15 November 2023

Kenapa Kita Wajib Membela Masjid Al-Aqsha dan Palestina?


Persoalan masjid al-Aqsha dan Palestina bukan sekedar memperebutkan tanah atau lahan atau persoalan politik bangsa palestina semata-mata. Namun lebih jauh, persoalan masjid al Aqsha, baitul Maqdis dan bangsa Palestina adalah persoalan aqidah dan syariat bagi kaum muslimin. Berikut beberapa keutamaan secara aqidah dan syariat masjid al-Aqsha dan Palestina:

Pertama,  Baitul Maqdis adalah qiblat pertama kaum Muslimin. Sebelum Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan mengubah arah kiblat dari masjid Al-Aqsha Palestina ke Masjid Al-Haram di Mekkah.  Rasulullah Saw.  menunaikan shalat menghadap Masjid Al-Aqsha sewaktu berada di Mekkah sebelum Hijrah hingga hijrah ke Madinah, dalam kurun waktu 16 bulan. Kemudian atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala beliau shalat menghadap Ka’bah (Masjid Al-Haram) di Mekkah. Di dalam hadits disebutkan sebagai berikut : Dari Al-Bara bin ‘Azib berkata, “Saya shalat bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan, sampai turun ayat di dalam Surah Al-Baqarah wahaitsu ma kuntum fawallau wujuhakum syatroh…” (H.R. Bukhari). 

Kedua, Masjid al-Aqsha adalah masjid mulia Muslimin yang ketiga. Kaum Muslimin tidak akan rela melepaskan haknya di Al-Quds sedikitpun ; tak ada tawar-menawar untuk eksistensi Al-Quds.  Dalam salah satu haditsnya, Rasulallah SAW bersabda, “Janganlah (kalian) mengkhususkan melakukan perjalanan (jauh) kecuali menuju tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram (Mekkah), Masjidku (masjid Nabawi Madinah), dan masjid al-Aqsha (Palestina)”.  (H.R. Bukhari-Muslim).

Ketiga,  Tempat Nabi melakukan Mi’raj. Dalam sebuah hadis diungkapkan,   “Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farruh, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah menceritakan kepada kami Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Didatangkan kepadaku Buraq, seekor tunggangan putih, lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghal (keledai keturunan kuda), ia berupaya meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya. Setelah menungganginya, maka Buraq itu berjalan membawaku hingga sampai ke Baitul Maqdis. Aku ikat (tambat) tunggangan itu di tempat para Nabi biasa menambatkan tunggangan mereka. Lalu aku masuk dan menunaikan shalat dua raka’at di dalamnya. Setelah itu aku keluar dan disambut oleh Jibril dengan secawan arak dan susu. Ketika aku memilih susu, maka Jibril berkata: “Engkau telah memilih fitrah (yaitu Islam dan istiqamah)” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Keempat, Dilipatgandakan pahala shalat di masjid al-Aqsha. Para sahabat dan generasi salaf  mereka begitu kuat memegang prinsip tentang kemuliaan Masjid al-Aqsa sebab dilandasi keimanan yang kokoh. Telah diriwayatkan dari Maimunah, wanita budak yang dimerdekakan oleh Nabi SAW, sesungguhnya dia berkata, “Wahai  Rasulullah, berilah fatwa kami tentang Baitul Maqdis”. Nabi bersabda, “Datangilah dan shalatlah di sana. Bila engkau tidak bisa datang ke sana untuk menjalankan shalat di dalamnya, maka kirimkan minyak untuk menerangi lampu-lampunya”. (HR Abu Dawud). Ketika Rasulallah SAW menjelaskan keutamaan Masjid al-Aqsa, beliau membandingkannya dengan Masjid Nabawi. Rasulallah SAW berkata, “Shalat di masjidku ini lebih utama dibandingan empat kali shalat di dalamnya (Masjid al-Aqsha)….” 

Kelima, Tempat Kemenangan umat Islam dan Akhir Zaman dimana nabi Isa as akan turun dan membunuh dajjal. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw.: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum Muslimin berperang dengan Yahudi, maka kaum Muslimin berhasil membunuh mereka sehingga Yahudi bersembunyi di balik pohon dan batu. Lalu batu atau pohon itu berkata : Wahai Muslim.. Wahai Abdullah… ini Yahudi sembunyi di belakangku, maka segera bunuh dia, kecuali gharqad, karena ia adalah pohon (dari orang) Yahudi” (HR. Muslim).

Keenam, Bait al-Maqdis sebagai tempat para nabi dan mujahidin. Dalam sejarah disebutkan, di sekitar kawasan Masjid al-Aqsha inilah para nabi dimakamkan. Antara lain, Nabi Ibrahim, Syu’aib, Musa, Dawud, Yunus, Sulaiman, dan beberapa sahabat Nabi seperti Salman Al-Farisi, Ubadah bin Shamit, dan para mujahidin lainnya.


(Catatan pinggir : Latief Awaludin)

14 November 2023

"PENGAJIAN AHAD"


 

Mari merapat bagi saudaraku yang cerdas dan beriman : "Ilmu adalah cahaya / lentera hidup"

"PANCASILA PERMADANI BANGSA"

 


Oleh : Drs. H. ERI RIDWAN LATIF, M.Ag

Tangisan ku tak pernah berwujud di mata ini,

Tangisan ku seperti darah yang mengalir dalam denyut nadi 

Sampai tubuh ini terasa bergejolak karena menahan setiap isakan

yang keluar dalam diri, menahan setiap air mata menetes.

 

Kalimat inilah yang keluar dari salah satu elemen masyarakat bangsa yang melihat betapa telah "melenceng" jauh cara pandang "bangsa" dalam memaknai kedalaman makna PANCASILA.

 

Sebagai dasar negara PANCASILA dimaknai berbeda-beda tergantung dari kacamata atau sudut pandang masing-masing warga negara "seolah" mereka leluasa menafsirkan sekehendaknya.

 

Satu kubu bersikeras menafsirkan PANCASILA sebagai puncak dialektika bangsa menuju kebhinekaan berbasis gotong royong dengan budaya Indonesia sebagai warna ideologinya dengan tidak memasukan makna agama sedikitpun, kubu yang lain memaknai bahwa substansi PANCASILA merupakan kesimpulan para founding father bangsa yang bersumber pada ajaran agama-agama yang ada, sehingga menjadi prasyarat utama penopang haluan keadaban bangsa yang berlandaskan KETUHANAN YANG MAHA ESA, artinya INDONESIA adalah sebuah negara yang menjadi tempat hidup rakyatnya yang BERTUHAN (beragama).

 

Perbedaan yang diameteral ini harus segera diakhiri, maka harus ada satu langkah dari warga negara yang berani mengambil ARAH BARU INDONESIA dengan melakukan terobosan berfikir menyatukan pandangan bahwa PANCASILA merupakan PERMADANI BANGSA yang menjadi pijakan dasar bangsa dalam membangun keadaban dalam keberadaban.

 

PANCASILA harus menjadi dasar paradigma berfikir rakyat yang multi fungsi;

PANCASILA sebagai Karakter Bangsa yang BERTUHAN,

PANCASILA sebagai perekat keberagaman, suku, adat, dan agama,

PANCASILA sebagai Dasar Negara Bangsa yang diambil dari intisari Agama - agama yang ada, harus mampu berdiri tegak dalam meninggikan harga diri bangsa, sehingga mampu menjadi Kekuatan ke 5 Dunia.

 

PANCASILA tidak dijadikan senjata untuk menghacurkan kekuatan politik manapun oleh kekuatan manapun.

Pertanyaannya ; kita mau memosisikan diri dimana? Menjadikan PANCASILA sebagai ruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?, atau PANCASILA hanya dijadikan alat politik dan dimaknai sekehendak syahwat politiknya?

Jawabannya ada pada diri masing-masing pengisi bangsa ini.

 

Khatimah

 

PANCASILA adalah sinar gemintang yang tak'kan pernah padam dalam memberikan semangat berjuang.....

 

PANCASILA adalah PERMADANI BANGSA yang harus senantiasa diperjuangkan, dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang makmur, beradab dan sejahtera.

 

Teruslah berjuang, GELORA-kan, dan teguhkan nilai dasar bangsa  menuju masa depan INDONESIA yang GEMILANG

6 September 2023

Catatan kritis Pemanggilan GUS MUHAIMIN oleh KPK RI

 


1. KPK boleh menyatakan pemanggilan Cak Imin utk kasus 12 tahun lalu bukan politisasi. Tapi logika sederhana, terasa aneh. Knp kasus 12 tahun lalu baru dibuka kembali? Knp selama setahun jadi Bacapres PS tidak juga diproses, kalau diproses kenapa Cak Imin baru dipanggil sekarang?

2. Persoalan ini bukan saja hukum an sich, kaca mata kuda. KPK boleh menyatakan hukum harus ditegakkan, kepada siapa pun. Tapi hukum punya hati dan jiwa. Hati yang melihat kondisi, situasi dan rasa keadilan.

3. Orang sedang hajatan, pesta. Tidak mungkin lari, lalu ditangkap dihadapan tamu undangannya. Padahal bisa dipanggil selesai pesta. Itu hukum yang tidak punya jiwa. Hukum yang hanya mempermalukan. Padahal ada asas praduga tak bersalah.

4. Begitulah KPK memanggil Cak Imin, wlpn hanya jadi saksi, di tengah setelah deklarasi maju pilpres. Apa pun alasan KPK panggil Cak Imin. Pastilah rakyat menganggap politisasi dan hukum menjadi alat menjegal. Itu tidak baik bagi penegakkan hukum dalam negara Pancasila.

24 Juli 2023

Yulia sang Pembisik Surgawi



Perempuan yang tidak tahu bahwa dirinya ini mempunyai kekuatan bernama Yulia Widiasari Rahmah, lahir di Tasikmalaya, tanggal 9 Juli 1975. Saat berkecamuk letusan gunung Galunggung, ia bersama orang tua serta adik adiknya pindah ke  Banjaran, ketika itu masih kelas 2 SD. Menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di Banjaran, kemudian pendidikan terakhir di SMAN 4 Bandung. Dari SD hingga SMA ia sudah tertarik berkegiatan dalam organisasi sekolah. 

Gadis yang baru lulus SMA ini kemudian menemukan jodohnya , dan dipersunting oleh belahan jiwanya Eri Ridwan Latief pada tahun 1994, dikaruniai 5 para pejuang Allah Byan Illabiqisti Latief, Binar Miladifiqhan Latief, Biyadika Raksanagari Latiefah, Brilian Rahmaningputri Latiefah, Barami Maulidajindi Latiefah.

Mantu Hanifah Hilmiati dan calon mantu Febrianti Nurhafidah

Dalam menjalankan aktifitasnya sebagai ibu rumah tangga , ia berkesempatan menjadi mujahidah di pemudi persis sejak tahun 2000. Menjadi ketua jamaah Pemudi Persis Ciapus Banjaran, tasykil PC Pemudi Persis Banjaran bidgar Seni Budaya selama 2 periode. Tahun 2014 mutasi ke Persistri dan aktif di PJ Persistri Ciapus Banjaran sabagai Sekretaris. Belum selesai menjabat sebagai sekretaris PJ persistri pada periodenya, ia diamanati sebagai bidgar bimhajum PC Persistri Banjaran selama 2 periode sampai sekarang. Dan diamanati mengajar tahsin di PJ Persistri Ciapus 1 dan PJ Persistri Ciapus Girang.

Merasa diri kurang ilmu , maka selama di pemudi maupun di Persistri ia rajin mengikuti pengajian ataupun seminar seminar di jamiyyah. Tahun 2001 mengikuti tamhiedul mubalighat PD Persistri kab. Bandung di Ciapus Banjaran sampai selesai.  Dan mengikuti Pembinaan Anggota di PD Persistri kabupaten Bandung, dengan harapan ilmu yang ia dapat menjadi bekal untuk lebih faham tentang agama, dan berkehidupan di Jam'iyyah persistri yang baik sebagai mana mestinya. 

Alhamdulillaah selama di PA angkatan 11, banyak ilmu bermanfaat yang didapatkan, ia  jadi bisa lebih memaknai hidup dibanding sebelumnya. Termasuk dalam menyikapi ujian ujian hidup yang Allah anugerahkan kepadanya. Ia merasa bahwa Allah Ar Rahman, Ar Rahim, selalu memberi kemudahan di dalam setiap kesempitan. 

Terimakasih , jazaakumullah Khoiron katsieron kepada asatidzah PA , penyelenggaraatas ilmu yang diajarkan, semoga menjadi bekal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Tak lupa apresiasi ia sampaikan kepada ibu KM, sekretaris , dan bendahara PA angkatan 11 yang telah  berjuang demi kelancaran terselenggaranya pendidikan ini. Semoga usaha kita dalam menjalankan syari'at Islam sesuai dengan perintah Allah dan sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah Saw.

3 Maret 2023

TEST THE WATER

 


Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa


Lucu! Pengadilan Negeri ngurusi pemilu. Bukan wilayah kewenangannya. Tidak perlu ahli hukum, orang awam yang bukan jurusan hukum juga tahu. Ini masalah kelas dasar.


Test the water? Sepertinya begitu. Udah bingung, panik, karena semua cara udah buntu. Akhirnya, tabrak aturan. Mainkan dari Pengadilan Negeri (PN). 


Kenapa melalui PN? Dengan jalur ini, akan butuh waktu panjang. Setelah putusan, KPU diminta banding. Pura-puranya all out. Anda bisa hitung, berapa waktu yang dibutuhkan untuk banding? Setelah banding, nanti disekenariokan untuk kasasi. Sementara waktu yang dibutuhkan untuk tahapan pemilu sudah sangat mepet. Melalui jalur PN dianggap cara yang paling bisa ulur waktu, dan pada akhirnya ditunda. Ini akal-akalan yang dianggap sempurna.


Kalau jelas-jelas PN tidak punya kewenangan untuk tangani kasus pemilu, kenapa putusannya harus dipatuhi. Simple bukan? Abaikan, dan KPU lanjutkan tahapan pemilu. Itu saja, kenapa jadi repot?


Coba cermati baik-baik. Ada partai yang tidak dikenal, ujug-ujug muncul menggugat KPU. Anda juga mungkin baru tahu nama partai itu sekarang. Partai Prima. Publik tidak tahu partai itu. Ini milik siapa dan siapa para pemain di belakangnya, silahkan ditelusuri. Ini bisa membuka kotak pandora. Mungkin masih ada partai-partai Prima yang lain. Disiapkan untuk target-target tertentu.


Partai yang tidak dikenal publik ini menggugat KPU. Lalu dimenangkan oleh PN Jakarta Pusat, dan putusannya minta KPU menunda pemilu 2 tahun, 4 bulan, 7 hari. 2 tahun? Mirip isu selama ini yang santer diusulkan pemilu diundur 2 tahun. Apa ini kebetulan? Pasti anda ketawa ngakak.


Setelah ada keputusan PN Jakarta Pusat, paginya viral sebuah video. Isinya? Mendukung penundaan. Bahkan dianggap ini tangan Tuhan. Lucu bukan? Setting sekenarionya seperti sudah sangat matang. Siapa yang mempersiapkan video itu? Anda masih berpikir ini normal dan wajar?


Anda juga jangan percaya begitu saja beberapa orang di lingkaran kekuasaan yang dukung KPU untuk banding. Itu lagu lama. Orang Jawa bilang: boleh jadi "ada maling teriak maling". Tidak menutup kemungkinan, mereka adalah bagian dari para pelaku yang ikut mensetting sekenario. Silahkan cek baik-baik. Lakukan penelusuran. Uji validitasnya dengan cari kabar yang sebenarnya. Anda akan dapat info itu.


Putusan ini berhasil bikin geger Indonesia. Namanya juga test the water. Darah para aktifis sempat naik. Malam usai putusan PN Jalpus, konsolidasi terjadi dimana-mana. Mulai ada gerakan dari sejumlah kelompok aktifis. Suasana seperti mau perang. Ada yang dianggap bermain-main dengan api. Ini bisa jadi ledakan. Berbahaya! Harus kita cegah.


Bangsa ini butuh para negarawan. Jika negarawan yang kelola negara ini, kegaduhan dan kericuhan yang berpotensi memicu gejolak sosial-politik tidak selalu terjadi seperti saat ini. 


Jakarta, 3 Maret 2023

31 Januari 2023

ACEH DARUSSALAM DALAM LINTASAN SEJARAH

 

Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Pada awalnya kerajaan ini berdiri atas wilayah Kerajaan Lamuri, kemudian menundukan dan menyatukan beberapa wilayah kerajaan sekitarnya mencakup DayaPedirLidieNakur. Selanjutnya pada tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh diikuti dengan Aru.

Pada tahun 1528, Ali Mughayat Syah digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga tahun 1537. Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang berkuasa hingga tahun 1571.[2]

Masa Kejayaan

Lukisan Banda Aceh pada tahun 1665 dengan latar istana sultan.

Meskipun Sultan dianggap sebagai penguasa tertinggi, tetapi nyatanya selalu dikendalikan oleh orangkaya atau hulubalang. Hikayat Aceh[diragukan][butuh rujukan] menuturkan Sultan yang diturunkan paksa diantaranya Sultan Sri Alam digulingkan pada 1579 karena perangainya yang sudah melampaui batas dalam membagi-bagikan harta kerajaan pada pengikutnya.

Penggantinya Sultan Zainal Abidin terbunuh beberapa bulan kemudian karena kekejamannya dan karena kecanduannya berburu dan adu binatang. Raja-raja dan orangkaya menawarkan mahkota kepada Alaiddin Riayat Syah Sayyid al-Mukamil dari Dinasti Darul Kamal pada 1589. Ia segera mengakhiri periode ketidak-stabilan dengan menumpas orangkaya yang berlawanan dengannya sambil memperkuat posisinya sebagai penguasa tunggal Kesultanan Aceh yang dampaknya dirasakan pada sultan berikutnya.[3]

Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636) atau Sultan Meukuta Alam. Pada masa kepemimpinannya, Aceh menaklukkan Pahang yang merupakan sumber timah utama. Pada tahun 1629, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Sayangnya ekspedisi ini gagal, meskipun pada tahun yang sama Aceh menduduki Kedah dan banyak membawa penduduknya ke Aceh.[4]

Pada masa Sultan Alaidin Righayat Syah Sayed Al-Mukammil (kakek Sultan Iskandar Muda) didatangkan perutusan diplomatik ke Belanda pada tahun 1602 dengan pimpinan Tuanku Abdul Hamid. Sultan juga banyak mengirim surat ke berbagai pemimpin dunia seperti ke Sultan Turki Selim II, Pangeran Maurit van Nassau, dan Ratu Elizabeth I. Semua ini dilakukan untuk memperkuat posisi kekuasaan Aceh.

Masa Kemunduran

Kemunduran Kesultanan Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ialah makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatra dan Selat Malaka, ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Tiku, Tapanuli, Mandailing, Deli, Barus (1840) serta Bengkulu kedalam pangkuan penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan di antara pewaris tahta kesultanan.

Diplomat Aceh di Penang. Duduk: Teuku Kadi Malikul Adil (kiri) dan Teuku Imeum Lueng Bata (kanan). Sekitar tahun 1870-an

Hal ini bisa ditelusuri lebih awal setelah kemangkatan Sultan Iskandar Tsani hingga serangkaian peristiwa nantinya, di mana para bangsawan ingin mengurangi kontrol ketat kekuasaan Sultan dengan mengangkat janda

Iskandar Tsani menjadi Sultanah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ketakutan akan kembalinya Raja tiran (Sultan Iskandar Muda) yang melatar-belakangi pengangkatan ratu.

Sejak itu masa damai terasa di Aceh, para Ulèëbalang bebas berdagang dengan pedagang asing tanpa harus melalui pelabuhan sultan di ibu kotaLada menjadi tanaman utama yang dibudidayakan seantero pesisir Aceh sehingga menjadi pemasok utama lada dunia hingga akhir abad 19. Namun beberapa elemen masyarakat terutama dari kaum wujudiyah menginginkan penguasa nanti adalah seorang laki-laki bergelar Sultan. Mereka mengklaim bahwa pewaris sah masih hidup dan tinggal bersama mereka di pedalaman. Perang saudara pecah, masjid raya, Dalam terbakar, kota Bandar Aceh dalam kegaduhan dan ketidak-tentraman. Menindaklanjuti pertikaian ini, Kadhi Malikul Adil (semacam mufti agung) Tgk. Syech Abdurrauf As-Sinkily melakukan berbagai reformasi terutama perihal pembagian kekuasaan dengan terbentuknya tiga sagoe. Hal ini mengakibatkan kekuasaan sultanah/sultan sangat lemah dengan hanya berkuasa penuh pada daerah Bibeueh (kekuasaan langsung) semata.

Perang saudara dalam hal perebutan kekuasaan turut berperan besar dalam melemahnya Kesultanan Aceh. Pada masa Sultan Alauddin Jauhar Alamsyah (1795-1824), seorang keturunan Sultan yang terbuang Sayyid Hussain mengklaim mahkota kesultanan dengan mengangkat anaknya menjadi Sultan Saif Al-Alam. Perang saudara kembali pecah namun berkat bantuan Raffles dan Koh Lay Huan, seorang pedagang dari Penang kedudukan Jauhar (yang mampu berbahasa Prancis, Inggris dan Spanyol) dikembalikan. Tak habis sampai di situ, perang saudara kembali terjadi dalam perebutan kekuasaan antara Tuanku Sulaiman dengan Tuanku Ibrahim yang kelak bergelar Sultan Mansur Syah (1857-1870).

Sultan Mansyur Syah berusaha semampunya untuk memperkuat kembali kesultanan yang sudah rapuh. Dia berhasil menundukkan para raja lada untuk menyetor upeti ke sultan, hal yang sebelumnya tak mampu dilakukan sultan terdahulu. Untuk memperkuat pertahanan wilayah timur, sultan mengirimkan armada pada tahun 1854 dipimpin oleh Laksamana Tuanku Usen dengan kekuatan 200 perahu. Ekspedisi ini untuk meyakinkan kekuasaan Aceh terhadap DeliLangkat dan Serdang. Namun naas, tahun 1865 Aceh angkat kaki dari daerah itu dengan ditaklukkannya benteng Pulau Kampai.[5]

Sultan juga berusaha membentuk persekutuan dengan pihak luar sebagai usaha untuk membendung agresi Belanda. Dikirimkannya utusan kembali ke Istanbul sebagai pemertegas status Aceh sebagai vassal Turki Utsmaniyah serta mengirimkan sejumlah dana bantuan untuk Perang Krimea. Sebagai balasan, Sultan Abdul Majid I mengirimkan beberapa alat tempur untuk Aceh. Tak hanya dengan Turki, sultan juga berusaha membentuk aliansi dengan Prancis dengan mengirim surat kepada Raja Prancis Louis Philippe I dan Presiden Republik Prancis ke II (1849). Namun permohonan ini tidak ditanggapi dengan serius.[3]

Kemunduran terus berlangsung dengan naiknya Sultan Mahmudsyah yang muda nan lemah ke tapuk kekuasaan. Serangkaian upaya diplomasi ke Istanbul yang dipimpin oleh Teuku Paya Bakong dan Habib Abdurrahman Az-zahier untuk melawan ekspansi Belanda gagal. Setelah kembali ke ibu kota, Habib bersaing dengan seorang India Teuku Panglima Maharaja Tibang Muhammad untuk menancapkan pengaruh dalam pemerintahan Aceh. Kaum moderat cenderung mendukung Habib namun sultan justru melindungi Panglima Tibang yang dicurigai bersekongkol dengan Belanda ketika berunding di Riau.[5]

Pada akhir November 1871, lahirlah apa yang disebut dengan Traktat Sumatra, di mana disebutkan dengan jelas "Inggris wajib berlepas diri dari segala unjuk perasaan terhadap perluasan kekuasaan Belanda di bagian manapun di Sumatra. Pembatasan-pembatasan Traktat London 1824 mengenai Aceh dibatalkan." Sejak itu, usaha-usaha untuk menyerbu Aceh makin santer disuarakan, baik dari negeri Belanda maupun Batavia. Para Ulee Balang Aceh dan utusan khusus Sultan ditugaskan untuk mencari bantuan ke sekutu lama Turki. Namun kondisi saat itu tidak memungkinkan karena Turki saat itu baru saja berperang dengan Rusia di Krimea. Usaha bantuan juga ditujukan ke Italia, Prancis hingga Amerika namun nihil. Dewan Delapan yang dibentuk di Penang untuk meraih simpati Inggris juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan alasan ini, Belanda memantapkan diri menyerang ibu kota. Maret 1873, pasukan Belanda mendarat di Pantai Cermin Meuraksa menandai awal invasi Belanda Aceh


7 Januari 2023

SEKILAS TENTANG KOMUNITAS HF TENTARA LANGIT

 


Komunitas HF tentara langit adalah berawal dari kumpulan beberapa homebrewer anggota amatir radio di Jawa Barat yang sering bereksperimen baik antena, ataupun perangkat dan teknik radio.  Berkumpul pertama di Cihanjuang Cimahi  berawal pada tahun 2005 an di rumah YC1BQX  bapak edi.

Perkumpulan komunitas homebrewer makin lama makin berkembang anggotanya dan sering mempergunakan frekuensi  di 80 m band di 3815 MHz,   serta di 40 m band di 7115 MHz.

Seiring berjalannya waktu frekuensi HF di 3815 dan 7115 sering dipergunkan untuk komunikasi sharing ilmu pengetahuan tentang kegiatan teknik amatir radio terutama eksperimen antena, morse dan sebagainya oleh komunitas HF di Jawa Barat, ikut bergabung juga amatir radio dari makasar dan kalimantan.

Pada Tahun 2015 pada acara Hamfest ORARI Lokal BOGOR, kami komunitas pengguna frek 7115 dan 3815 bersepakat untuk membentuk nama komunitas HF dengan sebutan Komunitas HF TENTARA LANGIT sebagai pencetus kata Tentara Langit adalah YC1WTS boy (Almarhum).

Komunitas HF Tentara Langit tidak ada Ketua atau pengurus juga tidak ada AD/ART semuanya berdasarkan kebersamaan dan gotong royong apapun kegiatannya.

Sehingga tiap ada event Hamfest ataupun Fieldday kami selalu buka stand dengan sapanduk Komunitas Tentara Langit, semua anggota berkumpul di stand tersebut untuk ngobrol sambil ngopi sehingga keakraban dan kebersamaan makin terjalin dengan erat.

Pada prinsipnya komunitas HF Tentara Langit punya misi yaitu  mendukung dan mensuport kegiatan Orari Daerah Jawa Barat karena anggota Komunitas HF Tentara Langit anggotanya terdiri dari berbagai lokal Orari di Jawa Barat, DKI, Banten, Makasar dan Kalimantan. Tapi sebagian besar dari lokal-lokal yang ada di Jawa Barat.

Seiring berjalannya waktu kegiatan amatir Radio sudah memasuki digitalisasi dan berbagai kegiatan contest, DX dan sebagainya. Maka pada tahun 2022 kami mengusulkan bahwa Komunitas HF tentara Langit untuk menjadi Club station sehingga kegiatan amatir Radio bisa legal dan resmi.

Dengan dukungan dari Orari Daerah Jawa Barat dan ORPUS pada tanggal 19 September 2022 terbitlah Call Sign Club Station Tentara Langit  dari SDPPI yaitu YH1AAA, dimana Club Station ini berada di bawah Orari Daerah Jawa Barat yang sifatnya sebagai Unit Kegiatan Peningkatan Keterampilan  Amatir Orari Daerah Jawa Barat. Dimana Orari Daerah Jawa Barat dan Club Station Tentara Langit bersepakat untuk mengadakan kerjasama kegiatan amatir radio dalam bentuk pengembangan dn pelatihan untuk meningkatkan keterampilan anggota amatir radio di Jawa Barat.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Club Station Tentara Langit selalu berkoordinasi dengan Ketua Bidang Operasi dan teknik ORARI Daerah Jawa Barat dan setiap 6 (enam) bulan sekali memberikan laporan tertulis  kepada Ketua Orari Daerah Jawa Barat.

Adapun kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Club Station Tentara Langit setelah terbitnya Call Sign YH1AAA adalah sebagai berikut :

Mengadakan WEBINAR dengan seluruh Club Station yang ada di Indonesia yaitu Webinar Pengenalan SEENOW (SINAU) pada tanggal 5 November 2022 dengan nara sumber YB1GBN dan YB3RDW.

Mengadakan QSO Party dalam rangka promosi dan publikasi terbentuk nya Club Station Tentara Langit YH1AAA di tiga band yaitu 80, 40 dan 10 M band mode Phone. Pada tanggal 11 sd 13 November 2022 di Situ Cileunca Pangalengan Jawa Barat, tepatnya di Sekolah Alam dan Rumah Tahfiz SMP Prima Cendekia Islami (PCI) Kp. Wanasari Desa Warnasa Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. 

Demikian sekilas tentang perjalanan Komunitas HF Tentara Langit, mohon maaf jika ada kekurangan, semoga YH1AAA tetap eksis dan selalu dapat dukungan dari Orari Daerah Jawa Barat , Orpus serta anggota . terima kasih 

De  YB1BYY


26 Desember 2022

MENAKAR PERAN POLITIK UMAT ISLAM

 



Oleh : Drs. H. Eri Ridwan Latif, M.Ag *


Muqadimah


Ketika kita bicarakan Menakar Peran Politik Umat Islam , seolah-olah kita masuk pada satu pilihan kondisi –yang terlalu berani melakukan proses pengkajian terhadap hal-hal yang sangat rentan melahirkan pertentangan pemahaman. Padahal berbicara Umat Islam secara otomatis kita sedang berbicara tentang diri kita sendiri, yang telah berbai’at di hadapan Allah untuk siap menjadi penerus perjuangan Rasulullah SAW dan siap berpegang teguh pada tali (agama) Allah serta berimplikasi pada satu sikap yang siap untuk tidak bercerai berai, sesuai dengan firman Allah SWT : Dan berpegang teguhlah kamu sekaliankepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai (QS. Ali Imran : 103 ).

Langkah untuk menyerap limpahan menuju wawasan yang berkualitas, tentunya tidak bisa dipersepsikan memberikan segalanya dan serba komprehensif. Kita bisa berujar layaknya Socrates yang dengan bijak mengakui “yang aku tahu adalah bahwa aku semakin tidak tahu apa-apa.” Tapi selanjutnya kita akan berani mengatakan “yang aku tahu adalah aku semakin tahu apa-apa”. Artinya, walaupun kita nantinya tidak sebijak socrates, tetapi paling tidak kita lebih “percaya diri” daripada Socrates.

Samuel P Huntington dalam bukunya “The Clash of Civilizations and Remaking of World Order” mengatakan bahwa di benak kita tersembunyi asumsi-asumsi, bias-bias serta prasangka-prasangka yang “Membimbing” kita tentang bagaimana mempersepsi suatu realitas, tentang fakta-fakta yang kita lihat dan bagaimana kita menilai manfaat serta kebaikannya.
Salah-satu model berpikir yang senantiasa -minimal- harus ada di benak umat Islam diantaranya adalah bahwa umat Islam harus mampu ;

1. mengatur dan menggeneralisasikan realitas;
2. memahami hubungan-hubungan kausal di antara berbagai fenomena;
3. melakukan antisipasi dan, jika beruntung, melakukan prediksi terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi di masa yang akan datang;
4. memilah-milah mana yang penting dan yang tidak penting, dan;
5. menempuh jalan yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan tujuan kita.

Perjalanan Politik Umat Islam

Membahas perjalanan politik umat Islam tidak bisa lepas dari proses berdirinya Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan diproklamirkan pada hari Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pegangsaan Timur Jakarta. Kenapa demikian, karena tokoh-tokohnya seperti ; Tuan A. Hasan dan Moch. Natsir dan yang lainnya juga turut ambil bagian dalam “Membangun karakter Bangsa” melalui “symbol” Bung Karno sebagai salah satu Proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berikut kutipan Surat-Surat Islam dari Endeh semasa Bung Karno hidup dalam masa pengasingan di Endeh Flores, dalam buku “Dibawah Bendera Revolusi” cetakan pertama hal 325 dan 338 :

DARI IR. SUKARNO KEPADA TUAN. A. HASSAN, GURU “PERSATUAN ISLAM”, BANDUNG
No.1. . Endeh, 1 Desember 1934.

Assalamu’alaikum,

Djikalau saudara-saudara memperkenankan, saja minta saudara mengasih hadiah kepada saja buku-buku jang tersebut dibawah ini: 1 Pengadjaran Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 Al-Muchtar, 1 Debat Talqien, 1 Al-Burhan compleet, 1 Al-Djawahir.

Kemudian daripada itu, djika saudara-saudara ada sedia, saja minta sebuah risalah jang membitjarakan soal “sajid”. Ini buat saja bandingkan dengan alasan-alasan saja sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal-soal jang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih sulit daripada soal “sajid” itu, maka toch menurut kejakinan saja, salah satu ketjelaan Islam zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia jang menghampiri kemusjrikan itu. Alasan-alasan kaum “sajid”, misalnja mereka punja brosjur “Bukti kebenaran”,saja sudah batja, tetapi tak bisa mejakinkan saja. Tersesatlah orang jang mengira, bahwa Islam mengenal suatu “aristokrasi Islam”. Tiada satu agama jang menghendaki kesama-rataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu, adalah salah satu sebab jang mematahkan djiwanja sesuatu agama dan ummat, oleh karena pengeramatan manusia itu, melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebentjanaan!

Sebelum dan sesudahnja terima itu buku-buku, jang saja tunggu-tunggu benar, dan mudah-mudahan nanti buku tersebut dibatja oleh banjak orang Indonesia agar bisa mendapat inspiration daripadanja. Sebab, sesungguhnja buku tersebut penuh dengan inspiration. Inspiration bagi kita punja bangsa jang begitu muram dan kelam hati, inspiration bagi kaum Muslimin jang belum mengerti betul-betul artinja perkataan “Sunnah Nabi”, – jang mengira, bahwa sunnah Nabi S.a.w itu hanja makan korma dibulan Puasa dan celak- mata dan sorban sahadja !.

Saudara, please tolonglah. Saja mengutjap beribu-ribu terima kasih.

Wassalam,

SOEKARNO

Surat-surat Islam dari Ir. Soekarno kepada A. Hassan dapat menjadi saksi begitu dekatnya Soekarno dengan A. Hassan, dan merupakan salah satu bukti dari perjalanan “High Politic”nya -melalui tokoh-tokohnya- dalam peta politik nasional, bahkan Internasional.

Peran Politik Umat Islam … ?

Setelah mendalami perjalanan pergerakkan Umat islam di arena politik global, tentu lahir sebuah pertanyaan besar : “Bagaimana seharusnya peran politik Umat Islam ?”. Pertanyaan ini sangat menarik untuk kita kaji. Kenapa demikian, karena kondisi masyarakat bangsa ini sedang terombang-ambing arus politik global, dimana hilangnya rasa percaya diri baik dalam interaksi antar warga negaranya, interaksi dengan bangsa-bangsa dunia maupun tidak bisa mempercayai orang –kelompok- yang lain.

Mari kita kerucutkan pada pengkajian bagaimana seharusnya umat Islam bersikap, baik dalam interaksi sebagai warga negara, maupun sebagai satu komunitas Muslim yang bercita-cita ingin melaksanakan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah seperti termaktub dalam sila pertama Pancasila yaitu : “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban Melaksanakan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”.

Kajian saat ini dibangun oleh 3 (tiga) tahapan berpikir : pertama, bagaimana memahami kondisi masyarakat -bangsa- Indonesia saat ini ? kedua, bagaimana realitas pandangan masyarakat terhadap peran partai politik di Indonesia dan ketiga, bagaimana seharusnya Persis berperan dalam mengapresiasi peta politik negara ini ?

Pertama, dengan berakhirnya masa Orde Baru diganti oleh Orde “Reformasi” apalagi dengan munculnya BJ Habibie sebagai Presiden RI ke 3 (tiga), dimana kran kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat dibuka, maka seluruh lapisan masyarakat baik eksekutif, legislatif, masyarakat biasa, bahkan tukang becak sekalipun, mereka begitu lantangnya mengeluarkan pernyataan-pernyataan politik, argumen dan analisa politik bak sebagai politisi. Tetapi pada perkembangan selanjutnya ketika perubahan negara yang diharapkan akan mampu merubah kondisi rakyat pada satu tingkatan -kemakmuran rakyat-, akhirnya mereka kecewa ketika justru lembaga yang diharapkan mampu menjadi corong kebebasan melalui keterwakilan di lembaga-lembaga politik seperti DPR/MPR ternyata tidak mampu menjawab problematika hidup mereka, tapi sebaliknya para politisi yang menjadi “kareueus” (kebanggaan . pen) mereka, hanya asyik sibuk mengurusi diri sendiri dan keluarganya saja bahkan tidak kurang dari realitas yang ada mereka hanya menambah sesaknya ruang-ruang tahanan gara-gara ulah mereka yang telah melakukan tindak korupsi dan penyelewengan-penyelewengan lainnya. Tragis memang bangsa ini.

Kedua, akibat dari kondisi di atas masyarakat Indonesia sekarang kembali pada kondisi hilang kepercayaan, saling meragukan satu dengan yang lainnya bahkan cenderung apatis. Kepercayaan terhadap partai-partai mulai pudar, karena ternyata partai hanya menjadikannya (rakyat pen) sebagai obyek politik belaka, ketika tujuan politiknya tercapai, maka rakyat yang mendukungnya dengan setia ditinggalkan begitu saja. Kondisi inilah yang menjadi penyebab tercorengnya pemerintahan Indonesia di mata rakyatnya, apalagi di mata internasional. Peristiwa Ambalat, lepasnya Timor Timur, munculnya gerakan-gerakan separatis yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan lainnya, hal tersebut merupakan realitas politik yang tidak bisa kita pungkiri. 

Ketiga, bagaimana seharusnya umat Islam berperan dalam meng-apresiasi peta politik negara ini ?. Jawabannya ada pada sejauhmana naluri kebangsaan umat Islam, realitas politik bangsa tentunya dapat dijadikan salah-satu argumentasi politik. Umat Islam tidak perlu melakukan kesalahan politik lagi, apalagi setelah Mahkamah Konstitusi meloloskan “Calon Independen” dalam peta politik bangsa, dimana kekuatan politik saat ini sudah tidak lagi berada di tangan partai-partai politik, tetapi berada di tangan kekuatan rakyat, LSM, dan organisasi masyarakat. Partai politik saat ini sedang mengalami kehilangan rasa percaya diri, maka mereka banyak melakukan political intrude -politik yang bermaksud mengganggu- dengan dalih “silaturrahmi politik”, sekali lagi hal tersebut merupakan jebakan politik saja. Sikap politik umat Islam sesungguhnya tidak diarahkan pada proses dukung mendukung, tapi dapat dimaknai ; bagaimana umat Islam merealisasikan “the hidden program” nya yaitu : “terlaksananya syariat Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek kehidupan,” dalam bingkai pendidikan dan dakwah.

Umat Islam tidak bermain api masuk ke dalam jebakan politik yang mereka siapkan, tetapi umat Islam harus mampu mengatur arus politik bangsa dengan menyiapkan kader yang memiliki “militansi ummah”, tidak tertipu oleh janji-janji politik dengan melakukan langkah politik yang justru akan merusak harga diri umatnya tersebut; menjual kekuatan ummat dengan memberikan dukungan baik terhadap partai-partai politik maupun kepentingan-kepentingan politik seseorang di setiap wilayah politik praktis. Makna partisipasi politik –penekanannya- bukan pada proses dukung mendukung, tetapi Umat Islam harus siap jadi bagian yang utuh, independen, dan memiliki karakter yang jelas, tegas dan berakhlakul karimah. Umat Islam yang diberi tanggungjawab penuh untuk mewakili umat dalam percaturan politik praktis, dia tidak mencampur adukan kepentingan dirinya, harus mampu membawa karakter ummat dimanapun mereka beraktifitas, bukan  sebaliknya dia membawa karakter “luar” dan melakukan uji coba politik di dalam wilayah pergerakannya sendiri.

Khatimah

Sayid Muhammad Baqir ash-Shadr mengatakan bahwa: “Orang Barat -Yahudi dan Nashrani- dalam membangun peran politiknya lebih melihat ke bumi dengan berdasarkan spirit penguasaan, sehingga bertendensi materialis, sedang orang Timur (Islam) lebih melihat ke langit karena perintah langit (Allah) memposisikan mereka sebagai khalifah di muka bumi, sehingga bertendensi religius.
Aplikasi pergerakan yang sesungguhnya adalah sejauhmana kita dapat melaksanakan seluruh aktivitas kehidupan dengan berlandaskan firman Allah SWT : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran : 103 ), serta melaksanakan komitmen dakwah dalam mewujudkan “terlaksananya syariat Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.”.Wallah a’lam bish shawab.

*Penulis adalah Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bandung