14 Mei 2025

Skandal Ijazah Joko Widodo: Ilmu Pengetahuan Vs Arogansi Kekuasaan



 *OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

Mantan Juru Bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)1991-2001


Kamis, 01 Mei 2025, 19:08 WIB


Tragedi sejarah ilmu pengetahuan empat abad silam sedang direkonstruksi Joko Widodo di Polda Metro Jaya. 


Jika dahulu ahli astronomi Galileo Galilei vs Paus Urban VIII, kini Presiden RI VII vs Rismon Sianipar-Roy Suryo, ahli forensik digital dan pakar telematika. 


Akankah keduanya dipenjara karena pandangan keilmuannya seperti Galileo Galilei?


BENAR, kedatangan Joko Widodo ke Polda Metro Jaya di Jakarta Selatan pada Rabu, 29 April 2025 untuk mempidanakan ahli forensik digital DR Eng Rismon Hasiholan Sianipar, ST, MT, M Eng serta pakar telematika DR KRMT Roy Suryo Notodiprojo, M.Kes dan Dr Tifauzia Tyassuma, Ph.D seperti ayunan langkah pertama perjalanan panjang bangsa ini ke zaman kegelapan Eropa, ketika Galileo Galilei duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Inkuisisi di kawasan Vatikan, Roma, Italia.


Galileo Galilei ini nama satu orang. Dia ilmuwan, fisikawan, matematikawan, dan ahli astronomi Italia yang hidup pada abad ke-16 dan 17. Lahir 15 Februari 1564 di Pisa, Italia, Galileo meninggal secara mengenaskan dalam tahanan rumah pada 8 Januari 1642 di Arcetri, Italia.


Galileo Galilei dihukum penjara sampai mati oleh Pengadilan Agama (Inkuisisi) Gereja Katolik karena pandangan keilmuannya tentang astronomi berbeda dengan yang diyakini Gereja. 


Menurut pendapat Gereja, matahari itu mengitari bumi. 


Sedangkan Galileo dalam penelitian ilmiahnya berpendapat sebaliknya. 


Justru bumi yang mengitari matahari”. Jadi Galileo sependapat dengan teori heliosentrisme Nicolaus Copernicus yang bilang bahwa matahari itu pusat tata surya dan Bumi serta planet lain yang mengelilinginya. 


Gereja Resmi Minta Maaf


“Pengadilan Galileo Galilei” ini dicatat sejarah sebagai “tragedi ilmu pengetahuan” paling fenomenal, dan menjadi tonggak penting bagi umat manusia di muka bumi untuk lebih bijak dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan.


Karena terbukti bahwa temuan keilmuan Galileo Galilei yang benar bahwa “bumi yang mengitari matahari”, membuat peristiwa di Palazzo del Sant'Uffizio, kantor pusat Mahkamah Inkuisisi di Roma tempat Galileo diadili pada 1633 itu, jadi “titik aib” bukan saja bagi Gereja Katolik di Roma, tapi bagi Kristen sebagai ajaran agama yang anti-ilmu pengetahuan. 


Meskipun sejak abad ke-18 Gereja (Katolik) tidak sekonservatif zaman Paus Urban VIII, tapi stigma Kristen sebagai agama yang kurang akomodatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tetap menghantui. 


Baru 350 tahun kemudian, setelah Vatikan dipimpin Paus Yohanes Paulus II (18 Mei 1920 – 2 April 2005), benar-benar terbebas dari “infamia” yang memalukan itu. Sebab pada 31 Oktober 1992, Paus asal Polandia ini secara resmi minta maaf atas proses hukum (pengadilan sesat) terhadap Galileo Galilei, ilmuwan dan filsuf Italia yang terjadi pada 1633 itu. Karena faktanya, Galileo Galilei itu penganut Katolik yang taat.


Joko Widodo Simbol Anti-Intelektualisme


Muncul sebagai Presiden RI ke-7 secara kontroversial-fenomenal, termasuk nebar kohesi sosial, menjauhkan kata dan perbuatan, serta mudah gunakan aparat penegak hukum untuk mengeliminasi lawan-awan politiknya, membuat banyak orang mempertanyakan asal-usulnya, sejarah dan ijazahnya. Who is he?


Dalam pikiran banyak orang, jika sejarah sang pemimpin (bobot-bibit-bebet-nya) jelas, dan memperoleh pendidikan akdemis di perguruan tinggi mumpuni, pasti tak kata-katanya tak akan jauh dari perbuatannya.


Misalnya, bilang KA cepat Jakarta-Bandung akan dibangun tak pakai APBN tapi faktanya kemudian pakai APBN, IKN akan dibangun tanpa ganggu APBN faktanya kemudian ganggu APBN, ada uang Rp 11 ribu T di kantong faktanya kosong, mobil Esemka sudah dipesan ribuan faktanya bohong belaka, dst. 


Nah, Bambang Tri dan Gus Nur adalah dua di antara sejumlah anggota masyarakat yang sangsi akan sejarah dan ijazah Joko Widodo. 


Tapi kesangsian mereka bukannya dipuaskan dengan fakta, malah diganjar PN Solo dengan vonis penjara 6 tahun! (Komisi Yudisial wajib ngaudit forensik proses pengadilan ini, mulai dari pemberkasan di Polri, dakwaan di Kejaksaan, dan para Hakim yang memvonis)


Didorong oleh kerisauan masyarakat akan jejak sejarah dan ijazah (bekas) presidennya, serta melihat sejumlah pernyataannya yang kerap beda dengan perbuatannya, muncullah dua sosok dari tempat yang berjauhan, menyibak persoalan krusial fenomenal ini dengan keilmuan yang terukur.


Kedua sosok itu adalah DR Eng Rismon Hasiholan Sianipar, ST, MT, M Eng, ahli forensik digital dan DR KRMT Roy Suryo Notodiprojo, pakar telematika. Dengan bekal keilmuannya itu, Rismon Sianipar dan Roy Suryo membuak tabir sejarah dan ijazah sang (bekas) presiden.


 Penjelasannya yang ilmiah-akademis jadi susah ditepis. Apalagi kemudian muncul orang ketiga, Dr Tifauzia Tyassuma, Ph.D, yang dengan bekal keilmuannya jadi bisa membaca gelagat dan kejiwaan  sang (bekas) presiden ketika berusaha menjelaskan sejarah dan ijazahnya.


Maka dalam tempo relatif cepat, pandangan sangat ilmiah dan masuk akal dari ketiga intelektual (yang ajaibnya ternyata dari satu almamater: UGM), menjadi public common sense, menjadi bagian dari "akal sehat masyarakat". 


Tentu saja hal ini mengguncang panggung politik nasional yang tampaknya masih dalam kendali sang (bekas) presiden. Apalagi Universitas Gajah Mada (UGM) , Perguruan Tinggi Negeri pertama yang orisinal didirikan oleh Pemerintah RI (1946) setahun setelah merdeka (1945), karena itu sangat dihormati dan dibanggakan, tak memiliki jejak sejarah otentik terhadap ijazah yang konon pernah diterbitkan untuk sang (bekas) pemimpin.


Mungkin karena diarasa sudah mengguncang harga diri, kehormatan dan wibawanya sebagai (bekas) pemimpin yang ingin tetap berpengaruh di republik ini, Joko Widodo akhirnya melaporkan kepada polisi (Polda Metro Jaya) sepakterjang ketiga intelektual yang mengobarkan “akal sehat” masyarakat.


Polisi, yang pernah barada langsung di bawah komando Joko Widodo, tentu masih punya ikatan emosional sangat kental, pasti akan gercep malksanakan keinginan (bekas) bosnya. 


Apalagi secara politik, Joko Widodo masih menyimpan masa depan yang bisa meningkatkan harkat dan pangkat para polisi itu. 


Sebab Gibran, anak Joko Widodo, adalah Wakil Presiden RI yang setiap saat, jika terjadi sesuatu, bisa jadi RI-1.


Kesimpulan


 Gugatan mereka terhadap kebenaran ijazah Joko Widodo pasti akan diabaikan. Sedangkan pengaduan (bekas) presiden yang anaknya bisa setiap saat jadi presiden, niscaya akan lekas direspon. Maka kaum cerdik-pandai (Rismon Sianipar, Roy Suryo, Dr Tifa, dkk) yang memiiki kejujuran dan komitmen terdahap kebenaran dan ilmu pengetahuan akan jadi pesakitan di pengadilan.


Kalau ini benar-benar terjadi, maka Indonesia akan jadi seperti Eropa pada abad kegelapan, ketika “kebenaran ilmu pengetahuan” (Galileo Galilei) berhadapan dengan (arogansi) kekuasaan (Gereja Katolik Roma). Dan Joko Widodo?


Presiden RI VII Joko Widodo akan dicatat sejarah sebagai satu-satunya (bekas) presiden NKRI yang anti-ilmu pengetahuan. Paling tepat seperti pernah diucapkan DR Yudi Latif. Pemikir kebangsaan dan kenegaraan itu bilang begini: “Kehadiran Jokowi sebagai pemimpin negara membawa arus besar anti-intelektualisme dalam masyarakat. Banyak orang yang tidak lagi menghargai pikiran, bahkan mengembangkan sinisme terhadap kedalaman pengetahuan...!” (Negara Sengkarut Pikir, Kompas, 02/02/2015)


Memang benar, pada akhirnya akal sehat dan ilmu pengetahuan akan menang. 


Mengacu pada kasus Galileo Galilei, jadi penting dalam Revolusi Ilmiah abad ke-17, mengubah cara manusia memahami alam semesta dan memajukan pengetahuan. 


Galileo memiliki pengaruh besar pada perkembangan ilmu pengetahuan modern, termasuk fisika, astronomi, dan matematika, jadi simbol perjuangan terhadap dogma dan otoritas yang tidak berdasarkan pada bukti ilmiah.


Tapi sebelum itu terjadi, bangsa ini akan mengalami kerugian moril, material dan terutama waktu. 


Ingat, 10 tahun kekuasaan Joko Widodo sudah membawa bangsa ini mundur jauh ke belakang. Dua periode seperti dua bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Jepang (Nagasaki dan Hiroshima).


Bikin pemerintah (kekaisaran) Jepang harus beri makan bergizi gratis (MBG) kepada rakyatnya karena dilanda kemiskinan luar biasa. 


Hal ini diikuti oleh Presiden Prabowo di negeri ini, yang rakyatnya kini, menurut hasil penelitian Bank Dunia, lebih dari 60% jatuh miskin.


BACA JUGA:

Lapor Polisi jadi Cara Jokowi Lindungi Gibran

Lapor Polisi jadi Cara Jokowi Lindungi Gibran


Maka kini terpulang pada Polri dan jajaran aparat penegak hukum, apakah terus mengikuti perintah Joko Widodo, dan gunakan (arogansi) kekuasaan untuk melawan ilmu pengetahuan?rmol news logo article


*Penulis adalah penyair, pemikir kebangsaan dan kebudayaan.

EDITOR: ADE MULYANA

9 April 2025

Apakah Musafir boleh tayamum walaupun ada air ?

 

Oleh : Ginanjar Nugraha

Islam adalah agama yang sangat mengerti kondisi manusia dalam pelaksanaan syariat. Karena manusia tidak dalam kondisi yang sama, maka diaturlah ketentuan umum syariat atau apa yang disebut dengan azimah dan ketentuan hukum khusus berdasarkan kondisi tertentu atau berdasarkan dalil-dalil tertentu. 


Diantara kewajiban yang ditetapkan kepada manusia secara individu yaitu salat fardu. Sahnya salat tergantung dari terpenuhi atau tidaknya rukun dan syarat sah salat. Diantara syarat sah salat adalah bersih dari hadas. Adapun cara bersuci dari hadas, jika hadas kecil misalnya kencing atau kentut, maka tuntutan umumnya adalah berwudlu untuk menghilangkan hadas tersebut.


Adapun jika hadas besar seperti berjima misalnya, maka tuntutannya untuk menghilangkan hadasnya adalah dengan mandi janabat, tidak cukup dengan berwudlu. Baik wudlu ataupun mandi janabat termasuk dalam kategori azimah. Perhatikan ayat berikut :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًۭا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku, sapulah kepalamu, dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah…(al-Maidah : 6)


Ayat diatas menerangkan tentang ketentuan azimah berwudlu sebagai syarat sah salat bagi hadas kecil serta ketentuan kewajiban mandi janabat bagi yang berhadas besar. Dalam lanjutan ayat diterangkan tentang kondisi rukhsah dan sebab-sebabnya, perhatikan ayat berikut :


…وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌۭ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَـٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءًۭ فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًۭا طَيِّبًۭا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ …

…Tetapi jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu….(al-Maidah : 6)


Secara analisis susunan kalimat, alasan atau sebab hukum berubah dari azimah yaitu ketentuan wudlu bagi yang berhadas kecil dan ketentuan mandi janabat bagi yang berhadas besar, menjadi rukhsah yaitu ketentuan tayamum, pertama karena kondisi sakit, tentunya sakit Dimana jika terkena air dapat memperparah sakit atau menghambat proses penyembuhan. Kedua karena kondisi safar. Ketiga dalam kondisi setelah buang hajat (hadas kecil) atau berjima dengan perempuan (hadas besar) kemudian tidak menemukan air. Ketiga kondisi tersebut menjadi sebab hukum bagi ketentuan tayamum sebagai rukhsah (keringanan).


Persoalannya apakah tidak ada air Kembali kepada semua sebab hukum termasuk kondisi sakit dan safar, atau hanya Kembali kepada keadaan hadas kecil dan hadas besar yang tidak menemukan air untuk bersuci dari hadas ? menurut pendapat kami, sifat tidak mendapatkan air Kembali hanya kepada hadas kecil dan hadas besar atau illat yang terakhir. Adapun alasan kondisi sakit dan safar berdiri sendiri, tidak mesti tidak mendapatkan air, ada ketentuan rukhsah tayamum. Seandainya tidak mendapatkan air Kembali kepada semua alasan yang disebutkan, maka susunan kalimat menjadi tidak berfaidah. Susunan kalimat cukup dengan “jika kamu berhadas kemudian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah….” Tidak perlu memperinci dengan adanya alasan sakit dan safar.


Dengan demikian kesimpulannya, musafir boleh bertayamum walaupun ada air.



Bandung, 9 April 2025

4 April 2025

M. NATSIR: MENTOR POLITIK UMAT ISLAM



Oleh : Ade Chairil Anwar 

Membincangkan islam politik atau politik islam di lndonesia tak lengkap kiranya bila tak menyebut Mohammad Natsir, seorang intelektual cum aktivis yang cukup dihormati kawan dan disegani lawan politiknya (Ceceng Rucita: 2024). Sebagai murid H. Agus Salim, Natsir merupakan bapak kaum intelektual muslim modernis di Indonesia (Ahmad Syafii Maarif: 1993). Sebagai representasi dari kaum modernis (Deliar Noer: 1985), Natsir anti terhadap penjajajahan dan berusaha berkontribusi dalam setiap aktivitas baik sosial, pendidikan dan politik.


Keseriusan dalam aktivitas politik dibuktikan dengan keterlibatan Natsir dalam perpolitikan nasional lebih kurang selama 15 tahun lamanya mulai dari tahun 1946 sampai dengan 1961. Secara berturut, Natsir tercatat pernah menjadi Menteri Penerangan untuk 3 kabinet antara tahun 1946-1949, Ketua Umum Partai Politik Islam Masyumi tahun 1949-1958), Anggota Parleman Republik Indonesia Serikat (RIS), tanggal 3 April 1950 dikenal dengan Mosi Integral Natsir, kemudaian menjadi Perdana Menteri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1950-1951, Anggota Parlemen RI Fraksi Masyumi tahun 1950-1958, Anggota Konstituante RI tahun 1956-1958, Anggota PRRI tahun 1958-1961 (Lukman Hakiem: 2019).


Selain itu, Natsir juga aktif dalam pergaulan internasional khususnya dunia Islam antara lain menjadi Vice President World Muslim Congress bermarkas di Karachi, Pakistan tahun 1967-1993, anggota Majelis Rābithah Alam Islamī berpusat di Makkah, Saudi Arabia tahun 1969-1993, Dewan Masjid Sedunia berpusat di Makkah, Saudi Arabia 1976-1993, Ketua Tim Penyelesaian Masalah Muslim Moro, Filipina Selatan tahun 1978, anggota dewan pendiri Al-Khairiyah Al-Islamiyyah tahun 1986, anggota dewan pendiri Oxford Islamic Studies, Inggris tahun 1987, Anggota Dewan Kurator International Islamic University Islamabad Pakistan tahun 1987 (Lukman Hakiem: 2019).


Atas kontribusinya tersebut, Natsir menerima berbagai penghargaan diantaranya dari pemerintah Tunisia, Saudi Arabia, Aljazair. Penghargaan dari dalam negeri diraih dari Presiden Dewan Masjid Indonesia (DMI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 6 November 2008 berdasarkan Keppres No. 041/TK/Th. 2008 (Adian Husaini: 2017). Dengan capaian tersebut, rasanya sulit menemukan sosok laiknya Natsir dalam dinamika perpolitikan Indonesia saat ini.


Sekira kita urai kronologi Natsir dalam perpolitikan nasional di masanya, secara sinkronik, Natsir telah memberikan keteladanan kepada umat islam agar menjadi yang terdepan dalam memperjuangkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Selanjutnya, secara diakronik Natsir berupaya memberikan pesan kepada kita bahwa jalur politik merupakan jalur strategis dalam memperjuangkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Dengan kata lain, menjadi politisi merupakan bagian dari membumikan risalah kenabian. Natsir, dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah memberikan keteladanan politik kepada kita semua dan sudah sepatutnya kita meniru dan melanjutkan cita-cita fundamental Natsir tentang prinsip-prinsip demokrasi di Indonesia (Nazrah Ahmad dan Ahmad Nabil Amir: 2018). Jika dipetakan, berikut adalah peta jalan (roadmap) politik Natsir yang bisa ditiru dan dilanjutkan oleh umat islam:


Pertama, memiliki guru politik. Keberhasilan Natsir menjadi politisi tak bisa dilepaskan dari peran guru politiknya, H. Agus Salim, seorang politisi muslim kawakan yang pernah menjabat sebagai panitia sembilan BPUPK dalam mempersiapkan UUD 1945, Menteri Muda (sekarang Wakil Menteri) luar negeri kabinet Syahrir, pembuka hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, dan Menteri Luar Negeri kabinet Amir Syarifuddin I dan II serta Menteri Luar Negeri kabinet Hatta I dan Hatta II (Lukman Hakiem: 2019). Dengan berguru kepada beliaulah Natsir menjadi pena yang tajam yang buah kepiawaiannya bisa kita nikmati hari ini melalui karya-karyanya (Mohammad Muzammil Mohammad Noor: 2022).


Kedua, menjadi aktivis organisasi. Sejak muda, Natsir aktif dalam berbagai kegiatan pergerakan antara lain; Ketua Jong Islamieten Bond, Sarekat Pemuda Islam Cabang Bandung tahun 1928-1932, Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung tahun 1932-1942, Ketua Partai Islam Indonesia (PII) Cabang Bandung tahun 1938, Anggota Dewan Rakyat Kabupaten Bandung tahun 1940-1942, Kepala Biro Pendidikan Kota Praja Bandung tahun 1942-1945, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) tahun 1945-1946 (Lukman Hakiem: 2019). Dengan bekal leadership inilah kemudian menjelma menjadi singa podium yang pidatonya selalu bernas dan dinanti semua orang.


Ketiga, mendirikan partai politik. Kegelisahan Natsir tentang agama dan negara dibuktikan dengan mendirikan Partai Politik Masyumi pada tahun 1945 (Deliar Noer: 1960) sebagai jalur konstitusional dalam menyuarakan kepentingan umat islam. Sebagai pemimpin intelektual dan Moral Masyumi (Allah A. Samson: 1968), Natsir memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan pemikiran sosial dan politik Islam dan juga memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah politik di Indonesia (Kahin: 1993). Tercatat Partai Masyumi pernah memperoleh suara terbesar kedua setelah Partai Nasional Indonesia (Insan Fahmi Siregar: 2013).


Keempat, melawan arus mainstream politik. Keberhasilan Masyumi yang kemudian membawanya pada jabatan-jabatan strategis di pemerintahan membuat Natsir semakin berani dalam menyampaikan pikiran-pikiran kebangsaannya seperti islam haruslah sebagai dasar ideologi negara, mosi integral (Ali Abdurrahim: 2023), serta nasionalisme berbasis pancasila dan islam (Ferdi Yufriadi: 2023). Natsir berpendapat bahwa islam dan negara berhubungan secara integral, simbiosa, dan resiprokal (Ainul Badri: 2020). Menurutnya, kriteria kepala negara tidak cukup dengan elektabilitas, tetapi harus memenuhi standar moralitas, demokratis, dan konstitusional (Ris'an Rusli: 2018).


Sikap kenegarawanan Natsir tercermin pada saat stabilitas nasional terancam tahun 1956, Natsir muncul dengan gagasannya yang dikenal dengan Mosi Integral Natsir (Abdullah: 2019). Mosi Integral tidak hanya menjadi bagian dari sejarah politik Indonesia, tetapi juga memberikan landasan bagi pembangunan demokrasi yang lebih kokoh dan berkelanjutan di masa depan dan memperkuat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia masa kini (Zainuddin Hasan, dkk: 2024).


Kelima, tidak menanggalkan dinasti politik. Pada perjalanan selanjutnya, konstelasi politik yang kurang beruntung terhadap Natsir dan Masyumi yang dibubarkan oleh pemerintah orde baru (Yudi Latif: 2021), Natsir pun dicegah untuk memimpin partai politik (Robert Pringle: 2018), akhirnya Natsir memilih jalan lain yang lebih fleksibel, yaitu melalui dakwah dan Pendidikan dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada tanggal 26 Februari 1967 dengan memiliki tiga konsentrasi utama, yaitu; Pembangunan Masjid, Pengiriman Da’i, dan Penerbitan (Tohir Luth: 2005). Selain itu, sebagai bentuk keseriusannya dalam pengembangan Pendidikan Islam, Natsir juga mendirikan Sekolah Pendidikan Islam (Pendis) pada tahun 1932-1942 (Mohd. Asri Abdul: 2009).


Meskipun demikian, menepinya Natsir dari kancah politik nasional tak membuat para pelanjutnya berhenti membincangkan islam politik, anak ideologis Natsir justeru tersebar melintas batas partai islam, para tokoh reformasi pun tak luput dari anak-anak ideologis Natsir yang tetap berusaha berjuang mengejawantahkan cita-cita politik Natsir. Uniknya, tak satupun anak biologis Natsir yang terlibat dalam perpolitikan nasional. Kenegarawanan Natsir jauh melampaui zaman dan usianya, wajar bila kemudian ia disebut sebagai guru politik umat, pembentuk identitas politik umat islam sekaligus pembentuk identitas politik nasional.

https://persis.or.id/tsaqofah/read/aba-natsir-guru-politik-umat-islam

26 Maret 2025

HASAN BANDUNG SANG PEMBAHARU



Pengaruh Ahmad Hassan bagi perkembangan Persis sangat besar. Pada 1941 ia pindah dari Bandung ke Bangil, Jawa Timur, atas permintaan keluarganya. Dan di kota ini juga Persis berkembang pesat.


“Ahmad Hasan adalah adalah figur utama dalam Persatuan Islam dan ia bertanggung jawab terhadap orientasi khasnya dalam persoalan-persoalan keislaman. Tidak ada orang lain lagi dalam organisasi itu yang mengekspresikan diri sepenuh hati seperti yang dilakukan Ahmad Hassan (Howard Federspiel).


Saat menetapkan Hari Santri Nasional, Presiden Joko Widodo menyebut sejumlah tokoh santri yang ikut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka adalah KH Hasyim As’yari (Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), Ahmad Hassan (Persis), Ahmad Soorhati (Al-Irsyad), dan Mas Abdul Rahman (Matlaul Anwar).


Ahmad Hassan lahir di Singapura pada tahun 1887. Nama kecilnya Hassan bin Ahmad. Sang ayah, Ahmad, merupakan pedagang, pengarang, dan wartawan terkenal di Singapura. Ahmad menjadi pemimpin redaksi surat kabar Nurul Islam di Singapura.


Ahmad Hassan banyak menulis artikel tentang Islam. Selain itu, ia pun sering menyampaikan ide-idenya dalam pidato. Pikiran-pikiran Ahmad Hassan sangat tajam dan kritis. Walaupun sebagai pemuka dan guru besar Persatuan Islam (Persis), pendapat dan sikapnya terhadap takhayul, bid’ah, dan khurafat sama dengan Muhammadiyah.


Pada 1921, Ahmad Hassan pindah dari Singapura ke Surabaya. Dia berniat meneruskan pengelolaan toko tekstil milik pamannya, tetapi rugi. Dia pun kembali ke profesi awal sebagai tukang vulkanisir ban mobil. Sambil menjalankan usahanya, dia menjalin persahabatan dengan tokoh Sarekat Islam seperti HOS Tjokroaminoto, AM Sangaji, dan Haji Agus Salim.


Ahmad Hassan juga pernah belajar menenun di Kediri. Tak puas, pada tahun 1925 dia pindah ke Bandung dan mendapat ijazah menenun di kota tersebut.  Di Bandung, dia bertemu dengan sejumlah saudagar Persis seperti Asy’ari, Tamim, dan Zamzam. Di Bandung, Ahmad Hassan tinggal di rumah keluarga Muhammad Yunus, salah seorang pendiri Persis.


Ahmad Hassan sering datang untuk ceramah dan memberikan pelajaran pada pengajian jamaah Persis. Dengan metode dakwah, kepribadian, dan pengetahuan yang luas, jamaah Persis tertarik pada Ahmad Hassan. Ia kemudian menjadi guru dan tokoh Persis. Hal ini membuatnya batal balik ke Surabaya.


Setelah 17 tahun berjuang dan berdakwah di Bandung, pada 1941 Ahmad Hassan hijrah ke Bangil. Sosok yang suka memakai peci hitam dan sarung dari kain pelekat, jas putih tutup leher, dan sepasang sepatu ini membawa serta percetakannya untuk bekal hidup.


Di tempat barunya dia terus berdakwah melalui penulisan, tabligh, pengajian, dialog, dan perdebatan. Ia menulis buku, mencetak, dan menerbitkannya sendiri.

Ahmad Hassan memberikan andil besar terhadap pemikiran keislaman Presiden Soekarno. Bung Karno kerap meminta buku dan majalah karya Ahmad Hassan saat menjalani masa pembuangan oleh penjajah Belanda di Ende, Flores.


Surat-surat Bung Karno kepada Ahmad Hasan menjadi saksi kedekatan mereka.  Ketika Bung Karno di penjara Sukamiskin, Ahmad Hasan kerap mengunjunginya dan memberikan buku-buku bacaan. Ahmad Hassan menganggap Bung Karno sebagai kawannya.

9 Maret 2025

Mengenal Lebih Dekat Mohammad Natsir



Mohammad Natsir (17 Juli 1908–6 Februari 1993) adalah seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia dari kalangan Persatuan Islam (PERSIS). Di dalam negeri, ia pernah menjabat menteri dan Perdana Menteri Indonesia, sedangkan di kancah internasional, ia pernah menjabat sebagai presiden Liga Muslim Dunia (World Muslim League) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia.


Natsir lahir dan dibesarkan di Solok, sebelum akhirnya pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan kemudian mempelajari ilmu Islam secara luas di perguruan tinggi. Ia terjun ke dunia politik pada pertengahan 1930-an dengan bergabung di partai politik berideologi Islam.


Pada 5 September 1950, ia diangkat sebagai Perdana Menteri Indonesia kelima. Saat menjadi perdana Menteri, ia mengusulkan MOSI INTEGRAL yang menyusun kembaliIndonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sebelumnya berserakan dalam negara-negara bagian yang kecil.


Setelah mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 26 April 1951 karena berselisih paham dengan Presiden Soekarno, ia semakin vokal menyuarakan pentingnya peranan Islam di Indonesia hingga membuatnya dipenjarakan oleh Soekarno. Setelah dibebaskan pada tahun 1966, Natsir terus mengkritisi pemerintah yang saat itu telah dipimpin Soeharto hingga membuatnya dicekal.


Natsir banyak menulis tentang pemikiran Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929; hingga akhir hayatnya ia telah menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain. Ia memandang Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Ia mengaku kecewa dengan perlakuan pemerintahan Soekarno dan Soeharto terhadap Islam. Selama hidupnya, Natsir mendapat tiga gelar doktor honoris causa, satu dari Lebanon dan dua dari Malaysia. Pada tanggal 10 November 2008, Natsir mendapat penghargaan sebagai pahlawan nasional Indonesia.


#sejarahindonesia #mnatsir #infopersis

4 Maret 2025

UNAK - ANIK SEPUTAR RAMADHAN

 


Ust. Zae Nandang



1. Do'a _Allohumma Sallimnie_ ... dst, derajatnya dhoif. Berdoa menyambut Ramadhan bisa dgn doa yg mana saja. Dgn doa ini juga bisa, asal jangan ada anggapan ini doa dari Nabi. 


2. Bulan Ramadhan disebut bulan suci, Pertanyaannya suci dari apa? Apakah karena ada Tazkiyatun Nafs? Lalu ada anggapan, karena dianggap bulan suci, ketika masuk bulan Ramadhan, harus dalam keadaan bersuci, mandi dan dikeramas. Ini bukan dari Islam. Datang dari Upacara orang Hindu. Puasa disebut "Upawasa" atau disebut juga "samsara = sengsara". Menurut mereka puasa dlm rangka menyiksa diri. Karena bulan Ramadhan bulan suci, jadi masuk Ramadhan hrs dalam keadaan suci, sehingga ada acara saling maaf memaafkan sebelum masuk Ramadhan. Ini juga tidak ada dalil, tdk ada syariat maaf maafan pada saat masuk bulan Ramdhan.


3. Doa buka shaum, "_Allohumma laka shumtu wabika amantu ...._", haditsnya dhoif. Atau "_Allohumma laka shumtu wa ala rizkika afthartu_", dhoif juga. Adapun doa "_Dzahabazh-zhoma-u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal-ajru in syaa Alloh_", haditsnya Hasan, bisa diamalkan. Namun kapan dibacanya? setelah atau sebelum minum? Dua duanya bisa, karena tidak ada "taqyid" (penekanan) yang menerangkan setelah atau sebelum.


4. Kaidah kita tidak menggunakan hadits dhoif sebagai hujjah beramal. Karena jika hadits dhoif, berarti bukan dari Nabi.


5. Mana yg harus didahulukan, shaum sunnah (nyawalan) atau qodho shaum? Bukan hukum wajib dan sunnah yang jadi alasan, tapi dalil. Qodho shaum boleh kapan saja sedangkan shaum sunnat syawwal hanya pada bulan syawwal saja. Jadi mau nyawalan dulu bagus karena waktunya terbatas, kalau qodho bisa kapan saja. Meskipun sudah terlewat 1 Ramdhan. Apakah boleh membathalkan shaum qodho? Tdk ada dalil yg membolehkan atau mengharamkan. 


6. Melakukan "badal shaum" (mengqodhokan) yg sudah meninggal? Shaum itu Ibadah badaniyyah, tidak bisa diganti oleh orang lain. Kalau ibadah maliyah bisa. Jika qodho shaum yg syariatnya dengan fidyah, berarti menjadi ibadah maaliyah. Misalnya, orang tua tdk kuat shaum, maka qodhonya dgn fidyah, maka fidyahnya boleh dibayarkan orang lain.


7. Wanita yg nifas dan menyusui, apakah qodho atau fidyah? Yg nifas = haram shaum, menyusui = boleh buka jika membahayakan anak, diganti dgn fidyah. Maka jika berbarengan nifas dan menyusui, maka harus qodho, sebab yg pokoknya nifas. Jadi hrs qodho.


8. Ceramah Tarawih, ceramah sebelum tarawih bagaimana hukumnya, karena itu perbuatan bid'ah tdk ada contohnya? Thalabul ilmi itu wajib, kapan dan di mana pun. Namun jangan menentukan/menetapkan sebelum tarawih, Jadi boleh sebelum boleh sesudah. Tidak adapun tidak masalah. Hal itu kaitannya dengan memanfaatkan ramadhan dan semangat thalabul ilmi di bulan Ramadhan.


9. Sholat tarawih, ditinjau dari sisi jumlah rakaatnya disebut witir (ganjil). Disebut tarawih karena dilakukan di bln Ramadhan. Dan disebut Tahajud ketika dilakukan di luar Ramadhan. Disebut Qiyamul lail atau Qiyamu ramadhan, karena dilaksanakannya malam hari. 


Hadits dari Aisyah. 

Sahabat bertanya kepada Aisyah; Bagaimana kaifiyat sholat malam Rosulullah SAW di bulan Ramadhan ?, Jawab Aisyah, *bahwa Rosululloh melakukan sholatnya 11 rakaat, baik di bln Ramadhan maupun di luar Ramadhan; dengan formasi 4, 4, 3.* 

Hadits ini shohih dan shorih (gamblang). Adapun formasi sholat malam, 2-2-2-2-3; 

8 - 3 ; 6 - 5; 10 - 1. Itu shohih tapi di luar Ramadhan. Haditsnya shohih namun ghoir shorih. 


10. Masbuk ketika sholat tarawih. Jika imam salam maka tambah dan selesaikan dulu yg tertinggalnya. Namun imam harus bijaksana; upayakan menunggu dulu yg masbuk. Agar tdk terus menerus masbuk pada saat itu.


11. Kapan membayar fidyah? Bisa di bulan Ramadhan atau di luar Ramdhan. *Namun dianjurkan di bulan Ramdhan, agar bisa dipakai buka dan sahur, sehingga pahalanya bisa berlipat ganda.*

12 Februari 2025

DIKLATSAR TEMPAAN KADER

 


oleh : ERI BOWIE RIDWAN LATIF*

M.8804052.CE


DIKLATSAR XXXIX MAHAPEKA (Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam) merupakan kegiatan yg bukan hanya program latihan dasar organisasi biasa, kegiatan ini merupakan satu langkah pengkaderan mahasiswa Muslim yang peduli pada komitmen kepencintaalaman yg bersumber pada substansi al Qur'an sebagai dasar pijakan pokok organisasi :

..هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا..

Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya (QS. HUD : 61)

Sejak tahun 1990   MAHAPEKA memilih tagline / motto organisasi ; " Biarkan Kami Berkiprah Dengan Cara Kami Sendiri" merupakan pengejawantahan dari QS. Ar-Ra'd : 11

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

... Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka...

Unit Kegiatan Mahasiswa di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang didirikan pada 7 Maret 1984 dan perkembangan selanjutnya tepat pada tahun 1989 MAHAPEKA tersebar di tiga perguruan tinggi ; 1. Universitas Islam Negeri "SGD" Bandung, 2. Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, dan 3. Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, yang insya Allah dalam waktu dekat akan melaksanakan KONGRES pertamanya, MAHAPEKA merupakan "satu-satunya organisasi" Pencinta Alam di Indonesia yang tersebar di tiga Perguruan Tinggi.

MAHAPEKA menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) ke-39 yang berlangsung dari 28 Januari 2025, Kegiatan ini meliputi materi kelas di kampus, latihan lapangan di Leuweung Tengah, Ranca Upas, serta longmarch menuju kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ahad 9 Februari 2025 sekaligus penutupan oleh pihak Rektorat yang diwakili oleh saudaraku bapak Helmi.

Saya bangga menjadi Anggota Kehormatan dan sekaligus pernah diamanahi  sebagai Ketua Umum MAHAPEKA periode tahun 1990 - 1992.

Pesan saya untuk anggota baru MAHAPEKA : selamat datang di Tenda Besar Generasi yang komit terhadap substansi Al Qur'an sebagai ruh sikap mental kepencintaalaman. Perlihatkanlah prestasi kalian baik dalam studi maupun dalam kehidupan yang nyata, tanpa kepura-puraan.

Allah tidak memaksa kita untuk berpikir keras bagaimana cara menyelesaikannya.

Allah tidak pernah meminta kita untuk terus meratapi rasa sakit yang tidak ingin kita terima.

Allah juga tidak menyuruh kita untuk terus kecewa dengan pilihan dan keputusan-keputusan yang salah.

Allah hanya meminta kita shabar dan shalat.

Sabar untuk tetap bertahan menghadapinya sambil mengusahakan yang terbaik semampu kita.

Shalat untuk berbagi rasa dengan-Nya, mencurahkan rasa syukur sekemampuan diri.

Selebihnya, Allah yang atur karena Dia Maha Pemilik aturan.


*Ketum periode 1990-1992
Ketua FKUB Kab. Bandung
Ketua MUI Kab. Bandung


15 November 2024

WAJAH SUNAN GUNUNG DJATI



Beredar di internet, inilah lukisan wajah Syekh Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Djati, salah seorang Walisongo, pendiri kesultanan Islam Cirebon dan penyebar Islam di Jawa Barat, yang tersimpan di Tropen Museum Amsterdam Belanda. Dilukis oleh cucunya, Pangeran Losari Angkawijaya, 2 tahun sebelum wafatnya tahun 1568.


Karena dilukis 2 tahun sebelum meninggalnya, ketika beliau masih ada, artinya inilah wajah beliau yang paling mendekati aslinya dari semua wajahnya yang selama ini banyak beredar yang itu hasil imajinasi ruhani para pelukisnya. Itu juga konon, rada-rada mendekati tapi tentu saja ini yang paling representatif.


Bila itu benar lukisan tahun 1566, abad ke-16, 2 tahun sblm beliau wafat, dan bila itu benar wajahnya yang paling mendekati, lukisan itu sangat berharga yg mahal sekali nilainya. Masya Allah. 


Alhamdulillah pernah shalat di mihrabnya di Masjid Agung Ciptarasa, Cirebon, yang auranya terasa sejuk dan damai. 

11 November 2024

TOHA DAN RAMDAN, PAHLAWAN BANDUNG SELATAN YANG TERLUPAKAN

 


Oleh : Dadan Wildan - YC1CDN*

(Ketua Yayasan Pendidikan Prima Cendekia Islami)


1. Pendahuluan


Hingga saat ini, kepahlawanan Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, dua pahlawan muda dari Bandung Selatan, belum mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah, baik dalam sejarah lokal kota dan Kabupaten Bandung, maupun dalam sejarah Nasional. Informasi tentang kedua pahlawan ini, masih sangat terbatas. Apalagi, berbagai penafsiran muncul terhadap perjuangan kesyahidan Toha dan Ramdan dalam mengancurkan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot pada tanggal 11 Juli 1946. Padahal, penghancuran gudang mesiu ini telah melemahkan kekuatan tentara Belanda yang akan kembali menjajah bangsa Indonesia.


Sebagai upaya menghargai jasa kedua pahlawan ini, seyogianya kita menghilangkan penafsiran-penafsiran yang tidak didasarkan pada fakta-fakta keras (hard fact) sejarah. Penafsiran yang terlalu jauh, seperti peledakan bom itu sebagai bentuk prustasi Mohammad Toha akibat putus cinta, atau dibelokkan oleh kepentingan Belanda yang tidak mau mengakui kehancuran gudang mesiu itu akibat dari perjuangan kedua anak muda kusumah bangsa ini. 


Belanda bahkan menyatakan, kehancuran gudang mesiu di dayeuhkolot hanyalah kecelakaan akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan. Bahkan, secara politis, perlakuan kepada kedua pahlawan yang gugur itu, malah berbeda. Hanya karena perbedaan lasykar perjuangan. Mohammad Toha dari Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), sementara Mohammad Ramdan dari Lasykar Hizbullah. Marilah kita diskusikan secara jernih, untuk bersama-sama menghargai jasa keduanya secara layak dan proporsional.


2. Siapakah Mohamad Ramdan?


Sejak lahir hingga masa-masa kuliah,  saya hidup di Kampung Leles, Desa Magung (sekarang Desa Mekarsari), Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Tempat lahir hingga masa remaja Mohammad Ramdan. 


Sejak kecil, saya telah mendengar kepahlawanan Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan. Ketertarikan saya kepada kedua pahlawan ini, baru muncul pada tahun 1988, ketika saya kuliah di jurusan Sejarah IKIP Bandung. Beberapa sepuh, saya wawancarai. Karena, saya tidak menemukan informasi yang cukup dan referensi yang memadai tentang keduanya.


Ibu Gandasih, kakak kandung Mohammad Ramdan, mengemukakan masa kecil Mohammad Ramdan:

Mohammad Ramdan dilahirkan pada tahun 1928, di Kampung Leles, Desa Magung, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Ramdan, adalah anak kedua dari keluarga Hassan, seorang petani di desa itu. Ibunya bernama Warsih. Hassan kemudian bercerai dengan Warsih. Warsih kemudian menikah dengan Ahmudi, seorang pedagang beras di pasar Ciparay. Sejak usia satu tahun, Ramdan diasuh oleh ayah tirinya, Ahmudi.


Dalam usia tujuh tahun, pada tahun 1935, Ramdan---yang biasa dipanggil dengan nama kecil Endang---sekolah di Sekolah Rakyat (Volkschool) di Kampung Leles. Kemudian pada tahun 1938 melanjutkan sekolah ke sekolah sambungan (Vervolgschool) di Kecamatan Ciparay. Sebagaimana anak-anak lainnya, selain sekolah ia pun rajin mengaji di Surau dan pesantren. Ramdan termasuk anak yang rajin. Waktu senggangnya diisi dengan membuat berbagai kerajinan tangan, seperti ayakan, korang, hihid, aseupan, dan kekesed.


Menurut teman sepermainannya, Endin, pensiunan Kepala SDN Magung I, sejak kecil Ramdan telah menunjukkan sikap pemberani. Ramdan gemar bermain perang-perangan atau perang gobang (pedang-pedangan yang terbuat dari kayu). Tahun 1942, Ramdan telah menyelesaikan sekolah di Vervolgschool. Pada masa pendudukan Jepang, Ramdan kembali bersekolah di Vervolgscholl selama satu tahun, untuk mempelajari bahasa Jepang.


Tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah kepada Jepang tanpa syarat. Maka mulailah zaman baru bagi rakyat Indonesia yang ditandai dengan berbagai penderitaan. Pada awal pendudukan Jepang, Pemerintah Jepang memberikan latihan-latihan kemiliteran bagi para pemuda di tanah air untuk memupuk tenaga guna kepentingan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya. Bagi para pemuda kita, latihan militer ini dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mempersiapkan diri untuk menyongsong kemerdekaan. 


Para pemuda banyak yang menggabungkan diri antara lain dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air), Heiho, Keibodan, dan Seinendan. Mohammad Ramdan, juga tertarik menggabungkan diri dalam latihan-latihan kemiliteran yang diselenggarakan oleh tentara Jepang. Latihan ini, dijadikan sarana yang baik untuk melatih kepercayaan pada diri sendiri, ketabahan, serta perjuangan tanpa kenal menyerah.


3. Siapakah Mohammad Toha?


Informasi yang saya terima menyebutkan bahwa Toha, lahir di Jalan Suniaraja Bandung pada tahun 1927. Dalam usia satu tahun, ia telah yatim, karena ayahnya, Ganda, seorang pegawai UNIE meninggal dunia. 


Masa kecilnya dihabiskan di kota Bandung. Toha menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Babakan Bandung hingga lulus tahun 1940.  Masa remajanya, ia habiskan untuk bekerja di bengkel motor Cikudapateuh dari tahun 1943 - 1945.


4. Peledakkan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot


Masa pendudukan Jepang di Indonesia tidak berlangsung lama. Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom. Menyerahnya Jepang kepada Sekutu, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Indonesia.


Kesempatan ini, digunakan oleh Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak itu, para pemuda dan rakyat Indonesia bergerak melakukan tindakan pengambilahan kekuasaan dari tangan Jepang. Para pemuda, kemudian menggabungkan diri dalam berbagai lasykar perjuangan, seperti Hizbullah, Sabilillah, Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia, dan berbagai lasykar perjuangan lainnya. 


Mohammad Ramdan, bergabung dengan Lasykar Hizbullah. Sementara Mohammad Toha bergabung dengan Lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia.


Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat kondisi awal kota Bandung menjelang peristiwa peledakan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot sebagai berikut:


Pada bulan September-Oktober 1945 terjadi bentrokan fisik antara pemuda, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan rakyat Bandung dengan tentara Jepang dalam usaha pemindahan markas Jepang. Bentrokan itu terjadi antara lain di Gedung PTT, pabrik senjata dan mesiu di Kiaracondong, dan puncaknya terjadi di Heetjanweg, Tegalega. Pada tanggal 9 Oktober 1945, bentrokan fisik dengan pihak Jepang dapat diselesaikan dengan damai. 


Pemuda, TKR, dan rakyat Bandung berhasil mendapatkan senjata mereka dan kemenangan ada di pihak rakyat Bandung. Namun bersamaan dengan itu, pada tanggal 21 Oktober 1945 satu brigade tentara Sekutu di bawah pimpinan Mc. Donald dari Divisi India ke 23 memasuki kota Bandung.  Peranan Sekutu sebagai wakil kolonial Belanda segera menimbulkan ketegangan dan bentrokan dengan rakyat Bandung. Insiden-insiden kecil yang menjurus pada pertempuran sudah tidak dapat dihindari lagi.


Pada tanggal 24 November 1945, TKR, pemuda, dan rakyat yang dipimpin oleh Arudji Kartasasmita sebagai komandan TKR Bandung memutuskan aliran listrik dengan maksud mengadakan serangan malam terhadap kedudukan Sekutu. Seluruh kota Bandung gelap gulita. Sejak saat itu, pertempuran terus berkecamuk di Bandung. Karena merasa terdesak, pada tanggal 27 November 1945 Sekutu memberikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat Sutarjo yang ditujukan kepada seluruh rakyat Bandung agar paling lambat tanggal 29 November 1945 pukul 12.00 seluruh unsur bersenjata RI meninggalkan Bandung Utara dengan jalan kereta api sebagai garis batas dermakasinya. 


Tetapi sampai batas waktu yang ditentukan, rakyat Bandung tidak mematuhinya. Sejak saat itu, Sekutu---secara sepihak---menganggap bahwa kota Bandung telah terbagi menjadi dua bagian; dengan jalan kereta api sebagai garis batasnya. Bandung bagian utara dianggap milik Inggris, sedangkan Bandung Selatan milik Republik.

Mulailah tentara Sekutu yang terdiri dari tentara Inggris, Gurkha, dan NICA meneror penduduk di bagian Utara jalan kereta api. Mereka menghujani tembakan ke kampung-kampung dengan membabi buta. Kekalahan Republik dalam mempertahankan Gedung Sate/PTT membawa korban 7 orang meninggal dunia sebagai pahlawan.


Pertempuran di UNPAD pada tanggal 1 Desember, Balai Besar K.A., dan Stasiun Viaduct pada 3 Desember menjadi saksi atas semangat juang rakyat Bandung. Sepanjang bulan Desember 1945 sampai Januari 1946, pertempuran masih berlangsung dengan jalan kereta api sebagai garis demarkasinya. Titik utamanya: Waringin, Stasiun Viaduct, dan Cicadas. Demikian pula pertempuran di Fokkerweg berlangsung selama tiga  hari tiga malam. 


Pada tanggal 2 Januari 1946, konvoi Inggris dari Jakarta yang terdiri dari 100 truk tiba di Bandung. Bantuan dari Jakarta terus   mengalir untuk membantu pertahanan Sekutu yang ada di Bandung, sementara di pihak Republik bantuan pun tak kunjung henti dari berbagai daerah. Sekutu merasa tidak aman karena selalu mendapat serangan dari TKR, pemuda, dan rakyat Bandung.


Pada tanggal 24 Maret 1946, Sekutu mengeluarkan ultimatum lagi kepada rakyat Bandung yang masih mempunyai atau menyimpan senjata, bahwa pada malam minggu harus sudah meninggalkan seluruh kota Bandung. Dengan demikian, garis demarkasi yang telah dibuat itu tidak digunakan lagi. Ultimatum itu berakhir sampai tengah malam Senin 24-25 Maret 1946. 


Secara lisan, pihak Sekutu meminta untuk mengawasi daerah dengan radius 11 km sekitar Bandung. TKR dan pasukan lainnya meminta waktu 10 hari karena penarikan TKR dalam waktu singkat tidak mungkin, namun tuntutan itu tidak disetujui. Dengan demikian, pertempuran sulit untuk dihindarkan. Ribuan orang, berduyun-duyun mulai meninggalkan kota Bandung. Bulan Februari sampai Maret 1946, Bandung telah berubah menjadi arena pertempuran. Kantor Berita ANTARA memberitakan sebagai berikut:


Berita yang diterima siang hari ini menyatakan sebagai berikut: Bandung menjadi lautan api. Gedung-gedung dari jawatan-jawatan besar hancur, di antaranya kantor telpon, kantor pos, jawatan listrik. Sepanjang jalan Pangeran Sumedang, Cibadak, Kopo, puluhan rumah serta pabrik gas terbakar. Semua listrik, penerangan di daerah Bandung putus, yakni Banjaran, Ciperu, dan Cicalengka. Yang masih berjalan hanya listrik penerangan daerah Pangalengan. Lebih lanjut dikabarkan, bahwa Inggris mulai menyerang pada tanggal 25 Maret pagi, sehingga terjadi pertempuran sengit yang masih berjalan sampai saat dibikinnya berita ini (Sumber: Berita ANTARA, 26 Maret 1946).


Bandung sengaja dibakar oleh tentara Republik, menjadi Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946. Hal ini dimaksudkan agar Sekutu tidak dapat menggunakannya kota ini sebagai basis pertahanannya. Di sana sini asap hitam mengepul membumbung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi.

Pada tahun 1946, daerah Bandung Selatan diserahkan oleh pihak Sekutu kepada tentara Belanda dari Brigade V yang dipimpin oleh Kolonel Meier yang bermarkas di Kampung Dengki Dayeuhkolot.


Watra, saksi seperjuangan dengan Mohammad Ramdan yang saya temui sekitar pada tahun 1988 mengemukakan:

Pihak lasykar perjuangan Bandung Selatan, kemudian mendirikan Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP) di Baleendah. Sekarang dibangun tugu kujang. Baleendah, menjadi front paling depan yang berhadapan langsung dengan markas tentara Belanda di Dayeuhkolot. 


Batas yang memisahkan kedua pos pertahanan yang saling bermusuhan itu, adalah sungai Citarum. Untuk menghadapi berbagai kemungkinan, markas MPPP selalu dijaga secara bergantian oleh lasykar-lasykar perjuangan yang tergabung di dalamnya.  


Mohammad Ramdan yang juga bergabung dalam MPPP dari lasykar Hizbullah yang bermarkas di Majalaya, juga secara bergantian mendapat tugas jaga di pos MPPP.


Menjelang peledakan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot, Ibu Gandasih, kakak kandung Mohammad Ramdan yang saya wawancarai mengemukakan:

Hari Kamis, pukul 10.00 pagi tanggal 10 Juni 1946,


Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang mesiu yang besar milik Sekutu. TKR bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. 


Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan kosong dari tentara. Tetapi api masih membumbung masih membakar Bandung. Kini Bandung berubah menjadi lautan api. 


Rakyat berduyun-duyun meninggalkan Bandung Selatan untuk mengungsi ke desa-desa. Sekutu tetap melancarkan serangan-serangan tapi jauh di utara ditujukan ke selatan. Sampai saat itu, hanya 16.000 orang pribumi yang tinggal di Bandung Utara, padahal sebelumnya daerah itu berpenduduk 100.000 jiwa.


Tentang hancurnya gudang mesiu di Dayeuhkolot, Watra menuturkan seperti ini. Ketika itu, dua hari sebelum dilakukan infiltrasi, terjadi silang pendapat di antara lasykar-lasykar perjuangan di markas MPPP tentang strategi yang tepat untuk menghancurkan gudang mesiu? Siapa yang akan melakukannya, bagaimana caranya, dan kapan akan dilaksanakan? 


Pada akhirnya, komandan MPPP memberi tugas kepada lasykar-lasykar perjuangan untuk melakukan penyerangan terhadap markas  pertahanan Belanda sekaligus menghancurkan gudang persenjataannya, karena dengan melumpuhkan markas Belanda di Dayeuhkolot, apalagi menghancurkan gudang persenjataannya, akan melumpuhkan kekuatan Belanda di sektor selatan.

Engkos, seorang pensiunan perintis kemerdekaan, mengungkapkan bahwa keputusan penyerangan ke markas Belanda di Dayeuhkolot diambil pada malam Jumat, dan dilakukan pada malam itu juga.  


Menurut penuturan Engkos dan Watra, Kira-kira pukul 21.45 malam Jumat tanggal 10 Juli 1946, ternyata anggota lasykar perjuangan yang siap melaksanakan tugas menghancurkan gudang mesiu itu hanya dua lasykar, yakni Lasykar Hizbullah dengan anggotanya antara lain Mohammad Ramdan, Watra, dan Idas serta Lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) dengan anggotanya, antara lain; Mohamad Toha, Juju, Muin, dan Jojo. 


Mereka akan melakukan penyusupan dengan cara menyeberangi sungai Citarum dan masuk melalui gorong-gorong.

Menurut kesaksian Watra, malam Jumat itu, beberapa orang yang siap melakukan infiltrasi mulai menyusuri pematang sawah, menyeberangi sungai Citarum, dan mendekati terowongan air. Tetapi sebelum masuk terowongan air, mereka diketahui oleh petugas jaga tentara Belanda. Akhirnya terjadilah pertempuran, Watra terluka dengan sembilan luka tembak di sekujur tubuhnya dan ia menimbun diri di sungai untuk menyelamatkan diri, sementara Ramdan dan Toha berhasil masuk terowongan air dengan berbekal dua buah geranat tangan dan sepucuk pistol.


Keesokan harinya, hari Jumat, pukul 12.10 tanggal 11 Juli 1946, terdengar bunyi ledakan dahsyat dari Dayeuhkolot. Gudang Mesiu telah hancur bersama pelaku penghancurannya, Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, keduanya hancur luluh bersama ribuan ton bahan peledak dan amunisi dari berbagai jenis. Keduanya telah melaksanakan tugasnya dengan baik, meski tubuh mereka hancur luluh.


Tanggal 14 Juli 1946, kawan-kawan Mohammad Ramdan dan Mohammad Toha datang menyatakan bela sungkawa. Menteri Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin, memberikan penghargaan berupa piagam dan pedang samurai bagi keluarga Toha dan Ramdan.


Toha gugur dalam usia 19 tahun, dan Ramdan gugur dalam usia 18 tahun. Mereka gugur dalam usia remaja, bukan anak-anak yang baru berusia 14 tahun. Jadi, kalau Mohammad Toha dianggap fiktif, mengapa Mr. Amir Syarifuddin memberikan penghargaan kepada keduanya? Mengapa pula, Arsip Nasional mencatatnya sebagai sebuah dokumen sejarah? Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, bukanlah tokoh sangkuriang. Keluarganya, dapat memberikan kesaksian riwayat hidup keduanya.


Bukti perjuangan keduanya, sebuah tugu dibangun disamping kolam bekas ledakang gudang mesiu itu. Di samping  bekas Markas YON ZIPUR III Dayeuhkolot.


Hari ini saya hanya bisa menyanyi sedih, sebab tidak banyak  orang yang mengetahui dan dapat menghargai perjuangan kedua pahlawan muda ini :


Getih suci nyiram bumi

Tulang setra mulang lemah

Babakti nyungkem pertiwi

Cikal bugang putra bangsa

Nyatana Pahlawan Toha

Pahlawan Bandung Selatan...


Patriot ti Dayeuhkolot

Tugu ngawangun ngajadi ciri

Tarate nu mangkak ligar di empang

Jadi bukti gugurna pahlawan bangsa


*Ketua DPP ORARI Lokal Kabupaten Bandung

4 September 2024

MISA PAUS HARUS HORMATI KEYAKINAN & AKIDAH UMAT ISLAM INDONESIA

 

TOLAK PEMBERANGUSAN SYI'AR ADZAN, MISA PAUS HARUS HORMATI KEYAKINAN & AKIDAH UMAT ISLAM INDONESIA


_1. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir, 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. 4. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. 5. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”_

*[QS: Al Kafirun]*


Sehubungan dengan akan diselenggarakannya acara misa yang dipimpin oleh Paus Fransiskus pada hari Kamis, tanggal 5 September 2024, dimulai pukul17.00 s/d pkl.19.00, yang disiarkan secara langsung dan tidak terputus diseluruh televisi nasional, mengingat pula adanya Surat dari Kemenkoinfo agar Syi'ar Adzan Maghrib yang biasa disiarkan melalui televisi nasional ditiadakan dan cukup diganti dengan Running Text, maka kami TPUA bersama segenap Tokoh, Advokat, Aktivis, Ulama dan elemen pergerakan Islam, menyatakan:

*Pertama,* gelaran Misa Kudus bersama Paus Fransiskus, merupakan kegiatan ritual keagamaan yang memiliki dimensi syi'ar, karena dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, terlebih lagi akan disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun TV nasional. Tindakan ini, termasuk dan terkategori tindakan intoleran, tidak menghormati _local wisdom (Kearifan Lokal)_, karena dilakukan diruang publik, disyiarkan secara terbuka di negeri yang mayoritas penduduknya muslim.

Acara semacam ini, dalam pandangan Islam adalah termasuk dan terkategori pendangkalan akidah Islam, karena tentunya berpotensi besar akan diakses dan ditonton oleh umat Islam. Padahal, dalam doktrin agama Islam yang berkaitan dengan akidah dan ibadah non muslim, berlaku kaidah *"BAGIMU AGAMAMU, BAGIKU AGAMAKU".*

*Kedua,* misi perdamaian yang diusung Paus Franciscus, justru kontradiktif dengan Misa yang dilakukan secara intoleran dan arogan, karena dilakukan diruang publik secara terbuka dan diglorifikasi melalui siaran media, di tengah negeri yang mayoritas penduduknya muslim. 

Semestinya, acara seperti ini cukup dilakukan di gereja dan tidak disiarkan secara terbuka. Karena acara semacam ini, menggores luka ruang keberagaman dan keberagamaan umat  Islam, sekaligus menjadi simbol tirani minoritas terhadap mayoritas.

*Ketiga,* tindakan Kemenkoinfo yang meminta Syi'ar Adzan ditiadakan dan hanya diganti running Text saat berlangsungnya siaran langsung Misa Paus, adalah tindakan pemberangusan Syi'ar adzan, sekaligus melecehkan ajaran Islam. Syi'ar adzan adalah Syi'ar rutin berkala, yang tidak bisa diganggu dan dibatalkan oleh agenda insidental. Semestinya, kegiatan Misa yang menyesuaikan dengan Syi'ar adzan.

*Keempat,* kejadian seperti ini hanya terjadi di era rezim Jokowi. Rezim yang banyak mengeluarkan kebijakan anti Islam, rezim yang tendensi negatif terhadap Islam, sekaligus rezim yang paling sering mendeskreditkan Syi'ar & ajaran Islam.

Karena itu, *kami menuntut agar Misa Paus Franciscus tidak disiarkan secara langsung dan Syi'ar Adzan tetap dikumandangkan seperti biasa.* Jangan sampai, ketegangan antar umat beragama justru terpantik oleh Ibadah Misa Paus yang memiliki misi menjaga perdamaian dunia.


Demikian pernyataan sikap disampaikan.

Jakarta, 4 September 2024.


TTD 


Prof Dr Eggi Sudjana, SH, Msi
Ketua Umum TPUA


Azam Khan, S.H.
Sekertaris Jenderal TPUA 


Ahmad Khozinudin, S.H.
Koordinator Agenda




3 September 2024

Kawal Kunjungan Paus Fransiscus, Hima Persis Jakarta Siap Bersinergi dengan Polda Metro Jaya



Pimpinan Wilayah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PW Hima Persis) Daerah Khusus Jakarta menyampaikan pernyataan dukungan atas rencana kunjungan Paus Fransiscus ke Jakarta yang dijadwalkan pada tanggal 3 hingga 6 September 2024.

“Sebagai organisasi kemahasiswaan yang berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan, kami memandang kunjungan ini sebagai momentum signifikan dalam konteks penguatan hubungan antar umat beragama dan konsolidasi toleransi di negara yang bercirikan Keberagaman Agama ini” kata Ihsan, ketua Hima Persis Jakarta, Selasa (3/9/2024).

Ihsan Ketua Hima Persis Jakarta Menyatakan, pihaknya juga siap untuk berkolaborasi dengan Polda Metro Jaya dalam upaya menjamin keamanan selama berlangsungnya kunjungan di Indonesia Khususnya di Jakarta.

Dilansir oleh Nusantara TV, Polda Metro Jaya telah menyiapkan 4.730 personel gabungan untuk mengamankan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia. Selain berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Siber dan Sandi Negara, serta TNI, pihak kepolisian juga menempatkan penembak jitu di beberapa titik strategis.

Pada kunjungan Asia Pasifik kali ini, Indonesia dipilih menjadi negara pertama yang akan dikunjungi Paus Fransiskus. Sebelumnya, ketika masa kepemimpinan Paus Paulus VI pada 1970 pernah mengunjungi Indonesia untuk pertama kalinya.

Kemudian, kunjungan yang kedua pada 1989 ketika Gereja Katolik Roma dipimpin oleh Paus Yohanes Paulus II. Lalu untuk yang ketiga kalinya akan dilakukan oleh Paus Fransiskus, sekaligus akan tercatat menjadi perjalanan Apostolik yang ke-45 dalam masa kepausannya.

“Kunjungan Pemimpin Gereja Katolik Dunia ke Indonesia ini menjadi peristiwa bersejarah dan penting dalam memperkuat hubungan diplomasi dua negara, meningkatkan toleransi antar umat beragama, sekaligus menekankan nilai perdamaian dan kemanusiaan” terang Ihsan.

Dalam perspektif kemanusiaan dan kebangsaan, kunjungan Paus Fransiscus dapat diinterpretasikan sebagai manifestasi Kebebasan beragama yang diatur dalam Konsitusi Pasal 29 UUD 1945 Ayat 2 “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya”

“Dukungan kami terhadap kunjungan ini dilandasi oleh pemahaman theologis yang bersumber dari Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Mumtahanah ayat 8 yang menyatakan: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” ungkapnya.

“Interpretasi kontemporer terhadap ayat ini, sebagaimana diuraikan oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsirnya Al-Misbah, menekankan pentingnya membangun relasi positif dengan non-Muslim dalam konteks kenegaraan dan kemanusiaan, selama tidak mengancam akidah dan kedaulatan negara, tegas Ihsan” pungkas Ihsan.