oleh : Eri Ridwan Latief
oleh : Eri Ridwan Latief
Kang Mul bukan panggilan tokoh di sinetron. Yang dimaksud Kang Mul di sini ialah kang H. Mulyana. Pria yang lahir di Garut ini merupakan aktivis Brigade dan Shurulkhan Persatuan Islam. Orang yang mengenalnya pasti tahu dengan penampilan yang apa adanya, humoris, bersemangat, dan rela berkorban.
Perkenalan intens dengan kang Mul dimulai sejak pembentukan Shurulkhan di Persatuan Islam. Peristiwa 26 September 2017 tersebut bertepatan dengan 5 Muharram 1439 H. Para tokoh dari Syufu, Thifan, dan Bidgar Jamiyah yang diketuai Dr. Ihsan Setiadi Latif waktu itu mendeklarasikan Shurulkhan Persatuan Islam. Kang Mul ialah satu diantara dua puluh lima pendiri tersebut.
Orang akan cepat kenal, bersahabat, dan ngobrol enak dengan kang Mul. Menggunakan bahasa sederhana kang Mul akan berkata kepada lawan bicaranya. “Kang ti mana?,” tanya kang Mul ke penumpang elf di sebelah kiri saya. “Cilawu,” jawab pria yang ditanya. Laki-laki berempat tersebut rupanya pulang dari pekerjaannya di Bandung. Obrolan pun hangat dilakukan dengan gaya banyolan kang Mul yang mendominasi. Satu diantaranya untuk jangan salah memilih presiden. “Engkรฉ taun 2024 pilih akang nya! Rรฉk nyalon prรฉsiden,” jelas kang Mul. Semua penumpang elf pun tersenyum. Itu diantara obrolan yang saya saksikan sewaktu pulang dari Viaduct menuju Garut.
H. Mulyana sangat punya perhatian dengan gerak perjuangan. Hari Sabtu 16 Juni 2021 direncanakan ada pertemuan Shurulkhan dengan Ketua Bidang Jamiyah yang baru yaitu ustadz H. Uus M. Ruchiyat. Rupanya beliau sangat respek. Pukul 10.52 sudah mengontak saya untuk mengingatkan pertemuan tersebut. Padahal kami pun di Shurulkhan sudah bertemu di 5 Juni 2021.
Diantara obrolan yang cukup membekas dalam benak ialah kaderisasi Brigade melalui Shurulkhan. Beliau sangat berharap bahwa yang masuk ke Brigade Persis telah ditempa Shurulkhan. “Dengan masuk Shurulkhan dipastikan menguasai beladiri, dan ini khas Persis. Ketika anggota Brigade dari Shurulkhan maka otomatis telah mempunyai beladiri. Maka ini kualitasnya akan terjamin,” demikian diantara alasan kang Mul.
Kang Mul benar-benar aktivis sejati. Setelah mendirikan Shurulkhan beliau tidak berpangku tangan. Setiap kegiatan yang diselenggarakan Shurulkhan senantiasa ikut. Manakala ada kemandegan dalam organisasi dan kegiatan kang Mul selalu memberikan ide segar. Tidak hanya usul untuk pelaksana pun siap dan sigap. Rumahnya tidak susah untuk dikunjungi dan diinapi. Villanya sering dijadikan tempat bermusyawarah. Kendaraannya sudah tak terhitung untuk kegiatan. Tak terhingga kegiatan didanai dari dompetnya sendiri. Anngota Diwan I Hakim itu kini telah pergi menghadap Ilahi. Selamat jalan kang haji. Semoga Allah memberikan magfirah dan rahmat-Nya. (/Yusup Tajri)
๐๐๐ก๐ข๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ข ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ โ๐๐ฆ๐๐ก, ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐โ๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐โ๐๐, ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐-๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐ ๐๐ โ๐๐๐๐๐๐๐-๐๐ฆ๐..
๐๐ฎ๐ซ๐ง๐๐ฆ๐ ๐๐๐ซ๐ ๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ข๐ง๐ญ๐๐ง๐
Oleh : Indra Fajar Nurdin
Dibawa takdir aku menepi sampai ke tebing air mata
berjatuhan membuat suara gaduh menderu
bila tak ada penyangga, aku bisa jatuh terhempas
tak bisa pulang
Wajah-wajah basah mendekapku tanpa suara
tapi gemuruh air terdengar terus menerus beradu
dibiarkan tak diusik orang-orang yang datang
telaga pun akhirnya penuh berkubang duka
air mata
bukankah engkau memiliki mata air berlimpah?
biarkan isakmu mengalir
sepanjang pusara yang bertambah menjadi dua
banyak yang ingin kukatakan tak tersampaikan
sekian banyak kalimat tak mampu keluar
biarlah kini diambil alih air mata
kulihat langit tertutup kabut bergulung-gulung
membuat mendung tak kuasa menahan hujan
redup memekat terbawa ke ujung malam
tak butuh satu purnama
matahari dan bulan tersenyum pergi
tinggalkan sisa cahaya
malam pun senyap dalam semesta fana
tinggallah mimpi mendekap nama
menunggu bintang menggantikan purnama
(Bandung 10 Juli 2021, written by KN)
๐๐ ๐๐ฆ๐ฆ๐๐ก๐ขโ๐๐๐๐๐๐ ๐ข๐ ๐๐ข๐กโ๐๐๐๐๐๐โ
๐๐๐๐'๐๐ฆ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ฆ๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ฆ๐ฆ๐โ
๐น๐๐๐โ๐ข๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ฆ
๐๐๐๐โ๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก๐๐..
Oleh: Atip Latifulhayat
Prof.Mochtar Kusumaatmadja tidak bisa dipisahkan dan terpisah dari Unpad. Beliau sangat mencintai Unpad.
Tahun 1988 sebagai Ketua Sema Fakultas Hukum Unpad menghadiri pertemuan Ismahi (Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia) di Bali.
Pada sesi pertemuan ilmiah, hadir sebagai Nara Sumber Menlu Mochtar dan Pak Hassan Wirayudha. Bertindak sebagai moderator, kolega saya dari Sema FH UI.
Ketika memperkenalkan riwayat hidup singkat Pak Mochtar sang moderator antara lain mengatakan, dalam kasus Tembakau Bremen Prof Mochtar mendampingi Prof Sudargo Gautama (Gauw Giok Siong). Begitu mendengar informasi ini Pak Mochtar langsung menginterupsi. Sebentar, tadi salah informasinya, bukan Mochtar mendampingi Sudargo, tapi Mochtar mengajak Sudargo, karena dalam perkembangannya kasus tersebut juga mengandung aspek-aspek hukum perdata internasional dan Sudargo adalah ahlinya. Jadi begitu duduk perkaranya.
Lantas Pak Mochtar bertanya kepada sang moderator, anda dari universitas mana? dari UI Pak. Oh pantas... .. saudara bukan dari Unpad, sambil tertawa kecil.
Memang cinta Prof Mochtar untuk Unpad ... luar biasa.
Selamat jalan menuju keabadian. Insya Alloh amal jariah Bapak menuntun ke Jannatun Naim. Amien.
Oleh: hajar
ุจِุณْู ِ ุงِููู ุงูุฑَّุญْู َِู ุงูุฑَّุญِูู ِ
IKHWAN FILLAH, IN SYAA ALLAH AKAN TERJADI GERHANA BULAN TOTAL PADA HARI RABU
Tanggal 26 Mei 2021 M
Insyaallah Gerhana Bulan Total dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia, dengan keterangan sebagai berikut:
Awal Umbra (U1)=
16:44:56 WIB
Awal Total (U2)=
18:11:23 WIB
Tengah Gerhana (Max)=
18:18:41 WIB
Akhir Total (U3)=
18:25:59 WIB
Akhir Umbra (U4)=
19:52:26 WIB
Sumber: Almanak Islam 1442 H. yang dikeluarkan oleh PP Persatuan Islam (PERSIS)
KAIFIYAH (TATA CARA) SHALAT KHUSUF
Shalat Kusuf (di waktu ada Gerhana Matahari) dan Khusuf (di waktu ada Gerhana Bulan)
Hal Yang Berkaitan Dengan Terjadinya Gerhana
Pada waktu terjadinya selain Shalat Gerhana DUA RAKA'AT, ada perintah:
1- Berkhutbah (seperti khutbah Jum'at, tetapi tidak ada duduk antara dua khutbah, hanya sekali khutbah) setelah shalat dengan memberi nasihat apa yang perlu di waktu itu, menerangkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla yang Maha Besar, dan mengingatkan, bahwa gerhana itu terjadinya bukan karena mati atau hidupnya seseorang, melainkan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. yang ditunjukkan kepada kita.
2- Membanyakan menyebut asma Allah (bertakbir) dengan mengingat kekuasaan-Nya.
3- Berdo'a meminta sekalian apa yang hendak diminta, dan minta ampun dari dosa.
4- Bershadaqah.
5- Memerdekakan hamba sahaya, kalau ada.
KAIFIYAH (CARA) SHALAT GERHANA:
SHALAT GERHANA ITU DUA RAKA'AT SECARA BERJAMA'AH DENGAN TIDAK ADA ADZAN DAN IQOMAH.
SHALATNYA SEPERTI SHALAT SHUBUH, TETAPI DI TIAP-TIAP RAKA'AT DITAMBAH SATU RUKU', YAITU SESUDAH BANGKIT DARI RUKU' DENGAN MEMBACA _"SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH"_ DAN _"RABBANAA WALAKAL HAMDU"_ TERUS BERDIRI SEDEKAP DAN DILANJUTKAN MEMBACA AL-FATIHAH DAN SURAT LAGI, SESUDAHNYA KEMUDIAN RUKU' LAGI, LALU BANGKIT DARI RUKU', LALU SUJUD LALU DUDUK LALU SUJUD, DEMIKIAN SELANJUTNYA PADA RAKA'AT KEDUA.
JADI SHALAT GERHANA ITU DUA RAKA'AT DENGAN EMPAT RUKU' DAN EMPAT SUJUD.
Mulai Takbir : Setelah Shalat Maghrib +- 10 menit, dilanjut Shalat Gerhana, lalu Khutbah,
pengumpulan, dan pendistribusian shadaqah.
Dalil-dalil Shalat Gerhana
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha (berkata):
« ุฃََّู ุงูุดَّู ْุณَ ุฎَุณََูุชْ ุนََูู ุนَْูุฏِ ุฑَุณُِูู ุงِููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู - َูุจَุนَุซَ ู َُูุงุฏًِูุง ุจِุงูุตَّูุงَุฉُ ุฌَุงู ِุนَุฉٌ، َูุชََูุฏَّู َ َูุตََّูู ุฃَุฑْุจَุนَ ุฑََูุนَุงุชٍ ِูู ุฑَْูุนَุชَِْูู َูุฃَุฑْุจَุนَ ุณَุฌَุฏَุงุชٍ »
"Bahwasanya Matahari terjadi gerhana pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau mengutus penyeru mengajak orang-orang berkumpul untuk shalat, kemudian beliau berdiri shalat empat ruku' dalam dua raka'at dan empat sujud". {H.R. al-Bukhari: 1066}
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata:
« ุฎَุณََูุชِ ุงูุดَّู ْุณُ ِูู ุญََูุงุฉِ ุฑَุณُِูู ุงِููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู َูุฎَุฑَุฌَ ุฑَุณُُูู ุงِููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุฅَِูู ุงْูู َุณْุฌِุฏِ ََููุงู َ ََููุจَّุฑَ َูุตََّู ุงَّููุงุณُ َูุฑَุงุกَُู، َูุงْูุชَุฑَุฃَ ุฑَุณُُูู ุงِููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ِูุฑَุงุกَุฉً ุทََِูููุฉً ุซُู َّ َูุจَّุฑَ َูุฑََูุนَ ุฑُُููุนًุง ุทَِูููุงً ุซُู َّ ุฑََูุนَ ุฑَุฃْุณَُู ََููุงَู: « ุณَู ِุนَ ุงُููู ِูู َْู ุญَู ِุฏَُู ุฑَุจََّูุง َََููู ุงْูุญَู ْุฏُ » . ุซُู َّ َูุงู َ َูุงْูุชَุฑَุฃَ ِูุฑَุงุกَุฉً ุทََِูููุฉً َِูู ุฃَุฏَْูู ู َِู ุงِْููุฑَุงุกَุฉِ ุงูุฃَُููู ุซُู َّ َูุจَّุฑَ َูุฑََูุนَ ุฑُُููุนًุง ุทَِูููุงً َُูู ุฃَุฏَْูู ู َِู ุงูุฑُُّููุนِ ุงูุฃََِّูู ุซُู َّ َูุงَู: « ุณَู ِุนَ ุงُููู ِูู َْู ุญَู ِุฏَُู ุฑَุจََّูุง َََููู ุงْูุญَู ْุฏُ ». ุซُู َّ ุณَุฌَุฏَ ، ุซُู َّ َูุนََู ِูู ุงูุฑَّْูุนَุฉِ ุงูุฃُุฎْุฑَู ู ِุซَْู ุฐََِูู ุญَุชَّู ุงุณْุชَْูู ََู ุฃَุฑْุจَุนَ ุฑََูุนَุงุชٍ َูุฃَุฑْุจَุนَ ุณَุฌَุฏَุงุชٍ ، َูุงْูุฌََูุชِ ุงูุดَّู ْุณُ َูุจَْู ุฃَْู َْููุตَุฑَِู ุซُู َّ َูุงู َ َูุฎَุทَุจَ ุงَّููุงุณَ َูุฃَุซَْูู ุนََูู ุงِููู ุจِู َุง َُูู ุฃَُُْููู ุซُู َّ َูุงَู: « ุฅَِّู ุงูุดَّู ْุณَ َูุงَْููู َุฑَ ุขَูุชَุงِู ู ِْู ุขَูุงุชِ ุงِููู ูุงَ َูุฎْุณَِูุงِู ِูู َْูุชِ ุฃَุญَุฏٍ َููุงَ ِูุญََูุงุชِِู َูุฅِุฐَุง ุฑَุฃَْูุชُู َُููุง َูุงْูุฒَุนُูุง ِููุตَّูุงَุฉِ »
Pernah terjadi gerhana Matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Raslullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke masjid kemudian berdiri dan bertakbir dan orang-orang pun berbaris di belakangnya, lalu beliau membaca dengan bacaan yang panjang kemudian takbir sambil ruku' dengan ruku' yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, rabbanรข lakal hamdu' lalu beliau berdiri lalu membaca dengan bacaan yang panjang tetapi kurang dari bacaan yang pertama, kemudian takbir sambil ruku' dengan ruku' yang panjang tetapi kurang dari ruku' yang pertama, (kemudian mengangkat kepalanya) sambil mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, rabbanรข lakal hamdu' lalu beliau sujud (dua kali sujud) kemudian beliau melakukan pada raka'at yang selanjeutnya seperti itu hingga sempurna dikerjakan empat raka'at dan empat sujud dan gerhana Matahari pun berakhir sebelum beriau berpaling, kemudian beliau berdiri dan berkhutbah memuji dan menyanjung Allah sengan sepantasnya, dan beliau bersabda: "Sesungguhnya Matahari dan Bulan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak gerhana dikarenakan kematian dan hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya hendaklah bersegera melaksanakan shalat (gerhana)". {H.R. Muslim: 2129 dan Ibnu Khuzaimah: 1311}
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha (ia berkata):
« ุฃََّู ุงَّููุจَِّู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุฌََูุฑَ ِูู ุตَูุงَุฉِ ุงْูุฎُุณُِูู ุจِِูุฑَุงุกَุชِِู َูุตََّูู ุฃَุฑْุจَุนَ ุฑََูุนَุงุชٍ ِูู ุฑَْูุนَุชَِْูู َูุฃَุฑْุจَุนَ ุณَุฌَุฏَุงุชٍ »
*"Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaannya pada shalat gerhana, beliau shalat empat ruku' dalam dua raka'at dan empat sujud."* {H.R. Muslim: 2131}
Anjuran Bershadaqah, Istighfar, Dan Dzikir Pada Kejadian Gerhana, Dan Keluar Waktu Selesai Shalat Dengan Keadaan Terang:
Dari Asma' Radhiyallahu 'anha, ia berkata:
« ََููุฏْ ุฃَู َุฑَ ุงَّููุจُِّู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุจِุงْูุนَุชَุงَูุฉِ ِูู ُูุณُِูู ุงูุดَّู ْุณِ »
*"Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan memerdekakan hamba sahaya pada hari terjadi gerhana Matahari".* {H.R. al-Bukhari: 1054, Ibnu Khuzaimah: 1324, al-Hakim: 1178, Ibnu al-Jarud: 251, dan al-Baihaqi: 4176}
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« ุฅَِّู ุงูุดَّู ْุณَ َูุงَْููู َุฑَ ุขَูุชَุงِู ู ِْู ุขَูุงุชِ ุงِููู ، ูุงَ َْููุฎَุณَِูุงِู ِูู َْูุชِ ุฃَุญَุฏٍ َููุงَ ِูุญََูุงุชِِู ، َูุฅِุฐَุง ุฑَุฃَْูุชُู ْ ุฐََِูู َูุงุฏْุนُูุง ุงَููู ََููุจِّุฑُูุง ، َูุตَُّููุง َูุชَุตَุฏَُّููุง »
*"Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terjadi gerhana dikarenakan kematian dan hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya hendaklah berdo'a kepada Allah SWT., bertakbir, shalat, dan bershadaqah".* {Muttafaq Alaih dari Aisyah Radhiyallahu 'anha}
Dari Abu Musa Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
« ุฎَุณََูุชِ ุงูุดَّู ْุณُ ، ََููุงู َ ุงَّููุจُِّู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู َูุฒِุนًุง ، َูุฎْุดَู ุฃَْู ุชََُููู ุงูุณَّุงุนَุฉُ ، َูุฃَุชَู ุงْูู َุณْุฌِุฏَ ، َูุตََّูู ุจِุฃَุทَِْูู َِููุงู ٍ َูุฑُُููุนٍ َูุณُุฌُูุฏٍ ุฑَุฃَْูุชُُู َูุทُّ َْููุนَُُูู ََููุงَู « َูุฐِِู ุงูุขَูุงุชُ ุงَّูุชِู ُูุฑْุณُِู ุงُููู ูุงَ ุชَُُููู ِูู َْูุชِ ุฃَุญَุฏٍ َููุงَ ِูุญََูุงุชِِู ، ََِْูููู ُูุฎَُِّูู ุงُููู ุจِِู ุนِุจَุงุฏَُู ، َูุฅِุฐَุง ุฑَุฃَْูุชُู ْ ุดَْูุฆًุง ู ِْู ุฐََِูู َูุงْูุฒَุนُูุง ุฅَِูู ุฐِْูุฑِِู َูุฏُุนَุงุฆِِู َูุงุณْุชِุบَْูุงุฑِِู »
"Telah terjadi gerhana Matahari, (di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka Nabi saw. berdiri dengan terkejut, beliau khawatir terjadi kiamat, lalu beliau menuju masjid, kemudian beliau shalat dengan berdiri, ruku', dan sujud yang sangat lama, saya melihat beliau melakukannya, kemudian beliau bersabda: *"Ini adalah tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang Allah tunjukkan bukan dikarenakan kematian seseorang dan hidupnya, tetapi Allah pemperingatkan hamba-hamba-Nya dengannya, maka apabila kalian melihat sesuatu dari itu maka bersegeralah bangun untuk mengingat-Nya, berdo'a kepada-Nya, dan memohon ampun (dari dosa dan kesalahan) kepada-Nya".* {H.R. al-Bukhari: 1059 & Muslim: 2156, an-Nasa`i: 1502, Ibnu Khuzaimah: 1297, Abu 'Awanah: 1957, dan al-Baihaqi: 1890}
#Semoga bermanfaat๐คฒ
Wallahu A'lam
#Mari Hidupkan Sunnah
@Silahkan dishare๐
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
« ู َْู ุฏََّู ุนََูู ุฎَْูุฑٍ ََُููู ู ِุซُْู ุฃَุฌْุฑِ َูุงุนِِِูู »
*"Barangsiapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya."*
{HR Muslim: 3509, Ahmad: 175499, Abu Daud: 5131, at-Tirmidzi: 2884, Ibnu Hubban: 289, Abu 'Awanah: 5964, al-Baihaqi: 17622, ath-Thayalisi: 611, dan ath-Thabrani: 1681 dari Abu Mas'ud Al Anshari Radhiyallahu 'anhu}
ุจุงุฑََู ุงُููู ูู ูููู
Kiai Muhammad Syarief Sukandi dikenal sebagai muballigh tentara, karena beliau bertugas di ketentaraan. Kadang-kadang, ketika berceramah pun memakai baju dinas. “Bukan sombong, tetapi habis dinas, tidak pulang dulu kerumah, terus ngaji,” katanya suatu ketika. Ustadz Andi, begitu beliau dipanggil di lingkungan Persis, dikenal pula sebagai pengarang. Karya tulisnya meliputi bidang keagamaan, untuk umum atau untuk pelajaran di sekolah, seperti fiqh Islam (bahasa sunda), juga terjemah hadits Arba’in, hadits kuluhan Budi (bahasa Sunda), obor, Tauhid, Laki Rabi (bahasa Sunda). Khusus bagi TNI yang akan bertugas ke Timur Tengah, sebagai bekal, beliau menyusun pelajaran Tulis/Baca huruf Arab sistem enam jam. Sementara di Markas TNI dikjenal dengan panggilan Pak Syarief. Mungkin merupakan keistimewaan baginya bahwa dari mulai bawahan sampai atasan selalu memanggil Pak Syarief. Kata-kata “Pak” di depan Syarief tidak dihilangkan walaupun oleh atasannya.
Karya tulis lainnya dimuat di majalah, misalnya tentang seni, naskah Sempalan Padalangan yang dihimpun oleh Padalangan “Pamager Sari” pimpinan R.U. Partasuanda (alm). Tidak ketinggalan mencintai lagu, Dakwah Kawih, Sifat Dua Puluh, Syukur Nikmat yang dinyayikan oleh Cicih Cangkurileung. Kasetnya beredar terutama di daerah Jawa Barat. Kiai yang memncintai seni ini mengarang pula novel Sunda, seperti Nu Geulis Jadi werejit, perlaya di Tegal Karbala yang kemudian novelnya dimuat secara bersambung di hari8) harian Bandung Pos. Selanjutnya melalui Kodam mencipta lagu Al-Qur’an irama sunda yang kemudian ditangani Menteri Agama (ketika itu Prof.Dr. Mukti Ali), tetapi tidak ada kelanjutannya.
KH. Muh. Syarief Sukanndi adalah putra tunggal pasangan suami istri Yaya atmajaya (seorang perintis kemerdekaan) dan Engkik Rodiyah, dilahirkan di Garut, 7 April 1931. Pendidikannya banyak dijalani di Bandung. Pada usia tujuh tahun (1938) sekolah di Holland Inlandse School (HIS) setingkat SD sambil mesantren di pesantren cikuya, cicalengka dibawah asungan Ajengan Toha. Namun di HIS tidak sampai tamat, karena ketika itu perang berkecamuk, sedangkan mesantrennya berlangsung sampuan sampai tahun 1945. Selama 6 tahun pendidikannya terhenti, karena ketika itu para pemuda diwajibkan masuk laskar TNI hingga tahun 1951.
Setelah 6 tahun di laskar TNI, baru pendidikannya dilanjutkan lagi di Pesantren Persatuan Islam (Pesantren Persis), jl. Pajagalan, Bandung tingkat Tsanawiyah (SLP) lulus tahun 1954. Tahun1962 tamat MuallimIin, setingkat SLA di Pesantren yang sama, dan tahun 1967 lulus Sarjana Muda dari Institut Islam Siliwangi (INISI). Sepuluh tahun berikutnya (1977) lulus Sarjana (S1) dan Fakultas Ussuluddin jurusan Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidikannya tersendat karena dirintis sambil bertugas di tentara.
Sejak tahun 1951 beliau aktif mengajar agama. Sampai 1966 menjadi guru di Tamhidul Mubhalligin (kader mubaligh Persis),dan anggota Veteran RI. Dari 1966-1986 menjadi TNI/AD yang kedua kalinya dengan pangkat Letnan satu. Sampai akhir hayatnya menjadi guru tetap di Pesantren Persis Pajagalan, Bandung. Kesibukannya di tentara (Bintal Dam III Siliwangi) tidak membuat Ustadz Andi berhenti aktif di lembaga lain. Tahun 1966-1967 menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kecamatan Andir, 1967-11978 anggota MUI kota Bandung, dan tahun berikutnya menjadi ketua MUI kec. Bandung kulon. Hasil Musda MUI Kodya Bandung periode 1968/1990.
Dalam mengerjakan ibadah haji tahun 1984 saat sistem muassasah (tanpa melalui syekh) diakuinya, ibarat tentara yang diterjunkan ke medan perang yang tidak diketahui sebelumnya, kalau tidak dihadapi dengan penuh keberanian, kesungguhan hati dan pelaksanaan ibadah semata-mata mengharap rido Alloh, tidak sedikit yang mengerjakan ibadah haji tidak mengikuti ketentuan yang telah dicontohkan oleh Rasullulah.dengan demikian pelaksanaan ibadah hajinya jauh dari apa yang disebut haji mabrur, bahkan bisa jadi ibadah hajinya batal. Syetan dalam mengerjakan ibadah haji sering tampak “bungkeuleukan” muncul di depan mata.
Keluarga beliau adalah keluarga mubaligh, mulai dari beliau sendiri, istrinya (ibu Ustadzah Rokayah Syarif) dan di antara putra-putrinya yang berjumlah 11 orang menjadi mubaligh ditambah 5 orang menantunya yang rata-rata termasuk aktifis Majlis Ulama. “Apapun pekerjaannya, jadi mubaligh jangan di tinggalkan”. Itulah prinsip beliau. KH. Muh Syarif Sukandi termasuk keluarga besar. Ketika beliau wafat, 31 juli 1997, beliau meninggalkan seorang istri, sebelas anak, dan 28 cucu. Kini cucunya telah berkembang menjadi 34 orang ditambahcicit 4 orang.
Diakuinya, meski banyak kegiatan di luar, tidak melupakan keluarga. Seminggu sekali secara rutin diadakan pengajian keluarga di rumahnya di jalan Holis 28/81, kel. Cibuntu. Rumahnyabahkan dibafi dua dengan Madrasah “Al-Quran”. Hal itu dimaksudkan sebagai pembinaan terhadap keluarga menjadi sebulan sekali, tempatnya bergiliran diantara 11 putra-putrinya. Dalam pengajian keluarga, disamping membahas pelajaran agama dan masalah kemasyarakatan juga diskusi dan pemecahan masalah rumah tangga/keluarga. Di ruang tamu rumahnya tertampang tulisan yang cukup besaar dari triplek berwarna kuning Imah Kuring (rumahku surgaku). Tulisan itu terjemahan dari hadits Nabi saw. :Baiti Jannati. Sengaja tulisan itu di pampangkan di dalam rumah, sebagai peringatan (dzikroh) bagi keluarga, agar di rumah tidak ada yang murung, marah atau caci maki. “tidak pantas di surga ada yang murung,” katanya.
Beliau berpegang pada fiman Allah : “famal hayatuddun-ya illa la’ibun walahwun” (kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah permainan dan sendau gurau belaka) “pasang surut permainan laut, panas dingin permainan hari, susah senang permainan hidup. Mengapa harus murung dalam bermain. Ikutilah peraturan permainan itu supaya senang”. Demikianlah kata kyai yang senang humor ini. “Apakah keluarga Bapak tidak boleh menangis? Beliau menjawab : “Di hadapan manusia usahakan terseenyum dan tertawa, tetapi di kala menghadap Allah (shalat, dzikir, atau berdo’a) menangislah sepuas-puasnya. Tangisilah dosa-dosa yang telah di perbuat, mohon ampunlah kepadaNya dan bertobatlah dengan derai aiar mata. Seperti halnya Nabi Adam dan Hawa bila bertobat mereka sambil menangis, demikian pula Nabi Muhammad saw. Sering menangis di kala beliau sedang shalat.
Bulan April 1986 beliau pensiun dari dinas tentara, mengomentari hal itu beliau menegaskan : “bebas tugas itu dari tentara, tetapi dari mubaligh atau juru dakwak tidak ada istilah bebas tugas, dan bila Allah mengingiinkan saya ingin menyusun buku lagi sebelum meninggal”. Kini Haji Muh. Syarif Sukandi telah tiada. Beliau wafat pada 31 juli 1997 di rumahnya, sekira pukul 12 malam, dihadapan istri dan salah seorang putrinya, Ny Lie Armanusah.
(Akhbar Jam’iyyah, No.13 TH. V Juli-Agustus, 2005).
"USTADZ USMAN SHOLEHUDIN"
Pengakuan Sang Adik, Ust. Zae Nandang:
Ust. Usman adalah putra dari pasangan bapak Uya Mulyana dan Ibu Odah, anak pertama dari tujuh bersaudara, tiga laki-laki dan empat perempuan. Semasa sekolah beliau adalah anak yang paling memprihatinkan dibanding adik-adiknya, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau, sekalipun harus jalan kaki menuju pesantren. Sehingga hasil dari keseriusannya dalam belajar membuahkan hasil dan ilmunya bisa dirasakan oleh adik-adiknya secara khusus, begitu juga oleh umat secara umum. Kata-katanya khas, padat dan mendalam, sedikit tapi sarat makna.
Beliau menjadi tumpuan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan permasalahan. Sepeninggal orangtua, beliau betul-betul mengamalkan sabda Rasulullah SAW, Kabiratul-Ikhwah bi manzilatil-ab , (anak yang paling besar itu, harus bisa menggantikan tempat ayah). Hal tersebut tampak sekali ditunjukkannya, sehingga semua saudara, yaitu adik-adiknya yang selalu memiliki permasalahan yang selalu dibereskan oleh beliau. Seluruhnya patuh kepada beliau, apalagi karakter beliau yang tegas terhadap semuanya, beliau selalu menekankan kami betul-betul menjadi orang yang benar. Tidak hanya ketegasannya saja yang dirasakan, tapi rasa sayang seorang kakak kepada adik-adiknya, dirasakan oleh semua. Sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk mendukung beliau.
Peran beliau di keluarga sangat penting terutama dalam hal Birrul Waalidain yang sampai saat ini tidak bisa diikuti oleh adik-adiknya. Terimakasih kepada Tuhan, beliau tidak pernah terhalang oleh apapun. Sempat satu waktu ibu saya ingin pergi ke Cimahi dan ingin diantar oleh Uman (panggilan ibunya kepada Ust. Usman), beliau pasti datang. Mau dalam keadaan capek, sakit, jauh atau sedang ada sekalipun, pasti beliau datang. Kalau saya, belum tentu sanggup seperti beliau.
Beliau juga tidak pernah mengeluh, tidak mencari alasan apapun, selama sang ibu membutuhkannya, pasti beliau datang. Ini adalah pelajaran yang berharga dari beliau kepada adik-adiknya, dalam peringatan dan baik kepada seorang ibu. Makanya, saya tidak menolak beliau ketika memerintahkan pengajian di suatu tempat, sekalipun saya sudah ada jadwal.
Sebagai seorang kakak, beliau sangat terbuka dengan adik-adiknya. Masalah apapun selalu dibahas bersama, sehingga terasa enak oleh semuanya. Beliau adalah orang yang dituakan di keluarga, sehingga kalau pulang ke rumah sangat bisa dirasakan kehadirannya. Kalau Ust. Usman sudah masalah definisi harus seperti apa, maka beres sudah tersebut. Beliau betul-betul figur buat kami.
Sikapnya sangat sederhana, semangat dalam membaca kuat, dan perhatian sekali kepada kami. Kami semua mendukung untuk semangat membaca, cinta akan ilmu dan tidak berhenti belajar, baik dilembaga pendidikan yang formal maupun non formal.
Beliau selalu menuntut kami untuk terus meningkatkan keilmuan kami. Pernah satu waktu saya mengisi pengajian di Cimahi, memberikan pengajian beliau dengan kata-kata khasnya mengatakan, “suaranya kedengaran sampai sini, tapi hati-hati, awas tidak ada isinya”. Pernah juga saya dan Ust. Ua Saepudin mengisi pengajian di Cipatat, terus jamaah Cipatat mengatakan Alhamdulillah yang mengisi pengajian bagus-bagus. Ust. Usman Cuma berkomentar “Lilin juga terang kalau di tempat gelap”. Saya memahami komentar yang ditujukan kepada saya, omong kosong saya terus meningkatkan keilmuan. Setiap kali beliau berkunjung ke rumah, pasti beliau ngomong “ dapat nambah kitab teh”(Belum bertambah lagi kitabnya). Jadi beliau selalu mengadili kami kitab dan buku yang baru, punya banyak membaca. Maka, ketika beliau wafat kami sangat kehilangan.
Pesan yang saya ingat adalah ketika saya berdua di Maleer, kemudian ada kuli Batako lewat, beliau nanya, mau bawa pake tenaga atau pake ilmu ?. Artinya jangan jadi orang yang cape-cape kesana kemari bawa ijazah untuk mencari pekerjaan, tapi wujudkan diri menjadi pribadi yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh orang lain, punya apa kita, sehingga orang lain datang kepada kita.
Seperti A Hassan saja, walau tempatnya jauh, tapi banyak jamaah yang selalu berdatangan ke tempat beliau untuk belajar, karena pada diri A Hassan ada sesuatu yang diperlukan jamaah, maka mereka datang sekalipun harus menempuh jarak yang jauh. Kami berharap, ada yang memulai perjuangan dan bersemangat, saya pihak keluarga yang berusaha menyelesaikan jejak langkah beliau menjadi jariyah buat semuanya.
Ust. Usman sudah aktif di Jam'iyyah sejak masih muda, kecintaannya terhadap Persis tidak lepas dari peran bapak Uya yang sebelumnya sering mengikuti kegiatan A Hassan, sehingga ketertarikannya kepada A Hassan membuat bapak Uya menyekolahkan anak-anaknya ke Pesantren Pajagalan. Mulai dari Pesantrenlah Ust. Usman mengenal tokoh-tokoh Persis seperti KH. E. Abdurrahman, dan dari beliaulah kakak saya mendapatkan ilmu, dan ilmunya semakin terasah sewaktu beliau menjadi asisten Ust. HE Abdurrahman.
Sepengetahuan saya, beliau hanya belajar kepada Ust. Abdurrahman saja, sehingga ilmu dan karakternya melekat pada diri Ust. Usman. Keberhasilan beliau menjadi seorang ustadz adalah bentuk dari terlaksananya cita-cita orangtuanya. Beliau adalah anak yang pertama yang mewujudkan keinginan bapak dan ibu, yang ingin mempunyai anak seorang ustadz.
Ust. Usman mengawali kiprah di Jam'iyyah setelah aktif di Pemuda Persis pada usia 17 tahun. Setelah itu sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah lepas dari Persis. Beliau pernah berpesan, “ tong kabita ku imah batur najan alus ” (jangan tertarik dengan rumah orang lain, meskipun bagus), meskipun ada bagian rumah yang bocor, perbaiki karena itu rumah kita dan tidak perlu membangun rumah yang baru lagi. Cukup yang ada saja, tinggal di urus dengan baik, sebab belum tentu yang baru juga bagus.
Dalam pandangannya, Jam'iyyah Persis memiliki ciri khas unik, sehingga menarik perhatian orang lain. Karena kita menggarap sesuatu yang tidak digarap oleh orang lain, kalau garapan kita sama dengan yang lain maka orang tidak akan mau bergabung dengan Persis. Tapi, kadang-kadang kritkannya terhadap jam'i krityyah, itu bukan hal yang aneh, karena memang karakternya seperti itu. Kritikan yang keras merupakan rasa sayang beliau kepada Jam'iyyah, makanya sampai akhir hayatnya tidak pernah lepas dari Persis.
Sumber: Majalah Risalah no.9 th.52 Shafar 1436 / Desember 2014 hlm.16-18 Rubrik Kajian Utama.
oleh M Rizal Fadillah, pemerhati politik dan keagamaan.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas menyebut Pemerintah Saudi belum setuju vaksin Sinovac sebagai syarat masuk ke negaranya karena tak bersertikat WHO. Ini kabar buruk lagi warga bagi jamaah Indonesia yang gagal melaksanakan umrah dan haji meski sudah disuntik vaksin. Sebab mereka disuntk vaksin Sinovac. Betapa buruk nasib bangsa ini.
Coba direnungkan lebih dalam benarkah tingkat kesulitan melaksanakan ibadah umrah dan haji ini hanya disebabkan faktor vaksin? Sepertinya banyak faktor sehingga Pemerintah Saudi cenderung mempersulit walau tentu tak akan terungkap secara eksplisit.
Pertama, Indonesia di masa pemerintahan Jokowi ini kebijakan politiknya cenderung anti Arab. Lewat Islam Nusantara memusuhi hal berbau Arab. Para buzzer istana terus memojokkan dengan istilah Kadrun persis masa PKI.
Kedua, Menteri Agama Yaqut Cholil bukan prototipe seorang memahami agama secara mendalam, apalagi ulama. Anti Wahabi dan Salafi yang tentu menyakitkan Saudi. Koboi sinkretisme dari paham keagamaan. Dari jaga gereja hingga doa campur-campur.
Ketiga, Pemerintah Indonesia menyakiti ulama. Kasus HRS tidak lepas dari pemantauan Saudi. HRS yang dihormati di Saudi ternyata dinistakan di Indonesia. Bahkan enam pengawalnya dibunuh sadis oleh aparat negara.
Tokoh Anti Umrah
Keempat, gonjang-ganjing calon Dubes Saudi yang ditunjuk Jokowi adalah Zuhairi Misrawi, tokoh yang mengecam Saudi atas ’pemerasan’ devisa. Tokoh anti umrah dan menganjurkan pilihan ziarah kubur daripada umrah ke Saudi Arabia.
Kelima, dalam konteks global Saudi Arabia lebih dekat dan bersahabat dengan Amerika ketimbang Cina. Sedangkan Indonesia sedang akrab dan bermain-main dengan Cina. Vaksin pun dari Cina, Sinovac yang dianggap masih rentan bagi penularan Covid-19. Kualitas Sinovac yang diragukan dan bermutu rendah.
Keenam, di samping HRS dan pimpinan FPI keturunan Arab yang dihabisi secara politik, Gubernur DKI Anies Baswedan pun terus menerus dimusuhi dan ditekan oleh pemerintah Jokowi. Potensi untuk maju pada Pilpres ke depan dihalangi secara masif.
Semestinya Indonesia mengerti bahwa jamaah umrah telah menjadi korban. Sejak awal lobi Indonesia terhadap Saudi selalu lemah. Apalagi kini di era Covid-19 yang terasa semakin babak belur. Harus ada perubahan kebijakan politik jika hendak membantu umat Islam agar dapat melaksanakan ibadah umrah dan haji ke Saudi Arabia. (*)
Bandung, 13 April 2021
https://pwmu.co/186779/04/13/umrah-dan-haji-tertolak-ini-sebabnya/
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Masyhur hadits tentang pengaruh puasa terhadap kesehatan, “berpuasalah kamu akan sehat”. Bagaimana statusnya sanadnya?
Hadits ini diriwayatkan dari jalur Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhum.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu secara marfu’,
ุงุบْุฒُูุง ุชَุบَْูู ُูุง، َูุตُูู ُูุง ุชَุตِุญُّูุง، َูุณَุงِูุฑُูุง ุชَุณْุชَุบُْููุง
“Berperanglah niscaya kalian akan mendapatkan harta rampasan, berpuasalah maka kalian akan sehat, dan bersafarlah maka kalian akan kaya.” (HR. Al-‘Uqailiy dalam al-Dhu’afa’ alKabiir (2/92), al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (8/174))
Di dalam sanadnya terdapat Zuhair bin Muhammad yang meriwayatkan dari Suhail bin Abi Shalih secara sendirian.
Imam Al-Thabrani berkata: hadits ni tidak diriwaytakan dari Suhail dengan lafadz ini kecuali oleh Zuhari bin Muhammad.
Hadits ini dikeluarkan juga oleh Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil (2/357) dari jalur Abi bin Abi Thalib dengan isnad yang batil, karena di dalamnya terdapat Husain bin Abdillah bin Dhamirah yang tertuduh sebagai pendusta. Karenanya, Ibnu Adi memasukkan hadits ini ke dalam Munkaraat (hadits-hadits yang diingkarinya).
Ibnu Adi juga meriwayatkan lafadz ini dalam al-Kaamil (7/57) dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma dengan isnad yang batil juga. Di dalamnya terdapat Nahsyal bin Sa’id yang tertuduh sebagi pendusta.
Jelaslah bahwa hadits ini dari sisi sanad tidak shahih dari segala jalurnya. Sebagian ulama menggolongkannya ke dalam hadits munkar. Sejumlah ulama lain, seperti Imam Al-‘Uqaily, Imam al-‘Iraqy, dan Syaikh al-Albani telah mendhaifkannya. Sebagian yang lain, bahkan, ada yang menghukuminya sebagai hadits maudhu’, seperti Imam al-Shaghani rahimahullah (Al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah: 90)
Syaikh al-Muhaddits Abdullah al-Sa’ad berkata, “aku tidak menemukan ada seorang pun dari ulama hadits yang telah menyahihkannya.”
Apakah Maknanya Tertolak
Dari sisi sanad, hadits ini dihukumi dhaif. Namun sejumlah ulama menyatakan bahwa maknanya adalah benar. Puasa memiliki faidah kesehatan yang sangat banyak. Ini diakui oleh banyak ahli kesehatan; fisik maupun kejiwaan. Jika seseorang berpuasa dengan cara yang benar dan dia tidak memiliki homorbit (penyakit bawaan) yang berat dan kondisi yang berbahaya ketika puasa maka ia akan mendapatkan manfaat kesehatan yang luar biasa.
Shiyam memiliki dampak luar biasa untuk dien seseorang sehingga membentuk ketakwaan dalam diri. Ini disebutkan langsung dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183). Namun perlu juga ditambahkan, bahwa puasa juga memiliki manfaat duniawi seperti ekonomi masyarakat muslim, kehidupan sosial, dan kesehatan mereka.
Keumuman faidah duniawi ditunjukkan oleh keumuman makna “khairiyah” (kebaikan) dalam shiyam. Tidak terbatas kepada manfaat ukhrawi saja.
َูุฃَْู ุชَุตُูู ُูุง ุฎَْูุฑٌ َُููู ْ ุฅِْู ُْููุชُู ْ ุชَุนَْูู َُูู
“Dan jika kamu berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Abu Umamah Radhiyallahu 'Anhu juga menguatkan hal ini. Saat itu Abu Umamah datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata “Ya Rasulallah, perintahkan kepadaku untuk beramal. Beliau menjawab,
ุนููู ุจุงูุตูู ؛ ูุฅูู ูุง ุนุฏู ูู
“Hendaknya kamu berpuasa, karena tida ada amal yang bisa menandinginya.”
Abu Umamah berkata lagi, “Ya Rasulallah, perintahkan kepadaku untuk beramal. Beliau menjawab,
ุนููู ุจุงูุตูู ؛ ูุฅูู ูุง ุนุฏู ูู
“Hendaknya kamu berpuasa, karena tida ada amal yang bisa menandinginya.” (HR. Al-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)
Dalam riwayat al-Nasa’i, “perintahkan kepadaku mengerjakan amal yang dengannya Allah akan memberi manfaat besar untukku.” Beliau menjawab,
ุนููู ุจุงูุตูู ؛ ูุฅูู ูุง ุนุฏู ูู
“Hendaknya kamu berpuasa, karena tida ada amal yang bisa menandinginya.”
Manfaat ini bukan saja mencakup kemanfaatan ukhrawi, tapi juga manfaat duniawi, seperti kesehatan. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]