16 Desember 2021

HANYA SURGA ALLAHLAH TEMPATMU REGIAKU

 

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى…فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ. 

*Percakapan titipan Allah*
(Regia Radlita Latiefah binti Hilman Latief)

Bismillah...
Saya *Regia Radlita Latiefah*. Melalui WA ini, mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang selama ini telah diperbuat.
Doakan Saya, untuk diberi yang terbaik oleh Allah. Semoga Allah memberkahi. 😇 Aamiin.

*HCU RSHS, 14 December 2021. pukul 07.44 wib*

Untuk anakku *REGIA* :

"ALLAH mengumpulkan kita untuk satu alasan".

Entah untuk memberi atau menerima.

Entah untuk belajar atau mengajarkan.

Entah untuk bercerita atau mendengarkan.

Entah untuk sesaat atau selamanya.

Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya.

Lambaian tanganmu meski terlihat jauh dari ruang HCU, membuat kami lega dan yakin, *Regia* akan segera sehat kembali.

Semua itu tidak ada yang sia-sia karena Allah yang berkehendak, baik sakit maupun sehat,
gembira maupun sedih...,
itu semua adalah takdir-Nya.

Tetaplah tegar dan kuat *Regia anakku* , janganlah ragu untuk selalu berdo'a minta pertolongan kepada Allah. Kami semua senantiasa berdo'a; untuk kesembuhan *Gia*

Tetap shabar...
Tetap kuat...
Hadapi dengan ikhlas anakku, insya Allah ujian ini akan segerq berlalu,
Sekali lagi wa Eri katakan: *Allah akan menyembuhkanmu, anakku...*, yakini itu*

شفاها اللّٰهُ

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

*RSHS Selasa, 14 Desember 2021 11.35 wib*


Bagai petir disiang bolong .

Allah lebih menyayangimu; REGIA RADLITA LATIEFAH anakku dengan mengambilmu lebih cepat ......, 

walau berat rasanya menerima kenyataan ini.

Engkau lahir di 13 Juli 1999

Engkau kembali pada dekapan Allah di usia 22 tahun, anakku yang shalehah...

Engkau mampu menginspirasi kami bagaimana memaknai keshabaran.

Engkau adalah bidadari surga...

Engkau laksana mutiara hidup kami..

Engkau adalah belahan jiwa kami, anakku

Kusimpan harapanmu di awan untuk keabadian

Ku amalkan nasihatmu dibumi untuk ku jadikan amal yg senantiasa terkirim kebaikanmu menjadi pahala keshalehanmu 


Kami yakin ; Engkau adalah penghuni surga Allah

Tenanglah disisi Allah, anakku... 


*Ciapus, Selasa 14 Desember 2021 pukul 22.15 wib*.


Untuk adikku ; Hilman Latief  dan Dian Diana  ayah dan Bunda Regia Radlita Latiefah, kalian adalah orang tua yang kuat, cerdas, shaleh, dan shabar.

Yaa Rabb berkahi dan lindungilah keluarga adikku dengan limpahan kasih sayang-Mu. Aamiin..

29 November 2021

PERISTIWA SEPUTAR MUNAS XI ORARI 2021

 



Oleh : R. Syarif Hidayat - YB1FWO

1. Proses pertanggungjawaban belum selesai, pemandangan umum anggota blm ada, ketua sidang main ketok palu dengan kilat menerima pertanggung jawaban, padahal banyak catatan yg sdh saya siapkan untuk menanggapi laporan tsb,... hak anggota dimatikan dg diketuk "setuju" sebelum kami diberi kesempatan bicara sesuai ketentuan. .... ini cacat

2. Pemilihan DPP dilaksanakan sebelum PERTANGGUNGJAWABAN PENGURUS usai tidak sesuai ketentuan yg sudah disepakati dalam tata tertib yg sudah disepakati malem sebelumnya , harusnya sidang komisi dulu tapi sidang komisi diskip langsung ke pemilihan dpp.

3. Pemilihan DPP secepat kilat tidak memberi kesempatan orda diluar kelompok 21 untuk menyampaikan pilihannya. Praktis itu dpp paket yg sesuai keinginan kubu A tapi blm mengakomodasi 12 orda lainnya,

Intinya pimpinan sidang tidak capable memimpin,  yg akhirnya memicu protes dan protes tsb tidak ditangani dg benar sehingga akhirnya ada 2 utusan daerah  emosi tidak terkendali, meja didorong maju mendekati pimpinan sidang .... dan begitu berkerumun di depan, polisi yg stand by (kapolsek) langsung menghentikan  acara dan menyuruh semua orang keluar ruangan.
Sidang dihentikan sampai waktu yg tidak ditentukan

Saran saya :
Marilah kita cool down, tidak mereka-reka apa yg terjadi didalam ruang sidang yg bisa menimbulkan kesimpang siuran, kita percayakan kepada pihak yang kompeten (DPP dan Pengurus, bersama SC dan OC MUNAS XI)  menyelesaikan seluruh proses sampai tuntas. 

Mari lanjutkan hidup kita spt semula, ... kita dx ing on air, nikmati keindahan menjadi amatir radio.  Kita rakyat jelata orari harus tetap bersatu menikmati hobi ini dg baik

Salam amatir radio

de YB1FWO

26 November 2021

HALAQOH KEBANGSAAN

 





Sebagai lembaga MANDATORI berdasarkan PBM Nomor 9 & 8 tahun 2006, FKUB harus mampu menjadi garda terdepan pemerintah dalam membangun moderasi beragama terutama dalam membangun kebersamaan merajut silaturrahmi antar umat beragama khususnya di Kabupaten Bandung.


BEDAS dalam merajut KEBHINEKAAN,

BEDAS dalam menjaga MARWAH Pemerintahan Kabupaten Bandung,

BEDAS dalam menetapkan keputusan yang berperikeadilan.


#kesbangpolkabbandung 

#fkubkabbandung

23 November 2021

UNTUK ANAK-ANAKKU




 "Ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kesatuan.. Jika saling mengenal di antara mereka maka akan bersatu. Dan yang saling merasa asing di antara mereka maka akan berpisah.”

Dear Pak Dudung

 


Oleh : Moeflich Hasbullah

Silahkan Pak Dudung berlakukan. Yang sudah terjadi, Pak Hartonya menua, meninggal dunia dan meninggalkan jejak buruk otoriter, sementara "radikalisme"-nya tidak pernah hilang. 


Jangankan Pak Dudung, negara raksasa AS dan Cina saja, jika memerangi radikalisme (maksudnya pasti Islam), AS dan Cina-nya kelak akan bubar atau musnah, dan radikalisme masih akan tetap hidup. Dalam sejarah, radikalisme lebih tua dari usia negara-negara yang pernah berdiri dan sudah ditelan sejarah.


Memerangi radikalisme selalu akan menjadi pekerjaan sia-sia. Mengapa? Karena kita memerangi akibat bukan sebab, memerangi dampak bukan sumber, mengobati sakit bukan menghilangkan kebiasaan buruk yang mendatangkan penyakit. 


Radikalisme masalahnya bukan di "radikalisme"-nya tapi di akar-akarnya: ketidakadilan sosial, ketidakadilan hukum, ekonomi dan politik. Selama itu semua ada, radikalisme àkan tetap hidup, subur, apalagi sumber-sumber itu dipelihara. Ya jangan mimpi radikalisme bisa dihilangkan. 


Memerangi radikalisme dalam konsteks itu hanya akan menimbulkan banyak korban warga negara yang sakit hati kehilangan nyawa dan anggota keluarga, hukum dan penguasa yang tidak adil, yang mungkin kita anggap enteng, yang di akhirat kelak akan lapor kepada Tuhannya di yaumul hisab mengadukan kedzaliman penguasanya kepada mereka sebagai rakyat. Siapa yang bisa melawan kekuasaan Tuhan disana? Di dunia saja, kita diberi sakit gigi saja, sakitnya minta ampun, apalagi stroke, hidup menderita. Apalagi adzab disana. Ngeri.


Bila yang ditekadkan Pak Dudung adalah memerangi ketidakadilannya, yang secara psiko-sosiologis menjadi akar yang melahirkan radikalisme, Pak Dudung akan menghasilkan tiga hal: Pertama, Pak Dudung akan dikenang sebagai pahlawan pembela keadilan, walaupun tentu sangat berat dan tidak berhasil maksimal. Kedua, radikalisme akan menurun secara drastis. Ketiga, Pak Dudung akan dicintai Tuhan. Saya berani jamin itu!!


Saya tidak tahu kebenaran ucapan dan tekad Pak Dudung itu, gak apa-apa, ini inspirasi saja buat siapapun yang ingin memerangi radikalisme. Saya pun memeranginya dengan cara memberikan pemahaman historis-sosiologis agar kita tidak salah langkah dan kita bisa melangkah dengan benar. Wallahu a'lam.***

8 November 2021

TOHA & RAMDAN, PAHLAWAN BANDUNG SELATAN YANG TERLUPAKAN

 

 


Oleh

Dadan Wildan


@ Pendahuluan


Hingga saat ini, kepahlawanan Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, dua pahlawan muda dari Bandung Selatan, belum mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah, baik dalam sejarah local kota dan Kabupaten Bandung, maupun dalam sejarah Nasional. Informasi tentang kedua pahlawan ini, masih sangat terbatas. Apalagi, berbagai penafsiran muncul terhadap perjuangan kesyahidan Toha  Ramdan dalam mengancurkan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot pada tanggal 11 Juli 1946. Padahal, penghancuran gudang mesiu ini telah melemahkan kekuatan tentara Belanda yang akan kembali menjajah bangsa Indonesia.


Sebagai upaya menghargai jasa kedua pahlawan ini, seyogianya kita menghilangkan penafsiran-penafsiran yang tidak didasarkan pada fakta-fakta keras (hard fact) sejarah. Penafsiran yang terlalu jauh, seperti peledakan bom itu sebagai bentuk prustasi Mohammad Toha akibat putus cinta, atau dibelokkan oleh kepentingan Belanda yang tidak mau mengakui kehancuran gudang mesiu itu akibat dari perjuangan kedua anak muda kusumah bangsa ini. Belanda bahkan menyatakan, kehancuran gudang mesiu di dayeuhkolot hanyalah kecelakaan akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan. Bahkan, secara politis, perlakuan kepada kedua pahlawan yang gugur itu, malah berbeda. Hanya karena perbedaan lasykar perjuangan. Mohammad Toha dari Barisan Banteng Republik Indonesia, sementara Mohammad Ramdan dari lasykar Hizbullah. Marilah kita diskusikan secara jernih, untuk bersama-sama menghargai jasa keduanya secara layak dan proporsional.


Siapakah Mohamad Ramdan?


Sejak lahir hingga masa-masa kuliah,  saya hidup di Kampung Leles, Desa Magung (sekarang Desa Mekarsari), Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Tempat lahir hingga masa remaja Mohammad Ramdan. Sejak kecil, saya telah mendengar kepahlawanan Mohammad TYoha dan Mohammad Ramdan. Ketertarikan saya kepada kedua pahlawan ini, baru muncul pada tahun 1988, ketika saya kuliah di jurusan Sejarah IKIP Bandung. Beberapa sepuh, saya wawancarai. Karena, saya tidak menemukan informasi yang cukup dan referensi yang memadai tentang keduanya.


Ibu Gandasih, kakak kandung Mohammad Ramdan, mengemukakan masa kecil Mohammad Ramdan:

Mohammad Ramdan dilahirkan pada tahun 1928, di Kampung Leles, Desa Magung, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Ramdan, adalah anak kedua dari keluarga Hassan, seorang petani di desa itu. Ibunya bernama Warsih. Hassan kemudian bercerai dengan Warsih. Warsih kemudian menikah dengan Ahmudi, seorang pedagang beras di pasar Ciparay. Sejak usia satu tahun, Ramdan diasuh oleh ayah tirinya, Ahmudi.


Dalam usia tujuh tahun, pada tahun 1935, Ramdan---yang biasa dipanggil dengan nama kecil Endang---sekolah di Sekolah Rakyat (Volkschool) di Kampung Leles. Kemudian pada tahun 1938 melanjutkan sekolah ke sekolah sambungan (Vervolgschool) di Kecamatan Ciparay. Sebagaimana anak-anak lainnya, selain sekolah ia pun rajin mengaji di Surau dan pesantren. Ramdan termasuk anak yang rajin. Waktu senggangnya diisi dengan membuat berbagai kerajinan tangan, seperti ayakan, korang, hihid, aseupan, dan kekesed.


Menurut teman sepermainannya, Endin, pensiunan Kepala SDN Magung I, sejak kecil Ramdan telah menunjukkan sikap pemberani. Ramdan gemar bermain perang-perangan atau perang gobang (pedang-pedangan yang terbuat dari kayu). Tahun 1942, Ramdan telah menyelesaikan sekolah di Vervolgschool. Pada masa pendudukan Jepang, Ramdan kembali bersekolah di Vervolgscholl selama satu tahun, untuk mempelajari bahasa Jepang.


Tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah kepada Jepang tanpa syarat. Maka mulailah zaman baru bagi rakyat Indonesia yang ditandai dengan berbagai penderitaan. Pada awal pendudukan Jepang, Pemerintah Jepang memberikan latihan-latihan kemiliteran bagi para pemuda di tanah air untuk memupuk tenaga guna kepentingan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya. Bagai para pemuda kita, latihan militer ini dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mempersiapkan diri untuk menyongsong kemerdekaan. Para pemuda banyak yang menggabungkan diri antara lain dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air), Heiho, Keibodan, dan Seinendan. Mohammad Ramdan, juga tertarik menggabungkan diri dalam latihan-latihan kemiliteran yang diselenggarakan oleh tentara Jepang. Latihan ini, dijadikan sarana yang baik untuk melatih kepercayaan pada diri sendiri, ketabahan, serta perjuangan tanpa kenal menyerah.


Siapakah Mohammad Toha?

Informasi yang saya terima menyebutkan bahwa Toha, lahir di Jalan Suniaraja Bandung pada tahun 1927. Dalam usia satu tahun, ia telah yatim, karena ayahnya, Ganda, seorang pegawai UNIE meninggal dunia. Masa kecilnya dihabiskan di kota Bandung. Toha menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Babakan Bandung hingga lulus tahun 1940.  Masa remajanya, ia habiskan untuk bekerja di bengkel motor Cikudapateuh dari tahun 1943 - 1945.


Peledakkan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot


Masa pendudukan Jepang di Indonesia tidak berlangsung lama. Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom. Menyerahnya Jepang kepada Sekutu, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Indonesia. Kesempatan ini, digunakan oleh Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak itu, para pemuda dan rakyat Indonesia bergerak melakukan tindakan pengambilahan kekuasaan dari tangan Jepang. Para pemuda, kemudian menggabungkan diri dalam berbagai lasykar perjuangan, seperti Hizbullah, Sabilillah, Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia, dan berbagai lasykar perjuangan lainnya. Mohammad Ramdan, bergabung dengan lasykar Hizbullah. Sementara Mohammad Toha bergabung dengan lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia.


Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat kondisi awal kota Bandung menjelang peristiwa peledajan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot sebagai berikut:

Pada bulan September-Oktober 1945 terjadi bentrokan fisik antara pemuda, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan rakyat Bandung dengan tentara Jepang dalam usaha pemindahan markas Jepang. Bentrokan iti terjadi antara lain di Gedung PTT, pabrik senjata dan mesiu di Kiaracondong, dan puncaknya terjadi di Heetjanweg, Tegalega. Pada tanggal 9 Oktober 1945, bentrokan fisik dengan pihak Jepang dapat diselesaikan dengan damai. Pemuda, TKR, dan rakyat Bandung berhasil mendapatkan senjata mereka dan kemenangan ada di pihak rakyat Bandung. Namun bersamaan dengan itu, pada tanggal 21 Oktober 1945 satu brigade tentara Sekutu di bawah pimpinan Mc Donald dari Divisi India ke 23 memasuki kota Bandung.  Peranan Sekutu sebagai wakil kolonial Belanda segera menimbulkan ketegangan dan bentrokan dengan rakyat Bandung. Insiden-insiden kecil yang menjurus pada pertempuran sudah tidak dapat dihindari lagi.


Pada tanggal 24 November 1945, TKR, pemuda, dan rakyat yang dipimpim oleh Arudji Kartasasmita sebagai komandan TKR Bandung memutuskan aliran listrik dengan maksud mengadakan serangan malam terhadap kedudukan Sekutu. Seluruh kota Bandung gelap gulita. Sejak saat itu, pertempuran terus berkecamuk di Bandung. Karena merasa terdesak, pada tanggal 27 November 1945 Sekutu memberikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat Sutarjo yang ditujukan kepada seluruh rakyat Bandung agar paling lambat tanggal 29 November 1945 pukul 12.00 seluruh unsur bersenjata RI meninggalkan Bandung Utara dengan jalan kereta api sebagai garis batas dermakasinya. Tetapi sampai batas waktu yang ditentukan, rakyat Bandung tidak mematuhinya. Sejak saat itu, Sekutu---secara sepihak---menganggap bahwa kota Bandung telah terbagi menjadi dua bagian; dengan jalan kereta api sebagai garis batasnya. Bandung bagian utara dianggap milik Inggris, sedangkan Bandung Selatan milik Republik.

Mulailah tentara Sekutu yang terdiri dari tentara Inggris, Gurkha, dan NICA meneror penduduk di bagian Utara jalan kereta api. Mereka menghujani tembakan ke kampung-kampung dengan membabi buta. Kekalahan Republik dalam mempertahankan Gedung Sate/PTT membawa korban 7 orang meninggal dunia sebagai pahlawan.


Pertempuran di UNPAD pada tanggal 1 Desember, Balai Besar K.A., dan Stasiun Viaduct pada 3 Desember menjadi saksi atas semangat juang rakyat Bandung. Sepanjang bulan Desember 1945 sampai Januari 1946, pertempuran masih berlangsung dengan jalan kereta api sebagai garis demarkasinya. Titik utamanya: Waringin, Stasiun Viaduct, dan Cicadas. Demikian pula pertempuran di Fokkerweg berlangsung selama tiga  hari tiga malam. Pada tanggal 2 Januari 1946, konvoi Inggris dari Jakarta yang terdiri dari 100 truk tiba di Bandung. Bantuan dari Jakarta terus   mengalir untuk membantu pertahanan Sekutu yang ada di Bandung, sementara di pihak Republik bantuan pun tak kunjung henti dari berbagai daerah. Sekutu merasa tidak aman karena selalu mendapat serangan dari TKR, pemuda, dan rakyat Bandung.


Pada tanggal 24 Maret 1946, Sekutu mengeluarkan ultimatum lagi kepada rakyat Bandung yang masih mempunyai atau menyimpan senjata, bahwa pada malam minggu harus sudah meninggalkan seluruh kota Bandung. Dengan demikian, garis demarkasi yang telah dibuat itu tidak digunakan lagi. Ultimatum itu berakhir sampai tengah malam Senin 24-25 Maret 1946. Secara lisan, pihak Sekutu meminta untuk mengawasi daerah dengan radius 11 km sekitar Bandung. TKR dan pasukan lainnya meminta waktu 10 hari karena penarikan TKR dalam waktu singkat tidak mungkin, namun tuntutan itu tidak disetujui. 


Dengan demikian, pertempuran sulit untuk dihindarkan. Ribuan orang, berduyun-duyun mulai meninggalkan kota Bandung. Bulan Februari sampai Maret 1946, Bandung telah berubah menjadi arena pertempuran. Kantor Berita ANTARA memberitakan sebagai berikut:

Berita yang diterima siang hari ini menyatakan sebagai berikut: Bandung menjadi lautan api. Gedung-gedung dari jawatan-jawatan besar hancur, di antaranya kantor telpon, kantor pos, jawatan listrik. Sepanjang jalan Pangeran Sumedang, Cibadak, Kopo, puluhan rumah serta pabrik gas terbakar. Semua listrik, penerangan di daerah Bandung putus, yakni Banjaran, Ciperu, dan Cicalengka. Yang masih berjalan hanya listrik penerangan daerah Pengalengan. Lebih lanjut dikabarkan, bahwa Inggris mulai menyerang pada tanggal 25 Maret pagi, sehingga terjadi pertempuran sengit yang masih berjalan sampai saat dibikinnya berita ini (Sumber: Berita ANTARA, 26 Maret 1946).


Bandung sengaja dibakar oleh tentara Republik, menjadi Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946. Hal ini dimaksudkan agar Sekutu tidak dapat menggunakannya kota ini sebagai basis pertahanannya. Di sana sini asap hitam mengepul membumbung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi.

Pada tahun 1946, daerah Bandung Selatan diserahkan oleh pihak Sekutu kepada tentara Belanda dari Brigade V yang dipimpin oleh Kolonel Meier yang bermarkas di Kampung Dengki Dayeuhkolot. Watra, saksi seperjuangan dengan Mohammad Ramdan yang saya temui sekitar pada tahun 1988 mengemukakan:

Pihak lasykar perjuangan Bandung Selatan, kemudian mendirikan Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP) di Baleendah. Baleendah, menjadi front paling depan yang berhadapan langsung dengan markas tentara Belanda di Dayeuhkolot. Batas yang memisahkan kedua pos pertahanan yang saling bermusuhan itu, adalah sungai Citarum. Untuk menghadapi berbagai kemungkinan, markas MPPP selalu dijaga secara bergantian oleh lasykar-lasykar perjuangan yang tergabung di dalamnya.  Mohammad Ramdan yang juga bergabung dalam MPPP dari lasykar Hizbullah yang bermarkas di Majalaya, juga secara bergantian mendapat tugas jaga di pos MPPP.


Menjelang peledakan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot, Ibu Gandasih, kakak kandung Mohammad Ramdan yang saya wawancarai mengemukakan:

Hari Kamis, pukul 10.00 pagi tanggal 10 Juni 1946,


Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TKR bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan kosong dari tentara. Tetapi api masih membumbung masih membakar Bandung. Kini Bandung berubah menjadi lautan api. Rakyat berduyun-duyun meninggalkan Bandung Selatan untuk mengungsi ke desa-desa. Sekutu tetap melancarkan serangan-serangan tapi jauh di utara ditujukan ke selatan. Sampai saat itu, hanya 16.000 orang pribumi yang tinggal di Bandung Utara, padahal sebelumnya daerah itu berpenduduk 100.000 jiwa.


Tentang hancurnya gudang mesiu di Dayeuhkolot, Watra menuturkan seperti ini. Ketika itu, dua hari sebelum dilakukan infiltrasi, terjadi silang pendapat di antara lasykar-lasykar perjuangan di markas MPPP tentang strategi yang tepat untuk menghancurkan gudang mesiu? Siapa yang akan melakukannya, bagaimana caranya, dan kapan akan dilaksanakan? Pada akhirnya, komandan MPPP memberi tugas kepada lasykar-lasykar perjuangan untuk melakukan penyerangan terhadap markas  pertahanan Belanda sekaligus menghancurkan gudang persenjataannya, karena dengan melumpuhkan markas Belanda di Dayeuhkolot, apalagi menghancurkan gudang persenjataannya, akan melumpuhkan kekuatan Belanda di sektor selatan.


Engkos, seorang pensiunan perintis kemerdekaan, mengungkapkan bahwa keputusan penyerangan ke markas Belanda di Dayeuhkolot diambil pada malam Jumat, dan dilakukan pada malam itu juga.  


Menurut penuturan Engkos dan Watra, Kira-kira pukul 21.45 malam Jumat tanggal 10 Juli 1946, ternyata anggota lasykar perjuangan yang siap melaksanakan tugas menghancurkan gudang mesiu itu hanya dua lasykar, yakni lasykar Hizbullah dengan anggotanya antara lain Mohammad Ramdan, Watra, dan Idas serta lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) dengan anggotanya, antara lain; Mohamad Toha, Juju, Muin, dan Jojo. Mereka akan melakukan penyusupan dengan cara menyeberangi sungai Citarum dan masuk melalui gorong-gorong.


Menurut kesaksian Watra, malam Jumat itu beberapa orang yang siap melakukan infiltrasi mulai menyusuri pematang sawah, menyeberangi sungai Citarum, dan mendekati terowongan air. Tetapi sebelum masuk terowongan air, mereka diketahui oleh petugas jaga tentara Belanda. Akhirnya terjadilah pertempuran, Watra terluka dengan sembialn luka tembak di sekujur tubuhnya dan ia menimbun diri di sungai untuk menyelamatkan diri, sementara Ramdan dan Toha berhasil masuk terowongan air dengan berbekal dua buah geranat tangan dan sepucuk pistol.


Keesokan harinya, hari Jumat, pukul 12.10 tanggal 11 Juli 1946, terdengar bunyi ledakan dahsyat dari Dayeuhkolot. Gudang Mesiu telah hancur bersama pelaku penghancurannya, Mohammad Toha dan Mohammar Ramdan, keduanya hancur luluh bersama 18.000 ton bahan peledak dan amunisi dari berbagai jenis. Keduanya telah melaksanakan tugasnya dengan baik, meski tubuh mereka hancur luluh.


Tanggal 14 Juli 1946, kawan-kawan Mohammad Ramdan dan Mohammad Toha datang menyatakan bela sungkawa. Menteri Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin, memberikan penghargaan berupa piagam dan pedang samurai bagi keluarga Toha dan Ramdan.


Toha gugur dalam usia 19 tahun, dan Ramdan gugur dalam usia 18 tahun. Mereka gugur dalam usia remaja, bukan anak-anak yang baru berusia 14 tahun. Jadi, kalau Mohammad Toha dianggap fiktif, mengapa Mr. Amir Syarifuddin memberikan penghargaan kepada keduanya? Mengapa pula, Arsip Nasional mencatatnya sebagai sebuah dokumen sejarah? Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, bukanlah tokoh sangkuriang. Keluarganya, dapat memberikan kesaksian riwayat hidup keduanya.


Hari ini saya hanya bisa menyanyi sedih, sebab tidak banyak  orang yang mengetahui dan dapat menghargai perjuangan kedua pahlawan muda ini :


Getih suci nyiram bumi

Tulang setra mulang lemah

Babakti nyungkem pertiwi

Cikal bugang putra bangsa

Nyatana Pahlawan Toha

Pahlawan Bandung Selatan

Patriot ti Dayeuhkolot

Tugu ngawangun ngajadi ciri

Tarate nu mangkak ligar di empang

Jadi bukti gugurna pahlawan bangsa.


*)Makalah disajikan pada Seminar Pengusulan Mohammad Toha sebagai Pahlawan Nasional di Soreang Kabupaten Bandung, 21 Maret 2007.

5 September 2021

GEBYAR VAKSINASI PESANTREN SELURUH INDONESIA



Karena antusias dari masyarakat Keluarga Besar PERSIS dan Santri PPI 31 Banjaran, maka pelaksanaan VAKSINASI MERDEKA di PPI 31 Banjaran dilaksanakan dalam hari yaitu pada hari Kamis, 2 September 2021 dan Senin, 6 September 2021.


Dalam pelaksanaannya  kami menggandeng/bekerjasama dengan POLRESTA BANDUNG yang didukung oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung dalam hal ini PUSKESMAS Banjaran Kota, ungkap Yudi Wildan Latief selaku Kepala Madrasah Tsanawiyah dan Mu'alimin PPI 31 Banjaran.

Peserta yang melaksanakan Vaksinasi berjumlah 2000 orang terdiri dari :
1. Santri PPI 31 Banjaran sebanyak : 985 santri Tsanawiyah dan Mu'alimin
2. Orang tua santri dan Keluarga Besar Persatuan Islam sebanyak : 755 orang
3. Masyarakat di sekita Kampus Hijau PPI 31 Banjaran sebanyak : 260 orang.

Pada pelaksanaan pertama hari Kamis, 2 September 2021 hadir pula Bapak Faizal Arbi (Camat Kecamatan Banjaran) yang selalu mendukung dan aktif hadir disetiap kegiatan kemasyarakatan di Kecamatan Banjaran. Saya sangat bangga memiliki seorang camat yang brilian dan merakyat seperti pak Faizal, kata Eri Ridwan Latief Wakil Kepala Madrasah bidang Humas yang juga Ketua FKUB Kabupaten Bandung. 

Dalam kegiatan tersebut juga hadir seluruh alumni PPI 31 Banjaran sebagai "relawan Nakes" baik dokter, bidan maupun perawat yang dengan sigap dan ikhlas bekerja tanpa dibayar. Kami hanya mengharap Ridlo Allah Swt, yang penting Indonesia terbebas dari ancaman COVID19, kata ibu Hj. Neni Cefridayani pembina Santri Sehat PPI 31 Banjaran, bersemangat.


Pelaksanaan hari Kamis selesai pada pukul 13.00 wib dan insya Allah akan dilanjutkan pada Senin, 6 September 2021 (besok) berjumlah 922 orang yang terdiri dari Santri dan Keluarga Besar PERSIS.

Seluruh kegiatan ini adalah hasil kerja bareng Staf Khusus Presiden RI dengan Seluruh Pesantren Persatuan Islam di Jawa Barat. Semoga langkah kecil Pesantren Persatuan Islam dapat menurunkan berkah sehingga Indonesia terhindar dari bahaya COVID19. Wallahu a'lam

30 Agustus 2021

"PANCASILA PERMADANI BANGSA"

 


oleh : Eri Ridwan Latief


Tangisan ku tak pernah berwujud
di mata ini,
Tangisan ku seperti darah
Yang mengalir dalam denyut nadi

Sampai tubuh ini terasa bergejolak
Karena menahan setiap isakan
yang keluar dalam diri,
Menahan setiap air mata menetes.

Kalimat inilah yang keluar dari salah satu elemen masyarakat bangsa yang melihat betapa telah "melenceng" jauh cara pandang "bangsa" dalam memaknai kedalaman makna PANCASILA.

Sebagai dasar negara PANCASILA dimaknai berbeda-beda tergantung dari kacamata atau sudut pandang masing-masing warga negara "seolah" mereka leluasa menafsirkan sekehendaknya.

Satu kubu bersikeras menafsirkan PANCASILA sebagai puncak dialektika bangsa menuju kebhinekaan berbasis gotong royong dengan budaya Indonesia sebagai warna ideologinya dengan tidak memasukan makna agama sedikitpun, kubu yang lain memaknai bahwa substansi PANCASILA merupakan kesimpulan para founding father bangsa yang bersumber pada ajaran agama-agama yang ada, sehingga menjadi prasyarat utama penopang haluan keadaban bangsa yang berlandaskan KETUHANAN YANG MAHA ESA, artinya INDONESIA adalah sebuah negara yang menjadi tempat hidup rakyatnya yang BERTUHAN (beragama).

Perbedaan yang diameteral ini harus segera diakhiri, maka harus ada satu langkah dari warga negara yang berani mengambil ARAH BARU INDONESIA dengan melakukan terobosan berfikir menyatukan pandangan bahwa PANCASILA merupakan PERMADANI BANGSA yang menjadi pijakan dasar bangsa dalam membangun keadaban dalam keberadaban.
PANCASILA harus menjadi dasar paradigma berfikir rakyat yang multi fungsi;
PANCASILA sebagai Karakter Bangsa yang BERTUHAN,
PANCASILA sebagai perekat keberagaman, suku, adat, dan agama,
PANCASILA sebagai Dasar Negara Bangsa yang diambil dari intisari Agama - agama yang ada, harus mampu berdiri tegak dalam meninggikan harga diri bangsa, sehingga mampu menjadi Kekuatan ke 5 Dunia.

PANCASILA tidak dijadikan senjata untuk menghacurkan kekuatan politik manapun oleh kekuatan manapun.
Pertanyaannya ; kita mau memosisikan diri dimana? Menjadikan PANCASILA sebagai ruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?, atau PANCASILA hanya dijadikan alat politik dan dimaknai sekehendak syahwat politiknya?
Jawabannya ada pada diri masing-masing pengisi bangsa ini.

Khatimah

PANCASILA adalah sinar gemintang yang tak'kan pernah padam dalam memberikan semangat berjuang.....

PANCASILA adalah PERMADANI BANGSA yang harus senantiasa diperjuangkan, dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang makmur, beradab dan sejahtera.

Teruslah berjuang, GELORA-kan, dan teguhkan nilai dasar bangsa  menuju masa depan INDONESIA yang GEMILANG

19 Juli 2021

Kang Mul; Pendiri Shurulkhan itu telah tiada

 




Kang Mul bukan panggilan tokoh di sinetron. Yang dimaksud Kang Mul di sini ialah kang H. Mulyana. Pria yang lahir di Garut ini merupakan aktivis Brigade dan Shurulkhan Persatuan Islam. Orang yang mengenalnya pasti tahu dengan penampilan yang apa adanya, humoris, bersemangat, dan rela berkorban.


Perkenalan intens dengan kang Mul dimulai sejak pembentukan Shurulkhan di Persatuan Islam. Peristiwa 26 September 2017 tersebut bertepatan dengan 5 Muharram 1439 H. Para tokoh dari Syufu, Thifan, dan Bidgar Jamiyah yang diketuai Dr. Ihsan Setiadi Latif waktu itu mendeklarasikan Shurulkhan Persatuan Islam. Kang Mul ialah satu diantara dua puluh lima pendiri tersebut.


Orang akan cepat kenal, bersahabat, dan ngobrol enak dengan kang Mul. Menggunakan bahasa sederhana kang Mul akan berkata kepada lawan bicaranya. “Kang ti mana?,” tanya kang Mul ke penumpang elf di sebelah kiri saya. “Cilawu,” jawab pria yang ditanya. Laki-laki berempat tersebut rupanya pulang dari pekerjaannya di Bandung. Obrolan pun hangat dilakukan dengan gaya banyolan kang Mul yang mendominasi. Satu diantaranya untuk jangan salah memilih presiden. “Engké  taun 2024 pilih akang nya! Rék nyalon présiden,” jelas kang Mul. Semua penumpang elf pun tersenyum. Itu diantara obrolan yang saya saksikan sewaktu pulang dari Viaduct menuju Garut.


H. Mulyana sangat punya perhatian dengan gerak perjuangan. Hari Sabtu 16 Juni 2021 direncanakan ada pertemuan Shurulkhan dengan Ketua Bidang Jamiyah yang baru yaitu ustadz H. Uus M. Ruchiyat. Rupanya beliau sangat respek. Pukul 10.52 sudah mengontak saya untuk mengingatkan pertemuan tersebut. Padahal kami pun di Shurulkhan sudah bertemu di 5 Juni 2021.


Diantara obrolan yang cukup membekas dalam benak ialah kaderisasi Brigade melalui Shurulkhan. Beliau sangat berharap bahwa yang masuk ke Brigade Persis telah ditempa Shurulkhan. “Dengan masuk Shurulkhan dipastikan menguasai beladiri, dan ini khas Persis. Ketika anggota Brigade dari Shurulkhan maka otomatis telah mempunyai beladiri. Maka ini kualitasnya akan terjamin,” demikian diantara alasan kang Mul.


Kang Mul benar-benar aktivis sejati. Setelah mendirikan Shurulkhan beliau tidak berpangku tangan. Setiap kegiatan yang diselenggarakan Shurulkhan senantiasa ikut. Manakala ada kemandegan dalam organisasi dan kegiatan kang Mul selalu memberikan ide segar. Tidak hanya usul untuk pelaksana pun siap dan sigap. Rumahnya tidak susah untuk dikunjungi dan diinapi. Villanya sering dijadikan tempat bermusyawarah. Kendaraannya sudah tak terhitung untuk kegiatan. Tak terhingga kegiatan didanai dari dompetnya sendiri. Anngota Diwan I Hakim itu kini telah pergi menghadap Ilahi. Selamat jalan kang haji. Semoga Allah memberikan magfirah dan rahmat-Nya. (/Yusup Tajri)

15 Juli 2021

𝐏𝐮𝐫𝐧𝐚𝐦𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐛𝐢𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠

 


𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑠𝑒𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 ℎ𝑎𝑦𝑎𝑡, 𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑠𝑖ℎ𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟, 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎-𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒 ℎ𝑎𝑟𝑖𝑏𝑎𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎..


𝐏𝐮𝐫𝐧𝐚𝐦𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐛𝐢𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠

Oleh : Indra Fajar Nurdin



Dibawa takdir aku menepi sampai ke tebing air mata

berjatuhan membuat suara gaduh menderu

bila tak ada penyangga, aku bisa jatuh terhempas

tak bisa pulang


Wajah-wajah basah mendekapku tanpa suara

tapi gemuruh air terdengar terus menerus beradu

dibiarkan tak diusik orang-orang yang datang

telaga pun akhirnya penuh berkubang duka


air mata

bukankah engkau memiliki mata air berlimpah?

biarkan isakmu mengalir 

sepanjang pusara yang bertambah menjadi dua

banyak yang ingin kukatakan tak tersampaikan

sekian banyak kalimat tak mampu keluar

biarlah kini diambil alih air mata


kulihat langit tertutup kabut bergulung-gulung

membuat mendung tak kuasa menahan hujan

redup memekat terbawa ke ujung malam

tak butuh satu purnama

matahari dan bulan tersenyum pergi

tinggalkan sisa cahaya

malam pun senyap dalam semesta fana

tinggallah mimpi mendekap nama

menunggu bintang menggantikan purnama

(Bandung 10 Juli 2021, written by KN)


𝑌𝑎 𝑎𝑦𝑦𝑎𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛𝑛𝑎𝑓𝑠𝑢𝑙 𝑚𝑢𝑡ℎ𝑚𝑎𝑖𝑛𝑛𝑎ℎ

𝑖𝑟𝑗𝑖'𝑖𝑦 𝑖𝑙𝑎𝑎 𝑟𝑎𝑏𝑏𝑖𝑘𝑖 𝑟𝑎𝑎𝑑𝑙𝑖𝑦𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑟𝑑𝑙𝑖𝑦𝑦𝑎ℎ

𝐹𝑎𝑑𝑘ℎ𝑢𝑙𝑖𝑖 𝑓𝑖𝑖 𝑖𝑏𝑎𝑎𝑑𝑖𝑖𝑦

𝑊𝑎𝑑𝑘ℎ𝑢𝑙𝑖𝑖 𝑗𝑎𝑛𝑛𝑎𝑡𝑖𝑖..

13 Juni 2021

"18 JAM YANG MENCEKAM"

 


(Catatan ini ditulis dari perjalan sejarah hidup nyata, yang penulisnya ada pada redaksi, semoga menjadi "ibrah" bagi kita semua)

Senin 14 juni 2021

Berita duka datang bertubi-tubi, yang sakit yg meninggal dan kita tak bisa menjenguk ta'jiyyah, rasa bersalah... bingung.. kita jadi sensitif.

Selasa 15 juni 2021

Sepulang dari ta'jiyyah hati msh diliputi duka mendalam.. kami rebahan sambil menunggu adzan dzuhur.
"Bu... ke Bandung ya.. sekarang.. , tolong ambilin barang yang ketinggalan"
"Ok" sahutku sambil menahan kantuk. 30 menit berikutnya, eh... katanya mau ambil barang.. sekarang cepetan bangun...",
nadanya agak tinggi.

Selesai shalat dzuhur, kami bersiap untuk berangkat ke Bandung, masker, hp, hand sanitaizer sudah aman di tas.
Selang beberapa menit "hpku" masih tergeletak di kursi tamu... hmm untung masih belum berangkat pikirku. Ketika hampir sampai ditempat yg dituju teleponku berdering, kudengar suamiku teriak;"Buu.. hp aku dibawa ku ibu?".. aku kaget, ketika kuperiksa, ternyata ditasku ada 2 hp yg mirip; "Balik deui wèh bapa perlu ayeuna pisan, teriaknya mengalahkan deru kendaraan dilampu merah tegallega.... "tanggung pah.. sebntar lagi nyampe"..... "Ah....teu nurut ka salaki".. kalimat itu terdengar samar.. diantara puluhan knalpot di lampu merah.
Segera kubereskan urusanku dan segera pulang ,rasa bersalah menggunung dihatiku, sampai di rumah kudapati rumah masih terkunci.. shalat asharku sudah lebih dari jam 16.00 sore hmmm.... suamiku belum pulang juga... adzan magrib.... shalat magrib, isya berjama'ah terlewatkan karena imamku belum pulang... kutatap kedua hp dan berharap ada kabar ttg keberadaannya.. lewat tengah malam belum ada kabar juga, kegelisahan memuncak.. rasa penyesalan karena tidak ta'at ke suami semakin menggunung. Tumpah pecah dala. sajadah... semua panik.... berbagai kemungkinan terucap dari saudara saudaraku... ketakutan kami semakin memuncak...; "ada yg bilang dibajak geng motor".... atau "jatuh dari motor karena hipertensi". Jam 02.00 dini hari kami sepakat untuk menyusuri setiap UGD di rumah sakit, hasilnya ...nihil... Tangisku tak ada yg bisa menghentikan" ini semakin membuat panik seluruh keluarga besarku.... akhirnya melalui berbagai media.. secara berantai .. semua berniat baik.. menolong.. membantu mencari, membantu berdoa untuk suamiku.
Kedatangan putra ke tigaku.. membuatku bisa sejenak merebahkan diri.. selepas shalat shubuh.

Cerita suamiku...
Jam 14.00 wib baru sadar kalau hp-nya tidak ada, dicari disekitar rumah tidak ada.. padahal ada data yg harus segera di update.. kekecewaan semakin memuncak ketika diujung telpon, aku menolak untuk segera pulang... hmmm.. harus diajarkan lagi untuk ta'at kepada suami.. pikirnya sambil menjalankan motornya.. dalam keadaan badan yg tidak fit.. kepala keleyengan.. takut jatuh, akhirnya singgah di sebuah penginapan.. makan obat.. dan bisa istirahat "tertidur" tengah malam terbangun.. mencoba u pulang.. tapi badan masih lemes... 
Akhirnya istirahat kembali.. pagi-pagi setelah minum dan sarapan.. bersiap untuk pulang karena ada rapat di pesantren. Kepala masih agak berat.
Sampai dipesantren.. disambut dengan pelukan dan tangisan dan berbagai pertanyaan.. semakin membuat badan limbung.. dan bingung...

Alhamdulillah suamiku pulang, kuterima wajah marahnya.. kupeluk, kucium pipinya ku mohon ampun dan ma'af atas segala kesalahanku.
Baru sadar kalau berita hilangnya suamiku tersebar seantero jagat maya, karena disebar melalui seluruhfasilitas sosial media.

Ya Allah... 
ternyata sangat banyak yg menyayangi suamiku... ku mohon ampun pada-Mu.
Ya Robbii. jadikan aku istri yg shalehah.. 
jadikan aku penyejuk disa'at suamiku butuh perhatianku..
jadikan aku istri yg selalu taat dan patuh pada suamiku.

Jazaakumullohu khoeron kepada saudara-saudaraku semua kasih sayang, perhatian kalian sangat berarti bagi kami
Mohon maaf telah membuat "kegaduhan".

Semoga bisa kita ambil hikmahnya....

Semoga covid19 segera berlalu.