemahan buah pikiran mereka. Sekarang
ini di Persis sudah cukup banyak sarjana S2 dan S3 di bidang studi keagamaan.
Mereka melihat karya-karya Ahmad Hassan, misalnya, tidak lagi seperti
mereka sewaktu remaja atau beranjak dewasa. Mereka sekarang sudah lebih
kritis lagi karena, selain mereka belajar metodologi studi Islam di perguruan
tinggi, juga sudah banyak karya ulama sekarang ini dalam bidang yang serupa.
Sehingga mereka memiliki perbandingan yang lebih banyak dan pandangan yang
lebih kritis.
Di puncak prestasinya dan kematangan dirinya
sekarang ini, sesungguhnya kang Atif sangat layak memimpin sebuah organisasi
besar (Persatuan) Islam. dari segi “senioritas” pun, sesungguhnya sekarang
inilah
“gilirannya”. Dia sudah duduk di PP Persis
sejak zaman almarhum ustaz Latif Mukhtar, LC. M.A. Zaman ketika kami sendiri
masih imut-imut kuliah di tingkat S1. Kecintaannya terhadap Persis sungguh
sangat mendalam. Dia perlu diberi kesempatan untuk membuktikan dirinya, bahwa
apa yang selama ini dia katakan tentang ‘pembaharuan”, “perbaikan”,
“pembenahan” organisasi, itu bisa dia realisasikan. Kita, tentunya, tidak bisa
menilai seseorang itu gagal atau tidak, kecuali kalau ia pernah diberi
kesempatan untuk menduduki jabatan tertentu yang padanya dia memiliki wewenang
yang cukup besar untuk melakukan sesuatu (perubahan). Ada sebahagian kecil
orang yang memang “mengkhawatirkan” angin perubahan yang akan ia hembuskan itu
benar-benar bersifat “revolusioner” sehingga bisa menjungkir balikkan semua
tatanan yang sudah ada. Saya yakin tidak demikian. Pada usianya yang sudah
memasuki kepala enam itu, saya yakin dia akan bersikap lebih bijaksana.
Begitulah “naturalnya” manusia, semakin tua, dia akan semakin lebih bersikap
hati-hati, penuh perhitungan, pertimbangan dan keseimbangan. Wallahu a’lam bis shawaab.
21 September 2022
MUKTAMAR = MUAKHAT
Oleh: Dadan Wildan Anas (Sekretaris Majelis Penasihat PP Persis)
Berjamiyyah itu berkumpulnya banyak ide, harapan, keinginan, bahkan kekecewaan. Hidup berjamiyyah adalah hidup dalam kebersamaan untuk mencapai tujuan bersama. Berjamiyyah juga harus seiring dan sejalan, tidak bisa memaksakan keinginan satu pada yang lainnya.
Lebih dari 35 tahun saya berada di jamiyyah PERSIS. Pasti ada kepuasan sekaligus juga kekecewaan. Itu sebuah keniscayaan. Saya menaruh hormat dan penghargaan kepada seluruh aktivis PERSIS di berbagai tingkatan, dari Pimpinan Cabang hingga Pimpinan Pusat. Mereka telah mencurahkan pikiran, tenaga, dan biaya hanya untuk mencari rida Allah. Menapaki jalan menuju kemaslahatan, dengan harapan memiliki nilai ibadah.
Tidak ada yang sempurna dalam berjamiyyah. Kadang kitu salah kieu salah. Saya teringat pesan Ustaz Shiddiq Amien, ketika saya mendampinginya sebagai Sekretaris Umum PP PERSIS tahun 2000-2005. Kapal bergerak itu pasti menerjang gelombang, kapal diam itu hanya bersandar di pelabuhan. Pilihan kita, menerjang gelombang atau bersandar di tepian.
Kata beliau lagi, akan selalu ada orang yang menilai dari sudut pandang dan persepsinya. Kadang selalu saja kita dianggap salah. Namun, biarlah. Kita berjuang hanya berharap mardhatillah.
Muktamar XVI PERSIS, pada tanggal 24 s.d. 26 September 2022 di Soreang, diselenggarakan tepat di usia PERSIS yang ke-99. Tentu kita semua berharap, muktamar bukan sekedar seremonial. Namun, lebih dari itu, untuk menghimpun gagasan dan rencana aksi organisasi yang tidak hanya membumi, tetapi juga mendunia.
Hal lain yang sering menjadi sorotan adalah siapa figur ketua umum dan jajaran tasykil PP PERSIS lima tahun mendatang. Kader-kader terbaik PERSIS cukup banyak, tinggal pilih dari sekian jumlah anggota PERSIS yang terbaik. Yang mampu memajukan jamiyyah. Tidak perlulah saling meninggikan atau merendahkan sesama anggota, apalagi sesama ulama. Tidak ada manusia yg sempurna.
Era digital saat ini, justru yang penting kolaborasi yang saling melengkapi. Didasari oleh kesadaran bahwa berada pada pucuk pimpinan jamiyyah itu memikul tanggung jawab yang besar untuk memajukan jamiyyah.
Mari kita sadari, muktamar itu bagian dari aktivitas organisasi (jamiyyah). Muktamar digelar atas dasar persetujuan para pimpinan dan anggota jamiyyah. Berbeda pendapat dalam jamiyyah, itu hal yang lumrah. Asal tidak menjadi dendam dan perpecahan. Kuncinya, sebagai anggota Persis, kita harus taat kepada keputusan jamiyyah. Taat pula pada keputusan muktamar. Meskipun, mungkin tidak sesuai dengan harapan kita.
Yuk, kita sambut muktamar dengan riang.
Yuk, kita kukuhkan persatuan.
Yuk, kita kolaborasi untuk saling melengkapi. Tunjukkan kita organisasi yang rukun dan bersatu di bawah naungan Al-Qur'an dan As-sunnah.
14 September 2022
ANGGOTA ORARI LOKAL KABUPATEN BANDUNG MENDOMINASI JUARA DI KAREES MERDEKA 2022
Anggota ORARI Lokal Kabupaten Bandung mendominasi Juara pada Even KAREES MERDEKA 2022 yang diselenggarakan pada Sabtu dan Minggu 10-11 September 2022,
Atasnama DPP dan Pengurus ORARI Daerah Jawa Barat Lokal Kabupaten Bandung kami mengucapkan selamat kepada para Juara sbb :
Walking ARDF (+55) :
1. YD1OBI - Icang Juara II
2. YD1LQV - Sukirna Juara IV
3. YD1AOT - Aan Sopian Juara VI
4. YD1AYT - Kokom Komariah Juara IV (YL -55)
Motor ARDF :
Pasangan :
1. YC1BMW dan YD1EHN - Dudy Mahmudin Juara I
2. YD1IVV - Lili Suhendri dan YD1ACG - Asep Yuyus M, S.Ip Juara II
Bravo ORARI Lokal Kabupaten Bandung ; "KAGOK EDAN JAWARA SAKALIAN"
SANTRI YANG "DIANIAYA" DI PPI 99 RANCABANGO GARUT ITU TERNYATA MALING (?)
13 September 2022
H. TAMIM BOGOR, KIYAI PERSIS YANG HUMORIS
KETIKA majalah Al-Lisan (1935) baru terbit satu atau dua edisi, dikisahkan oleh Rubai'ie Widjaja dalam majalah Al-Muslimun (No. 238, Thn. XX [1990]) bahwa A. Hassan mengadakan safari dakwah dari Bandung hingga Tanjung Priuk.
Sebulan berikutnya, berdirillah cabang Persis dan Persistri yang tenaganya pada waktu itu adalah KH. Md. Ali Al-Hamidy (sabagai guru), KHM. Thahary (sebagai ketua), Moh Sa’ied (sebagai skretaris), Keneng (bendahara) dan Ny. Unah (pemimpi Persistri).
Untuk mengokohkannya, didatangkanlah KHM. Tamim Bogor. Kiyai yang suka menyebut kata Urang Sunda ini menyanggupi dan harus pergi-pulang, bolak-balik dari Bogor ke Tanjung Priuk setiap pekan.
H. Tamim meski usia sudah dikatakan manula saat itu tapi tenaga dan semangatnya masih energik dan suaranya masih lantang bak pemuda. Dalam tablighnya biasanya diselingi dengan guyon-guyon ala Sundawi, dan beliau memang dikenal humoris. Orang-orang biasa memanggilnya Ama Tamim.
Pada suatu hari, ketika Ama Tamim bertabligh di malam hari di bilangan Jalan Jati , dekat dari isntalasi BPM & Socony, dalam ceramahnya beliau menyuarakan anti terhadap Ahmadiyah Qadiyan. Ini disampaikan karena pada waktu itu ada seorang Ahmadiyah Qadiyan yang mengikuti ceramahnya.
Waktu itu orang Ahmadiyah itu diberi kesempatan berbicara; dan Ama Tamim pun menyuruhnya mengucapkan syahadat kemudian diterjamahkan. Orang itu pun mengikutinya dan tanpa sadar bahwa dengan mengucapkan syahadat berarti dia mengamini pendapat Ustadz Ali Al-Hamidy bahwa syahadat Ahmadiah itu palsu.
“Bukankah dalam penyaksiannya atas kerasulan Muhammad saw itu terpadu penyaksian atas ke-‘nabi”-an Mirza Ghulam Ahmad? Nu teu aya dituna!” kelakar Ama Tamim. “Yang tiada dari sononya syahadat model Nabi palsu!” Jamaah pun tertawa riuh. Sampai-sampai Ketua Majelis Tabligh Mu’allim Thahari pun menenteramkan hadirin jangan sampai mengeluarkan celaan atau cemo’ohan.
*****
KH. Tamim ini termasuk ulama Persatuan Islam. Dalam buku “Gerakan Kembali ke Islam: Warisan Terakhir A. Latief Muchtar” (1998: XIV), disebutkan bahwa saat ulama Persis mengadakan pertemuan membahas Peringatan Maulid, Isra’ Mi’raj dan sebagainya, KH. Tamim Bogor ini turut hadir bersama ulama Persis lainnya seperti: A. Hassan, KH. Munawar Khalil (Semarang), Kh. Ghozali (Solo), KH. Ma’shum (Yogyakarta) dan lain sebagainya.
Dalam buku “A. Hassan Wajah dan Wijhah Seorang Mujtahid” (1985: 19), disebutkan bahwa saat A. Hassan pindah ke Bandung tahun 1924, beliau berkenalan dengan tokoh Persis seperti ‘Asy’ari, Haji Tamim dan lain sebagainya.
*****
Melihat gaya hidup KHM. Tamim, sangat mirip dengan Ustadz A. Hassan. Beliau sebagai ulama sangat berdikari dan memilih hidup sederhana. Dalam ceramah, sering kali menolak menerima honor, padahal wajar saja bila beliau mau karena harus pulang-balik antar kota. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beliau berbisnis kecap sehingga tak menggantungkan pada santunan orang lain dalam dakwahnya.
Ruba’ie Widjaja menggambarkan bagaimana KHM. Tamim berbusana. Katanya, “Jas tutup kain sarung poleng, kepala bersorban kaku berulas terumpah model Priangan, ikat pinggangnya model kuno: Pakai sepasang dompet buat taro duit & Tembakau mola daun, kawung & gandawesi (Ama Tamim tak merokok). Tapi kalau bicara di muka umum di sana sini ia ucapkan bahasa walanda.”
Biasnya kalau ke Jakarta, Ami Tamim mengingap di rumah Haji Aluwi di bilangan Jatieweg. Biasanya kalau ke Jakarta bertabligh istrinya dibawa dengan membawa kecap untuk dijual dan tak lupa membawa kertas untuk mengarang tulisan dengan menggunakan huruf Arab Melayu yang nanti dijadikan buku stensilan. Hasilnya nanti dibuat ongkir perjalanan dakwah.
Hal yang tak kalah penting, meski dikenal humoris dan suka berkelakar, Ami Tamim tahu menempatkan situasi dan kondisi. Kalau menyangkut hal yang butuh ketegasan seperti fiqih, maka prinsip beliau: qulil haqqa walau kaana murron (Katakanlah kebenaran yang benar sekalipun pahit bagai jadam!).
*****
Dari Haji Tamim, ada banyak pelajaran yang bisa diambil, baik oleh orang Persis maupun yang lainnya, di antaranya: kesederhanaan, penguasaan metode dakwah, berdikari, tegas pada aliran menyimpang dan selalu semangat dalam berdakwah walaupun harus bersusah payah agar yang HAQ tetap berjalan. Melihat beliau, saya teringat hayat A. Hassan dan ulama Persis lainnya yang dikenal sederhana. Rahimahumullah rahmatan waasi’ah.
(Mahmud Budi Setiawan. Jakarta, 11 September 2021)
Selamat dan Sukses Muktamar Persis XVI, Persistri XIII, Pemudi Persis XII, HIMI Persis X
(Kontributor : ustadz. Amin Muhtar)
10 September 2022
Merawat Estafeta Imamah Jamiyyah
Oleh
Dadan Wildan Annas
Sekretaris Majelis Penasehat PP. Persis
99 tahun usia Persatuan Islam (Persis), tentu patut disyukuri, sekaligus diteladani. Persis dapat berdiri kokoh, mengakar kuat, dan menebar syiar Islam melintasi zaman, karena estafeta imamah (kepemimpinan) yang terjaga, terawat, dan maslahat.
Muktamar XVI Persis yang akan digelar di Soreang Kabupaten Bandung, 24-26 September 2022, salah satunya bertujuan untuk merawat estafeta imamah dan memperpanjang jariyah, ibadah, dan muamalah jami’yyah Persis.
Salah satu agenda muktamar Persis yang biasanya menarik perhatian muktamirin adalah prosesi pemilihan Ketua Umum yang akan menakhodai kapal besar jamiyyah Persis lima tahun ke depan.
Saat ini, Persis dipimpin oleh Al Ustad K.H. Aceng Zakaria, salah seorang ulama besar yang dimiliki Persis. Jika beliau masih bersedia mengemban amanah melanjutkan kepemimpinannya, saya kira muktamar akan berlangsung cepat. Aklamasi menjadi solusi. Sebab harus diakui, Persis masih kekurangan tokoh ulama yang mumpuni.
Jika Ustad Aceng Zakaria tidak lagi bersedia memimpin Persis karena faktor usia misalnya, tahun ini sudah menginjak usia 74 tahun, maka muktamirin akan mencari penggantinya.
Pengganti Ustad Aceng, memikul tanggung jawab yang berat untuk membawa Persis di milenium kedua untuk menampilkan kembali ruh utama jamiyyah Persis sebagai penggerak pemikiran Islam di Indonesia.
*Merawat Estafeta Imamah Jam’iyyah*
Harus diakui, bahwa kaderisasi di jam’iyyah Persis kurang menjadi perhatian utama. Berbeda dengan organisasi lain, menjelang muktamar, biasanya diramaikan dengan bursa calon ketua umum. Di Persis, tidak sama sekali. Yang ada diskusi-diskusi kecil di jam’iyyah yang menyebut beberapa nama, itupun tidak banyak. Nama-nama yang disebut, juga begitu tawadu, tidak menonjolkan diri. Itulah ciri khas Persis.
Jelang Muktamar XVI, tidak banyak kader Persis yang muncul ke permukaan untuk menampilkan diri sebagai calon Ketua Umum. Saya hanya mendengar beberapa nama, antara lain Ustad Aceng Zakaria dari generasi sepuh, lanjut Prof. KH. Atip Latifulhayat, SH., LLM., Ph.D dari generasi kemudian, dan Dr. KH. Jeje Zainudin, dari generasi yang lebih muda.
Prof. Atip Latifulhayat, pernah dicalonkan sebagai Ketua Umum Persis pada muktamar ke XIV tahun 2010 di Tasikmalaya dan Muktamar ke XV tahun 2015 di Jakarta. Muktamar ke XIV memilih Prof. Dr. M. Abdurrahman, MA sebagai Ketua Umum Persis dan Muktamar ke XV memilih KH. Aceng Zakaria. Keduanya berasal dari satu generasi murid KH. E. Abdurrahman, dan saat ini usianya sudah di atas 70 tahunan.
Muktamar tentu saja bukan semata mata ajang pemilihan Ketua Umum, pembahasan Qanun Asasi dan Qanun Dakhili, serta merumuskan Program Jihad lima tahunan, namun lebih dari itu, Muktamar adalah bagian dari syiar Islam dan eksistensi Jam’iyyah Persatuan Islam dalam mengemban tugas dakwah di negeri ini.
Untuk itu, sebagai organisasi Islam, Persis seyogianya dapat menampilkan prosesi pemilihan Imam (Ketua Umum) yang sesuai dengan syariat, sehingga Persis dapat memberikan sumbangan pemikiran atas estafeta kepemimpinan yang berdasarkan syari’at.
Dewan Hisbah PP. Persis dalam sidangnya tanggal 22 Juni 2022 di Pesantren Persis No. 50 Ciputri Lembang melalui Surat Keputusan No. 007 Tahun 1443 H/2022 M tentang “Kaifiyat Memilih Pemimpin Dalam Islam” memutuskan bahwa pemilihan pemimpin dalam Islam harus berdasarkan prinsip musyawarah demi kemaslahatan dengan cara; (1) melalui penunjukkan; (2) dipilih oleh formatur; dan (3) ahlul halli wal “aqdi.
Dewan Hisbah juga merekomendasikan kepada PP. Persis untuk dibahas di Badan Pekerja Muktamar sebagai draft tata tertib pemilihan dengan mekanisme: (1) Pemilihan secara langsung oleh semua anggota; (2) Pemilihan oleh beberapa perwakilan dari seluruh anggota; (3) Pemilihan oleh ahlul halli wal ‘aqdi yang dipilih oleh anggota; (4) Pemilihan berdasarkan formatur; dan (5) Pemilihan berdasarkan penunjukkan.
Jika merujuk pada keputusan Dewan Hisbah, alangkah indahnya jika Persis menampilkan prosesi calon imamnya tanpa harus mempertandingkan atau adu geulis antar ulama Persis. Dengan cara itu, jamiyah akan tetap utuh, musyawarah untuk mufakat menjadi pilihan terbaik daripada pemilihan langsung.
Untuk merawat Estafeta Imamah yang lebih egalitarian, misalnya, sekali lagi misalnya, Prof. Abdurrahman, setelah dari Ketua Umum Persis lalu menjadi Ketua Majelis Penasehat. Ustad Aceng, juga bisa meniru hal yang sama, menjadi Ketua Majelis Penasihat setelah masa jihadnya sebagai Ketua Umum berakhir.
Nah, saat ini nama-nama yang muncul ke permukaan mengerucut pada dua nama, Prof. Atip dan Ustad Jeje. Tanpa mendahului suara muktamirin, saya berpendapat Prof. Atip layak menjadi Ketua Umum dan Ustad Jeje mendampinginya sebagai Wakil Ketua Umum.
Dari sisi kaderisasi, Prof. Atip dan Ustad Jeje sama-sama mantan Ketua Umum PP. Pemuda Persis yang berbeda periodenya. Dari sisi usia, Prof. Atip lebih tua dari Ustad Jeje. Era kesejagatan saat ini, yang dikedepankan bukanlah ananiah atau ego dan kompetensi pribadi, namun kolaborasi. Tidak ada manusia yang sempurna, satu sama lain, memiliki kelebihan dan kekurangan.
Jika kombinasi yang saya usulkan sebagai bentuk kolaboratif, maka impian saya Persis akan tampil kembali sebagai penghela pemikiran Islam dalam pentas nasional dan global, akan terwujud.
Prof. Atip yang dikenal luas di dunia internasioal dan Kiai Jeje yang lekat dengan tokoh-tokoh nasional, akan saling melengkapi dan kembali menghadirkan Persis dalam pergulatan wacana pemikiran Islam. Keterlibatan Persis dalam kajian dan dialog keislaman di tingkat nasional dan dunia, sebagaimana dulu diteladankan oleh Mohammad Natsir dan KH. Latief Mukhtar, akan kembali terwujud dan menempatkan Persis sebagai harakah tajdid.
Semoga muktamar kali ini lebih kental nuansa musyawarahnya dibanding nuansa demokrasinya. Tunjukan kepada umat dan bangsa Indonesia, jamaah Persis jamaah yg taat pada Allah, Rasul, dan imamah.
Semoga pula muktamar kali ini, dapat melahirkan kepemimpinan dan kepengurusan Persis yang lebih berorientasi keumatan di era kesejagatan sekaligus mampu melakukan reinventing dan transforming Persis untuk kembali menjadi rujukan pemikiran keislaman dan penghela dialog keislaman yang lebih mengglobal.
Aamiin
29 Agustus 2022
Catatan Kecil Sambut Muktamar Persis XVI
Terlalu mahal jika perhelatan besar ini hanya sekedar rutinitas administratif lima tahunan saja, Muktamar Persistri XIII, Muktamar XII Pemudi Persis, Muktamar X Himi Persis merupakan momentum yang tepat untuk kita semua Jama’ah Persis dan Bagian Otonom untuk melakukan muhasabah dan melakukan otokritik terhadap perjalanan Jam’iyyah Persis selama ini. Usia mendekati 100 tahun bukanlah usia muda, sudah kenyang dengan berbagai macam pengalaman. Jam’iyyah Persis terbukti dan teruji tetap eksis dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Mari kita evaluasi secara jujur sejauhmana Jam’iyyah Persis telah berbuat untuk umat.
Persis (Persatuan Islam) sebagai salah satu ormas besar Islam mainstream di Indonesia dengan usianya yang hampir satu abad. Tentu ini adalah suatu capaian prestasi perjuangan dan wujud nyata dalam memberikan kontribusi bagi negara dan bangsa ini, terutama umat Islam. Terlebih dalam sejarahnya, para tokoh Persis telah banyak memberikan kontribusi dan jasa besar bagi negara dan bangsa ini. Konsep Negara Kesatuan Republk Indonesia yang belakangan jadi jargon NKRI harga mati, hal itu tidak bisa dilepaskan dari tokoh besar Persis M. Natsir dengan mosi integralnya yang dicetuskan di parlemen dan disetujui semua fraksi pada saat itu tanggal 3 April 1950, Ketika sebelumnya Indonesia dipecah oleh Belanda menjadi Republik Indonesia Serikat
Melepaskan diri dari romantisme sejarah, pada tingkat tertentu harus dilakukan jam’iyyah Persis karena gerakan Persis sejatinya adalah bersifat dinamis artinya mengikuti perkembangan yang ada tanpa mengabaikan prinsip-prinsip yang dipegang. Romantisme sejarah akan melahirkan justifikasi ideologis tanpa menawarkan pikiran-pikiran alternatif.
Sebagai ormas keagamaan, Persis jangan melulu berkutat dalam gerakan tabligh normatif an sich. Ke depan, tantangan sekaligus peluang, Persis mesti berani kembali ke tengah untuk terlibat dalam proses menentukan arah pembangunan bangsa. Persis mesti terlibat dalam proses pembangunan isu-isu kebangsaan. Pembangunan hukum, sosial, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan peradaban yang berkeadilan dengan spirit keislaman yang lebih substantif.
Pasang surut pergerakan dakwah itu hal biasa, Persis dulu dikenal luas dan disegani oleh lawan maupun kawan, sejarah masa silam jadikan ibrah untuk menatap masa depan. Yang terpenting bagaimana mengambil spirit perjuangan masa lalu yang kemudian dikontekstualisasikan dalam kondisi sekarang.
Dalam sebuah hadits yang shahîh dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ ÙŠَبْعَØ«ُ Ù„ِÙ‡َذِÙ‡ِ الأُÙ…َّØ©ِ عَÙ„َÙ‰ رَØ£ْسِ ÙƒُÙ„ِّ Ù…ِائَØ©ِ سَÙ†َØ©ٍ Ù…َÙ†ْ ÙŠُجَدِّدُ Ù„َÙ‡َا دِينَÙ‡َا
Sesungguhnya Allâh akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun
HR. Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (no. 8592), dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 6527), Dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab “’Aunul Ma’buud” 11/267) dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (no. 599)
Jangan sampai hanya bisa membanggakan masa lalu tanpa bisa membuktikan masa kini dan masa depan, Persis harus “keluar” dari sejarah lamanya dan menghadirkan kembali Persis di masa kini dan mendatang
Ada beberapa catatan tentang perjalanan Jam’iyyah Persis dan perlu kiranya menjadi perhatian –terutama- bagi pucuk pimpinan yang akan datang dan umumnya penggiat Persis.
Pertama, Reorientasi Wawasan Pergerakan. Jam’iyyah Persis mengklaim diri sebagai jam’iyyah (organisasi) yang bergerak dalam bidang dakwah, Pendidikan dan sosial kemasyarakatan.
Dakwah bagi jamiyah Persis perlu diperluas gerakannya, bukan semata tabligh tapi bagaimana mengajak umat untuk Kembali ke ajaran agama. Pendekatan dakwah juga harus menggunakan berbagai pisau analisis dan metode. Bidang Dakwah di lingkungan Persis popular, hanya sayang pengertian dakwah disini dalam realitasnya lebih kepada pengertian yang sempit yaitu dakwah bil-lisan, sangat sedikit yang bisa menyampaikan dakwah secara tertulis (bil kitabah) dan dengan perbuatan (bil-hal) yang bisa menjadi teladan umat, lebih jauh lagi seharusnya Jam’iyyah Persis memaknai dakwah sebagai rekonstruksi sosial (social recontruction) yang bersifat multidemensional. Bidang Sosial Kemasyarakatan, Bidang ini yang belum digarap secara serius oleh Jam’iyyah, bahwa proses purifikasi (pemurnian) keagamaan oleh Persis sudah final dan terus menerus didakwahkan sampai saat sekarang, tapi proses dinamisasi Jam’iyyah belum terlihat secara jelas. Kalau di Muhammadiyyah ada pelayanan sosial berupa rumah sakit, panti asuhan dan lain-lain. Jam’iyyah Persis meskipun ada varian dari gerakan purifikasi yang dilakukan tapi belumlah optimal. Bukan hanya pelayanan sosial saja tapi juga aspek-aspek lainnya (isu lingkungan hidup, HAM dll) perlu kiranya dipertimbangkan oleh Persis sebagai bagian dari gerakan Persis sehingga tuduhan bahwa Persis itu fiqh ubudiyah oriented terbantahkan.
Tidak kalah pentingnya dalam wawasan pergerakan ini adalah Jam’iyyah Persis harus membuat cetak biru (blue print) Persis dan Bagian Otonomnya agar tercipta pola pengkaderan yang terintegrasi, sistematis, berjenjang dan kontinyu serta sinergis sehingga kualifikasi, kapasitas dan militansi kader Persis dan Bagian Otonom bisa dipertanggungjawabkan bukan hanya sekedar kader emosional kultural tapi tercipta kader-kader rasional.
Kedua, Reorientasi Wawasan Pendidikan, sudah banyak yang telah dilakukan dan tengah diupayakan oleh Jam’iyyah Persis namun belumlah memadai. Dalam sistem pendidikan Persis tidak perlu sentralisasi sistem pendidikan di Persis disamping tidak efektif juga kekhasan masing-masing Pesantren khususnya tidak terlihat. Perlu difikirkan juga pengembangan model-model pendidikan alternatif lainnya sebagai upaya pengembangan jam’iyyah. Masalah pendidikan merupakan masalah yang dinamik, dan merupakan isu yang selalu muncul (recurrent issues). Di samping itu lebih ideal lagi untuk mencerdaskan umat dalam rangka mengangkat harkat dan martabat mereka sebagai manusia, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut sebagai “khaira ummah”. Untuk itu pendidikan harus dapat memberikan “nilai tambah” dalam rangka mencapai kesejahteraan lahir-batin mereka. Di samping dituntut mampu mengembangkan “perilaku membangun”, yakni perilaku kreatif, produktif, efektif, efesien dan dinamis, serta mengembangkan “sikap kearifan”, yakni sikap yang mampu memahami makna kehidupan dan menyadari peranan dirinya di tengah-tengah kehidupan bersama untuk membangun masyarakatnya.
Ketiga, Reorientasi Wawasan Sosial Politik. “Politik adalah ilmu seni memungkinkan” itu pandangan sebagian perspektif dalam melihat dunia politik, dunia politik adalah grey area atau dunia abu-abu, tidak hitam tidak juga putih penuh dengan intrik, lobby, penetrasi, negosiasi, kompromi dan lain-lain. Menang dalam pengertian politik bukanlah ditentukan hanya dengan suara saja, bisa saja orang itu kalah dalam voting tapi “menang , menguasai dan merebut” dalam hal lain.
Siyasah Nubuwwah harus diturunkan dalam tataran aplikatif masa kini bentuknya bagaimana, metodeloginya seperti apa dan lain sebagainya
Persis sebagai organisasi sosial keagamaan dalam pendidikan dan dakwah bisa memainkan peran yang jauh lebih besar daripada fungsi parpol, Persis bisa melakukan enlightment politics (pencerahan politik). Persis bisa menjadi inspitrator dalam perjuangan politik Islam. Persis bisa menentukan arah dan kecenderungan pilihan politik ummat Islam, atau Persis bisa mengeluarkan produk-produk politik yang akan menjadi instrumen perjuangan bagi mereka yang aktif di dunia politik praktis. Persis juga bisa menjadi penentu kebijakan politik yang akan diambil. Bahkan Persis bisa menjadi alat penyeimbang dalam gerakan-gerakan politik praktis sekaligus sebagai pengontrol. Peran mana yang mau diambil ? Semuanya terpulang kepada terutama pimpinan Jam’iyyah.
Keempat, Reorientasi Wawasan Ekonomi. Memperhatikan keadaan ekonomi umat Islam tidak ubahnya seperti melihat sebuah lautan. Posisi ekonomi umat Islam dalam peta besar perekonomian ibarat riak-riak kecil di tepi pantai menghadapi gelombang besar di tengah samudera. Riak-riak kecil itu tetap ada namun senantiasa di pinggiran (pereipheral), tidak pernah mampu ke tengah, karena setiap kali dihempas kembali ke tepian oleh gelombang besar yang datang dari tengah samudera (Dumairy, 1993:125).
Tantangan jam’iyyah Persis dalam meningkatkan Ekonomi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya; (1) meningkatkan pemahaman bahwa persoalan ekonomi adalah juga persoalan umat, (2) tranformasi ekonomi melalui pelatihan-pelatihan kewirausahaan, (3) Penataan kembali lembaga-lembaga ekonomi milik Persis sehingga bisa profesional, tranparan dan akuntable,
Kelima, Reorientasi Wawasan Pemikiran Keislaman. Persis dalam catatan sejarah memiliki “senjata” andalan yaitu dengan mengimbangi arus pemikiran keislaman kala itu dengan debat-debat secara terbuka sebagaimana yang dilakukan A.Hassan, dari mulai persoalan fiqh sampai persoalan negara. Kini, mengingat tantangan kehidupan industri modern yang kompleks dan arus globalisasi ilmu budaya yang tak terelakan, perlu kiranya studi agama yang bersifat kritis historis yang mengkaji epistimologi pemikiran keagamaan secara empiris maupun filosofis belum digarap oleh Persis, dan belum berani mengawinkan dengan diskursus ilmu-ilmu sosial dan falsafah kontemporer. Sudah saatnya Jam’iyyah Persis mengembangkan dua pendekatan, yaitu pendekatan yang bersifat imani (believer) dan pendekatan ilmu (scientific).
Keenam, Reorientasi Wawasan Isu Pemberdayan Perempuan, Gerakan perempuan harus menjadi perhatian khusus bagi organisasi otonom di lingkungan Persis (Persistri, Pemudi dan Himi), paling tidak ada beberapa isu strategis: peningkatan pemberdayaan kualitas perempuan, peningkatan peran ibu dalam pendidikan anak, penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak
Persis Kedepan
Kaderisasi adalah keniscayaan sunatullah, roda berputar dunia bergulir, regenerasi mesti dilakukan. Pemimpin yang baik harus mewariskan legacy dengan memberikan jalan dan kesempatan bagi kadernya untuk mengisi kepemimpinan yang akan datang.
Di level eksekutif tanfiziyah Pimpinan Pusat Ormas Persis memerlukan pemimpin yang energik, dan dinamis, mempunyai akselerasi yang cepat dan tanggap terhadap dinamikan permasalahan yang berkembang, serta tasykil yang kuat dan kompak. Para pinisepuh, ulama memberikan dorongan di Majelis Penasihat atau Dewan Hisbah.
Bukan hanya di level pemimpin tapi juga tasykil yang ada juga harus ada regenerasi, berikan kesempatan kepada yang lain, jangan ada anggapan bahwa Persis tidak punya stok kader, di setiap jenjang jamiyah dan Bagian Otonom cukup banyak yang bisa mengisi menjadi tasykil/pengurus di level Pimpinan Pusat.
Ala kulli hal, selamat bermuktamar XVI Persis, Muktamar Persistri XIII, Muktamar XII Pemudi Persis, Muktamar X Himi Persis semoga lancar dan sukses serta menghasilkan putusan yang brilian bagi umat dan bangsa
-
Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tiga pemuda pernah belajar di bawah atap yang sama. Mereka menyerap pelajaran tentang perlawanan terhadap p...
-
1. Masyarakat Arab Jahiliyah Periode Mekah Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal kenabian adalah masyarakat Arab Jahiliyah, at...










